“LEBIH DARI PEMENANG”
Minggu, 01 Nopember 2009
Saudara-saudara, pada minggu yang lalu kita sudah melihat arti kata “setia” sama dengan “menang”, walaupun ada tantangan, penderitaan maupun pencobaan, tetapi tetap setia mengikuti Tuhan dan tetap tekun melakukan firman-Nya. Inilah yang disebut pemenang!
Yosua 1 : 5 kepada Yosua, Tuhan memberi suatu kepastian tentang kemenangan jika tetap tekun melakukan firman Tuhan. Sebagai seorang pemim-pin bangsa Israel , Tuhan tahu apa yang paling di-butuhkan oleh Yosua sebelum membawa bangsa Israel memasuki tanah Kanaan. Tuhan Allah lebih dahulu memantapkan hati Yosua bahwa tidak akan ada seorang pun yang dapat bertahan menghadapi Yosua seumur hidupnya. Kalau Tuhan mau mem-bangun seorang hamba Tuhan, seorang pemimpin rohani, Ia lebih dahulu memantapkan hati supaya yakin akan penyertaan Tuhan. Demikian juga sebagai jemaat Tuhan, hati kita juga perlu dimantap kan supaya bisa meyakini penyertaan Tuhan.
Yohanes 10 : 27 - 28 yang mendapat jaminan tidak dapat dirampas/direbut dari tangan Tuhan adalah “DOMBA”, berbicara jemaat yang hidup dalam ibadah dan penggembalaan yang benar.
Sikap domba:- mendengar suara Tuhan = menekuni firman Tuhan.
- setia mengikut Tuhan = setia melakukan firman Tuhan.
Dalam penggembalaan yang benar, kita akan menemukan gambar Kristus sebagai Gembala. Dan sebagai Gembala yang baik :
Yesus telah memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya yang tekun melakukan firmanTuhan.
Jadi dalam penggebalaan yang benar, akan kita temukan gambar Tuhan Yesus yang tampil lewat gambar seorang pemimpin atau gembala jemaat yang hidup dalam terang firman Tuhan. Tuhan yang membangun kita dengan firman-Nya supaya bisa seperti domba tunduk dalam penggembalaan dan tekun melakukan firman Tuhan. Puncaknya firman Tuhan itu akan menyatakan gambar hidup kita yang sebenarnya baik dihadapan Tuhan maupun dihadapan sesama. Supaya ini bisa terwujud, maka sebagai:
- pemimpin yang baik, ia harus hidup dan melayani sesuai dengan firman Tuhan.- suami yang baik, ia harus dapat mengasihi istrinya dan menjadi teladan yang baik di
di dalam rumahtangganya sendiri.
- istri yang baik, ia harus dapat mengatur rumah tangganya dan patuh kepada suaminya.
Mengerti kehendak Tuhan itu sangat indah.
Yosua 1 : 1 - 3 untuk membangun diri supaya bisa mengerti kehendak Allah, Tuhan membangun kita lewat firman-Nya. Pada dasarnya, Yosua itu hanya seorang hamba/abdi Musa. Tetapi setelah Musa mati, Tuhan memanggil Yosua untuk menggantikan Musa sebagai pemimpin untuk memimpin bangsa Israel memasuki tanah Kanaan. Maka Tuhan Allah membangun Yosua lewat mendidiknya sejak ia masih menjadi seorang abdi Musa supaya berhasil mempunyai ketetapan hati.
Sejak dari awal, Yosua itu adalah seorang yang taat kepada Musa dan kepada Tuhan, ia juga adalah seorang yang tekun melakukan firman Tuhan sejak masa mudanya. Tetapi sekalipun Yosua itu sudah taat sejak ia masih menjadi seorang pembantu, Tuhan juga masih mendidik sampai Yosua itu benar-benar bisa menjadi orang yang dipercayai.
Maka dalam Yosua 1 : 3 kepada Yosua, Allah memberikan suatu pernyataan yang luar bisa tentang kemenangan. Bahwa setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakinya, akan diberikan Allah kepadanya. Ini adalah janji Allah yang juga akan dinyatakan kepada kita, baik sebagai jemaat maupun sebagai hamba-hamba Tuhan. Tuhan Allah akan menyatakan penyertaan-Nya kepada kita ke mana pun kita melangkah. Kalau kepada Yosua, Allah mau memberikan pernyataan yang begitu luar biasa, maka kepada kita pun Allah akan menyatakannya juga.
