Senin, 08 Februari 2010

Buletin Februari 2010

“B E R J A G A - J A G A”

Minggu - 07 Februari 2010

Saudara-saudara, kedatangan Tuhan yang kedua kali tidak ada seorang pun yang tahu saatnya, baik malaikat-malaikat, hanya Bapa saja. Pada waktu Tuhan Yesus berada di dunia ini, selama dalam pelayanan-Nya, Ia selalu merahasiakan saat tentang kedatangan-Nya. Kalau berita tentang tanda-tanda akhir zaman maupun tanda-tanda kedatangan-Nya sudah diberitahukan kepada murid-murid-Nya, tetapi khusus hari/saat kedatangan-Nya masih dirahasiakan.
Mengapa harus dirahasiakan?
Supaya setiap orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan yang sedang menanti-nantikan kedatangan-Nya tahu mempersiapkan diri dengan cara: hidup sesuai dengan firman Tuhan. Tuhan Yesus sengaja merahasiakan tentang kedatangan-Nya supaya di dalam diri kita ada sikap berjaga-jaga yang benar.
Kalau kita lihat dalam Matius 24 setelah melihat pelajaran tentang pohon ara, selanjutnya pelajaran yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya adalah pelajaran tentang “berjaga-jaga”. Hal ini sangat penting kita perhatikan, sebab tidak semua orang bisa berjaga-jaga atau mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kali. Kalau Tuhan Yesus lebih dahulu memberitahukan pelajaran tentang pohon ara dan setelah itu barulah pelajaran tentang berjaga-jaga, ini mengandung arti yang sangat besar. Sebab yang bisa berjaga-jaga adalah mereka yang sudah lebih dahulu mengalami tanda keubahan hidup, yang sudah mengalami tanda pembaharuan dari sehari ke sehari, yang sudah diubahkan menjadi sama seperti sifat-sifat Kristus.
Wahyu 21 : 2, 9 gereja yang berhasil menjadi sidang mempelai itu ditampilkan bagaikan pengantin perempuan, yang berhias dan berdandan untuk suaminya. Inilah yang layak menjadi istri/ mempelai Anak Domba.
Maka supaya bisa jadi mempelai perempuan Kristus harus lebih dahulu mengalami tanda keubahan:
- dari orang berdosa diubah menjadi
orang yang dibenarkan.
- dari orang yang sudah dibenarkan di-
ubah menjadi orang yang disucikan.
- dari orang yang disucikian diubah lagi
menjadi orang yang disempurnakan.
Sesudah mengalami tanda keubahan hidup, barulah kita bisa berjaga-jaga dengan baik. Berjaga-jaga yang benar menurut firman Tuhan: hidup sesuai dengan firman Tuhan, taat dan dengar-dengaran akan firman Tuhan.

Contoh berjaga-jaga yang benar:

1. NUH (ayat 38 - 39).

Ketika Allah memutuskan hendak memusnahkan segala makhluk di bumi, Allah memberi perintah kepada Nuh supaya membangun bahtera dari kayu gofir tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya, dan bahtera itu harus dibuat bertingkat bawah, tengah dan atas (Kejadian 6 : 13 - 17).
Nuh diperintahkan supaya membangun bahtera sebab Tuhan punya rencana bahwa bahtera itu adalah sarana untuk menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari air bah yang akan meliputi seluruh bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit. Tetapi Nuh dan keluarga nya mendapat kasih karunia dimata Tuhan. Karena Nuh mau membangun bahtera itu tepat seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya, maka Nuh dan keluarganya yang masuk ke dalam bahtera itu selamat dari air bah, semuanya mempelai. Bahkan binatang-binatang yang masuk ke dalam bahtera itu juga berpasang-pasangan.
Nuh dan keluarganya yang berhasil selamat dari air bah ini adalah contoh kehidupan yang berhasil berjaga-jaga dalam suasana kerajaan sorga, dikatakan dalam suasana kerajaan sorga karena disamping membangun bahtera ia juga tetap hidup sesuai dengan firman Tuhan. Yang artinya: hidup yang sudah memiliki persekutuan yang benar dengan Tuhan, baik dalam terang firman Tuhan, dalam persekutuan dengan Roh Kudus maupun dalam doa dan penyembahan. Bagi kita sekarang, bahtera Nuh ini mengandung arti yang besar, yakni kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Dalam skema Tabernakel:

1. Tingkat bawah = Halaman :
- percaya atau menerima Yesus sebagai Tuhan dan
Juruselamat (=Pintu Gerbang)
- bertobat atau mengalami tanda keubahan
hidup, diperdamaikan dengan Tuhan (=Mezbah Korban Bakaran)
- dibabtis yang benar baik dengan air maupun
dengan Roh Kudus (Kolam Pembasuhan & Pintu Kemah).

2. Tingkat Tengah = Ruangan Suci:

- Ada persekutuan dengan firman Tuhan (Meja Roti)
- Ada persekutuan dengan Roh Kudus (Pelita)
- Ada persekutuan dengan Bapa dalam doa dan penyembahan (Mezbah Dupa).

3. Tingkat Atas = Kesempurnaan:

- Diubahkan dari orang yang disucikan menjadi orang
yang disempurnakan, layak disebut menjadi mempelai
perempuan Kristus (Ruangan Maha Suci)

Maka jelas kita lihat di luar bahtera Nuh tidak ada seorang pun yang selamat dari air bah. Demikian juga orang Kristen yang tetap berjaga-jaga seperti Nuh, yaitu yang berjaga-jaga dalam suasana kerajaan sorga akan selamat dari murka Allah yang akan datang menimpa dunia ini. Karena itu tetaplah hidup dalam persekutuan yang benar dengan Tuhan, tetap lah setia melakukan firman Tuhan supaya Tuhan berkenan akan kehidupan kita.

2. Berjaga-jaga sambil berada di ladang Tuhan (Matius 24 : 40).

Setelah Tuhan Yesus mengangkat Nuh dan keluarga nya sebagai contoh berjaga-jaga yang benar, contoh kedua berjaga-jaga yang benar adalah berjaga-jaga dengan tetap setia di ladang Tuhan. Ladang di sini bukan berbicara ladang secara hurufiah, tetapi berbicara ladang Allah yaitu pelayanan. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 3 : 9b berkata: “Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.”
Jadi yang dimaksud dengan berjaga-jaga sambil berada di ladang Tuhan adalah berjaga-jaga sambil melayani Tuhan, tetap setia melayani sampai Tuhan datang kali yang kedua. Kalau tidak setia, maka akan tergenapilah apa yang telah dikatakan dalam Matius 24 : 40 “Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.”
Yang dibawa itu adalah mereka yang tetap berjaga-jaga dengan cara setia melayani Tuhan, tetap tekun menantikan kedatangan Tuhan walau berat resiko yang harus dihadapi. Sedangkan yang lain itu akan ditinggal kan, walau pun sudah berjaga-jaga tetapi kalau tidak setia melayani Tuhan, juga akan ditinggalkan.
Matius 20 : 1 - 16 Tuhan Yesus mengangkat satu perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur dengan kesepakatan upah sedinar sehari. Dari semua pekerja itu ada yang masuk pagi-pagi benar, ada yang masuk pukul sembilan, ada yang masuk pukul dua belas, ada yang masuk pukul tiga petang dan ada pula masuk pada pukul lima petang. Dan ketika tuan itu hendak memberi upah masing-masing satu dinar, ia lebih dahulu memberi upah kepada yang masuk pukul lima, yang bekerja hanya satu jam, setelah itu datanglah yang masuk terdahulu juga dengan upah satu dinar. Karena itu timbullah sungut-sungut diantara mereka yang masuk terdahulu, lalu mereka pun iri hati melihat yang masuk pukul lima petang yang bekerja hanya satu jam. Ini adalah contoh pelayan-pelayan atau hamba-hamba Tuhan yang gagal masuk ke dalam kerajaan sorga, tidak layak menerima upah di sorga.

Maka sikap yang harus kita miliki supaya bisa berjaga-jaga sambil tetap melayani Tuhan:
* melayanilah tanpa iri hati kemudian
** melayanilah dengan taat dan setia.
Kalau kedua sikap ini sudah kita miliki, maka yakinlah kita pasti berhasil berjaga-jaga sambil menanti-nantikan kedatangan Tuhan dengan tetap setia melayani.
Haleluya...!!

Selasa, 12 Januari 2010

Buletin Minggu - JANUARI 2010

“TAHUN BARU TAHUN PEMBAHARUAN”

Minggu - 10 Januari 2010

Saudara-saudara, tema “Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini” (Wahyu 21 : 7) adalah tema kita untuk tahun ini, supaya di tahun 2010 ini kita dibekali lebih dahulu dengan firman Tuhan. Wahyu 21 : 5 = puncak kemenangan itu sendiri adalah Tuhan menjadikan segala sesuatu menjadi baru. Artinya: supaya kita bisa mengalami kemenangan demi kemenangan bersama dengan Kristus, lebih dahulu kita harus mengalami “tanda keubahan hidup” atau “tanda pembaharuan” yaitu hidup yang sudah dibaharui dalam segala hal baik dari sifat-sifat mau pun dari karakter.
Berbicara “tanda keubahan hidup” sangat identik dengan kedatangan Tuhan yang kedua kali, sebab kalau ingin masuk ke dalam sorga, harus mengalami tanda pembaharuan.

Mengapa harus mengalami tanda pembaharuan?

Firman Tuhan dalam 1 Korintus 15 : 50 menjelaskan kepada kita bahwa “darah” dan “daging” tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa. Ini berarti kalau seseorang itu belum mengalami tanda pembaharuan, maka sudah pasti ia tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah, tidak layak masuk ke dalam sorga.
Maka pada saat Tuhan Yesus datang kembali ada dua (2) garis akhir dari hidup manusia:
- mati sebelum diubah = jangan harap bisa masuk ke dalam kerajaan Allah.
- kalau hidup, harus mengalami tanda keubahan
supaya layak mendapat bagian dalam sorga.
Pada zaman Nuh, orang-orang yang berada dalam penghukuman air bah, semuanya adalah orang-orang yang sudah rusak hidupnya. Kejadian 6 : 11 - 12 firman Tuhan memperlihatkan kepada kita, bahwa bumi telah rusak dihadapan Allah dan penuh dengan kekerasan sebab semua manusia selalu menjalankan hidup yang rusak. Yang rusak bukan hanya hidup pribadinya saja, tetapi termasuk rumah tangga/keluarga, ibadahnya maupun pelayanannya.
Demikian juga pada zaman akhir ini, kalau kita lihat sekarang ini banyak orang hanya memfokuskan diri kepada perkara-perkara yang lahiriah saja, banyak pengajaran-pengajaran yang hanya berfokus perkara-perkara kepada jasmani saja. Dalam pemberitaan hanya mengajarkan tentang berkat-berkat, tentang kesembuhan, seolah-olah mengikut Tuhan itu hanya sekedar sembuh atau sekedar kaya saja.
Padahal dalam Matius 24 : 32 - 35, Tuhan Yesus sudah memberikan satu palajaran yang sangat penting, yaitu tentang “pohon ara” apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, berarti musim panas sudah dekat. Ini berbicara tentang kedatangan Tuhan yang sudah dekat.
Pelajaran tentang “pohon ara” ini adalah pelajaran tentang “tanda keubahan hidup” yang menunjuk kepada kehidupan yang sudah mengalami tanda pembaharuan.

POHON ARA = adalah pohon yang pernah dikutuk oleh Yesus karena tidak berbuah. Ini menunjuk keadaan manusia sebelum mengalami tanda pembaharuan, setiap orang yang masih tetap dalam dosa dan pelanggaran berada dalam kutuk.
Namun demikian pohon ara ini juga berbicara kepada gereja Tuhan yang sudah diampuni dosanya, yang dikuduskan dan yang dipersiapkan menjadi sidang mempelai perempuan Kristus. Maka kalau pohon ara sudah mulai melembut dan mulai bertunas, maka pohon ara akan bertunas dan berbuah. Demikian juga jika gereja Tuhan yang berasal dari bangsa kafir itu sudah mulai membuka hati dan menerima firman Tuhan, maka saatnya gereja itu akan dipulihkan, akan diubahkan dari manusia yang dahulu terkutuk supaya menjadi umat Allah.

Dalam Kidung Agung 2 : 11 - 13 dijelaskan juga tentang pohon ara jika musim dingin telah lewat, berarti musim panas sudah mulai saat itulah pohon ara mulai bertunas dan berbuah. Ini sama seperti yang telah dikatakan di atas, jika rohani sudah mengalami tanda keubahan, pasti ada semangat baru atau gairah untuk melakukan firman Tuhan. Sehingga Allah akan menunjukkan penyertaan-Nya kepada kita dalam segala hal.
Sebaliknya Yesaya 1 : 4 - 8 kalau tidak mengalami tanda pembaharuan akan masuk ke dalam celaka, akan dipukul mulai dari kaki sampai kepala, semua menjadi sakit. Ini menjadi peringatan khusus kepada orang yang tidak mengalami tanda pembaharuan.

Proses tanda keubahan itu pertama-tama akan nampak dalam hal “memperhatikan”, ada sikap mendengar dan menerima firman Tuhan. 2 Petrus 1 : 19 memperhatikan firman sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap. Artinya: jika kita mau memperhatikan firman Tuhan, maka firman itu akan menjadi terang sehingga kita tidak lagi hidup di dalam kegelapan. Bahkan dalam Yohanes 1 : 4 telah dikatakan jika kita sudah berada di dalam Dia (=di dalam firman) maka di dalam hidup kita sudah ada hidup, dan hidup itulah yang menjadi terang manusia. Itu sebabnya orang yang paling berbahagia adalah mereka, yang di dalam hidupnya sudah ada terang firman Tuhan.
Karena itu sebagai jemaat Tuhan, kalau Saudara rindu memperoleh hidup yang kekal, harus mau memperhatikan firman Tuhan, di dalam diri kita harus ada sikap beribadah yang benar dan ada kerelaan untuk melayani Tuhan. Sebab jika di dalam diri kita sudah ada sikap memperhatikan firman Tuhan, maka firman itu akan membawa kita juga untuk memperhatikan ibadah dan pelayanan sehingga kita dapat beribadah yang benar dan membawa korban yang harum bagi Tuhan kita.
Karena itu untuk mempercepat proses supaya berhasil memiliki tanda keubahan dalam hidup, ada dua (2) hal penting yang harus kita perhatikan, yaitu:
1. Tingkatkan persekutuan dengan Tuhan dalam
doa dan penyembahan yang benar.
Supaya hal ini bisa terwujud, Lukas 9 : 28 - 29 penyem-bahan yang benar itu harus diawali dahulu dengan firman pengajaran, sesuai dengan skema Tabernakel yang dimulai dengan Meja Roti Sajian, Pelita kemudian Mezbah Dupa. Jadi penyembahan yang benar tidak akan pernah terwujud kalau di dalam hidup kita tidak ada terang firman Tuhan maupun urapan dari Roh Kudus. Kalau ada penyembahan yang benar, ada dua yang akan berubah, yaitu: WAJAH & PAKAIAN.
Wajah = berkaitan dengan hati, setiap orang akan nampak dari wajahnya. Kalau hati sedang susah, akan nampak dari wajahnya yang murung, demikian sebalik nya kalau hati sedang gembira akan nampak juga dari wajahnya yang ceria.
Pakaian = berbicara sifat atau karakter dan tingkah laku, setiap orang yang sudah hidup dalam penyembahan yang benar, akan nampak dari sikap dan perbuatannya sehari-hari. Jadi kalau penyembahan sudah ditingkat kan, maka tanda keubahan itu akan nampak baik perkara dalam maupun perkara luarnya.
2. Ada kerelaan menderita/sengsara.
Menderita atau sengsara yang dimaksud bukanlah karena dosa, tetapi karena melakukan firman Tuhan. 2 Korintus 4 : 14 - 16 ketika manusia lahiriah semakin merosot, bahkan sekali pun sedang menghadapi maut, jangan tawar hati. Mengapa harus demikian? Sebab semua penderitaan itu sengaja Tuhan ijinkan terjadi, tujuannya untuk mengerjakan kemuliaan kekal yang melebihi segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Rasul Paulus mengatakan semua penderitaan itu hanyalah pende-ritaan biasa saja, maka kita tidak perlu takut menghadapi penderitaan.
Matius 6 : 25 - 26 kalau pandangan rohani kita sudah diubahkan, hasilnya : kita akan hidup tanpa kekuatiran. Ayat 27 = jika hidup dalam kekuatiran tidak dapat menambahkan sehasta pun pada jalan hidupnya, tetapi jika hidup tanpa kekuatiran: Tuhan sendiri yang akan menambahkan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan kita (ayat 33).


“PELAJARAN TENTANG POHON ARA”

Minggu - 24 Januari 2010

Puji Tuhan!
Kita sudah melihat dan mempelajari tentang pohon ara, suatu pelajaran yang sangat penting kita ketahui sebab pelajaran tentang pohon ara ini adalah pelajaran tentang "tanda keubahan hidup." Pohon ara berbuah tidak disemua musim, berbuah kalau hanya musim panas saja. Kidung Agung 2 : 11 - 13 firman Tuhan menjelaskan: saat musim dingin dan musim hujan telah berlalu, saat itulah ranting-ranting pohon ara mulai melembut dan mulai bertunas sampai menghasilkan buah-buah.

Musim panas berbicara tentang:
- kegerakan hujan akhir
- kegerakan rohani
Artinya: ada kegerakan rohani karena kasih akan Tuhan, ada gairah atau semangat untuk
mengikuti gerak firman Tuhan.

Dasar/sikap untuk menerima firman Tuhan: kita harus memiliki hati yang lembut, yaitu hati yang siap menampung kebenaran. Bagi kita sebagai jemaat Tuhan, ibadah itu sangat erat kaitannya dengan tanda keubahan hidup.
Maka tidak heran kalau dalam Roma 12 : 1 - 2 firman Tuhan sangat menekankan: “Berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Tujuannya: supaya kita jangan menjadi serupa dengan dunia ini.
Hidup yang sudah mengalami tanda keubahan atau pembaharuan, ditandai dengan sikap: beribadah kepada Tuhan dengan cara yang benar, yaitu dengan mempersembahkan “tubuh” sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah.
Sebagai contoh kita bisa melihat pribadi Yesus. Lukas 2 : 52 Yesus sendiri sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia, dalam hidup-Nya sebagai manusia juga memiliki tanda perubahan:
- semakin bertambah besar-Nya
- bertambah hikmat-Nya
- semakin dikasihi Allah dan manusia
Demikian juga setiap orang yang mau meneladani pribadi Tuhan Yesus, yaitu yang sudah mengalami tanda keubahan hidup, mereka juga pasti akan ditandai dengan sikap dan perbuatan yang benar, sehingga hidupnya akan dikasihi Allah dan juga dikasihi sesama manusia.
Hal seperti ini juga pernah dialami oleh Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, yaitu pada saat raja Nebukadnezar mengangkut orang Israel ke Babel sebagai tawanan dan menjadikan mereka sebagai budak. Walaupun mereka sebagai tawanan, dan sedang dibawa keistana raja, mereka tetap mempertahankan cara hidup yang benar. Daniel 1 : 8 mereka berketetapan (berketetapan = tidak terpengaruh dengan keadaan = tidak sama dengan dunia ini) untuk tidak menajiskan diri dengan santapan/makanan raja.
Ayat 12 setelah mereka berketetapan kepada mereka diberikan hanya sayur untuk dimakan dan air untuk diminum, maka diadakanlah pencobaan selama sepuluh hari. Walaupun demikian, perawakan mereka jauh lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja (ayat 15). Berkatnya: Allah mengaruniakan kepada mereka kasih dan sayang (=mereka dikasihi Allah), Tuhan juga memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai tulisan dan hikmat, dan khusus kepada Daniel Tuhan memberikan pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. Daniel 1 : 20 dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, raja Nebukadnezar mendapati bahwa mereka “sepuluh kali lebih cerdas” dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi diseluruh kerajaannya. Inilah yang membuat sehingga Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego mendapat kedudukan yang tinggi di Babel.
Saudara-saudara, sesungguhnya setiap orang yang berdosa, ia sedang memiliki kasus, sedang berperkara dengan Allah. Maka kalau sedang berperkara dengan Allah, perkara itu harus diselesai kan dengan secepatnya supaya jangan sampai menimbulkan masalah besar.
Adam dan Hawa setelah jatuh ke dalam dosa, Tuhan berfirman untuk memanggil supaya mereka dibetulkan/diperbaiki kembali. Sebab setelah mereka melanggar perintah Allah, mereka menjadi takut kepada Allah, bahkan mendengar bunyi langkah Tuhan pun mereka menjadi takut. Dari sini bisa kita lihat dengan sebenarnya betapa jeleknya dosa itu, bisa membuat manusia menjadi takut bertemu dengan Allah.
Yesaya 1 : 18 firman Tuhan menghimbau kepada orang-orang yang telah berdosa supaya mau berper-kara dengan Allah. Kalau Tuhan mengundang untuk berperkara, tentu ada maksud dan tujuannya, yaitu: untuk menyelesaikan masalah tersebut supaya jangan tetap berperkara dengan Tuhan. Tuhan tahu, kalau manusia berperkara dengan Tuhan maka tidak ada seorang pun yang tahan dan tidak ada seorang pun yang bisa lari dari masalah tersebut. Untuk itulah Tuhan mengundang supaya manusia yang sudah berdosa itu mau datang untuk berperkara dengan Tuhan, supaya bebas dari segala masalah.
Yesaya 1 : 19 jika mau menurut dan mau mendengar (=mau berperkara dengan Tuhan) akan memakan hasil baik, sebaliknya kalau melawan atau memberontak (=tidak mau berperkara dengan Tuhan) akan dimakan oleh pedang (ayat 20), artinya akan masuk ke dalam penghukuman.

Berperkara kepada Tuhan = artinya adalah memohon kemurahan Tuhan supaya dihapuskan dari segala dosa maupun pelanggaran.
Menurut firman Tuhan cara yang benar berperkara dengan Tuhan sama dengan mau mengakui segala pelanggaran yang telah diperbuat.
1 Yohanes 1 : 8 jika ada orang yang berani berkata “tidak pernah berdosa”, firman Tuhan mengatakan ia sedang menipu dirinya sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam dirinya. Tetapi jika mau mengakui segala dosanya dengan jujur, Tuhan itu setia dan adil sehingga Ia pun akan mengampuni kita dari segala dosa bahkan Ia juga akan menyucikan kita dari segala kejahatan yang telah kita lakukan (1 Yohanes 1 : 9).
Sama seperti Adam dan Hawa setelah jatuh ke dalam dosa, mereka mencoba menutupi ketelanjangannya dengan cara membuat cawat dari daun pohon ara. Tetapi usaha mereka ini tidak berhasil, tetap tidak mampu menutupi segala dosa dan kekurangan mereka dihadapan Tuhan. Maka Tuhan sendiri yang bertindak, Ia memanggil mereka dan berfirman, tujuannya adalah: supaya Adam dan istrinya itu dibetulkan dan diperbaiki supaya jangan tetap tinggal di dalam dosa. Firman Tuhan dalam Roma 8 : 28 membuktikan bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang dikasihi.

Roma 8 : 29 cara Tuhan membetulkan manusia:
- dipanggil supaya dibetulkan/diperbaiki dari manusia berdosa menjadi
manusia yang dibenarkan.
- selanjutnya setelah dipanggil, akan dipilih supaya dikuduskan(disucikan)
supaya menjadi serupa dengan gambaran Kristus.
Inilah juga yang dikatakan dalam 2 Petrus 1 : 10, firman Tuhan menghimbau supaya kita berusaha dengan sungguh-sungguh, tujuannya supaya panggilan dan pilihan kita makin teguh. Sebab jika panggilan dan pilihan kita sudah teguh, maka kita tidak akan pernah tersandung. Justru Tuhan akan mengaruniakan “hak penuh” untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (ayat 11).

Maka kalau kita lihat dalam 1 Korintus 9 : 24 - 27 ada tiga (3) sikap yang perlu kita perhatikan:
1). Harus taat dan dengar-dengaran.
2). Menguasai diri dalam segala hal.
3). Tidak membiarkan sedikit pun waktu terbuang.

Seorang pelari: pertama-tama ia harus memasang telinga untuk mendengar aba-aba atau peraturan dalam pertandingan, sebab jika tidak demikian ia tidak akan bisa mengikuti pertandingan dengan baik. Kemudian ia juga harus mampu memperhatikan waktu ketika bertanding supaya jangan sampai ketinggalan dengan pelari yang lainnya.
Orang Kristen yang tidak mau memasang telinga untuk mendengarkan firman Tuhan apalagi kalau tidak mau memperhatikan firman Tuhan, maka ia akan menjadi orang Kristen yang biasa-biasa saja, manjadi hamba Tuhan yang tidak serius melayani. Maka sebagai jemaat Tuhan maupun sebagai hamab Tuhan, mari kita teladani sikap seorang pelari: pasang telinga untuk mendengarkan firman Tuhan dan perhatikan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Kalau pohon ara sudah mulai bertunas dan mengeluarkan buah, berarti kedatangan Tuhan sudah dekat. Yang bisa masuk ke dalam kerajaan sorga hanyalah mereka yang sudah mempersiapkan diri, yaitu yang sudah mengalami tanda keubahan hidup. Haleluya.......!!!

Senin, 04 Januari 2010

Buletin Januari 2010

“NATAL MENURUT INJIL LUKAS”

Minggu - 03 Januari '10

Saudara-saudara, pada minggu yang lalu kita sudah melihat bahwa NATAL adalah bukti kasih Allah yang di-nyatakan kepada manusia, Yesus datang sebagai Juruselamat bagi semua orang. NATAL adalah berkat khusus yang diberikan Allah kepada semua orang, kepada orang-orang yang baik, kepada orang-orang yang jahat bahkan kepada orang-orang yang najis sekalipun. Maka supaya dapat mengalami berkat NATAL, kuncinya: datanglah kepada Tuhan dan jadikan Dia sebagai Juruselamat pribadimu.
NATAL menurut Injil Lukas menceritakan Yesus sebagai Anak Manusia. Dan NATAL menurut Injil Lukas ini yang perlu diperhatikan supaya dapat ber-temu dengan Yesus adalah “tanda”, di mana Yesus di-lahirkan. Dalam Lukas psl 2 firman Tuhan menceritakan bagaimana proses kelahiran Yesus, malaikat Tuhan datang kepada para gembala-gembala yang tinggal di padang dan mengatakan: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (ayat 11 - 12) Jadi kepada para gembala-gembala itu Tuhan memberikan suatu “tanda” bahwa Juruselamat telah datang ke dunia ini.

Bagi kita “tanda” ini mengandung arti yang sangat penting, untuk membuktikan bahwa Allah telah datang ke dunia ini sebagai Juruselamat untuk menyelamatkan kita dan menjadikan kita sebagai milik kepunyaan-Nya.


Ulangan 6 : 4 - 15 firman Tuhan menekankan supaya mempunyai tanda: kita harus memperhatikan firman Tuhan dan mengajarkannya kepada anak-anak, baik ketika di rumah, dalam perjalanan, ketika berbaring ataupun ketika bangun. Ayat 8 - 9 firman Tuhan bisa menjadi tanda apabila firman itu diikatkan pada tangan dan menjadi lambang didahi. Berkat kalau firman Tuhan sudah menjadi tanda: rumah-rumah penuh berisi berbagai-bagai barang yang baik (berkat dalam rumah tangga) dan sumur-sumur atau kebun-kebun yang disediakan Tuhan walaupun bukan kita yang menggali atau menanami.

Untuk memperoleh tanda dari Tuhan, ada dua (2) langkah yang harus kita miliki, yaitu:

1. Mau mendengarkan firman Tuhan.

Sikap dalam mendengar firman Tuhan ini sangat penting kita miliki, sehingga dalam Lukas 8 : 18 Tuhan Yesus pun harus memperingatkan murid-murid supaya memperhatikan cara mendengar. Sikap mendengar yang baik menjadi penentu supaya kita berhasil menjadi jemaat yang berkenan kepada Allah. Sebab kalau sudah berhasil memiliki cara mendengar yang baik, maka kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai cara mendengar yang baik, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.
Gembala-gembala di padang, ketika malaikat Tuhan memberikan tanda, mereka mau mendengar dan memperhatikan. Sehingga hasilnya: mereka berhasil bertemu dengan Yesus yang baru lahir, yang dibungkus dengan lampin dan berbaring di palungan. Seperti yang telah dikatakan malaikat Tuhan demikianlah mereka bertemu dengan Yesus.
Pada NATAL yang pertama Yesus dibaringkan “dipalungan”, mengapa Yesus harus di ditempat kan di palungan? Ini mengandung arti yang sangat besar bagi kita, Yesus itu adalah Juruselamat dunia, yang sangat dibutuhkan oleh semua orang. Maka kalau Yesus ditempatkan di palungan, tujuannya adalah supaya dengan mudah domba-domba bisa menjangkau, bisa menikmati dengan baik. Jadi Yesus itu adalah benar-benar makanan yang menjadi kebutuhan semua orang terlebih mereka yang mau menghargai keselamatan.
Yesus di tempatkan di palungan:
- Yesus itu menjadi makanan bagi domba-domba,
yang tergembala dengan baik
- firman Tuhan itu menjadi makanan/kebutuhan
semua orang, yang haus akan kebenaran
Karena itu, firman Tuhan itu tidak cukup kalau hanya dipikirkan saja, tidak cukup kalau hanya didengar saja, tetapi firman itu harus ditaruh di dalam hati dan di dalam mulut. Sebab kalau firman itu sudah ditaruh di dalam mulut, berarti firman itu sudah dijadikan sebagai makanan/ kebutuhannya, yang telah dinikmati lebih dulu, sehingga bisa masuk ke dalam hati, maka firman itu akan bekerja di dalam hatinya, akan menyucikan hidupnya dan membuat hidupnya menjadi berkenan kepada Allah. Sebaliknya jika firman itu tidak dinikmati, inilah yang membuat sehingga akan timbul keragu-raguan, merasa firman itu sepertinya tidak bisa dijangkau, seperti nya tidak bisa dijangkau.
Dalam Ulangan 30 : 11 - 14 firman Tuhan sudah mengatakan bahwa sebenarnya firman itu tidaklah terlalu sukar dan tidak terlalu jauh, tidak di langit dan tidak di seberang laut tempatnya. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak mengerti akan firman Tuhan. Kalau dulu Yesus di tempatkan di palungan, tempat yang mudah dijangkau oleh domba-domba, demikian juga sekarang firman itu juga mudah dijangkau, tidak terlalu jauh. Bagi kita sekarang, firman itu sudah sangat dekat, yaitu di dalam mulut dan di dalam hati. Karena itu sebagai jemaat Tuhan, mari kita tempatkan firman itu di dalam mulut dan di dalam hati, mari kita buat firman itu menjadi makanan, menjadi kebutuhan yang lebih utama dari dari pada yang lain. Jika firman itu sudah ditaruh di dalam mulut dan di dalam hati, maka firman itu akan mengerjakan perkara yang besar di dalam hidup kita.

2. Mau melihat/memperhatikan.

Setelah para gembala-gembala itu mendengar apa yang disampaikan oleh malaikat Tuhan, langkah selanjutnya mereka cepat-cepat berangkat/pergi ke Betleham untuk melihat apa yang telah terjadi. Mereka bukan hanya mendengar, tetapi langsung bertindak mempraktekkan apa yang telah didengar.
Pada zaman sekarang ini, memang banyak orang punya mata, tetapi sayang tidak bisa melihat dengan baik, banyak orang tahu akan firman Tuhan, tetapi tidak dapat menikmatinya dengan baik. Mengapa? sebab tidak ada sikap yang baik, yaitu tidak ada kerinduan untuk melihat atau mengalami seperti yang dikatakan Tuhan. Orang Kristen seperti ini, tidak akan tahu nilai firman Tuhan, tidak bisa membuat firman itu jauh lebih berharga dari segala yang ada di dalam dunia ini, termasuk dari harta benda bahkan dari nyawa kita sekalipun.
Firman Tuhan dalam Yesaya 29 : 9 - 12, mengatakan setiap orang yang tidak dapat melihat kedalaman firman Tuhan, akibatnya mereka akan MABUK, tetapi bukan karena anggur, mereka akan PUSING, tetapi bukan karena arak.
Mengapa tidak dapat melihat kedalaman firman Tuhan?
Penyebabnya:
- kitab itu termeterai, sehingga walau tahu membaca
tetapi tidak akan dapat melihat bagian dalamnya
- kitab tidak termeterai, tetapi karena tidak tahu
membaca juga tidak akan dapat melihatnya
Lukas 2 : 20 setelah gembala-gembala itu mendengar dan melihat tepat seperti yang dikatakan oleh malaikat Tuhan, mereka kembali ke tempat masing-masing sambil memuji dan memuliakan Allah. Bahkan mereka juga dapat memberitahukan kepada orang lain, apa yang telah mereka lihat, sehingga semua orang yang melihatnya menjadi heran. Kalau gembala-gembala memberitakan apa yang telah mereka dengar dan lihat, tetapi dalam Lukas 2 : 19 Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
MARIA = gambaran jemaat atau gereja Tuhan yang jadi mempelai perempuan Kristus. Maka kalau hamba-hamba Tuhan memberitakan firman, sikap kita sebagai jemaat mau harus merenungkan firman Tuhan itu dan menyimpannya di dalam hati yang baik.

Saudara-saudara, kalau kita perhatikan Injil Lukas, yang perlu kita perhatikan bukan hanya tanda kelahiran Yesus saja, tetapi kita juga dibawa untuk memperhatikan tanda tentang kedatangan-Nya yang kedua kalinya. Kalau pada kedatangan-Nya yang pertama, Yesus datang sebagai tubuh atau bayi yang baru lahir dan ditempatkan dipalungan, menjadi Juruselamat. Tetapi pada kedatangan-Nya yang kedua kali, ada satu pertanyaan penting yang harus kita perhatikan: “Di mana Tuhan?” Kemudian Yesus menjawab: “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.” (Lukas 17 : 37)
Burung Nasar = pribadi Allah/lambang Injil Yohanes.
Sedangkan MAYAT :
- berbicara “tubuh” yang menunjuk kepda tubuh
Kristus, yaitu gereja yang di dalamnya Allah hadir.
- ini juga berbicara “gereja” yang sudah mengalami
proses: mati dan bangkit bersama dengan Kristus,
sudah mati terhadap dosa.
Jadi proses tanda kelahiran dan bangkit bersama dengan Kristus adalah “tanda” yang harus kita perhatikan dengan baik-baik supaya kita berhasil menjadi jemaat yang berkenan kepada ALlah. Melihat tanda kelahiran Yesus memang sudah baik, tetapi itu belum cukup, harus dilanjutkan melihat tanda yang kedua, yaitu tanda-tanda kedatangan Tuhan yang kedua kali supaya kita dapat mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, tergabung dalam pembentukan dalam tubuh Kristus yang kudus dan sempurna. HALELUYA...!!!

Rabu, 09 Desember 2009

BULETIN DESEMBER 2009

“LEBIH DARI PEMENANG”

Minggu - 06 Desember 2009

KEGERAKAH HUJAN AKHIR.

Roma 8 : 37 Kita bisa menjadi lebih dari pada orang-orang yang telah menang karena:
- ada satu pribadi menjamin untuk menang, yaitu pribadi Tuhan Yesus Kristus. Dia telah menyerahkan diri-Nya bagi kita dengan cara mati di atas kayu salib sebagai korban untuk memperdamaikan kita dengan Allah.
- Allah ada dipihak kita, ini berbicara ada hubungannya dengan kasih Kristus, di mana kita tetap berada dan terikat di dalam kasih Kristus. Sebab jika kita tetap berada di dalam kasih Kristus, maka IA akan tampil sebagai “Pembela”.
Jika Allah sudah tampil sebagai Pembela berarti Ia sudah berada dipihak kita, maka:
- tidak akan ada yang dapat melawan kita
- tidak akan ada yang dapat menggugat kita
- tidak akan ada yang dapat memisahkan kita dari
kasih Kristus
Sehingga baik penindasan, atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan, atau ketelanjangan atau bahaya atau pedang, semua ini tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Justru sebaliknya kita akan disebut sebagai pemenang, yang bisa lebih dari orang-orang yang telah menang di dunia ini.
Saudara-saudara, kasih Kristus itu adalah kasih yang besar bahkan sangat besar, tidak terukur dan tidak terbatas, kasih Kristus itu bukan hanya sekedar untuk memberi berkat, bukan hanya untuk menyembuhkan, bukan hanya untuk menghiburkan, tetapi lebih dari pada itu kasih Kristus itu adalah kasih yang mampu menyelamatkan setiap orang yang telah percaya kepada-Nya, mulai dari kelahiran-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya terhadap kematian bahkan sampai kepada kenaikan-Nya ke sorga.
Karena itu kalau kita kembali ke pemberitaan firman pada minggu-minggu yang lalu, YOSUA itu artinya: Tuhan adalah keselamatanku, artinya jika kita membuat Tuhan itu sebagai keselamatan, maka Tuhan akan memberi janji yang pasti bahwa kita pasti akan diselamatkan akan menjadi pemenang.Yosua 1 : 5 janji Tuhan kepada Yosua: “Seorang pun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau, Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Inilah janji Tuhan yang sangat luar biasa kepada Yosua dan juga kepada setiap orang yang telah membuat Tuhan sebagai pokok keselamatannya, Tuhan akan memberikan kemenangan yang gilang gemilang dari semua musuh yang mencoba memisahkan kita dari kasih Kristus. Janji Tuhan itu adalah janji untuk menjadikan kita sebagai Pemenang.
Saudara-saudara, kemenangan itu pasti bisa kita peroleh jika kita mau memandang kepada Kristus sebagai “pemimpin” yang akan membawa kita kepada kemenangan., sama seperti bangsa Israel yang mau dipimpin oleh Yosua. Sebab siapa yang kita ikuti menjadi penentu menang atau tidak.
Dalam Wahyu 6 : 1 - 2 dalam pembukaan meterai yang pertama: tampil seekor “kuda putih” dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota, yang maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan.Wahyu 6 : 1 - 2 ini berbicara penampilan Kristus yang tampil dengan segala kekuatan dan kuasa-Nya yang luar biasa dan ajaib, untuk merebut kemenangan yang gilang gemilang.