Hanya syratnya: kita harus bergerak maju, tetap tekun melakukan segala perintah Allah ke mana pun kita melangkah.
Sebab jika Yosua tidak mau bergerak, jika ia puas hanya di tempatnya saja, walaupun Tuhan sudah berjanji bahwa setiap tempat yang akan diinjak kakinya akan menjadi miliknya, kalau tidak bergerak mengikuti kehendak Tuhan, maka ia tidak akan berhak memiliki tanah yang telah dijanjikan.
Arti kata “setiap tempat yang akan diinjak kaki”= ada aktivitas, ada pergerakan ke depan tidak berhenti tetapi melangkah terus sampai kepada akhirnya, berhasil mencapai tujuan.
Maka tidak heran dalam Ulangan 4 : 5 Musa memanggil bangsa Israel dan berkata supaya mereka mengingat segala ketetapan dan peraturan yang telah diajarkan oleh Musa kepada mereka. Ayat 6 = jika mereka melakukan segala ketetapan dan perintah Tuhan itu dengan setia, maka firman itu akan menjadi kebijaksanaan dan akal budi, bangsa-bangsa lain pun akan mengakui bahwa mereka adalah bangsa yang bijaksana dan berakal budi.
Demikian juga jika kita setia melakukan segala perintah dan ketetapan Tuhan dalam firman-Nya, maka firman itu akan membuat kita menjadi orang yang bijaksana dan berakal budi. Sebagaimana bangsa Israel diakui oleh bangsa-bangsa lain, demikian juga orang lain akan mengakui kita seba –gai orang yang bijaksana dan yang berakal budi. Orang yang bijaksana dan yang berakal budi itu pandangannya selalu mengarah ke depan, tidak terpengaruh oleh masa lalunya, tidak terpengaruh dengan penderitaannya, tidak terpengaruh dengan penyakitnya, tetapi terus berjalan mengikut Tuhan dan tekun melakukan firman Tuhan. Kepada LOT dan keluarganya, diperintahkan supaya berlari ke atas gunung dan supaya jangan menoleh ke belakang. Tetapi mereka tidak setia melakukan apa yang diperintahkan oleh malaikat Tuhan, istri Lot karena tidak mampu melepaskan diri dari perkara yang duniawi, menoleh ke belakang. Akibatnya: ia menjadi tiang garam.
Kalau masih memandang ke belakang berarti hatinya masih terikat dengan perkara-perkaran yang duniawi (harta), orang yang seperti ini tidak mungkin pandangannya bisa mengarah ke depan. Dan kalau tidak bisa memandang ke depan Amsal 29 : 18a firman Tuhan bekata: “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.” Wahyu = ada kaitannya dengan perkara-perkara yang akan datang, yang masih di depan dan yang akan terjadi. Jadi setiap orang yang tidak setia melakukan firman Tuhan, ia akan menjadi liar, tidak ada yang mengarahkannya untuk berbuat baik, dan pandangannya tidak mungkin bisa mengarah ke depan untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.
Setelah Allah memberikan suatu pernyataan yang begitu luar biasa kepada Yosua, yaitu janji tentang kemenangan, sebelum Yosua mengalami kemenangan tersebut, ada perintah Allah yang harus diperhatikan, yaitu:
- kuatkan/teguhkan hati.Kalau masih memandang ke belakang berarti hatinya masih terikat dengan perkara-perkaran yang duniawi (harta), orang yang seperti ini tidak mungkin pandangannya bisa mengarah ke depan. Dan kalau tidak bisa memandang ke depan Amsal 29 : 18a firman Tuhan bekata: “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.” Wahyu = ada kaitannya dengan perkara-perkara yang akan datang, yang masih di depan dan yang akan terjadi. Jadi setiap orang yang tidak setia melakukan firman Tuhan, ia akan menjadi liar, tidak ada yang mengarahkannya untuk berbuat baik, dan pandangannya tidak mungkin bisa mengarah ke depan untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.
Setelah Allah memberikan suatu pernyataan yang begitu luar biasa kepada Yosua, yaitu janji tentang kemenangan, sebelum Yosua mengalami kemenangan tersebut, ada perintah Allah yang harus diperhatikan, yaitu:
- jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri.
- jangan melupakan perkataan kitab Taurat
= selalu menekuni firman Tuhan.
Hasilnya: Matius 7 : 24 - 25 orang yang bijaksana itu tahu di mana ia harus mendirikan rumahnya, yaitu di atas dasar batu. Maka sekalipun hujan dan banjir datang dan angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh, sebab sudah didirikan di atas dasar yang benar. Orang yang bijaksana itu punya sikap mendengar dan melakukan firman Tuhan = tekun melakukan firman Tuhan. Karena ia bijaksana, maka pandangannya bisa mengarah ke depan sehingga ia tahu di mana ia harus membangun rumahnya. Sebagai jemaat Tuhan yang hidup diakhir zaman ini, jika kita mau menekuni firman Tuhan dan memiliki sikap seperti Yosua, maka kita juga pasti bisa mempunyai pandangan yang mengarah ke depan, yang membuat kita menjadi orang yang bijaksana dan berakal budi, tahan terhadap segala pencobaan maupun penderitaan. Mendengar dan melakukan firman Tuhan harus menjadi sikap kita. H A L E L U Y A ...!!!
Minggu, 08 Nopember 2009
Ayat 3 = janji Allah untuk memberikan tempat = janji tentang kememangan atas semua
musuh mereka.
Ayat 5 = janji Allah, bahwa Allah tidak akan membiarkan dan tidak akan meninggalkan
umat-Nya.
- tidak akan ada yang bisa menggugat
- tidak akan ada yang bisa menghukum
- tidak akan ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus.
Mengapa kita harus mengalami proses kelahiran baru?
Firman Tuhan dalam Kejadian 3 menjelaskan sebagai akibat setelah manusia jatuh ke dalam dosa:
1. Kehilangan kemuliaan Allah.
2. Diusir dari taman Eden.
3. Tanah menjadi terkutuk.
Ketika Yosua bertanya: “Kawankah engkau atau lawan?” bagi kita ini merupakan suatu koreksi, jika kita sedang berhadapan dengan pribadi Allah, kita harus tahu di mana posisi kita, lawankah kita atau musuh Allah? Maka kalau terjadi suatu koreksi, kita harus tahu mengambil posisi yang benar, yaitu harus menjadi kawan/sahabat Tuhan. Sebab jika menjadi lawan atau musuh Tuhan, maka kemenangan itu tidak mungkin bisa diperoleh, sebaliknya akan mengalami malapetaka. Tetapi jika kita sudah menjadi kawan, maka Tuhan akan memberikan kemenangan yang gilang gemilang, Tuhan akan memberikan penyertaan-Nya dalam setiap waktu. Walaupun dunia ini bagaikan kota Yeriko yang tertutup, segala sesuatu serba sulit, banyak tantangan dan penderitaan, tetapi jika Tuhan sudah bersama dengan kita maka kemenangan itu pasti akan kita peroleh. Tuhan Yesus akan tampil dengan kuasa-Nya untuk memberi kemenangan kepada kita semua.
Yosua 5 : 14 - 15 setelah Yosua mengoreksi diri, Yosua diperintahkan supaya melepaskan kasut sebab tempat itu adalah kudus. Ini berbicara : ada sikap menanggalkan cara-cara/sifat-sifat yang lama.
Inilah hasilnya jika kita mau mengoreksi diri: kita akan dibawa kepada pengudusan hidup. Sebab selama manusia itu masih tetap mengenakan cara-cara hidup yang lama, maka Tuhan tidak akan menyertai sebab dosa itu merupakan kejijikan bagi Tuhan. Walaupun Yosua dan orang-orang Israel itu orang-orang yang gagah perkasa, tetapi Tuhan memberi kemenangan bukan dengan cara mereka sendiri tetapi dengan cara Tuhan sendiri. Yaitu dengan cara menguduskan diri. Demikian juga supaya kita bisa mengalami kemenangan demi kemenangan, kita harus disucikan baik oleh darah Kristus maupun oleh firman Tuhan.
Setelah selesai mengoreksi diri, dalam Yosua 6 : 2 barulah Tuhan berjanji untuk memberikan kemenangan kepada bangsa Israel, bahwa Yerikho beserta dengan rajanya dan rakyatnya akan diserahkan.