Pada zaman sekarang ini banyak orang, termasuk pendeta-pendeta yang salah menafsirkan penampilan kuda putih ini, mereka mengatakan bahwa penampilan kuda putih ini adalah antikristus yang akan tampil sebagai pemenang. Ini adalah penafsiran yang salah, sangat keliru. Sebab jika seandainya antikristus yang tampil sebagai pemenang, maka tidak ada lagi artinya kita mengikut Tuhan, tidak ada lagi gunanya kita beribadah maupun melayani Tuhan. Maka sebagai Jemaat Tuhan terlebih lagi sebagai hamba-hamba Tuhan, kita harus mengikuti kebenaran firman Tuhan dalam firman Pengajaran ini supaya jangan sampai terikut dengan penafsiran-penafsiran yang salah. Penafsiran yang salah ini sangat berbahaya sebab bisa membuat orang Kristen menjadi salah arah dalam mengikut Tuhan. Mereka menyangka bahwa mereka masih milik Kristus tetapi karena mengikuti penafsiran yang salah, ternyata mereka sudah mengikuti yang lain, akibatnya Tuhan tidak berkenan akan kehidupan mereka. Tetapi jika kita tetap mengikut Kristus dengan tepat dan benar, Kristus yang tampil dalam penampilan-Nya yang menunggangi seekor kuda putih itu akan mengaruniakan kemenangan kepada kita.
Maka semua bentuk pencobaan dan penderitaan yang ada dalam Roma 8 : 35 - 36, seperti penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya atau pedang, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Bahkan sekalipun sekalipun kita berada dalam bahaya maut sepanjang hari, dan telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan, kita bisa lebih dari orang-orang yang telah menang sebab Kristus ada dipihak kita.
Yosua 3 : 1 - 4 Tuhan Allah telah menunjukkan kepada Yosua arah yang harus ditempuh, Tuhan juga sudah memberikan rencana-Nya yang harus dilakukan. Jadi arah perjalanan bangsa Israel dalam kepemimpinan Yosua sudah terencana dengan begitu teratur dan begitu baiknya. Mereka semua tidak ada yang boleh terlalu maju dan tidak boleh ada yang terlambat apalagi tertinggal. Tetapi semua mata harus tertuju untuk melihat Tabut Perjanjian yang diangkat para imam, yang berjalan di depan. Dan untuk menerima arahan dari ALlah, Yosua harus bangun pagi-pagi untuk menghadap ALlah. Bagi kita arti "bangun pagi-pagi" ini mengandung arti yang sangat besar. Yosua 3 : 1 Yosua bangun pagi-pagi, tujuannya:
- untuk mengatur pasukannya
- untuk memberi perintah tentang apa yang harus
mereka lakukan.
Maka seorang pemimpin rohani yang benar harus bisa memberi contoh atau teladan kepada yang dipimpin supaya tetap waspada dan tetap mempersiapkan diri dalam segala hal. Demikian juga sebagai jemaat Tuhan, kita harus tahu dan mengenal pemimpin rohani yang benar itu harus tetap tinggal di dalam kebenaran supaya dapat memimpin jemaat kepada arah dan tujuan yang benar.
Bagi kita, arti “bangun pagi-pagi” itu mengandung arti yang sangat besar. Dalam Mazmur 5 : 4 = bangun pada waktu pagi-pagi ada dua (2) sikap penting yang harus kita kerjakan, yaitu:
- mengatur persembahan, ada kaitannya dengan penyembahan,
hidup dalam penyembahan yang benar.
- menunggu-nunggu, ada kaitannya dengan sikap merendahkan
diri di hadapan Allah.
Jadi kalau kita bangun pagi-pagi, kita harus mengatur persembahan: supaya kita semua punya arah dan tujuan yang pasti, baik sebagai pemimpin rohani, sebagai kepala rumah tangga, sebagai istri ataupun sebagai jemaat. Semua ini bisa kita lakukan pada waktu pagi.
Sebagaimana telah kita lihat di atas, bahwa kuda putih dan orang yang menungganginya ini berbicara kegerakan rohani yang luar biasa. Kuda putih ini juga berbicara kegerakan “hujan akhir” dalam kuasa Firman Pengajaran Mempelai yang Alkitabiah, yaitu firman pengajaran yang sanggup membawa jemaat kepada kesempurnaan, mengenal Yesus Kristus sebagai Suami atau sebagai Mempelai Pria Sorga dan yang akan mempersiapkan gereja Tuhan menjadi sidang mempelai perempuan-Nya.
Kegerakan hujan akhir ini tidak lama dan datangnya pun begitu cepat, bagaikan kuda yang berjalan dengan cepat. Maka kita patut bersyukur karena Tuhan telah memberikan firman pengaran-Nya yang besar dan mulia ini dan kita harus menghargainya. Sebab Firman pengajaran inilah sarana yang diberikan Tuhan untuk mempersiapkan kita menjadi gereja Tuhan yang tampil sebagai pemenang.
Karena itu kita harus dapat membedakan lawatan maupun kegerakan.
“Lawatan” = sifatnya temporer, bisa saja hari ini satu daerah dilawat Tuhan, bisa saja daerah-daerah lain, tetapi bisa juga ditinggalkan apabila mereka sudah mengeraskan hati terhadap firman Tuhan.
Sedangkan “kegerakan” itu sifatnya cepat sekali sebab ada yang memimpin dan menungganginya dengan kuasa yang besar, maka setiap orang yang mau mengikuti kegerakan ini akan diberikan kemenangan yang besar lebih dari pemenang. Sikap kita dalam mengikuti kegerakan ini: mata harus tertuju kepada Tuhan jangan mau diombang-ambingkan oleh angin-angin pengajaran yang palsu dan kosong.
Itu sebabnya khusus dalam kitab Yosua pasal 3 dalam kegerakan akhir ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan dengan baik-baik:
1. 3 : 1 - 4 = Allah memberi petunjuk
2. 3 : 5 - 7 = diperlukan penyucian hidup
3. 3 : 8 - 17 = menyeberangi sungai Yordan
Setelah Allah memberi petunjuk lewat firman pengajaran-Nya dan supaya kita dapat mengikuti kegerakan hujan akhir ini, maka kita harus menyucikan hidup. Haleluya....!!


“LEBIH DARI PEMENANG”
Minggu - 13 Desember 2009

Manusia Yesus Kristus menjadi Pengantara

Saudara-saudara, pada bulan Desember ini biasanya banyak orang sedang sibuk merayakan Natal. Baik gereja-gereja, perusahaan, marga-marga, maupun STM semua berusaha supaya dapat merayakan Natal dengan sebaik-baiknya. Tetapi bagi kita, Natal itu bukan hanya sekedar perayaan begitu saja, tetapi kita harus menghargai Natal itu lebih dari sekedar perayaan.
Sebagaimana telah kita lihat pada minggu-minggu yang lalu, kita bisa disebut lebih dari pemenang karena Kristus telah mengasihi kita. Dan sebagai bukti Kristus mengasihi kita: Ia mau datang ke dunia ini dan menjadi manusia sama seperti kita, tujuannya untuk merasakan seperti yang kita rasakan. Jadi NATAL itu merupakan bukti kasih Allah kepada manusia, kado NATAL yang diberikan ALlah kepada manusia.
Lukas 1 : 35 firman Tuhan menjelaskan kepada kita Yesus Kristus lahir menjadi manusia bukan karena hasil perkawinan antara seorang laki-laki dengan perempuan, tetapi murni pribadi Allah yang turun menjelma menjadi manusia. Maka ketika Yesus dikandung, Roh Kudus yang turun dan kuasa Allah Yang Mahatinggi menaungi Maria, sehingga Anak yang lahir itu disebut Kudus, Anak Allah.
Mengapa Yesus harus lahir dan menjelma sebagai manusia dan sama seperti kita?
Jawabannya:
Supaya lewat kelahiran-Nya, Ia menjadi Juruselamat dan menjadi Imam Besar sebagai Pengantara untuk memperdamaikan kita dengan Allah di sorga.
Untuk itulah Yesus Kristus harus menjelma sebagai manusia supaya ada seorang manusia sebagai Pengantara untuk memperdamaikan kita dengan Allah. Kita dapat melihatnya dalam 1 Timotius 2 : 5, manusia Kristus itu benar-benar menjadi Pengantara antara Allah dengan manusia, Dialah satu-satunya yang dapat memperdamaikan manusia dengan Allah di sorga. Sebab jika seandainya tidak ada manusia Kristus Yesus yang menjadi Pengantara, maka tidak mungkin manusia itu bisa berdamai dengan Allah. Mengapa? sebab manusia itu pada dasarnya sudah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan ALlah (Roma 3 : 23).
Proses mengapa Tuhan Yesus bisa disebut sebagai manusia Kristus: Yohanes 1 : 14 sebab Yesus adalah firman yang telah menjadi manusia, kemudian dalam Yohanes 1 : 1, dijelaskan bahwa firman itu adalah Allah sendiri.
Manusia Yesus Kristus sebagai Pengantara:
  1. supaya manusia diselamatkan
  2. supaya Yesus memasukkan sifat-sifat Allah ke dalam diri manusia
Bukti Yesus sebagai Pengantara:
  • dalam doa, dalam doa selalu ditutup dengan kalimat: “Dalam nama Yesus kami berdoa.”
  • ketika mengusir setan, ketika berdoa untuk orang sakit, selalu mengatakan: “dalam nama Yesus.”
Jadi nama Tuhan Yesus itu bisa menjadi nama yang dapat kita andalkan dalam segala hal sebab di dalam nama-Nya memang ada kuasa yang besar. Seperti yang dikatakan firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 4 : 12 bahwa tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan selain di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Di atas telah dikatakan manusia Kristus menjadi Pengantara supaya Yesus memasukkan sifat-sifat Allah itu ke dalam diri manusia. Sebab jika sifat Allah telah dimasukkan ke dalam diri manusia, maka manusia itu akan disebut sebagai “manusia Allah.” Yohanes 1 : 12 mengatakan: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Yang disebut anak-anak Allah itu bukan karena diperanakkan dari darah dan daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Dan kalau kita sudah disebut sebagai anak-anak Allah, maka kita akan menerima kuasa.
Arti anak-anak Allah sama dengan manusia Allah. 1 Timotius 6 : 11, rasul Paulus juga menyebut Timotius sebagai manusia Allah. Maka jika kita sudah disebut sebagai manusia Allah, ada tandanya yaitu: mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bahkan dalam Roma 8 : 26 kepada setiap orang yang sudah disebut sebagai manusia Allah, Roh Kudus akan turut membantu kita dalam segala kelemahan kita, dan Roh Kudus itu sendiri turut berdoa untuk kita kepada Allah. Ini juga menjadi tanda bahwa Yesus itu adalah benar-benar sebagai Pengantara.
Sebaliknya kalau tidak berhasil disebut sebagai manusia Allah, akan disebut anak-anak iblis, sebab iblis juga akan berusaha memasukkan sifat-sifatnya ke dalam diri manusia. Yohanes 8 : 37 - 47 firman Tuhan menjelaskan kepada kita bagaimana sifat manusia yang disebut sebagai anak-anak iblis. Ada beberapa sifat yang dimasukkan iblis ke dalam diri manusia:
  1. tidak dapat mengasihi
  2. tidak dapat menangkap firman Tuhan = tidak hidup dalam kebenaran
  3. pekerjaannya suka membunuh manusia
  4. suka berkata dusta
Maka sekalipun mereka menyebut diri sebagai keturunan Abraham, tetapi sebenarnya mereka tidak melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan oleh Abraham. Inilah yang membuat sehingga sekalipun Yesus selalu mengatakan kebenaran, tetapi mereka tidak dapat menangkapnya apa yang telah dikatakan oleh Tuhan Yesus, sebaliknya justru mereka selalu ingin membunuh Yesus. Maka dengan tegas, Yesus berkata kepada: “Iblislah yang menjadi bapamu” jika iblis sudah memasukkan sifat-sifatnya ke dalam diri manusia, maka sekalipun mereka masih mengaku sebagai orang Kristen atau sebagai pengikut Kristus, tetapi yang sebenarnya mereka adalah anak-anak iblis.
Karena itu sebagai jemaat Tuhan, sangat perlu kita ketahui ada tiga (3) kekuatan yang mencoba menggagalkan iman manusia supaya jangan setia mengikut Tuhan:
  1. keinginan daging
  2. keinginan dunia
  3. iblis/setan
Dan kalau kita lihat firman Tuhan dalam Wahyu 21 : 8 ada delapan (8) perbuatan-perbuatan yang membuat manusia itu mendapat bagian dalam lautan api yang bernyala-nyala oleh api dan belerang, yaitu: orang-orang penakut, yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta. Kedelapan perbuatan ini dapat dibagi menjadi tiga (3) bagian :

keinginan daging :
  1. orang-orng keji
  2. orang pembunuh
  3. orang-orang sundal

keinginan yang duniawi :
  1. orang-orang penakut
  2. orang-orang yang tidak percaya
  3. orang-orang pendusta

iblis/setan :
  1. tukang-tukang sihir
  2. penyembah-penyembah berhala

Terus terang saja, kalau hanya dengan kekuatan manusia secara jasmani saja tidak mungkin kita bisa mengalahkan ketiga kekuatan tersebut di atas. Tetapi Tuhan punya cara yang tepat supaya kita dapat mengalahkan ketiga kekuatan tersebut, yaitu dengan cara:
  • 2 Petrus 1 : 5 - 8 = kita harus memiliki peningkatan secara rohani, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menambahkan kepada iman kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang. Jika semua ini sudah ada pada kita, maka kita akan menjadi giat dan berhasil dalam pengenalan akan Yesus Kristus.
Ibrani 2 : 14 - 15 = oleh kuasa kematian Kristus di atas kayu salib, IA memusnahkan dia yaitu iblis, yang berkuasa atas maut. Jadi lewat kematian Kristus di atas kayu salib, Ia telah membebaskan kita yang selama ini berada dalam perhambaan dosa supaya menjadi hamba kebenaran, yaitu menjadi milik kepunyaan Tuhan sendiri, yang dibela dan dipelihara


“LEBIH DARI PEMENANG”


Minggu - 20 Desember 200


Manusia Kristus sebagai Pengantara

Saudara-saudara, tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa selamat baik dari dosa maupun dari kuasa kegelapan kalau bukan karena kasih karunia Tuhan. Mengapa? Sebab semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3 : 23). Inilah yang membuat sehingga Allah harus turun dengan cara : memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3 : 16).
Jadi jelas, satu-satunya yang dapat menyelamatkan manusia dari dosa adalah Tuhan Yesus, satu-satunya yang bisa menjadi Juruselamat dunia hanyalah Tuhan Yesus sendiri. Firman Tuhan begitu jelas mengatakan dalam Kisah Para Rasul 4 : 12 bahwa keselamatan itu tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam nama Tuhan Yesus, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya kita bisa diselamatkan selain di dalam nama-Nya. Jadi satu-satunya yang bisa menjadi Juruselamat hanyalah pribadi Tuhan Yesus. Haleluya...!!

Yesus Kristus disebut sebagai “Anak Yang Tunggal” telah diberikan kepada dunia sebagai Juruselamat yang sanggup menghapus segala dosa dan yang sanggup melepaskan manusia dari maut. Karena itu Yesus sebagai Anak yang tunggal diberikan bukan hanya sekedar diberikan begitu saja, tetapi Ia juga telah menjadi korban perdamaian untuk memperdamaikan manusia dengan Allah di sorga, IA menjadi Pengantara antara kita dengan Allah. Maka pada NATAL yang pertama, Yesus Kristus sebagai Anak tunggal adalah “KADO” terbesar yang telah diberikan Allah kepada dunia ini.
  • Yohanes 1 : 29, = pada kedatangan Tuhan Yesus yang pertama, IA diperkenalkan sebagai “Anak Domba” yang menghapus dosa seisi dunia, IA lahir dan menjadi sama dengan manusia supaya kita diselamatkan. Puncaknya IA harus mati di atas kayu salib sebagai korban untuk memperdamaikan manusia dengan Allah.
  • Tetapi dalam Wahyu 19 : 6 - 10, = pada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, IA juga akan tampil sebagai “Anak Domba”, tetapi bukan untuk menghapus dosa lagi, melainkan sebagai Anak Domba yang akan menikah dengan gereja yang telah menjadi mempelai-Nya, yang disebut dalam pesta perjamuan Anak Domba.
1 Petrus 2 : 24 = “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”
Saudara-saudara, kalau kita lihat dari ayat tersebut di atas setelah Yesus mati di atas kayu salib sebagai korban penghapus dosa dan setelah Ia bangkit dari antara orang mati, ada tiga (3) poin penting yang perlu kita perhatikan supaya kita bisa disebut sebagai pemenang:
  • Kita juga harus mati terhadap dosa.
Artinya: 1). hidup kita ini tidak bisa lagi digerakkan olehdosa, tetapi sepenuhnya hidup kita sudah diatur dan dikuasai oleh Tuhan, 2). hidup kita ini tidak lagi menginginkan hal-hal yang berbau dosa sebab keinginan untukberbuat dosa itu sudah mati.

Dalam Matius 4 : 16 ketika Tuhan Yesus lahir ke dunia sebagai manusia, dunia ini sedang dinaungi/dikuasai oleh maut. Ini membuktikan betapa manusia itu sebenarnya sangat membutuhkan seorang Juruselamat yang bisa menjadi pengantara, seorang yang sanggup memperdamaikan manusia dengan Allah. Syukur kepada Allah, IA telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal yang datang sebagai manusia, supaya bangsa-bangsa yang selama ini berada dalam kegelapan beroleh kesempatan untuk melihat Terang yang besar. Bahkan bagi mereka yang selama ini diam di negeri yang sedang dinaungi maut, sekarang telah terbit Terang. Yaitu oleh Tuhan Yesus Kristus yang telah datang ke dunia ini, sekaligus menjadi terang bagi dunia, terutama bagi mereka yang mau percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Kuncinya: terima terang firman Tuhan, dalam firman pengajaran mempelai yang Alkitabiah.
Saudara-saudara, pada hari-hari yang lalu, kita sudah melihat bahwa pekerjaan iblis itu mempunyai perkembangan yang sangat luar biasa pesatnya. Kalau dalam Kejadian psl 3 ketika menggoda perempuan yang pertama, iblis tampil lewat ular untuk menjatuhkan manusia pertama ke dalam dosa. Tetapi dalam Wahyu psl 12 iblis tampil tidak lagi seperti ular biasa, tetapi ia sudah disebut: naga besar, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan bukan seorang saja tetapi seluruh dunia. Jadi sejak dari semula iblis selalu berusaha merusak karya Allah yang ada di dalam diri manusia. Karena itu sebagai jemaat maupun sebagai hamba Tuhan, kita harus tetap waspada supaya jangan sampai gagal oleh karena tipu daya si iblis.
Cara supaya kita bisa berhenti berbuat dosa: kita harus menderita penderitaan badani (1 Petrus 4 : 1), supaya sekalipun ada tawaran untuk berbuat dosa, walaupun keingian kita sedang berjuang melawan jiwa, kita harus mampu meninggalkannya walaupun harus menderita.
  • Kita harus hidup untuk kebenaran. Artinya: menjadi hamba kebenaran, seluruh hidup kita diatur oleh Tuhan untuk melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Roma 6 : 17 - 18 cara supaya kita bisa menjadi hamba kebenaran: “mentaati pengajaran” yang telah kita terima. Sebab jika mau mentaati kebenaran, maka kebenaran itu akan memerdekakan kita dari dosa. Bahkan untuk menghentikan kita dari kutuk dosa keturunan, harus ada yang sungguh-sungguh hidup dalam kebenaran.
Contoh:
Abraham,
bisa tertolong dan dipanggil Allah supaya ke luar dari Ur-Kasdim ke negeri yang akan ditunjukkan Allah kepadanya, karena dari nenek moyangnya sudah ada lebih dahulu takut akan Tuhan, yang dimulai dari SET. Memang orangtua Abraham yang sebenarnya adalah penyembah berhala, tetapi karena sudah dimulai dari nenek moyang ada yang takut akan Tuhan, inilah yang membuat Abraham tertolong.
Timotius, bisa tertolong dan menjadi rasul Kristus juga karena ada orang-orang yang takut akan Tuhan, dimulai dari neneknya yang bernama Lois dan ibunya yang bernama Eunike (2 Timotius 1 : 5).
  • Oleh bilur-bilur-Nya kita sembuh. Artinya: sembuh bukan hanya dari sakit penyakit, tetapi lebih dari pada itu kita telah dipulihkan dari segala cacat cela. Sebagai jemaat Tuhan, kita sangat memerlukan pertolongan dari Roh Kudus supaya Tuhan memberi kan hati yang baru, yaitu hati nurani yang baik dan roh yang baru, yang sudah mengalami penyucian. Kalau sudah disucikan, barulah akan ada gairah baik untuk beribadah maupun melayani Tuhan.

Karena itu kalau kita lihat keadaan umat Tuhan pada zaman akhir ini, masih banyak dari kalangan yang menyebut dirinya sebagai orang Kristen tidak mengerti apa yang menjadi kerinduan Tuhan dalam hidupnya. Memang banyak orang bisa tahu akan firman Tuhan, tahu berdoa, tahu melayani bahkan sangat suka beribadah kepada Tuhan, tetapi yang menjadi masalah adalah mereka hanya sekedar tahu begitu saja, tetapi tidak melakukan seperti yang dikatakan oleh firman Tuhan tersebut.
Kalau kita lihat Lukas 10 : 25 - 28 menjadi contoh tentang orang yang tahu akan firman Tuhan tetapi ia tidak hidup sesuai dengan firman Tuhan yang diketahuinya tersebut. ketika seorang bertanya kepada Yesus: “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Sebenarnya ini adalah suatu pertanyaan yang sangat baik dan sangat penting kita ketahui. Sebagai jemaat, kita memang harus tahu akan firman Tuhan supaya kita bisa melakukannya dan berhasil masuk ke dalam sorga. Tetapi yang dimaksud bukan hanya sekedar tahu begitu saja, tetapi harus menjadi praktek dalam hidup sehari-hari. Mengetahui firman Tuhan itu memang pekerjaan yang sangat mudah, semudah seperti orang mengatakan: “Amin” Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana dengan melakukannya?
Karena itu sebagai orang Kristen yang benar, kita harus mengetahui apa yang harus kita lakukan supaya kita layak menjadi orang yang berkenan kepada Allah.
Yang disebut sebagai orang Kristen yang benar:
  • firman Tuhan itu harus dilakukan
  • firman Tuhan itu harus dihidupi
Inilah yang menjadi kerinduan Tuhan dalam hidup kita, Tuhan mau supaya firman Tuhan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menjadi praktek dalam hidup.



“Natal Menurut Injil Matius”

Minggu - 27 Desember 2009

Kasih karunia Allah yang tertinggi dan yang terbesar, yang telah diberikan kepada dunia adalah: Yesus. Dia adalah Raja di atas segala raja, yang berkuasa atas segala sesuatu. Allah telah memberikan diri-Nya sendiri kepada manusia dan menjadi sarana untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Dan kalau kita lihat pada NATAL yang pertama, Allah memberikan diri-Nya kepada manusia bukan saat manusia itu sedang dalam keadaan baik-baik, bukan pula dalam keadaan rohani yang baik tetapi justru sebaliknya katika manusia itu sedang dinaungi maut yang disebabkan oleh dosa-dosa dan pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan. Untuk itulah pada NATAL yang pertama, IA datang ke dalam dunia dan menjadi sama dengan manusia supaya IA menjadi Juruselamat yang dapat melepaskan manusia dari dosa-dosa mereka.
Maka bagi kita, NATAL yang benar bukanlah menurut selera masing-masing, bukan menurut aturan dan peraturan gereja maupun organisasi. Tetapi NATAl yang benar adalah jika NATAl itu kita lakukan dengan baik dan benar, yaitu ada kerelaan untuk menerima kehadiran-Nya dalam hidup kita. Jangan seperti kebanyakan orang merasa berhasil merayakan NATAL dengan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dengan kemeriahan, dengan acara-acara yang sepertinya bisa menghibur dan menyenangkan hati. Sebab jika NATAL itu diraya-kan hanya menurut selera manusia, belum tentu Allah hadir di dalamnya, Allah tidak pernah berke-nan jika NATAl itu hanya sekedar perayaan saja.

NATAL menurut Injil Matius menitikberatkan Yesus yang lahir di Betlehem disebut sebagai Anak Raja, yang berkuasa atas segala sesuatu dan yang patut disembah. Matius psl 2 orang-orang Majus dari Timur tahu bahwa seorang raja telah lahir dan karena itu mereka pergi ke Yerusalem untuk mencari sampai.
Mengapa kita harus mengenal Yesus sebagai Raja?
Karena Dialah yang sanggup memerintahkan/ memberikan kemenangan bagi umat-Nya.
Dapat kita lihat dengan jelas dalam Mazmur 44 : 2 - 9 penampilan Yesus sebagai Raja yang penuh dengan kuasa telah dinubuatkan jauh sebelum Yesus lahir, jika Yesus menjadi Raja dalam hidup kita, maka:
* dengan Tuhan kita dapat menanduk para
lawan (=menang terhadap musuh)
** dengan nama Tuhan, kita dapat menginjak-injak orang-orang
yang bangkit menyerang kita (=berhasil menjadi pemenang).
Bukti Yesus sebagai Raja: Matius 1 : 1 dalam silsilah dijelaskan tentang Yesus yang disebut: ANAK DAUD. Daud itu adalah raja Israel yang paling berkenan kepada Allah, jadi kalau disebut anak Daud ini menjelaskan bahwa Yesus itu adalah benar-benar Raja.
Sebenarnya Yesus lahir bukan karena hasil hubungan antara laki-laki dengan perempuan, tetapi sepenuhnya dari Roh Kudus (Matius 1 : 20), jadi sebenarnya tidak perlu ada silsilah. Tetapi untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Raja, maka silsilah itu juga perlu dipakai untuk menjelaskan kepada semua orang bahwa Yesus yang lahir itu adalah benar-benar sebagai Raja. Hal ini perlu supaya jangan ada orang yang ragu tentang Yesus. Tetapi yang dimaksud di sini bukan seperti raja yang ada di dunia ini, tetapi raja dalan arti yang sanggup memberikan kuasa maupun kemenangan kepada kita.
Karena itu NATAL menurut Injil Matius ini sangat perlu kita ketahui, Yesus itu adalah benar-benar seorang Raja yang penuh dengan kekuasaan. Sebagai bukti bahwa Yesus adalah Raja yang berkuasa, dalam silsilah Tuhan Yesus, sebelum IA lahir ke dunia ini ada lima (5) nama perempuan yang diangkat, yaitu TAMAR, RAHAB, RUT, BATSYEBA dan MARIA. Kelima nama ini mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, ada dari latar belakang yang jahat tetapi ada pula dari latar belakang orang yang baik-baik, kelima nama ini terangkat namanya pada saat NATAL yang pertama.

1. TAMAR, gambaran nikah yang hancur dan porak-poranda. Kejadian psl 38 menjelaskan bahwa Tamar itu adalah menantu Yehuda sendiri, yang diambil menjadi istri anaknya. Tetapi karena kedua anaknya itu jahat dimata Tuhan, maka Tuhan membunuh mereka. Lalu Yehuda berjanji akan memberikan Tamar kepada anaknya yang bernama Syela sampai anaknya itu menjadi besar. Tetapi karena Tamar melihat bahwa mertuanya itu tidak menepati janji, maka Tamar menyamar sebagai seorang perempuan dursila dan kemudian bersetubuh dengan mertuanya sendiri, lalu mengandung dan melahirkan.
Sebenarnya jika seorang menantu sampai bersetubuh dengan mertua, ini suatu perbuatan yang sangat memalukan, tidak dikenan oleh Tuhan. Tetapi sekalipun demikian bobroknya rumah tangga itu, pada NATAL yang pertama nama Tamar itu diangkat untuk mengingatkan kita bagaimana kasih Allah yang begitu besar. Allah rindu memperbaiki kembali nikah-nikah yang telah hancur. Karena itu sebobrok apapun rumah tanggamu, ijinkan Yesus lahir dalam rumah tanggamu, maka Ia akan membulihkan keadaanmu.

2. RAHAB, seorang perempuan pelacur di Yerikho, kafir dan tidak termasuk umat Allah, tetapi ia berbeda dengan semua orang yang ada di Yerikho. Kalau Yerikho menutup pintu-pintu gerbangnya terhadap umat Allah, tetapi Rahab mau membuka pintu rumahnya terhadap kedua pengintai Israel. Biasanya seorang pelacur yang paling penting baginya adalah uang, tetapi sekarang ia tahu apa yang paling penting dalam hirupnya, yaitu keselamatan. Setelah ia tahu bahwa Yerikho akan dihancurkan, maka ia mengikat perjanjian dengan kedua pengintai tersebut.
Kedua pengintai itu menunjuk kepada pekerjaan Tuhan dalam Firman dan Roh Kudus-Nya. Maka sekalipun semua penduduk Yerikho tewas oleh pedang, tetapi Rahab dan seisi rumahnya diselamatkan. Karena itu sebagai jemaat Tuhan, mari kita buka hati untuk firman Tuhan dan Roh Kudus, supaya Allah hadir di tengah-tengah kehidupan kita. Tuhan tidak melihat latar belakang kita yang jelek, tatapi yang paling dilihat Tuhan adalah hati yang terbuka terhadap firman.

3. RUT, perempuan Moab, tidak termasuk dari kalangan umat Tuhan. Nama Rut masuk dalam silsilah Tuhan Yesus karena perbuatannya: mau meninggalkan kampung halamannya dan meninggal kan allahnya dan pergi bersama Naomi ke Betlehem serta mengakui Allah Naomi sebagai Allahnya juga. Kalau mau meninggalkan kampung halaman, berarti ia juga telah meninggalkan adat istiadatnya, kebudayaan-nya maupun tradisi nenek moyangnya. Rut ini memang benar-benar memiliki sikap yang patut kita teladani. Puncaknya ia pergi ke pengirikan ke tempat di mana Boas berada dan mengakui keadaannya dan tidak mau menutup-nutupi latar belakangnya yang jelek.

4. BATSYEBA, gambaran perempuan yang tertindas tidak dapat berbuat apa-apa. Sebab karena kecantikannya, ia harus diambil oleh Daud dan menghampirinya. Bahkan ketika Uria mati, ia juga tidak dapat berbuat apa-apa, ia tertindas, ia tertekan, tidak ada yang membela. Tetapi pada Natal yang pertama, kehidupan seperti Batsyeba ini terangkat, dipulihkan kembali, sebab ada yang tampil sebagai Pembela.

5. MARIA, perempuan biasa dan sederhana. Tetapi ia punya sikap yang sangat baik: menempatkan diri sebagai hamba, yang mau taat kepada firman Tuhan (Lukas 1 : 38). Walaupun Maria itu hanya perempuan biasa dan yang sederhana, tetapi ia berhasil menempatkan dirinya sebagai hamba Tuhan (=hamba kebenaran) dan menjadi seorang perempuan yang berkenan di hati Allah. Untuk melahirkan Yesus, yang paling dibutuhkan adalah hati yang mau menempatkan diri sebagai hamba Tuhan. Inilah sikap yang dimiliki Maria, sehingga Elisabet mengakui bahwa Maria itu adalah perempuan yang paling berbahagia dari semua perempuan.

Selasa, 10 November 2009

Buletin Nopember 2009

“LEBIH DARI PEMENANG”

Minggu, 01 Nopember 2009

Saudara-saudara, pada minggu yang lalu kita sudah melihat arti kata “setia” sama dengan “menang”, walaupun ada tantangan, penderitaan maupun pencobaan, tetapi tetap setia mengikuti Tuhan dan tetap tekun melakukan firman-Nya. Inilah yang disebut pemenang!
Yosua 1 : 5 kepada Yosua, Tuhan memberi suatu kepastian tentang kemenangan jika tetap tekun melakukan firman Tuhan. Sebagai seorang pemim-pin bangsa Israel , Tuhan tahu apa yang paling di-butuhkan oleh Yosua sebelum membawa bangsa Israel memasuki tanah Kanaan. Tuhan Allah lebih dahulu memantapkan hati Yosua bahwa tidak akan ada seorang pun yang dapat bertahan menghadapi Yosua seumur hidupnya. Kalau Tuhan mau mem-bangun seorang hamba Tuhan, seorang pemimpin rohani, Ia lebih dahulu memantapkan hati supaya yakin akan penyertaan Tuhan. Demikian juga sebagai jemaat Tuhan, hati kita juga perlu dimantap kan supaya bisa meyakini penyertaan Tuhan.
Yohanes 10 : 27 - 28 yang mendapat jaminan tidak dapat dirampas/direbut dari tangan Tuhan adalah “DOMBA”, berbicara jemaat yang hidup dalam ibadah dan penggembalaan yang benar.
Sikap domba:
- mendengar suara Tuhan = menekuni firman Tuhan.
- setia mengikut Tuhan = setia melakukan firman Tuhan.
Dalam penggembalaan yang benar, kita akan menemukan gambar Kristus sebagai Gembala. Dan sebagai Gembala yang baik :
Yesus telah memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya yang tekun melakukan firmanTuhan.
Jadi dalam penggebalaan yang benar, akan kita temukan gambar Tuhan Yesus yang tampil lewat gambar seorang pemimpin atau gembala jemaat yang hidup dalam terang firman Tuhan. Tuhan yang membangun kita dengan firman-Nya supaya bisa seperti domba tunduk dalam penggembalaan dan tekun melakukan firman Tuhan. Puncaknya firman Tuhan itu akan menyatakan gambar hidup kita yang sebenarnya baik dihadapan Tuhan maupun dihadapan sesama. Supaya ini bisa terwujud, maka sebagai:
- pemimpin yang baik, ia harus hidup dan melayani sesuai dengan firman Tuhan.
- suami yang baik, ia harus dapat mengasihi istrinya dan menjadi teladan yang baik di
di dalam rumahtangganya sendiri.
- istri yang baik, ia harus dapat mengatur rumah tangganya dan patuh kepada suaminya.

Mengerti kehendak Tuhan itu sangat indah.
Yosua 1 : 1 - 3 untuk membangun diri supaya bisa mengerti kehendak Allah, Tuhan membangun kita lewat firman-Nya. Pada dasarnya, Yosua itu hanya seorang hamba/abdi Musa. Tetapi setelah Musa mati, Tuhan memanggil Yosua untuk menggantikan Musa sebagai pemimpin untuk memimpin bangsa Israel memasuki tanah Kanaan. Maka Tuhan Allah membangun Yosua lewat mendidiknya sejak ia masih menjadi seorang abdi Musa supaya berhasil mempunyai ketetapan hati.
Sejak dari awal, Yosua itu adalah seorang yang taat kepada Musa dan kepada Tuhan, ia juga adalah seorang yang tekun melakukan firman Tuhan sejak masa mudanya. Tetapi sekalipun Yosua itu sudah taat sejak ia masih menjadi seorang pembantu, Tuhan juga masih mendidik sampai Yosua itu benar-benar bisa menjadi orang yang dipercayai.
Maka dalam Yosua 1 : 3 kepada Yosua, Allah memberikan suatu pernyataan yang luar bisa tentang kemenangan. Bahwa setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakinya, akan diberikan Allah kepadanya. Ini adalah janji Allah yang juga akan dinyatakan kepada kita, baik sebagai jemaat maupun sebagai hamba-hamba Tuhan. Tuhan Allah akan menyatakan penyertaan-Nya kepada kita ke mana pun kita melangkah. Kalau kepada Yosua, Allah mau memberikan pernyataan yang begitu luar biasa, maka kepada kita pun Allah akan menyatakannya juga.
Hanya syratnya: kita harus bergerak maju, tetap tekun melakukan segala perintah Allah ke mana pun kita melangkah.
Sebab jika Yosua tidak mau bergerak, jika ia puas hanya di tempatnya saja, walaupun Tuhan sudah berjanji bahwa setiap tempat yang akan diinjak kakinya akan menjadi miliknya, kalau tidak bergerak mengikuti kehendak Tuhan, maka ia tidak akan berhak memiliki tanah yang telah dijanjikan.
Arti kata “setiap tempat yang akan diinjak kaki”= ada aktivitas, ada pergerakan ke depan tidak berhenti tetapi melangkah terus sampai kepada akhirnya, berhasil mencapai tujuan.
Maka tidak heran dalam Ulangan 4 : 5 Musa memanggil bangsa Israel dan berkata supaya mereka mengingat segala ketetapan dan peraturan yang telah diajarkan oleh Musa kepada mereka. Ayat 6 = jika mereka melakukan segala ketetapan dan perintah Tuhan itu dengan setia, maka firman itu akan menjadi kebijaksanaan dan akal budi, bangsa-bangsa lain pun akan mengakui bahwa mereka adalah bangsa yang bijaksana dan berakal budi.
Demikian juga jika kita setia melakukan segala perintah dan ketetapan Tuhan dalam firman-Nya, maka firman itu akan membuat kita menjadi orang yang bijaksana dan berakal budi. Sebagaimana bangsa Israel diakui oleh bangsa-bangsa lain, demikian juga orang lain akan mengakui kita seba –gai orang yang bijaksana dan yang berakal budi. Orang yang bijaksana dan yang berakal budi itu pandangannya selalu mengarah ke depan, tidak terpengaruh oleh masa lalunya, tidak terpengaruh dengan penderitaannya, tidak terpengaruh dengan penyakitnya, tetapi terus berjalan mengikut Tuhan dan tekun melakukan firman Tuhan. Kepada LOT dan keluarganya, diperintahkan supaya berlari ke atas gunung dan supaya jangan menoleh ke belakang. Tetapi mereka tidak setia melakukan apa yang diperintahkan oleh malaikat Tuhan, istri Lot karena tidak mampu melepaskan diri dari perkara yang duniawi, menoleh ke belakang. Akibatnya: ia menjadi tiang garam.
Kalau masih memandang ke belakang berarti hatinya masih terikat dengan perkara-perkaran yang duniawi (harta), orang yang seperti ini tidak mungkin pandangannya bisa mengarah ke depan. Dan kalau tidak bisa memandang ke depan Amsal 29 : 18a firman Tuhan bekata: “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.” Wahyu = ada kaitannya dengan perkara-perkara yang akan datang, yang masih di depan dan yang akan terjadi. Jadi setiap orang yang tidak setia melakukan firman Tuhan, ia akan menjadi liar, tidak ada yang mengarahkannya untuk berbuat baik, dan pandangannya tidak mungkin bisa mengarah ke depan untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.
Setelah Allah memberikan suatu pernyataan yang begitu luar biasa kepada Yosua, yaitu janji tentang kemenangan, sebelum Yosua mengalami kemenangan tersebut, ada perintah Allah yang harus diperhatikan, yaitu:
- kuatkan/teguhkan hati.
- jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri.
- jangan melupakan perkataan kitab Taurat
= selalu menekuni firman Tuhan.
Hasilnya: Matius 7 : 24 - 25 orang yang bijaksana itu tahu di mana ia harus mendirikan rumahnya, yaitu di atas dasar batu. Maka sekalipun hujan dan banjir datang dan angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh, sebab sudah didirikan di atas dasar yang benar. Orang yang bijaksana itu punya sikap mendengar dan melakukan firman Tuhan = tekun melakukan firman Tuhan. Karena ia bijaksana, maka pandangannya bisa mengarah ke depan sehingga ia tahu di mana ia harus membangun rumahnya. Sebagai jemaat Tuhan yang hidup diakhir zaman ini, jika kita mau menekuni firman Tuhan dan memiliki sikap seperti Yosua, maka kita juga pasti bisa mempunyai pandangan yang mengarah ke depan, yang membuat kita menjadi orang yang bijaksana dan berakal budi, tahan terhadap segala pencobaan maupun penderitaan. Mendengar dan melakukan firman Tuhan harus menjadi sikap kita. H A L E L U Y A ...!!!



“LEBIH DARI PEMENANG”