Yosua 6 : 3 = cara yang diberikan Tuhan kepada Yosua supaya Yerikho bisa dikalahkan: selama enam hari semua prajurit mengedari/menglilingi kota itu sekali saja, tujuh orang imam membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut, dan pada hari yang ketujuh mereka harus mengelilingi kota itu tujuh kali. Dan sikap selanjutnya mereka harus bersorak dengan nyaring, artinya ada sukacita karena Tuhan, bersorak itu tanda kemenangan. Maka sekalipun Yerikho itu kota tertutup pasti dapat dihancurkan dengan cara Allah. Demikian juga walaupun saudara sedang dalam masalah, dalam penderitaan, tetapi dengan sukacita yang dari Allah pasti menang. Bukti penyertaan Allah dalam hidup kita: dalam penderitaan pun kita bisa mengalami kemenangan demi kemenangan. Haleluya..!
Minggu, 15 Nopember 2009
Wahyu 21 : 7, firman Tuhan mengatakan “Barangsiapa menang, ia akan memperoleh sumuanya ini,” yang dimaksud dengan “semuanya ini” menunjuk kepada:
- Yerusalem Baru = sorga
- Menjadi mempelai perempuan Kristus.
Mengapa harus menang?
Maka tidak heran, Tuhan Yesus sudah lebih dahulu mengatakan bahwa hanya sedikit saja yang bisa masuk ke dalam sorga. Ini adalah pernyataan langsung dari Tuhan Yesus.
Mengapa hanya sedikit saja yang berhasil?
Inilah bukti kasih Kristus bagi kita: IA telah mati di atas kayu salib, berjuang untuk memperdamaikan kita dengan Allah. Dalam Efesus 5 : 22 - 23 kasih Kristus itu disejajarkan dengan kasih seorang suami terhadap istrinya, Kristus telah membuktikan kasih-Nya dengan cara menyerahkan diri-Nya dan mati di atas kayu salib untuk dosa-dosa kita.
Demikian juga dalam 1 Yohanes 4 : 10 firman Tuhan menjelaskan kepada kita kasih Allah yang sesungguh nya: IA telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Kalau kita lihat dari ayat ini, tanpa kita minta pun Allah sudah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, tanpa kita minta pun Kristus sudah mati di kayu salib dan memberikan nyawa-Nya bagi kita.
Jadi jika Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar, langkah selanjutnya dari pihak kita: “tunduk” kepada Tuhan seperti istri tunduk kepada suami dalam segala hal. Gereja yang menang itu nampak dari sikapnya, ada ketundukan dalam melakukan firman Tuhan dan selalu setia beribadah kepada Tuhan.
Ibrani 5 : 8 - 9 Tuhan Yesus Kristus sebagai teladan yang sempurna telah membuktikan ketaatan-Nya dan ketundukan-Nya sebagai Anak, yaitu taat sampai mati di atas kayu salib. Dan karena ketaatan-Nya itulah maka Kristus menjadi “pokok keselamatan bagi semua orang” yang mau percaya kepada-Nya. POKOK = patokan/teladan. Maka setiap orang yang disebut Kristen harus membuat Kristus sebagai pokok keselamatan baginya.
Saudara-saudara sebenarnya Tuhan itu tahu bahwa kita tidak mungkin bisa melakukan seperti yang telah dilakukan Tuhan kepada kita. Hanya ini yang diminta Tuhan, kita harus punya sikap “tunduk” kepada Tuhan sama seperti istri tunduk kepada suaminya. Bahkan Tuhan itu juga tahu bahwa sebenarnya kalau hanya dari diri kita saja tidak mungkin bisa tunduk kepada Tuhan, untuk itu Tuhan telah mengutus Roh Kudus-Nya sebagai Penolong dan Penghibur. Roh Kudus ini adalah sarana yang diberikan Tuhan untuk menyertai dan untuk memberikan kekuatan supaya kita mampu hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Roh Kudus itulah yang memampukan supaya kita bisa tunduk kepada Allah dan melakukan firman-Nya.