Minggu, 08 Nopember 2009

Saudara-saudara, janji kemenangan yang diberikan Tuhan itu tidak tanggung-tanggung, tidak hanya satu hari, tidak hanya satu minggu, tidak hanya satu bulan, tidak hanya satu tahun, dst, tetapi sampai selama-lamanya, sampai Tuhan Yesus datang kembali. Sebab sedikit saja kita menyimpang dari kebenaran, maka kita sendiri akan menanggung akibatnya: tidak akan masuk ke dalam kerajaan sorga.
Yosua 1 : 3, 5 kepada Yosua dan kepada seluruh bangsa Israel, Allah telah memberikan pernyataan yang sangat luar biasa tentang kemenangan atas semua musuh-musuh mereka.
Ayat 3 = janji Allah untuk memberikan tempat = janji tentang kememangan atas semua
musuh mereka.
Ayat 5 = janji Allah, bahwa Allah tidak akan membiarkan dan tidak akan meninggalkan
umat-Nya.
Yang disebut “pemenang” bukan hanya sekedar menang begitu saja, mungkin karena sudah diberkati, sudah disembuhkan, sudah diberi jodoh, sudah mendapat pekerjaan, maka disebut sudah menang. Semua ini memang sudah baik. Tetapi belum cukup, sebab yang disebut dengan pemenang itu adalah: ia harus bisa lebih dari orang-orang yang menang.
Saudara-saudara, sebenarnya kalau dilihat dari segi kemampuan kita sendiri, disebut menang saja sudah syukur, sudah luar biasa. Tetapi firman Tuhan menekankan bahwa sebagai jemaat Tuhan maupun sebagai hamba-hamba Tuhan, kita harus bisa lebih dari orang-orang yang menang. Jadi lewat firman Tuhan, kita juga bisa menerima pernyataan dari Tuhan yang sangat luar biasa seperti yang telah diberikan kepada Yosua. Pernyataan Allah yang luar biasa kepada kita: kita bisa menjadi pemenang lebih dari orang-orang yang menang.
Roma 8 : 34 - 37 firman Tuhan menjelaskan kepada kita tentang keadaan umat Tuhan yang lebih dari orang-orang yang telah menang. Kuncinya: kita harus mengalami kuasa kematian dan kebangkitan. Dalam ayat ini dijelaskan Kristus Yesus telah bangkit dan duduk di sebelah kanan Allah dan menjadi “PEMBELA” bagi kita. Ini berbicara tentang kuasa kematian dan kebangkitan Kristus, sebab jika Kristus tidak mati dan bangkit, maka keselamatan itu tidak mungkin bisa kita miliki. Tetapi karena Kristus Yesus telah mati dan bangkit, maka Ia sendiri yang tampil sebagai Pembela bagi kita untuk menyertai dan untuk memberi kekuatan. Jika Kristus Yesus sudah menjadi Pembela bagi kita, maka:
- tidak akan ada yang bisa melawan kita
- tidak akan ada yang bisa menggugat
- tidak akan ada yang bisa menghukum
- tidak akan ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus.
Baik penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya atau pedang, dan sekalipun selalu berada dalam bahaya maut sepanjang hari dan dianggap sebagai domba-domba sembelihan, namun tidak akan ada yang bisa memisahkan kita dari Kristus. Justru sebaliknya dalam semuanya itu kita bisa menjadi pemenang lebih dari orang-orang yang menang.
Pada zaman akhir ini, masih banyak dari kalangan orang Kristen belum mengalami proses kematian dan kebangkitan seperti yang telah dialami oleh Tuhan Yesus Kristus. Mereka enggan menekuni firman Tuhan dan tidak sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan. Akibatnya mereka tidak mengerti apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup mereka. Sebenarnya yang disebut mengalami proses mati dan bangkit bersama dengan Kristus adalah “mengalami proses kelahiran baru”, ada sikap membuang segala perbuatan-perbuatan yang lama supaya dapat mengenakan sifat-sifat yang baru, yaitu sifat Kristus. Sebab jika kita sudah mati terhadap dosa dan mengenakan sifat Kristus, barulah kita disebut sebagai manusia baru, yang telah diciptakan menjadi manusia baru.
Mengapa kita harus mengalami proses kelahiran baru?
Firman Tuhan dalam Kejadian 3 menjelaskan sebagai akibat setelah manusia jatuh ke dalam dosa:
1. Kehilangan kemuliaan Allah.
2. Diusir dari taman Eden.
3. Tanah menjadi terkutuk.
Kemudian dijelaskan lagi dalam Roma 3 : 23; 6 : 23 akibat dosa bukan hanya kehilangan kemuliaan Allah, tetapi manusia itu sesungguhnya sedang berada di dalam maut. Maka bagi gereja Tuhan, berita tentang kematian dan kebangkitan Kristus ini harus menjadi berita yang paling utama supaya jemaat-jemaat itu bisa mengerti keadaan/posisinya dihadapan Tuhan. Fokus pemberitaan jangan hanya tentang kekayaan, kesembuhan ataupun perkara-perkara yang duniawi, sebab semua ini tidak bisa membawa kepada keselamatan. Keselamatan itu mutlak pemberian Tuhan, anugrah Tuhan yang harus kita kerjakan dengan sungguh-sungguh dengan cara melakukan segala perintah ALlah.
Saudara-saudara, sebelum bangsa Israel merebut kota Yeriko, sebelum mengalahkan rajanya dan rakyatnya, dalam Yosua 5 : 13 Yosua melihat ke atas dan melihat “seorang laki-laki” berdiri di depan nya dengan pedang terhunus ditangan. Kemudian Yosua bertanya: “Kawankah engkau atau lawan?” Laki-laki yang berdiri di hadapan Yosua itu adalah menunjuk kepada pribadi Yesus Kristus yang datang kepada Yosua untuk menunjukkan penyertaan-Nya kepada bangsa Israel. Tuhan Allah sengaja menyatakan diri-Nya sebab sebentar lagi umat Israel akan diperhadapkan dengan kota Yeriko yang tertutup rapat dengan tembok yang tinggi-tinggi.
Ketika Yosua bertanya: “Kawankah engkau atau lawan?” bagi kita ini merupakan suatu koreksi, jika kita sedang berhadapan dengan pribadi Allah, kita harus tahu di mana posisi kita, lawankah kita atau musuh Allah? Maka kalau terjadi suatu koreksi, kita harus tahu mengambil posisi yang benar, yaitu harus menjadi kawan/sahabat Tuhan. Sebab jika menjadi lawan atau musuh Tuhan, maka kemenangan itu tidak mungkin bisa diperoleh, sebaliknya akan mengalami malapetaka. Tetapi jika kita sudah menjadi kawan, maka Tuhan akan memberikan kemenangan yang gilang gemilang, Tuhan akan memberikan penyertaan-Nya dalam setiap waktu. Walaupun dunia ini bagaikan kota Yeriko yang tertutup, segala sesuatu serba sulit, banyak tantangan dan penderitaan, tetapi jika Tuhan sudah bersama dengan kita maka kemenangan itu pasti akan kita peroleh. Tuhan Yesus akan tampil dengan kuasa-Nya untuk memberi kemenangan kepada kita semua.
Yosua 5 : 14 - 15 setelah Yosua mengoreksi diri, Yosua diperintahkan supaya melepaskan kasut sebab tempat itu adalah kudus. Ini berbicara : ada sikap menanggalkan cara-cara/sifat-sifat yang lama.
Inilah hasilnya jika kita mau mengoreksi diri: kita akan dibawa kepada pengudusan hidup. Sebab selama manusia itu masih tetap mengenakan cara-cara hidup yang lama, maka Tuhan tidak akan menyertai sebab dosa itu merupakan kejijikan bagi Tuhan. Walaupun Yosua dan orang-orang Israel itu orang-orang yang gagah perkasa, tetapi Tuhan memberi kemenangan bukan dengan cara mereka sendiri tetapi dengan cara Tuhan sendiri. Yaitu dengan cara menguduskan diri. Demikian juga supaya kita bisa mengalami kemenangan demi kemenangan, kita harus disucikan baik oleh darah Kristus maupun oleh firman Tuhan.
Setelah selesai mengoreksi diri, dalam Yosua 6 : 2 barulah Tuhan berjanji untuk memberikan kemenangan kepada bangsa Israel, bahwa Yerikho beserta dengan rajanya dan rakyatnya akan diserahkan.
Yosua 6 : 3 = cara yang diberikan Tuhan kepada Yosua supaya Yerikho bisa dikalahkan: selama enam hari semua prajurit mengedari/menglilingi kota itu sekali saja, tujuh orang imam membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut, dan pada hari yang ketujuh mereka harus mengelilingi kota itu tujuh kali. Dan sikap selanjutnya mereka harus bersorak dengan nyaring, artinya ada sukacita karena Tuhan, bersorak itu tanda kemenangan. Maka sekalipun Yerikho itu kota tertutup pasti dapat dihancurkan dengan cara Allah. Demikian juga walaupun saudara sedang dalam masalah, dalam penderitaan, tetapi dengan sukacita yang dari Allah pasti menang. Bukti penyertaan Allah dalam hidup kita: dalam penderitaan pun kita bisa mengalami kemenangan demi kemenangan. Haleluya..!



“LEBIH DARI PEMENANG”

Minggu, 15 Nopember 2009


Wahyu 21 : 7, firman Tuhan mengatakan “Barangsiapa menang, ia akan memperoleh sumuanya ini,” yang dimaksud dengan “semuanya ini” menunjuk kepada:
- Yerusalem Baru = sorga
- Menjadi mempelai perempuan Kristus.
Mengapa harus menang?
Firman Tuhan sudah mengatakan bahwa langit yang pertama dan bumi yang pertama ini akan berlalu dan laut pun tidak ada lagi, jadi dunia ini hanyalah tempat yang sementara. Kemudian dalam 2 Petrus 3 : 7 juga telah dikatakan bahwa langit bumi yang lama ini sengaja disimpan untuk disediakan menjadi tempat penghakiman bagi orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang tidak menjadi pemenang. Nasib langit dan bumi yang pertama akan lenyap oleh gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api (ayat 10).
2 Petrus 3 : 11 = menjadi peringatan kepada kita yang hidup diakhir zaman, maka sebagai jemaat Tuhan kita harus hidup saleh dan suci supaya bisa disebut sebagai pemenang. 1 Korintus 15 : 19 jika menaruh pengharapan pada Kristus jangan hanya dalam hidup ini saja, maksudnya hidup ini bukan hanya untuk makan dan minum saja, sebab kalau hanya untuk makan dan minum saja maka akan menjadi orang-orang yang paling malang dari antara manusia.
Percaya kepada Kristus tidak salah, berpengharapan kepada Kristus juga tidak salah, tetapi yang salah adalah kalau berpengharapan hanya supaya diberkati, supaya disembuhkan, supaya diberi jodoh, supaya diberi pekerjaan, dll. Orang yang berpengharapan kepada Kristus harus ditandai dengan ketekunannya dalam melakukan firman Tuhan.
Maka tidak heran, Tuhan Yesus sudah lebih dahulu mengatakan bahwa hanya sedikit saja yang bisa masuk ke dalam sorga. Ini adalah pernyataan langsung dari Tuhan Yesus.
Mengapa hanya sedikit saja yang berhasil?
Dalam Matius 7 : 13 - 14 Tuhan Yesus menjelaskan kepada kita bahwa pintu untuk masuk ke dalam hidup itu sesak (=sempit), inilah yang membuat sehingga sedikit saja yang bisa masuk ke dalamnya. Supaya masuk, kita harus berjuang walaupun harus dengan pengorbanan yang sangat besar. Sebaliknya lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan dan banyak orang yang masuk melaluinya sebab tidak perlu lagi perjuangan.
Saudara-saudara, sorga itu nilainya sangat mahal, bukan murahan, karena itu orang-orang yang bisa masuk ke dalamnya juga adalah orang-orang yang sudah bernilai tinggi. Maksudnya orang-orang yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan, yang mau berjuang melakukan firman Tuhan walaupun mungkin sedang berada dalam berbagai-bagai penderitaan. Justru jika kita bisa setia mengikut Tuhan dan bisa menang walau sedang dalam penderitaan yang berat membuat nilai kita menjadi berharga di mata Tuhan. Inilah yang disebut sebagai pemenang.
Inilah bukti kasih Kristus bagi kita: IA telah mati di atas kayu salib, berjuang untuk memperdamaikan kita dengan Allah. Dalam Efesus 5 : 22 - 23 kasih Kristus itu disejajarkan dengan kasih seorang suami terhadap istrinya, Kristus telah membuktikan kasih-Nya dengan cara menyerahkan diri-Nya dan mati di atas kayu salib untuk dosa-dosa kita.
Demikian juga dalam 1 Yohanes 4 : 10 firman Tuhan menjelaskan kepada kita kasih Allah yang sesungguh nya: IA telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Kalau kita lihat dari ayat ini, tanpa kita minta pun Allah sudah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, tanpa kita minta pun Kristus sudah mati di kayu salib dan memberikan nyawa-Nya bagi kita.
Jadi jika Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar, langkah selanjutnya dari pihak kita: “tunduk” kepada Tuhan seperti istri tunduk kepada suami dalam segala hal. Gereja yang menang itu nampak dari sikapnya, ada ketundukan dalam melakukan firman Tuhan dan selalu setia beribadah kepada Tuhan.
Ibrani 5 : 8 - 9 Tuhan Yesus Kristus sebagai teladan yang sempurna telah membuktikan ketaatan-Nya dan ketundukan-Nya sebagai Anak, yaitu taat sampai mati di atas kayu salib. Dan karena ketaatan-Nya itulah maka Kristus menjadi “pokok keselamatan bagi semua orang” yang mau percaya kepada-Nya. POKOK = patokan/teladan. Maka setiap orang yang disebut Kristen harus membuat Kristus sebagai pokok keselamatan baginya.
Saudara-saudara sebenarnya Tuhan itu tahu bahwa kita tidak mungkin bisa melakukan seperti yang telah dilakukan Tuhan kepada kita. Hanya ini yang diminta Tuhan, kita harus punya sikap “tunduk” kepada Tuhan sama seperti istri tunduk kepada suaminya. Bahkan Tuhan itu juga tahu bahwa sebenarnya kalau hanya dari diri kita saja tidak mungkin bisa tunduk kepada Tuhan, untuk itu Tuhan telah mengutus Roh Kudus-Nya sebagai Penolong dan Penghibur. Roh Kudus ini adalah sarana yang diberikan Tuhan untuk menyertai dan untuk memberikan kekuatan supaya kita mampu hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Roh Kudus itulah yang memampukan supaya kita bisa tunduk kepada Allah dan melakukan firman-Nya.
Dalam Wahyu pasal 2 & 3 supaya kita bisa mengalami kemenangan bersama dengan Kristus ada tujuh langkah yang harus kita miliki, yang diwakili oleh kutujuh jemaat. Dimulai dari jemaat di Efesus, jemaat di Smirna, jemaat di Pergamus, jemaat di Tiatira, jemaat di Sardis, jemaat di Filadelfia yang terakhir kepada jemaat di Laodikia. Kepada ketujuh jemaat itu firman Tuhan selalu mengatakan: “Barangsiapa menang”, bagi kita ini sangat mengandung arti yang sangat besar. Maka dalam mengikut Tuhan, langkah pertama itu sangat menentukan dalam perjalanan untuk langkah selanjutnya sampai kelangkah yang ketujuh: menjadi mempelai perempuan Kristus. Langkah yang pertama kepada jemaat di Efesus, firman Tuhan mengatakan: “Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus.” Ini berbicara janji untuk masuk ke dalam sorga bagi orang-orang yang telah menang, yaitu yang telah membasuh jubahnya (=yang telah menyucikan hidupnya) akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan yang ada di dalam sorga.
Syaratnya: jangan meninggalkan kasih yang mula-mula.
Yang disebut kasih mula-mula itu adalah sejak kita mengalami tanda pertobatan atau tanda kelahiran baru. Praktek kasih mula-mula: mau mengikut dan melayani Tuhan walau pun harus menderita. Kita bisa bertobat, bisa mengalami pengampunan dosa & diperdamaikan dengan Allah bahkan sampai mengalami tanda kelahiran baru, sepenuhnya adalah pekerjaan Kristus. Sebaliknya praktek meninggalkan kasih yang mula-mula: kembali kepada hidup yang lama sehingga tidak mau lagi mengikut Tuhan maupun melayani Tuhan. Jika meninggalkan kasih mula-mula, firman Tuhan mengatakan kejatuhannya sangat dalam, jika tidak mau bertobat maka tidak akan berhak memperoleh hak atas pohon kehidupan.
Kalau kita lihat dalam Lukas 23 : 33 - 43 yang ada di sekitar salib Yesus ada banyak orang, seperti orang banyak, prajurid-prajurid, orang yang di sebelah kanan dan yang di sebelah kiri salib Yesus. Tetapi dari semua itu yang berhak masuk ke Firdaus adalah “orang yang di sebelah kanan” sebab ia punya sikap yang baik, yaitu sadar akan kesalahannya dan mau mengaku Yesus sebagai Raja. Mengaku Yesus sebagai “Raja” sama dengan mengaku Kristus sebagai Mempelai Pria Sorga. Maka orang yang di sebelah kanan Tuhan Yesus itu menjadi orang yang istimewa dari semua orang yang ada di sekitar salib Yesus. Orang yang di sebelah kanan Tuhan Yesus ini menggambarkan kehidupan yang telah mengalami kemenangan, walaupun mengalami banyak pencobaan dan penderitaan tetapi tetap sabar dan tetap berpengharapan kepada Yesus. Puncaknya mampu mengaku bahwa Yesus adalah Mempelai Pria Sorga. HALELUYA ...!!


“LEBIH DARI PEMENANG”

Minggu, 22 Nopember 2009

Yang menang: yang telah diakui sebagai anak, dan yang layak disebut sebagai anak: yang sudah mengalami proses “lahir baru”, yaitu lahir dari benih ilahi. 1 Yohanes 3 : 9 - 10 setiap orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa lagi, sebab benih ilahi, yaitu firman Tuhan sudah ada di dalam hidupnya. Firman Tuhan inilah yang memberi kekuatan supaya kita dapat menolak dosa. Maka setiap orang yang sudah disebut sebagai anak-anak Tuhan akan nampak bukan hanya dari perkataan atau pengakuannya saja, tetapi akan nampak dari sikap dan perbuatannya sehari-hari. Karena itu kalau kita lihat dari 1 Yohanes 3 : 9 - 10 ini yang disebut anak-anak Allah itu tandanya, yaitu:
*tidak berbuat dosa lagi
**dapat mengasihi saudara-saudaranya.

Saudara-saudara pada akhir-akhir ini, dunia ini sedang dihebohkan oleh berita-berita atau filem yang menceritakan apa yang akan terjadi pada tahun 2012 nanti. Banyak orang bertanya-tanya benarkah hal iu akan terjadi pada tahun 2012 nanti? dan banyak juga orang menjadi takut. Namun sebagai jemaat Tuhan, kita tidak perlu bingung, tidak perlu waswas apalagi takut, kita harus tetap memandang kepada firman Tuhan yang dapat menjelaskan kepada kita tentang tanda-tanda akhir zaman. Segala ramalan-ramalan kalau itu di luar kebenaran firman Tuhan, kalau tidak tertulis di dalam Alkitab, itu namanya bohong. Sebab di dalam Alkitab tidak ada disebutkan bahwa Tuhan Yesus akan datang pada tahun 2012, Yesus sendiri tidak tahu, yang tahu hanyalah Bapa. Walaupun dalam kitab Daniel psl 12 firman Tuhan sudah menubuatkan bahwa pengetahuan akan semakin bertambah/berkembang, tetapi tetap saja tidak dapat mengimbangi firman Tuhan. Firman Tuhan itulah di atas segala-galanya.
Setelah disebut sebagai anak-anak Allah, langkah selanjutnya supaya kita bisa disebut “lebih dari pemenang” kita harus tetap disertai Tuhan. Dan supaya disertai Tuhan kita harus senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada Tuhan, sama seperti Yesus yang selalu berbuat apa yang berkenan kepada Bapa. Itulah sebabnya Yesus selalu disetai dan tidak pernah ditinggalkan (Yohanes 8 : 29). Banyak orang Kristen tidak menyadari akan hal ini, bahwa sebenarnya hidupnya sudah ke luar dari kebenaran, sudah mengikuti kemauannya sendiri, mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu sudah bertentangan dengan kehendak Allah. Orang yang seperi ini sudah di luar rencana Tuhan.

Mengapa orang Kristen bisa seperti ini?

Jawabannya: karena di dalam dirinya tidak ada benih ilahi, yaitu firman Tuhan.
Firman Tuhan dalam 1 Tesalonika 5 : 9 - 10 menjelaskan kepada kita bahwa sebenarnya Allah tidak pernah menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus yang sudah mati untuk kita, supaya kita bisa hidup bersama-sama dengan Dia dalam kemuliaan-Nya yang kekal. Bahkan dalam Yeremia 29 : 11 firman Tuhan telah mengatakan bahwa rancangan Tuhan bagi kita bukanlah rancangan kecelakaan, tetapi yang ada adalah rancangan damai sejahtera untuk memberikan hari depan yang penuh dengan kebahagiaan. Tetapi sayang banyak orang Kristen tidak menyadari akan hal ini sehingga mereka tidak sungguh-sungguh beribadah dan tidak mau melakukan apa yang telah diperintahkan Tuhan dalam firman-Nya.
Ibrani 12 : 14 disamping berusaha untuk hidup berdamai dengan semua orang, firman Tuhan juga memerintahkan supaya kita juga “mengejar” kekudusan. Mengapa? sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Bagaimana caranya? 1 Petrus 1 : 22 bahwa ketaatan kepada kebenaran akan menyucikan hidup kita dari segala dosa untuk dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus iklas.
Saudara-saudara, kalau kita bandingkan pribadi kita dengan pribadi Allah, sesungguhnya terlalu jauh dan terlalu besar. Oleh sebab itu sebagai jemaat Tuhan, kita harus mengerti apa yang menjadi rencana atau agenda Tuhan dalam hidup kita. Puncak rencana/agenda Tuhan dalam hidup kita adalah: menjadikan kita sebagai sidang mempelai perempuan Kristus, yang dikuduskan dan disempurnakan.
Mazmur 139 : 16 - 17 firman Tuhan menjelaskan kepada kita tentang rencana Tuhan yang begitu besar dan ajaib.
- selagi bakal anak, Tuhan sudah melihat
atau mengetahui siapa kita kita sebenarnya.
- dalam kitab, semua rencana Tuhan sudah
tertulis tentang kita.
Ayat 17 secara manusia, kita memang tidak mungkin bisa mengerti atau mengetahui pikiran/ rencana Allah yang begitu ajaib. Tetapi sekalipun demikian, dalam ayat 16 telah dikatakan rencana Tuhan itu besar dan mulia, kita bisa mengetahui bahwa Allah sudah punya agenda untuk kita. Mazmur 139 : 1 - 3 bukti dahsyatnya kuasa Tuhan dalam agendanya:
- Tuhan menyelidiki dan mengenal kita
- Tuhan mengetahui kalau duduk atau berdiri
- Tuhan mengerti pikiran kita dari jauh
- Tuhan memeriksa hati kita
- Sebelum lidah mengeluarkan perkataan, Tuhan sudah tahu.
Karena itu kita harus punya sikap: belajarlah mengerti kehendak Tuhan, dan sebelum Tuhan selesai dalam segala pekerjaan-Nya, kita harus sudah siap sedia menyambut kedatangan-Nya yang kedua kalinya. Mari kita lihat Matius 25 : 1 - 13 gadis-gadis yang bodoh terlambat masuk sebab pintu sudah ditutup. Padahal sebelum pintu ditutup, masih ada kesempatan yang besar untuk mempersiapkan diri, tetapi karena tidak mau belajar mengerti kehendak Tuhan akhirnya ia terlambat, pintu pun ditutup.
Tetapi gadis-gadis yang bijaksana, karena mau belajar mengerti kehendak Tuhan, mereka pun tahu mempersiapkan diri dengan cara hidup sesuai dengan firman Tuhan. Akhirnya mereka berhasil menjadi mempelai perempuan Kristus. Dari sini dapat kita lihat bahwa sebenarnya Tuhan yang menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada Tuhan (Mazmur 37 : 23 - 24). Yaitu yang selalu berbuat apa yang berkenan kepada Tuhan.
Saudara-saudara, Mazmur 119 : 126 pekerjaan manusia yang sudah keluar dari kebenaran, atau yang sudah keluar dari agenda Tuhan: “suka merombak Taurat Tuhan” inilah yang membuat sehingga banyak orang tidak segan-segan melakukan kejahatan, dan tidak malu-malu hidup di luar kebenaran.
Tetapi dalam Mazmur 119 : 96 pemazmur sangat menyadari walaupun ia sanggup melihat batas-batas kesempurnaan, tetapi tetap saja menganggap perintah (=firman) Tuhan itu luas sekali. Ini sikap yang sangat baik, sikap dalam menanggapi firman Tuhan harus menganggap firman itu lebih dari segala-galanya.
Contoh yang tidak mengerti agenda/rencana Tuhan, yaitu YEROBEAM.
1 Raja-raja 11 firman Tuhan menjelaskan tentang seorang yang diangkat menjadi raja Israel, walau pun sebenarnya ia tidak berasal dari keturunan Daud, yaitu YEROBEAM bin Nebat, seorang yang tangkas dan sangat rajin bekerja. Firman Tuhan sendiri yang telah berfirman lewat nabi Ahia bahwa suatu saat Yerobeam akan menjadi raja dan kepadanya akan diberikan sepuluh suku Israel. Tetapi Yerobeam ini mempunyai sikap yang tidak baik, yaitu: tidak sabar menanti janji Tuhan dan tidak memandang kepada firman Tuhan.
Karena Yerobeam itu adalah orang yang tangkas dan rajin bekerja, maka ia mendapat perhatian dari raja Salomo dan menjadikannya untuk mengawasi semua pekerja yang wajib dari keturunan Yusuf. Tetapi karena Yerobeam tidak sabar akan rencana/agenda Tuhan, maka ia memberontak terhadap Salomo, sehingga Salomo pun menginginkan kematiannya. Tetapi karena sudah punya agenda kepada Yerobeam, ia tetap menjadi raja dan memperoleh sepuluh suku Israel. Hanya sayang, dalam 1 Raja-raja psl 12, Yerobeam tetap tidak mengerti kehendak Tuhan, justru yang timbul adalah ketakutan yang menghantui pikirannya. Akibatnya ia bertindak di luar kebenaran firman Tuhan, ia berlaku bodoh dengan cara mengganti penyembahan yang benar dengan yang tidak benar. Dengan maksud supaya umat Tuhan itu jangan pergi ke Yerusalem untuk beribadah kepada ALlah yang benar. TIndakan Yerobeam ini menjadi dosa bagi Yerobeam, sehingga ia harus dilenyapkan dari muka bumi. Bahkan yang lebih parah lagi, ia disamakan dengan tahi.
Perbuatan Tuhan selanjutnya kepada Yerobeam:
- Tuhan mendatangkan malapetaka kepada keluarga Yerobeam,
- Tuhan akan melenyapkan dari pada Yerobeam setiap orang laki-laki,
- Tuhan akan melenyapkan keluarga Yerobeam
seperti orang menyapu tahi sampai habis.
Banyak orang Kristen seperti Yerobeam, sudah diselamatkan, sudah diberkati, tetapi tetap saja tidak sabar melakukan apa yang menjadi kehendak Allah, akibatnya harus menanggung akibatnya seperti Yerobeam, tidak masuk rencana Tuhan.

Minggu, 04 Oktober 2009

Bulletin Oktober 2009

“TANDA DARAH”


minggu 4 Oktober 2009


Saudara-saudara, dahulu kita tidak mengenal dan tidak dikenal Allah, dahulu kita tidak layak disebut umat Allah dan tidak layak menerima janji-janji Allah. Kita disebut orang kafir, yang tidak layak menerima kerajaan Allah. Firman Tuhan yang mengatakan demikian dalam Efesus 2 : 11 - 12 “Karena itu ingat lah - sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah, bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia." Tetapi syukur kepada Allah, oleh karena kasih-Nya dan kemurahan-Nya yang begitu besar, Ia telah berkenan mengangkat kita untuk menjadi umat-Nya yaitu oleh “darah Kristus” yang telah mati di atas kayu salib. Oleh kematian Kristus di kayu salib, kita telah beroleh kesempatan untuk dipersekutukan dengan Allah sebab dosa-dosa kita telah ditebus. Firman Tuhan dalam Efesus 1 : 7 mengatakan: “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaaan kasih karunia-Nya.” Jadi jelas oleh darah Kristus, kita telah beroleh penebusan dan pengampunan dari segala dosa-dosa kita. Kuncinya: terima darah Yesus dan hargai korban Kristus yang telah mati untuk menebus dosa-dosa kita. Oleh darah Kristus, kita akan dibebaskan dari 2 (dua) hal, yaitu:
1). 1 Petrus 1 : 18 - 19 dibebaskan dari “kutuk dosa.”
2). Galatia 3 : 13 ditebus dari “kutuk hukum Taurat.”
Ibrani 5 : 8 -9 firman Tuhan menjelaskan sebelum Yesus menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang, Ia telah menunjukkan sikap yang baik, yaitu “Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritanya.” Ketaatan inilah yang membuat sehingga Kristus itu disebut menjadi “pokok keselamatan” bagi semua orang yang taat kepada-Nya. Jadi dari ayat ini dapat kita ketahui bahwa Kristus menjadi pokok keselamatan tidak kepada semua orang, tetapi hanya kepada mereka yang taat sama seperti Kristus, artinya yang taat beribadah, taat berkorban, taat melakukan segala kehendak Allah dalam firman-Nya. Saudara-saudara, firman Tuhan dalam Galatia 3 : 11 mengatakan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan dihadapan Allah karena melakukan hukum Taurat, baik orang Israel apalagi orang kafir. Galatia 3 : 10 justru mengatakan: Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat berada di bawah kutuk. Untuk itulah Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, yaitu lewat kematian-Nya di atas kayu salib (ayat 13). Bagi kita gereja Tuhan yang hidup di akhir zaman ini kematian Kristus di kayu salib mengandung arti yang sangat besar bagi kita, bukan hanya untuk mengampuni kita dari dosa dan pelanggaran, tetapi terlebih dari pada itu kematian Kristus di kayu salib adalah juga untuk menebus kita dari cara hidup yang sia-sia yang telah kita warisi dari nenek moyang, termasuk dari adat istiadat/tradisi-tradisi.Karena itu sebagai jemaat Tuhan, kita harus tetap hati-hati supaya jangan sampai ada orang yang menggagalkan iman kita terhadap Yesus Kristus. Sebab dalam Kolose 2 : 16 - 17 firman Tuhan mengingatkan supaya jangan kita biarkan orang menghukum kita mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat, sebab semua ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. Jadi hukum Taurat itu adalah bayangan dari apa yang akan datang sampai Kristus mati di kayu salib untuk menebus kita dari kutuk hukum Taurat. Roma 7 : 14 sebenarnya hukum Taurat itu sifatnya memang rohani, tetapi kalau tidak dapat melakukan hukum Taurat dengan baik, maka sebaliknya akan terjual di bawah kuasa dosa.
Sifat orang yang melakukan hukum Taurat :
- suka melihat kesalahan orang lain
- suka menyimpan kesalahan orang lain
- suka menghakimi orang lain
Contoh : Lukas 7 : 36 - 40.
Dalam ayat ini diceritakan : Ada seorang Farisi (=yang hidup menurut hukum taurat, demikian juga dalam beribadah maupun melayani juga menurut hukum Taurat) mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya, lalu Yesus datang ke rumah orang Farisi itu lalu duduk makan. Kemudian di kota itu juga ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika Yesus sedang makan di rumah orang Farisi tersebut, orang Farisi itu tidak dapat menunjukkan sikap yang baik, ia tidak sujud di bawah kaki Tuhan Yesus untuk menyembah, ia tidak merendahkan diri di hadapan Tuhan Yesus. Tetapi yang dilakukan justru sebaliknya:
- dalam hati ia menghakimi perempuan berdosa
- ia menganggap diri lebih benar dari orang lain
- ia menganggap Yesus tidak tahu dan tidak mengenal siapa perempuan itu.
Dimata Tuhan, sikap seperti ini adalah salah. Mengapa orang Farisi tersebut mempunyai sikap yang demikian? Jawabannya adalah: karena ia melakukan segala sesuatu hanya menurut hukum Taurat, sehingga ia tidak dapat melakukan dengan tulus ikhlas, ia memang mengundang Yesus tetapi bukan untuk menunjukkan kasihnya kepada Yesus.Setelah perempuan berdosa itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, ia datang dengan sikap yang baik dan benar.
- membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi
- sambil menangis mendekat ke kaki Yesus
- membasahi kaki Yesus dengan air matanya
- menyekanya dengan rambutnya
- mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi
*Orang Farisi itu mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya, tetapi yang mendapat pengampunan dosa adalah perempuan berdosa.
**Orang Farisi itu mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya, tetapi yang berhasil mendapat berkat adalah perempuan berdosa.
Galatia 1 : 12 Paulus dahulu sebelum diangkat menjadi rasul, dalam agama Yahudi pekerjaannya adalah: tanpa batas menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya, sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyang. Tetapi setelah Paulus dipanggil dan dipilih menjadi rasul, dan setelah Allah menyatakan diri-Nya kepada Paulus, yang dikerjakan adalah: *memberitakan Kristus di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, **tidak meminta pertimbangan kepada manusia. Inilah bukti betapa besar kuasa korban/darah Kristus yang sanggup mengubah hidup manusia dan menjadikannya menjadi berguna bagi pekerjaan Allah. Efesus 2 : 14 firman Tuhan mengatakan Kristus telah merobohkan tembok pemisah, yaitu perseteruan. Tujuannya: untuk mempersatukan semua orang, baik orang Israel maupun orang kafir dengan Allah di sorga. Efesus 2 : 15 kematian Kristus di kayu salib telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya. Sekalipun pada awalnya keadaan orang kafir itu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel, tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa Allah dan tanpa pengharapan (ayat 11 - 12), tetapi oleh “darah Kristus” kita yang dahulu “jauh” sekarang sudah menjadi “dekat” (ayat 17). Bahkan oleh kuasa darah Kristus, sekarang kita telah beroleh jalan masuk kepada Bapa sehingga kita bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan sudah menjadi anggota-anggota keluarga Allah, jemaat Allah. HALELUYA...!!



"TANDA DARAH"


Minggu - 11 Oktober 2009

Saudara-saudara, perjuangan kita pada akhir zaman ini bukan hanya dalam hal kebutuhan jasmani saja, seperti dalam hal makanan dan minuman, tetapi kita sedang berjuang supaya berhasil menjadi orang yang berkenan kepada Tuhan yang benar-benar bebas dari kuasa iblis. Sama seperti bangsa Israel ketika mereka masih di Mesir, karena Firaun memaksa mereka bekerja keras, mereka berjuang dengan cara berseru kepada Tuhan supaya bebas dari tangan Firaun. Dan memang Tuhan mendengarkan mereka dan melepaskan mereka dari tangan Firaun dan membawa mereka ke tanah Kanaan. Tetapi perjuangan mereka tidak cukup sampai di situ saja, selama dalam perjalanan di padang gurun mereka juga harus berjuang untuk mengalahkan segala keinginan dan segala sungut-sungut mereka baik kepada Musa maupun kepada Allah.
Kalau kita lihat generasi yang dipimpin oleh Musa, yang berumur dua puluh tahun ke atas, hampir semua ditewaskan di padang gurun, hanya Kaleb dan Yosua saja yang sampai ke tanah Kanaan. Dalam Bilangan 32 : 11 - 12 firman Tuhan mengatakan bahwa orang-orang Israel yang telah berjalan dari Mesir menuju tanah Kanaan, tidak akan melihat tanah Kanaan. Penyebabnya: Akibatnya Firman Tuhan menyebut mereka sebagai karena mereka tidak mengikut Tuhan dengan sepenuh hati. Mereka disebut sebagai “angkatan yang berbuat jahat” (ayat 13).
Apa kejahatan mereka?
Dalam 1 Korintus 10 : 1 - 10 firman Tuhan menjelaskan kepada kita ada beberapa hal kejahatan bangsa Israel yang membuat sehingga banyak di antara mereka yang ditewaskan di tengah jalan, yaitu:
- menyembah berhala
- melakukan percabulan
- mencobai Tuhan dan
- bersungut-sungut.
Khusus ayat 6 & 11 firman Tuhan mengingatkan semua itu telah terjadi menimpa bangsa Israel, tujuannya adalah: “Untuk memperingatkan” supaya kita jangan sampai menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat dan supaya kita jangan meniru sikap dan perbuatan yang telah mereka lakukan.
Inilah generasi lama yang dipimpin oleh Musa, generasi yang tidak mengalami tanda pembaharuan, mereka memang sudah keluar dari Mesir dan sedang berada dalam perjalanan menuju tanah Kanaan, tetapi sayang mereka tidak masuk ke tanah Kanaan sebab di tengah jalan mereka dibinasakan oleh Allah. Hanya Kaleb dan Yosua saja yang sampai ke tanah Kanaan, selebihnya adalah mereka yang lahir di tengah jalan. Inilah yang disebut generasi yang telah mengalami tanda pembaharuan, generasi yang berada dalam pimpinan Yosua.
Sebagai jemaat Tuhan yang sudah ditebus dengan darah yang mahal, yaitu dengan darah Kristus, setelah kita diselamatkan atau dilepaskan dari kutuk dosa sikap selanjutnya yang harus kita miliki adalah: “mengikut Tuhan dengan sepenuh hati” artinya setia beribadah dan melakukan segala perintah Allah. Untuk itu kita juga harus mengalami tanda pembaharuan, harus ada kerelaan meninggalkan/membuang segala cara-cara hidup yang lama, termasuk dari cara hidup yang sia-sia yang telah kita warisi dari nenek moyang termasuk dari tradisi-tradisi atau adat istiadat dari nenek moyang. Sebab jika masih terikat dengan tradisi-tradisi atau adat istiadat dari nenek moyang, itu berarti ia sedang ditawan dan percuma saja ia beribadah kepada Tuhan (Kosose 2 : 8; Matius 15 : 1 - 20). Tuhan Yesus menyebut setiap orang yang masih terikat dengan adat istiadat sebagai "orang munafik" (ayat 7), dan adat istiadat ini bukan Tuhan yang menanamkannya melainkan nenek moyang. Kedatangan Tuhan Yesus Kristus sudah dekat, supaya kita berhasil menyambut Dia sebagai Mempelai Pria Sorga, tidak ada jalan lain selain mengikut Kristus dengan sepenuh hati serta melakukan perintah-Nya dengan taat dan setia.
Saudara-saudara, perjalanan kita sekarang harus sama seperti perjalanan bangsa Israel dalam pimpinan Yosua, sudah dekat ke tanah Kanaan, tinggal menyeberangi sungai Yordan saja kemudian berperang untuk menghalau bangsa-bangsa yang tinggal di tanah Kanaan tersebut. Maka supaya kita berhasil masuk ke dalam sorga sikap yang harus kita miliki juga harus sama seperti sikap generasi bangsa Israel dalam pimpinan Yosua, yaitu “memiliki semangat yang berkobar-kobar.” Inilah yang dimaksud mengikut Tuhan dengan sepenuh hati. Itu sebabnya kalau kita lihat generasi dalam pimpinan Yosua, merekalah yang berhasil masuk ke tanah Kanaan sebab mereka semua sudah memiliki tanda pembaharuan dan sudah mempunyai semangat yang berkobar-kobar.
Pada zaman akhir ini banyak gereja yang lebih menonjolkan pemberitaan tantang berkat-berkat jasmani kepada jemaat-jemaat sehingga tanpa sadar mereka telah menutup-nutupi berita tentang keselamatan yang diperoleh dengan tanda pembaharuan. Maka tidak heran kalau berita tentang kekudusan dan kesempurnaan ini tidak begitu dibuka secara gamblang, sebaliknya mereka memberitakan dongeng-dongeng untuk menyenangkan telinga. Sebagai jemaat Tuhan, kita jangan mau terlena dengan pemberitaan yang tidak sesuai dengan firman kebenaran, sebab bisa mengakibatkan iman tidak bertumbuh dengan baik dan gagal masuk ke dalam sorga.
Lihat bencana-bencana yang telah terjadi di mana-mana, kita jangan tutup mata sebab ini merupakan peringatan dari Tuhan supaya kita lebih sungguh-sungguh mengikut Tuhan baik dalam beribadah maupun dalam melakukan firman Tuhan. Dan bencana ini akan semakin dahsyat terjadi untuk menghukum dunia maupun orang-orang yang tidak bertobat.

Yesaya 40 : 27 ada dua (2) sikap yang perlu kita buang yaitu:
- jangan merasa tersembunyi dari Tuhan
- jangan merasa tidak diperhatikan Tuhan
Kita harus tetap ingat, Tuhan itu adalah Allah yang kekal yang telah menciptakan bumi dari ujung ke ujung dan tidak terduga pengertian-Nya. Jika kita mau sungguh-sungguh mengikut Tuhan dan melakukan segala perintah-Nya dengan taat dan setia, maka Tuhan akan :
- memberi kekuatan kepada yang lemah
- menambah semangat kepada yang tidak berdaya.
Setiap orang yang mau mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh, ia seumpama “rajawali” yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya, sehingga sekalipun berlari tetapi tidak menjadi lesu dan berjalan tetapi tidak menjadi lelah (Yesaya 40 : 31).

Keistimewaan rajawali:

1. Membuat sarangnya di tempat yang tinggi, di puncak bukit batu yang sulit didatangi (Ayub 39 : 30 - 33). Dan dari puncak bukit itulah rajawali itu mengintai mencari mangsa baik untuk dirinya sendiri maupun untuk anak-anaknya. Makanannya pun istimewa, yaitu "tubuh" dan "darah." Tubuh dan darah ini menunjuk kepada tubuh dan darah Kristus yang kita terima setiap kali dalam perjamuan Kudus. Lewat tubuh dan darah Kristus inilah kita semakin dikuatkan, diteguhkan supaya tidak menjadi lesu dan tidak menjadi lelah seperti rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya.

2. Hidupnya sudah terlatih, Ulangan 32 : 11 induk rajawali menggoyangbalikkan isi sarangnya dan melayang-layang di atas anak-anaknya, tujuannya adalah untuk melatih anak-anaknya supaya bisa terbang dengan baik. Ini juga menunjuk penampilan Tuhan kepada umat-Nya, Ia melatih kita dengan berbagai-bagai pencobaan supaya kita kuat dan Ia juga mendukung kita di atas sayap rajawali. Jadi rajawali itu adalah menunjuk kepada pribadi Allah sendiri yang mau melatih kita dan mendukung kita dengan kekuatan firman dan Roh Kudus-Nya.

Sesuai dengan firman Tuhan dalam Efesus 5 : 25, untuk membuktikan kasih Allah kepada manusia, Yesus Kristus telah menyerahkan diri-Nya dan mati di atas kayu salib. Oleh darah Kristus, kita telah ditebus dari kutuk dosa dan dibebaskan untuk memperoleh keselamatan. Karena itu semua orang sangat membutuhkan darah Kristus, baik orang benar, orang baik, besar atau kecil, kaya atau miskin, semua membutuhkan korban Kristus. Sebab tanpa korban Kristus tidak mungkin terjadi pengampunan dan keselamatan itu akan jauh dari hidup kita. Karena itu sebagai umat yang percaya kepada Tuhan supaya keselamatan itu menjadi milik kita, kita harus mempunyai sikap yang benar, yaitu: ada kerelaan meninggalkan/menanggalkan cara hidup yang lama dan harus mau mengalami tanda pembaharuan.
Wahyu 12 : 14 puncak rencana Tuhan bagi gereja-Nya adalah untuk menjadikannya menjadi sidang mempelai perempuan Kristus, yang dikuduskan dan disempurnakan. Maka gereja Tuhan yang berhasil menjadi mempelai perempuan Kristus, kepadanya diberikan kedua sayap burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, tempat yang telah disediakan oleh Tuhan untuk memelihara mempelai perempuan itu baik dari tangan iblis maupun dari tangan antikris. Jaminan pemeliharaan itu ditujukan hanya kepada mempelai perempuan Kristus. HALELUYA....!!!