Dalam Wahyu pasal 2 & 3 supaya kita bisa mengalami kemenangan bersama dengan Kristus ada tujuh langkah yang harus kita miliki, yang diwakili oleh kutujuh jemaat. Dimulai dari jemaat di Efesus, jemaat di Smirna, jemaat di Pergamus, jemaat di Tiatira, jemaat di Sardis, jemaat di Filadelfia yang terakhir kepada jemaat di Laodikia. Kepada ketujuh jemaat itu firman Tuhan selalu mengatakan: “Barangsiapa menang”, bagi kita ini sangat mengandung arti yang sangat besar. Maka dalam mengikut Tuhan, langkah pertama itu sangat menentukan dalam perjalanan untuk langkah selanjutnya sampai kelangkah yang ketujuh: menjadi mempelai perempuan Kristus. Langkah yang pertama kepada jemaat di Efesus, firman Tuhan mengatakan: “Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus.” Ini berbicara janji untuk masuk ke dalam sorga bagi orang-orang yang telah menang, yaitu yang telah membasuh jubahnya (=yang telah menyucikan hidupnya) akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan yang ada di dalam sorga.
Syaratnya: jangan meninggalkan kasih yang mula-mula.
“LEBIH DARI PEMENANG”
Minggu, 08 Nopember 2009
Saudara-saudara, janji kemenangan yang diberikan Tuhan itu tidak tanggung-tanggung, tidak hanya satu hari, tidak hanya satu minggu, tidak hanya satu bulan, tidak hanya satu tahun, dst, tetapi sampai selama-lamanya, sampai Tuhan Yesus datang kembali. Sebab sedikit saja kita menyimpang dari kebenaran, maka kita sendiri akan menanggung akibatnya: tidak akan masuk ke dalam kerajaan sorga.
Yosua 1 : 3, 5 kepada Yosua dan kepada seluruh bangsa Israel, Allah telah memberikan pernyataan yang sangat luar biasa tentang kemenangan atas semua musuh-musuh mereka.Ayat 3 = janji Allah untuk memberikan tempat = janji tentang kememangan atas semua
musuh mereka.
Ayat 5 = janji Allah, bahwa Allah tidak akan membiarkan dan tidak akan meninggalkan
umat-Nya.
Yang disebut “pemenang” bukan hanya sekedar menang begitu saja, mungkin karena sudah diberkati, sudah disembuhkan, sudah diberi jodoh, sudah mendapat pekerjaan, maka disebut sudah menang. Semua ini memang sudah baik. Tetapi belum cukup, sebab yang disebut dengan pemenang itu adalah: ia harus bisa lebih dari orang-orang yang menang.
Saudara-saudara, sebenarnya kalau dilihat dari segi kemampuan kita sendiri, disebut menang saja sudah syukur, sudah luar biasa. Tetapi firman Tuhan menekankan bahwa sebagai jemaat Tuhan maupun sebagai hamba-hamba Tuhan, kita harus bisa lebih dari orang-orang yang menang. Jadi lewat firman Tuhan, kita juga bisa menerima pernyataan dari Tuhan yang sangat luar biasa seperti yang telah diberikan kepada Yosua. Pernyataan Allah yang luar biasa kepada kita: kita bisa menjadi pemenang lebih dari orang-orang yang menang.
Roma 8 : 34 - 37 firman Tuhan menjelaskan kepada kita tentang keadaan umat Tuhan yang lebih dari orang-orang yang telah menang. Kuncinya: kita harus mengalami kuasa kematian dan kebangkitan. Dalam ayat ini dijelaskan Kristus Yesus telah bangkit dan duduk di sebelah kanan Allah dan menjadi “PEMBELA” bagi kita. Ini berbicara tentang kuasa kematian dan kebangkitan Kristus, sebab jika Kristus tidak mati dan bangkit, maka keselamatan itu tidak mungkin bisa kita miliki. Tetapi karena Kristus Yesus telah mati dan bangkit, maka Ia sendiri yang tampil sebagai Pembela bagi kita untuk menyertai dan untuk memberi kekuatan. Jika Kristus Yesus sudah menjadi Pembela bagi kita, maka:
- tidak akan ada yang bisa melawan kita- tidak akan ada yang bisa menggugat
- tidak akan ada yang bisa menghukum
- tidak akan ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus.
Baik penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya atau pedang, dan sekalipun selalu berada dalam bahaya maut sepanjang hari dan dianggap sebagai domba-domba sembelihan, namun tidak akan ada yang bisa memisahkan kita dari Kristus. Justru sebaliknya dalam semuanya itu kita bisa menjadi pemenang lebih dari orang-orang yang menang.
Pada zaman akhir ini, masih banyak dari kalangan orang Kristen belum mengalami proses kematian dan kebangkitan seperti yang telah dialami oleh Tuhan Yesus Kristus. Mereka enggan menekuni firman Tuhan dan tidak sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan. Akibatnya mereka tidak mengerti apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup mereka. Sebenarnya yang disebut mengalami proses mati dan bangkit bersama dengan Kristus adalah “mengalami proses kelahiran baru”, ada sikap membuang segala perbuatan-perbuatan yang lama supaya dapat mengenakan sifat-sifat yang baru, yaitu sifat Kristus. Sebab jika kita sudah mati terhadap dosa dan mengenakan sifat Kristus, barulah kita disebut sebagai manusia baru, yang telah diciptakan menjadi manusia baru.Mengapa kita harus mengalami proses kelahiran baru?
Firman Tuhan dalam Kejadian 3 menjelaskan sebagai akibat setelah manusia jatuh ke dalam dosa:
1. Kehilangan kemuliaan Allah.
2. Diusir dari taman Eden.
3. Tanah menjadi terkutuk.
Kemudian dijelaskan lagi dalam Roma 3 : 23; 6 : 23 akibat dosa bukan hanya kehilangan kemuliaan Allah, tetapi manusia itu sesungguhnya sedang berada di dalam maut. Maka bagi gereja Tuhan, berita tentang kematian dan kebangkitan Kristus ini harus menjadi berita yang paling utama supaya jemaat-jemaat itu bisa mengerti keadaan/posisinya dihadapan Tuhan. Fokus pemberitaan jangan hanya tentang kekayaan, kesembuhan ataupun perkara-perkara yang duniawi, sebab semua ini tidak bisa membawa kepada keselamatan. Keselamatan itu mutlak pemberian Tuhan, anugrah Tuhan yang harus kita kerjakan dengan sungguh-sungguh dengan cara melakukan segala perintah ALlah.
Saudara-saudara, sebelum bangsa Israel merebut kota Yeriko, sebelum mengalahkan rajanya dan rakyatnya, dalam Yosua 5 : 13 Yosua melihat ke atas dan melihat “seorang laki-laki” berdiri di depan nya dengan pedang terhunus ditangan. Kemudian Yosua bertanya: “Kawankah engkau atau lawan?” Laki-laki yang berdiri di hadapan Yosua itu adalah menunjuk kepada pribadi Yesus Kristus yang datang kepada Yosua untuk menunjukkan penyertaan-Nya kepada bangsa Israel. Tuhan Allah sengaja menyatakan diri-Nya sebab sebentar lagi umat Israel akan diperhadapkan dengan kota Yeriko yang tertutup rapat dengan tembok yang tinggi-tinggi.Ketika Yosua bertanya: “Kawankah engkau atau lawan?” bagi kita ini merupakan suatu koreksi, jika kita sedang berhadapan dengan pribadi Allah, kita harus tahu di mana posisi kita, lawankah kita atau musuh Allah? Maka kalau terjadi suatu koreksi, kita harus tahu mengambil posisi yang benar, yaitu harus menjadi kawan/sahabat Tuhan. Sebab jika menjadi lawan atau musuh Tuhan, maka kemenangan itu tidak mungkin bisa diperoleh, sebaliknya akan mengalami malapetaka. Tetapi jika kita sudah menjadi kawan, maka Tuhan akan memberikan kemenangan yang gilang gemilang, Tuhan akan memberikan penyertaan-Nya dalam setiap waktu. Walaupun dunia ini bagaikan kota Yeriko yang tertutup, segala sesuatu serba sulit, banyak tantangan dan penderitaan, tetapi jika Tuhan sudah bersama dengan kita maka kemenangan itu pasti akan kita peroleh. Tuhan Yesus akan tampil dengan kuasa-Nya untuk memberi kemenangan kepada kita semua.
Yosua 5 : 14 - 15 setelah Yosua mengoreksi diri, Yosua diperintahkan supaya melepaskan kasut sebab tempat itu adalah kudus. Ini berbicara : ada sikap menanggalkan cara-cara/sifat-sifat yang lama.