“PEMIMPIN YANG DIPILIH TUHAN”

Minggu - 18 Oktober 2009


Saudara-saudara, pada Buletin minggu yang lalu, kita sudah melihat bagaimana nasib generasi bangsa Israel yang dipimpin oleh Musa bahwa semua ditewaskan selama dalam perjalanan di padang gurun. Penyebabnya: karena mengikut Tuhan tidak dengan sepenuh hati/tidak sungguh-sungguh. Kecuali Kaleb dan Yosua, karena mereka mengikut Tuhan dengan sepenuh hati, merekalah yang dibawa masuk ke tanah Kanaan. Kalau tidak sungguh-sungguh mengikut Tuhan dengan sepenuh hati, jangankan untuk masuk ke dalam sorga, melihat sajapun tidak diijinkan Tuhan. Sebab kekristenan itu bukan hanya sekedar agama saja, tetapi harus tahu apa tujuan dan kemana sasaran kepengikutan kepada Tuhan. Generasi bangsa Israel dalam pimpinan Yosua supaya bisa masuk ke tanah Kanaan, mereka harus menyeberangi sungai Yordan yang menjadi batas akhir untuk memasuki tanah Kanaan. Untuk menye-berangi sungai Yordan ini tidak gampang, sebab arus nya sangat deras apalagi pada musim menuai. Sebab khusus pada musim menuai air sungai Yordan ini meluap sampai ke tepi, jadi kalau tanpa pertolongan Tuhan arus sungai Yordan ini bisa menghanyutkan orang sampai ke laut mati.
Saudara-saudara, perjalanan bangsa Israel dalam pimpinan Yosua ini merupakan gambaran perjalanan gereja Tuhan yang hidup di akhir zaman ini. Sebelum Tuhan membawa gereja-Nya masuk ke dalam sorga, kita juga punya satu musuh yang bisa menghanyutkan, yaitu arus duniawi. Sekarang kita juga sedang diperhadapkan dengan derasnya arus duniawi sama seperti sungai Yordan bisa menghanyutkan banyak orang. Arus duniawi ini bukan hanya menghanyutkan kalangan jemaat-jemaat, tetapi hamba-hamba Tuhan pun banyak yang terseret oleh derasnya arus dunia ini, yang menjebak untuk berbuat dosa. Dan tidak perlu heran kalau pada zaman akhir ini sepertinya dosa itu sudah sangat-sangat sulit dibendung sebab sudah mempengaruhi cara hidup manusia. Dosa itu masuk bukan hanya di kalangan tertentu tetapi sudah kepada semua golongan, baik jemaat mau pun hamba Tuhan, baik orang kaya maupun orang miskin, baik orang besar maupun kecil, dosa yang ditimbulkan oleh arus duniawi ini sudah masuk ke mana-mana.
Maka untuk menangkal supaya dosa yang ditimbulkan arus duniawi ini jangan menguasai semua orang, Tuhan punya cara yang indah, yaitu firman Tuhan harus dikumandangkan, pertama-tama kepada para nabi/para hamba-hamba Tuhan untuk disampaikan kepada jemaat-jemaat. Sejak dalam kitab Perjanjian Lama, untuk berbicara dengan bangsa Israel, Tuhan selalu memakai para pemimpin baik pada zaman Musa, pada zaman nabi Yeremia, pada zaman nabi Yesaya sampai kepada zaman sekarang ini. Tujuannya: untuk memberitakan firman Tuhan kepada umat Allah. Maka sekalipun arus sungai Yordan itu sangat deras tetapi harus tetap dilewati, bangsa Israel tidak boleh berhenti sampai di situ saja apalagi mundur. Yosua 3 : 14 - 17 supaya bangsa Israel bisa melewati sungai Yordan, Tuhan Allah berfirman kepada Yosua supaya imam-imam pengangkat tabut perjanjian berjalan di depan. Dan ketika para imam pengangkat tabut perjanjian itu mencelupkan kakinya ke dalam air sungai Yordan, maka berhentilah air itu mengalir. Air yang turun dari hulu melonjak menjadi bendungan sehingga bangsa Israel dapat menyeberangi sungai Yordan di tanah yang kering.
“Imam pengangkat tabut perjanjian” = menunjuk hamba-hamba Tuhan yang menjunjung tinggi firman pengajaran, sedangkan “kaki” itu berbicara pendirian. Maka imam pengangkat tabut perjanjian yang mencelupkan kakinya ke dalam air = adalah berbicara tentang pendirian seorang pemimpin terhadap firman pengajaran. Maka sebagai seorang pemimpin, baik sebagai pemimpin jemaat maupun pemimpin dalam keluarga, harus mempunyai pendirian yang teguh terhadap firman pengajaran. Supaya sekalipun arus duniawi ini sangat deras dan dosa semakin memuncak, tetapi kita harus tetap berjalan dan tidak boleh berhenti apalagi mundur. Sebab seberapapun derasnya arus dunia ini, kita pasti dapat kalahkan dengan kuasa firman pengajaran. Syaratnya: miliki pendirian yang teguh terhadap firman Tuhan. Sekalipun arus dunia ini begitu deras, kalau kita sudah punya pendirian yang teguh terhadap firman Tuhan, kita bagaikan berjalan di tanah yang kering, tidak akan hanyut dengan arus dunia ini. Maka sebagai seorang hamba Tuhan maupun sebagai jemaat harus punya pendirian yang teguh terhadap firman Tuhan.
Cara Tuhan memimpin/menyelamatkan jemaat dari derasnya arus dunia = Tuhan memilih hamba-hamba Tuhan yang sudah punya pendirian, yang sudah punya komitmen terhadap firman pengajaran. Inilah model hamba Tuhan yang dapat menyeberangkan jemaat dari derasnya arus duniawi. Maka jelas hamba Tuhan yang sudah punya pendirian terhadap firman pengajaran sangat berbeda dengan hamba Tuhan yang masih terikat dengan arus duniawi, seperti adat istiadat. Sebab salah satu arus duniawi yang banyak menghanyutkan baik hamba-hamba Tuhan maupun jemaat adalah ajaran turun temurun nenek moyang. Itulah adat istiadat/tradisi-tradisi yang masuk ke dalam gereja dan merusak iman atau pendirian seseorang terhadap firman Tuhan. Kalau Saudara benar-benar rindu masuk ke dalam kerajaan sorga, Saudara harus sudah terlepas dari adat istiadat tersebut.
Saudara-saudara, dalam Yesaya 40 : 31 firman Tuhan menunjukkan bagaimana cara Tuhan menye-lamatkan umat-Nya:
- bagaikan rajawali yang naik terbang.
Tuhan Allah mengangkat rajawali menjadi contoh sebab rajawali itu memang bisa terbang tinggi dengan kekuatan sayapnya, menaruh sarangnya di tempat yang tinggi yang sulit dijangkau dan makanannya pun istimewa, yaitu tubuh dan darah. Tubuh dan darah ini menunjuk kepada tubuh dan darah Kristus yang kita terima setiap kali dalam perjamuan kudus. Jadi perjamuan kudus merupakan sarana yang diberikan Tuhan supaya kita mampu terbang seperti rajawali.
- berlari tetapi tidak menjadi lesu, berjalan tetapi tidak menjadi lelah
Artinya tetap ada semangat, ada gairah yang berkobar-kobar supaya bisa melarikan diri dari murka Allah yang akan datang. Mazmur 55 : 5 - 9 pemazmur menjelaskan hatinya gelisah sebab kengerian maut telah menimpa. Supaya luput: harus terbang dan berlari jauh-jauh dan bermalam di padang gurun. Wahyu 12 : 6 padang gurun itu adalah tempat yang disediakan Tuhan untuk memelihara gereja Tuhan yang sudah jadi mempelai. Kesanalah kita akan dilarikan, tentunya dengan kekuatan sayap burung rajawali, yaitu firman dan Roh Kudus. Maka supaya bisa lari dan terbang, milikilah semangat yang berkobar-kobar oleh dorongan firman pengajaran dan milikilah semangat mempelai sebab gairah mempelai inilah yang paling besar dari gairah yang lain.
Lukas 3 : 7 orang-orang Yahudi adalah orang yang sangat bertekun dalam hal agama, tetapi tidak bertekun dalam melakukan firman Tuhan, mereka menganggap bisa melepaskan diri dari murka yang akan datang. Maka Yohanes pembabtis menyebut mereka sebagai “keturunan ular beludak” dan sebagai "orang munafik." Dari kitab Lukas psl 3 ini dapat kita ambil pelajaran, supaya kita dapat melarikan diri dari murka Allah yang akan datang, maka kita harus:
- menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan (ayat 8).
- tidak hanya memikirkan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain/menjadi berkat (ayat 10 - 11).
- jangan mempersulit orang lain, tetapi kita harus belajar jujur, sopan dan teratur.



“PEMIMPIN YANG DIPILIH TUHAN”

Minggu - 25 Oktober 2009

Arti menang = taat dan setia sampai kepada akhirnya. Supaya bisa menang, merupakan suatu perjuangan, sebab yang disebut taat dan setia tidak cukup hanya satu tahun saja, sepuluh tahun, dua puluh tahun, dst, tetapi harus sampai kepada akhirnya. Maka dalam mengikut Tuhan: Tidak ada kata berhenti atau mundur, tetapi bergerak maju sampai kepada akhirnya, menang! Pada hari-hari yang lalu, kita sudah melihat salah satu kelebihan “rajawali”: makanannya daging dan penghisap darah, itu sebabnya rajawali ini bisa naik terbang dengan kekuatan sayapnya. Bagi kita sekarang, ini mengandung arti yang sangat besar, rajawali itu menunjuk kepada pribadi Allah dan kita adalah anak-anak-Nya. Maka sebagai anak-anak Tuhan atau sebagai jemaat Tuhan, supaya kita bisa naik terbang seperti burung rajawali makanan kita juga harus sama, yaitu daging/tubuh dan darah. Daging dan darah ini menunjuk kepada tubuh dan darah Yesus yang dapat kita terima setiap kali dalam Perjamuan Kudus. Maka bagi kita Perjamuan Kudus itu sangat besar fungsinya, kita dipersekutukan dengan Kristus oleh tubuh dan darah-Nya. Tetapi untuk melakukan Perjamuan Kudus ini tidak sembarangan dan tidak kepada semua orang.

- Perjamuan Kudus tidak boleh dibawa pulang untuk diberikan kepada keluarga atau saudara-saudara yang sedang berara di rumah, terlebih tidak boleh dijadikan sebagai jimat.
- Perjamuan Kudus tidak boleh diberikan kepada anak-anak, sebab pada dasarnya anak-anak itu belum tahu apa arti korban Kristus.
-Untuk melaksanakan Perjamuan Kudus tidak boleh main lempar untuk diperebutkan, tetapi harus dengan penuh hormat.

Dalam 1 Korintus 11 : 23 - 32 firman Tuhan menjelaskan bagaimana proses dalam melaksanakan Perjamuan Kudus, makan tubuh Kristus dan minum darah Kristus menjadi peringatan akan Kristus. Artinya kita mengingat akan korban Kristus yang telah mati di atas kayu salib untuk memperdamaikan kita dengan Allah. Itu sebabnya setiap kali kita makan tubuh dan minum darah Kristus, kita memberitakan kematian Kristus sampai Ia datang. Maka barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti dan minum darah Kristus, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Maka jelas Perjamuan Kudus itu dilakukan tidak sembarangan dan tidak kepada semua orang. Syaratnya: harus bisa menguji diri sendiri.
Saudara-saudara, dalam mengikut Tuhan harus tahu ke mana tujuannya supaya bisa dengan sungguh-sungguh, sebab kalau tanpa tujuan yang jelas, pasti tidak serius, mudah lemah. Tujuan kita adalah supaya masuk ke dalam sorga. Pada hari-hari yang lalu, sudah beberapa kali kita melihat tentang perjalanan bangsa Israel dalam pimpinan Yosua, tidak ada yang pasif, tidak ada yang bersungut-sungut, tetapi dengan semangat semua bergerak maju sebab tanah Kanaan sudah dekat. Yosua 3 : 3 Yosua memberi perintah kepada seluruh bangsa Israel supaya semua berangkat dari tempat masing-masing dan mengikuti imam-imam pengangakat Tabut Perjanjian, tidak boleh tinggal. Tetapi syaratnya supaya bisa mengikuti imam-imam pengangkat Tabut Perjanjian: harus menguduskan diri.
Ada dua (2) hal penting tugas yang diberikan Allah kepada Yosua:
1. Untuk membawa bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan.
2. Berperang untuk mengalahkan bangsa-bangsa yang diam di tanah Kanaan.
Untuk menyeberangi sungai Yordan, Allah memberi perintah supaya Yosua memerintahkan imam pengangkat Tabut Perjanjian berjalan di depan. Bagi umat Tuhan, arus sungai Yordan ini tidak begitu jadi masalah sebab Tuhan sanggup membuat sungai Yordan menjadi kering sehingga mereka dapat berjalan di tanah yang kering. Dan memang benar, setelah imam-imam pengangkat Tabut Perjanjian berjalan di depan dan mencelupkan kakinya ke dalam sungai Yordan, maka berhentilah air itu mengalir.
Arus sungai Yordan = arus duniawi/kenajisan.
= pengajaran palsu.
Kedua hal ini harus kita perhatikan dengan baik-baik supaya jangan sampai hanyut, baik oleh arus duniawi maupun oleh pengajaran-pengajaran palsu. Dalam Ibrani 2 : 1 firman Tuhan mengingatkan supaya jangan hanyut dibawa arus harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar. Maka sebagai hamba Tuhan harus punya pendirian yang teguh terhadap firman Tuhan, harus menjunjung tinggi firman pengajaran supaya ada modal untuk disampaikan kepada jemaat. Demikian juga sebagai jemaat Tuhan, harus punya pendirian yang teguh akan firman Tuhan supaya jangan hanyut oleh arus duniawi dan oleh pengajaran palsu.
Matius 24 : 4 ketika Tuhan Yesus memberitahukan kepada murid-murid-Nya tentang akhir zaman, salah satu yang paling ditekankan adalah tentang adanya pengajaran palsu yang menyesatkan dengan memakai nama Yesus. Ayat 5 = praktek pengajaran palsu itu memakai nama Yesus bahkan mereka juga mengaku sebagai Mesias. Mengapa mereka memakai nama Yesus? tujuannya untuk menyesatkan supaya banyak orang salah arah dalam mengikut Tuhan. Praktek penyesatan ini juga bisa masuk lewat “dukun/paranormal” yang bisa menyembuhkan dan yang selalu menekankan supaya berdoa lebih dahulu.
Dukun/paranormal, walaupun nampaknya baik, bisa menyembuhkan orang, nampaknya bisa memberi jalan keluar, tetapi tetap saja prakteknya bertentangan dengan firman Tuhan. Sebagai jemaat Tuhan, kita harus bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sudah seharusnya kita berpegang teguh terhadap firman pengajaran supaya jangan mencoba mencari pertolongan kepada dukun.
Maka sebelum bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan, ada dua (2) hal yang harus mereka persiapkan, yaitu:
1. Yosua 1 : 10 - 11 para pengatur pasukan supaya mempersiapkan “bekal” sebagai persiapan dalam memasuki tanah Kanaan sebab dalam tiga hari mereka akan menyeberangi sungai Yordan. BEKAL = menunjuk firman Tuhan, TIGA HARI = mengalami proses kematian dan kebangkitan. Orang Kristen yang rindu masuk sorga harus punya bekal, yaitu firman Tuhan, tidak ada jalannya bisa masuk ke dalam sorga kalau di dalam seseorang itu tidak ada firman Tuhan. Maka sebagai hamba-hamba Tuhan supaya berhasil membawa jemaatnya masuk ke dalam sorga, ia juga harus punya modal, yaitu firman Tuhan. Firman Tuhan inilah yang akan membawa supaya kita mampu mengalami proses kematian dan kebangkitan, sama seperti Yesus telah mati dan bangkit mengalahkan maut demikian juga kita akan bangkit untuk memperoleh kemenangan.
2. Yosua 1 : 12 - 18 harus mempersiapkan senjata, dengan kata lain mempersenjatai diri supaya punya kekuatan mengalahkan musuh. Walaupun orang Ruben, orang Gad dan suku Manasye yang setengah itu sudah memperoleh warisan dan banyak ternak, tetapi mereka juga harus tetap menyeberangi sungai Yordan di depan saudara-saudara mereka dengan “bersenjata” untuk menolong suku yang lainnya. Ini berbicara tidak ada lagi ikatan dengan perkara-perkara yang duniawi, baik dengan harta maupun dengan ikatan batin. Ternak = harta, anak-anak = ikatan batin.
Maka sebagai jemaat Tuhan, walaupun sudah diberkati, sudah diberi keamanan, diberi kesembuhan dan kesehatan, sudah diberi keturunan, dll, tetapi kita juga harus tetap mempersenjatai diri dengan firman Tuhan. Efesus 6 : 10 - 20 supaya kita bisa kuat di dalam Tuhan dan supaya kita bisa mengadakan perlawanan pada hari-hari yang jahat ini, kita harus mengambil seluruh “perlengkapan senjata Allah” dan semua ini kita temukan hanya di dalam firman pengajaran-Nya.

Senin, 07 September 2009

Buletin September 2009


“KRISTUS TELAH MENGASIHI JEMAAT”

Minggu, 06 September 2009


Puji Tuhan! Kita patut bersyukur kepada Tuhan kita, Yesus Kristus, Mempelai Pria Sorga yang masih memberikan waktu dan kesempatan bagi kita untuk menikmati firman pengajaran-Nya. Betapa besar rahasia firman Tuhan yang telah dibukakan kepada kita, khususnya dalam tema: “Kristus telah mengasihi jemaat”. Sebagai Suami, atau sebagai Mempelai Pria sorga, Ia telah membuktikan kasih-Nya kepada jemaat dengan cara menyerahkan nyawa-Nya sendiri sebagai korban untuk menebus kita dari dosa dan maut. Ia rindu menjadikan kita menjadi istri-Nya, yg layak dan berkenan dihadapan diri-Nya. Dan tidak cukup sampai disitu saja, Ia juga telah memberikan dan membukakan firman-Nya sebagai sarana untuk membentuk dan mempersiapkan kita sampai benar-benar segambar dengan Kristus. Karena Ia adalah kudus, maka kita juga harus kudus.
Saudara-saudara, disebut “LAKI-LAKI” = karena diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1 : 27). Disebut “PEREMPUAN” = karena diambil dari laki-laki (Kejadian 2 : 23). Karena itu khusus dalam pernikahan, ada empat (4) hal penting yang penting kita ketahui supaya nikah/ keluarga kita dapat berjalan dengan baik, yaitu:
1. Pernikahan itu adalah “Perjanjian Ilahi” atau “perjanjian kudus”.
Maleakhi 2 : 14 - 15 firman Tuhan membuat suatu ketegasan bahwa pernikahan itu disaksikan sendiri oleh Allah. Disebut perjanjian ilahi = karena Tuhan Allah sendiri turut serta menjadi saksi utama. Maka dalam pernikahan yang benar tidak boleh ada kebohongan atau kepalsuan, sebagai suami harus jujur kepada istri, demikian juga sebagai istri harus jujur kepada suaminya, kedua-duanya tidak boleh menyimpan sesuatu.
= karena nikah itu akan dibawa kepada nikah yang kudus, bahkan puncaknya akan menyatu dengan Kristus sebagai Kepala segala sesuatu. Khusus dalam nikah/keluarga, Tuhan punya rencana yang begitu indah dan mulia, mau menyatukan nikah itu dengan Kristus sebagai Kepala, Dialah yang turut bekerja untuk menda-tangkan kebaikan kepada kita.
Kejadian psl 6 = inilah model nikah atau keluarga yang sudah rusak, tidak lagi berada dalam kebenaran firman Tuhan. Dalam pasal ini dapat kita lihat yang rusak bukan hanya pribadi-pribadi, tetapi juga sudah mencakup nikah/keluarga. Dikatakan tidak menyesuaikan diri = karena mengambil siapa saja yang disukai, termasuk mereka yang sudah disebut anak-anak Allah pun juga mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. Akibatnya: lahirlah orang-orang raksasa, orang-orang yang gagah perkasa, orang-orang kenamaan. Kalau badannya besar, maka nafsunya juga pasti besar. Karena itu, setiap nikah/keluarga yang tidak mau menyesuaikan diri dengan firman Tuhan, akan melahirkan keturunan yang jahat, tetapi jika nikah itu sudah menyesuaikan diri dengan firman Tuhan, akan menghasilkan keturunan Ilahi. HALELUYA!
2. Pernikahan itu harus menghayati kesatuan dan kebersamaan.
Menghayati = mengutamakan atau menjunjung tinggi. Kalau nikah itu sudah mengutamakan atau menjunjung tinggi kebersamaan, barulah nikah itu bisa dikatakan menjadi satu daging yang tidak terpisah kan lagi oleh apapun. Matius 19 : 5 - 6, firman Tuhan berkata: “Sebab itu laki-laki akan mening-galkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Kalau sudah menjadi “satu daging” suami istri itu bukan lagi dua, melainkan satu. Namun sebelum hal ini terwujud, nikah itu harus disatukan lebih dahulu di dalam satu roh, artinya satu di dalam Tuhan, satu penggembalaan, satu tujuan. Kalau sudah satu Roh, apabila laki-laki dan perempuan menjadi satu daging, maka di dalam nikah itu tidak akan terjadi lagi konflik atau percekcokan, apalagi yang namanya perceraian. Efesus 4 : 3 - 6 firman Tuhan menjelaskan tentang kesatuan di dalam Tuhan, dimulai dari satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu babtisan dan satu Allah. Contoh: ADAM, setelah dibentuk dari tanah, kemudian Allah menghembuskan roh supaya hidup. Andaikata Allah tidak menghembuskan Roh-Nya, maka Adam itu tidak akan pernah menjadi manusia yang hidup, akan tetap sebagai patung yang tidak bernafas. Efesus 2 : 1 - 2 = dahulu kita memang sudah mati karena dosa dan pelanggaran. Maka supaya bisa hidup, harus mau mengalami proses kelahiran baru, diciptakan menjadi manusia baru, supaya menjadi manusia yang hidup.
Satu Roh = prakteknya : hidup dalam ibadah.
Satu Jiwa : prakteknya ada kejujuran dan komunikasi yang baik.
Satu tubuh : ada kemesraan, ada sex yang benar.
Kemesraan dan sex yang tidak diawali dengan kesatuan Roh dan satu jiwa, maka rumah tangga itu akan hancur oleh hawa nafsunya sendiri. Tetapi kalau sudah diawali dengan kesatuan Roh, barulah nikah itu bisa satu arah, satu tujuan, sehingga suami istri aman dan tenteram, tidak ada konflik.
3. Pernikahan itu adalah masing-masing mengemban tanggung jawab, suami ada
tanggung jawabnya, istri jug ada tanggung jawabnya.
Efesus 5 : 22 - 31 firman Tuhan menjelaskan kepada kita bagaimana tanggung jawab suami terhadap istrinya dan tanggung jawab istri terhadap suaminya.
Tanggung jawab suami =
- mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri dengan cara menyerahkan dirinya sendiri, untuk bertanggung jawab kepada istrinya.
- mengasuh dan merawat istrinya seperti Kristus terhadap jemaat.
Cara suami membuktikan tanggung jawabnya: meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya.
Tanggung jawab istri =
- tunduk kepada suami dalam segala sesuatu, ketundukannya sama seperti kepada Tuhan dan menganggap suami itu adalah kepala keluarga. Bukti istri tunduk kepada suaminya, ia menghormati suami nya dan selalu mendukung supaya suaminya bisa maju, dalam pekerjaan, maupun dalam pelayanan.

4. Pernikahan itu adalah tempat mewarisi berkat Allah
1 Petrus 3 : 7 suami harus hidup bijaksana dengan istrinya dan menghormati istri sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan. Inilah yang dimaksud bahwa pernikahan itu adalah tempat Allah mencurahkan berkat-Nya. Amsal 10 : 22 firman Tuhan berkata: “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” Artinya kalau rumah tangga itu sudah sesuai dengan kehendak Tuhan, maka Tuhan sendiri turut campur tangan untuk memberkati dan tidak membiarkan nikah itu masuk ke dalam kesusahan. Maka kalau ada nikah/keluarga yang mengalami kesusahan, harus mau memperhatikan firman Tuhan, masing-masing harus mengoreksi diri sendiri supaya Tuhan memberikan perhatian-Nya. Mazmur 37 : 23 - 25, Tuhan sendiri yang menetapkan langkah-langkah orang yang berkenan kepada-Nya. Dan khusus dalam ayat 25 :
- orang benar tidak pernah ditinggalkan Tuhan.
- anak cucunya tidak akan meminta-minta.
Kunci dari semua itu, kita harus hidup sesuai dengan firman Tuhan, harus tetap setia dalam ibadah dan penggembalaan yang benar, dan senantiasa hidup di dalam doa dan penyembahan. Kristus telah membukti kan kasih-Nya kepada kita, maka kitapun harus bisa membuktikan bahwa kita mengasihi Allah dengan cara melakukan segala perintah-Nya. HALELUYA....!!!!


“KRISTUS TELAH MENGASIHI JEMAAT”

Minggu - 13 September 2009


Puji Tuhan .....!!!
Berulang-ulang telah kita lihat bagaimana kasih Allah yang begitu besar mengangkat bangsa Israel menjadi umat Allah. Tuhan Allah mengangkat Hosea untuk menggam-barkan kasih Allah, yang mengangkat derajat bangsa Israel dimata Tuhan. Keluarga Hosea ini juga menjadi gambaran betapa besarnya kasih Allah yang mengangkat derajat kita supaya layak disebut menjadi umat kepunyaan Allah sendiri. Betapa kuatnya kasih Allah mengangkat kita, lewat kematian Kristus di kayu salib sebagai korban untuk memperdamaikan kita dengan Allah, dan untuk mengangkat kita dari dosa dan maut, tidak ada kasih sebesar ini selain kasih Kristus.
Saudara-saudara, sebelum bangsa Israel keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan, Allah memaksa Firaun dengan sepuluh tulah supaya mau membiarkan bangsa Israel pergi ke tanah Kanaan. Kesepuluh tulah itu diturunkan Allah untuk menghukum Mesir, tidak ada satu tulahpun yang menimpa bangsa Israel. Jadi bangsa Israel telah melihat perbuatan tangan Tuhan yang begitu besar untuk memberikan kelepasan kepada mereka. Tetapi sayang, kalau kita lihat dalam perjalanan bangsa Israel di padang gurun, mereka tidak menun-jukkan sikap dan perbuatan yang baik, sebaliknya mereka justru terjebak kepada penyembahan berhala yang sangat ditentang Tuhan. Tidak cukup sampai disitu saja, setelah mereka sampai ke tanah Kanaan, mereka tidak sungguh-sungguh beribadah, melainkan memberontak dan membelakangi Allah.
Akibatnya mereka diijinkan Allah dibuang ke Babel dan diperbudak di sana selama tujuh puluh tahun. Dan berlanjut terus sampai kepada zaman nabi Maleakhi, nabi terakhir dalam kitab Perjanjian Lama, bangsa Israel masih tetap saja mengeraskan hati dan tidak mau datang kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kurang lebih selama empat ratus tahun Allah tidak berfirman kepada bangsa Israel sampai kepada kelahiran Tuhan Yesus, yaitu firman yang menjadi manusia (=daging). Walaupun firman itu telah menjadi manusia di dalam diri Yesus, bangsa Israel tetap saja tidak mau datang kepada Yesus, mereka tidak mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, justru mereka menganggap Yesus itu adalah seorang penyesat dan kerasukan setan. Puncak penolakan bangsa Israel terhadap Yesus, mereka menyalibkan Tuhan Yesus di atas bukit Golgota dan mensejajarkan Yesus dengan penjahat.
Syukur kepada Allah, penolakan bangsa Israel terhadap Yesus menjadi berkat yang besar bagi kita, gereja Tuhan dari bangsa kafir. Sebab lewat kematian Yesus di kayu salib, maka terbukalah jalan keselamatan bagi kita, kita telah diperdamaikan dengan Allah oleh korban Kristus.
Hal ini dapat kita lihat dengan jelas dalam Roma 9 : 30 - 33
- Bangsa Israel, sungguhpun mereka mencoba mengejar hukum yang mendatangkan kebenaran, tetapi mereka tidak sampai kepada hukum itu sebab mereka mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan.
Akibatnya: bangsa Israel tersandung pada batu sandungan, yang menunjuk kepada pribadi Yesus sebagai batu penjuru.
- Bangsa-bangsa lain (=bangsa kafir), yang tidak mengejar kebenaran telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Maksud nya: orang kafirpun kalau mau percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, akan hidup dalam kebenaran dan akan berbuahkan iman. Iman inilah yang akan membawa kita kepada pengenalan akan Yesus, dapat mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, puncaknya kita akan mengenal Yesus sebagai Mempelai Pria yang akan datang kembali.
Wahyu 11 : 19 = kepada rasul Yohanes, Tuhan Allah memperlihatkan “Tabut Perjanjian”. Dan seperti yang sudah kita ketahui bahwa pelajaran tentang “Tabut Perjanjian” itu berbicara tentang: Kristus sebagai mempelai laki-laki menyatu dengan gereja yang sudah sempurna, yang menjadi mempelai perempuan-Nya.
Tabut itu letaknya di Ruangan Maha Suci = berbicara tentang kesempurnaan Kristus sebagai Mempelai laki-laki dan kesempurnaan gereja yang menjadi mempelai perempuan.
Maksudnya: gereja yang bisa menjadi mempelai perempuan Kristus adalah gereja yang mau menguduskan diri dari hari kehari sampai sempurna supaya sama seperti Kristus, setelah itu barulah gereja Tuhan itu boleh bersanding dengan Kristus.
Untuk itu, perlu kita ketahui menurut terang tabernakel, yang disebut “anak-anak Allah” itu terdiri dari tiga (3) tingkatan, yaitu:
1. Anak-anak Allah tingkat Halaman, sudah percaya, sudah bertobat, sudah dibabtis dengan air dan dengan Roh Kudus (Halaman). Anak-anak Allah tingkat halaman ini akan masuk ke dalam aniaya antikris dan akan diinjak-injak selama 3 ½ tahun. Wahyu 11 : 1 - 2 pelataran = halaman ini tidak perlu diukur sebab sudah ditentukan untuk diberikan kepada bangsa-bangsa lain, yaitu kepada antikris untuk dianiaya selama empat puluh dua bulan = 3 ½ tahun.
2. Anak-anak Allah tingkat Ruangan Suci, memang sudah berada di Ruangan suci tetapi belum terjamin masuk ke dalam sorga, sebab belum masuk ke dalam kesempurnaan. Dalam Wahyu 13 : 5 - 7, firman Tuhan mengatakan bahwa orang-orang kuduspun, yaitu orang-orang kudus yang tidak menjadi sempurna akan dikalahkan oleh antikris. Kepada binatang yang keluar dari dalam laut (=antikristus) itu akan diberikan kuasa dan diperkenankan untuk berperang melawan dan mengalahkan orang-orang kudus tersebut. Anak-anak Allah tingkat Halaman dan Ruangan Suci bisa masuk ke dalam sorga, dengan syarat: harus mati di dalam Tuhan. Kalau masih hidup pada kedatangan Tuhan yang kedua kali sebagai Mempelai Pria Sorga, mereka akan dikalahkan oleh antikris dan akan dianiaya selama 3 1/2 tahun.
3. Anak-anak Allah tingkat Ruangan Maha Suci, inilah anak-anak Allah yang sudah terjamin masuk ke dalam sorga, akan menang, tidak akan dikalahkan lagi oleh antikris bahkan oleh setan sekalipun. Puncak kemenangan Gereja Tuhan yang sudah sempurna itu akan diangkat menjadi mempelai perempuan Kristus. Matius 5 : 48, Tuhan Yesus sudah membuat suatu aturan dan tolak ukur, yaitu : kita harus sempurna, sama seperti Bapa di sorga adalah sempurna. Ayat ini tidak boleh ditawar-tawar lagi sebab sudah menjadi keputusan langsung dari Tuhan Yesus.
Wahyu 12 : 13 - 14 gereja Tuhan yang jadi mempelai itu digambarkan seperti seorang perempuan yang melahirkan Anak laki-laki dan kepadanya akan diberi kan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari mata ular itu selama satu masa, dua masa dan setengah masa = 3 ½ tahun.
Sebagai jemaat Tuhan, kita harus meneladani sikap rasul Paulus, mencoba mengejar kesempurnaan kalau-kalau ia dapat menangkapnya. Kita dapat melihatnya dalam Filipi 3 : 12, sikap dalam mengejar kesempurnaan :
- melupakan apa yang telah dibelakang, artinya jangan kembali kepada hidup yang lama tetapi terus memandang kepada kesempurnaan.
- mengarahkan diri kepada apa yang dihadapan, artinya terus menerus memperhatikan dan melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan.
- berlari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, artinya harus lebih giat beribadah dan melakukan seluruh kehendak Tuhan. Panggilan sorgawi itu berbicara puncak dari segala rencana Tuhan menjadikan kita menjadi mempelai perempuan.
Karena itu, supaya kita bisa mengejar kesempurnaan tersebut, kita harus memiliki iman yang sejajar dengan perbuatan, memiliki pengharapan yang sejajar dengan kekudusan dan memiliki kasih yang sejajar dengan kesempurnaan. 1 Yohanes 3 : 3, bukti menaruh pengharapan kepada Kristus, harus menyucikan diri sama seperti Kristus adalah suci. Jadi kesucian kita itu harus sama seperti sucinya Kristus. Haleluya....!!!


“T A N D A D A R A H”

20 September 2009
















Salam Sejahtera dari Tuhan kita, Yesus Kristus, Kepala Gereja, Mempelai Pria Sorga. Kita patut bersyukur kepada Tuhan, yang selalu berkenan memberikan firman-Nya kepada kita, yaitu firman yang selalu dibukakan rahasianya. Sehingga lewat firman Tuhan yang telah dibukakan rahasianya itu, maka kita semakin dibawa kepada pengenalan yang benar akan pribadi Allah, di dalam Kristus Yesus, Dialah Mempelai Pria Sorga yang segera akan datang kembali menjemput mempelai perempuan-Nya. Saudara-saudara, dalam firman Tuhan dapat kita lihat gereja yang menang itu adalah gereja yang sudah mempunyai tanda.
Dalam Wahyu 12 : 1 = gereja yang sudah punya tanda itu diumpamakan bagaikan seorang perempuan yang berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Gereja yang jadi mempelai perempuan itu mempunyai tanda yang besar, bukan tanda yang kecil. Ini menunjuk rencana Tuhan di dalam hidup kita, rencana yang besar bukan rencana yang kecil, karena itu jangan sampai ada orang yang menganggap keselamatan itu perkara yang kecil. Apalagi untuk menjadikan kita sebagai mempelai perempuan, ini bukan perkara yang kecil, jangan sampai ada orang yang menganggap remeh akan Firman Pengajaran Mempelai yang Alkitabiah.
Berselubungkan matahari = hidup sepenuhnya dikuasai dan ditutup bungkus oleh Allah Bapa.
Bulan di bawah kaki = Punya pendirian yang benar di atas dasar kebenaran, atau dengan kata lain sudah berdiri di atas korban/darah Kristus Bermahkotakan dari dua belas bintang = pikirannya sudah dikuasai sepenuhnya oleh Roh Kudus.
Inilah model gereja Tuhan yang akan mengalami kemenangan demi kemenangan bersama dengan Kristus, menang terhadap pekerjaan iblis/setan, menang mengalahkan dunia dan menang terhadap keinginan atau tabiat daging. Kalau gereja Tuhan itu tidak menang bersama dengan Kristus, maka akan mengalami tanda yang lain. Sebab dalam ayat 3 dikatakan ada juga tanda yang lain dilangit sebagai tandingan gereja yang telah menjadi sempurna, bahkan tanda yang lain ini akan mencoba menjatuhkan gereja Tuhan yang telah menjadi mempelai perempuan Kristus. Tanda yang lain di langit itu adalah “seekor naga merah padam” yang besar, berkepala tujuh, dan bertanduk sepuluh, dan diatas kepalanya ada tujuh mahkota. Tanda yang lain ini adalah tandingan bagi gereja Tuhan yang telah menjadi sempurna. Cara kerja setan/iblis = pertama-tama menggoda atau merayu dengan kelicikannya, dengan maksud supaya jatuh ke dalam dosa. Kemudian ia juga mendakwa kita siang dan malam di hadapan Allah, segala perbuatan kita selalu dilaporkan kepada Allah, apalagi kalau kita berdosa (Wahyu 12 : 10). Karena itu kalau orang-orang Kristen jaman sekarang tidak punya pendirian yang kuat terhadap kebenaran, dan kalau dalam hidupnya tidak ada tanda darah Kristus, maka dengan mudah akan jatuh baik oleh angin-angin pengajaran maupun oleh hawa nafsunya sendiri.Jadi segala dosa dan pelanggaran-pelanggaran yang pernah kita lakukan, akan dilaporkan oleh setan/iblis bukan hanya kepada manusia saja, tetapi juga langsung kepada Allah, di sorga, iblis akan mendakwa kita siang dan malam dihadapan Allah. Wahyu 12 : 4 = ekor ular naga yang merah padam itu menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi.
Bintang-bintang itu menunjuk anak-anak Tuhan yang sudah kudus tetapi sayang tidak sampai kepada kesempurnaan. Bintang-bintang ini sama seperti yang dikatakan dalam Wahyu 13 : 7, antikristus diperkenankan untuk berperang melawan orang-orang kudus dan mengalahkan mereka.
Jika demikian halnya, bagaimanakah caranya supaya kita bisa menang baik terhadap dakwaan maupun pekerjaan iblis? Supaya kita bisa menang terhadap dakwaan iblis, caranya kita harus memiliki tanda darah anak domba, yaitu oleh “darah Yesus Kristus.”
Karena itu, jika Yesus Kristus telah mati untuk kita dan telah memberikan darah-Nya sebagai tanda dalam hidup kita, akan ada berkat-berkat rohani yang akan kita peroleh dari Tuhan, yaitu: Roma 8 : 31 - 39 - tidak ada yang dapat melawan kita
- tidak ada yang dapat menggugat kita
- tidak ada yang menghukum kita
- tidak akan ada lagi yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.
Jika Kristus sudah dipihak kita, kita mempunyai keyakinan iman, sehingga baik penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya atau pedang, tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, sebab tanda darah itu kuat dan lebih kuat dari maut sekalipun. Jaminannya Roma 8 : 32 = oleh karena Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua. Oleh kuasa darah Kristus yang telah mati dan yang telah bangkit itu, Ia telah memberikan tanda dalam hidup kita supaya kita menang terhadap iblis dan pekerjaannya. Yehezkiel 9, firman Tuhan menjelaskan kepada kita bagaimana bagaimana kekuatan tanda yang diberikan Allah kepada umat-Nya. Tanda yang diberikan Tuhan adalah “huruf T”, yang menunjuk kepada salib Kristus, atau darah Kristus yang telah tercurah di atas kayu salib untuk kita semua.Dalam Yehezkiel psl 9 ini dijelaskan: ada enam orang laki-laki dengan alat pemusnah di tangannya, mendapat perintah langsung dari Allah untuk menjalankan hukuman atas kota Yerusalem. Namun demikian, ada satu orang di antara mereka berpakaian lenan dan di sisinya terdapat suatu “alat penulis”. Pekerjaannya : untuk menuliskan tanda “huruf T” pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah karena segala perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan di Yerusalem. Dan semua orang yang sudah di tandai dengan “huruf T” itu tidak akan masuk ke dalam malapetaka, bahkan disinggungpun tidak boleh. Tetapi semua orang yang tidak ditandai dengan “huruf T”, Tuhan sendiri yang memberi perintah supaya diikuti dari belakang dan memukulnya sampai mati, kepada mereka tidak ada lagi rasa sayang dan belas kasihan. Baik orang-orang tua, teruna-teruna dan dara-dara, anak-anak kecil dan perempuan-perempuan, akan dibunuh dan dimusnah kan oleh keenam orang yang memegang alat pemukul masing-masing ditangannya. Tuhan Allah sengaja mengijinkan lebih banyak yang merusak daripada memperbaiki, lebih banyak orang yang menyesatkan daripada pemberita kebenaran. Maksud semuanya ini adalah supaya kita, sebagai jemaat Tuhan, sudah seharusnya memiliki tanda, yaitu darah Kristus, darah yang memberi kemenangan terhadap iblis/setan.
KUASA DARAH ANAK DOMBA / KORBAN KRISTUS 5 P :
1Yohanes 2 : 1 - 2 firman Tuhan menjelaskan fungsi darah Yesus, jika kita berbuat dosa, maka kita telah mempunyai Pengantara pada Bapa, Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita. Bukan berarti Tuhan setuju kita berbuat dosa, Ia tetap benci pada dosa kita, hanya jika ada yang sempat berbuat dosa, sudah ada darah Kristus sebagai Pengantara untuk memperdamaikan kita kembali dengan Bapa. Inilah bukti betapa kuatnya darah Kristus Yesus itu untuk membenarkan dan membetulkan hidup kita.