Inilah hasilnya jika kita mau mengoreksi diri: kita akan dibawa kepada pengudusan hidup. Sebab selama manusia itu masih tetap mengenakan cara-cara hidup yang lama, maka Tuhan tidak akan menyertai sebab dosa itu merupakan kejijikan bagi Tuhan. Walaupun Yosua dan orang-orang Israel itu orang-orang yang gagah perkasa, tetapi Tuhan memberi kemenangan bukan dengan cara mereka sendiri tetapi dengan cara Tuhan sendiri. Yaitu dengan cara menguduskan diri. Demikian juga supaya kita bisa mengalami kemenangan demi kemenangan, kita harus disucikan baik oleh darah Kristus maupun oleh firman Tuhan.
Setelah selesai mengoreksi diri, dalam Yosua 6 : 2 barulah Tuhan berjanji untuk memberikan kemenangan kepada bangsa Israel, bahwa Yerikho beserta dengan rajanya dan rakyatnya akan diserahkan.
Yosua 6 : 3 = cara yang diberikan Tuhan kepada Yosua supaya Yerikho bisa dikalahkan: selama enam hari semua prajurit mengedari/menglilingi kota itu sekali saja, tujuh orang imam membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut, dan pada hari yang ketujuh mereka harus mengelilingi kota itu tujuh kali. Dan sikap selanjutnya mereka harus bersorak dengan nyaring, artinya ada sukacita karena Tuhan, bersorak itu tanda kemenangan. Maka sekalipun Yerikho itu kota tertutup pasti dapat dihancurkan dengan cara Allah. Demikian juga walaupun saudara sedang dalam masalah, dalam penderitaan, tetapi dengan sukacita yang dari Allah pasti menang. Bukti penyertaan Allah dalam hidup kita: dalam penderitaan pun kita bisa mengalami kemenangan demi kemenangan. Haleluya..!
“LEBIH DARI PEMENANG”
Minggu, 15 Nopember 2009
Wahyu 21 : 7, firman Tuhan mengatakan “Barangsiapa menang, ia akan memperoleh sumuanya ini,” yang dimaksud dengan “semuanya ini” menunjuk kepada:
- Yerusalem Baru = sorga
- Menjadi mempelai perempuan Kristus.
Mengapa harus menang?
Firman Tuhan sudah mengatakan bahwa langit yang pertama dan bumi yang pertama ini akan berlalu dan laut pun tidak ada lagi, jadi dunia ini hanyalah tempat yang sementara. Kemudian dalam 2 Petrus 3 : 7 juga telah dikatakan bahwa langit bumi yang lama ini sengaja disimpan untuk disediakan menjadi tempat penghakiman bagi orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang tidak menjadi pemenang. Nasib langit dan bumi yang pertama akan lenyap oleh gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api (ayat 10).
2 Petrus 3 : 11 = menjadi peringatan kepada kita yang hidup diakhir zaman, maka sebagai jemaat Tuhan kita harus hidup saleh dan suci supaya bisa disebut sebagai pemenang. 1 Korintus 15 : 19 jika menaruh pengharapan pada Kristus jangan hanya dalam hidup ini saja, maksudnya hidup ini bukan hanya untuk makan dan minum saja, sebab kalau hanya untuk makan dan minum saja maka akan menjadi orang-orang yang paling malang dari antara manusia.
Percaya kepada Kristus tidak salah, berpengharapan kepada Kristus juga tidak salah, tetapi yang salah adalah kalau berpengharapan hanya supaya diberkati, supaya disembuhkan, supaya diberi jodoh, supaya diberi pekerjaan, dll. Orang yang berpengharapan kepada Kristus harus ditandai dengan ketekunannya dalam melakukan firman Tuhan. Maka tidak heran, Tuhan Yesus sudah lebih dahulu mengatakan bahwa hanya sedikit saja yang bisa masuk ke dalam sorga. Ini adalah pernyataan langsung dari Tuhan Yesus.
Mengapa hanya sedikit saja yang berhasil?
Dalam Matius 7 : 13 - 14 Tuhan Yesus menjelaskan kepada kita bahwa pintu untuk masuk ke dalam hidup itu sesak (=sempit), inilah yang membuat sehingga sedikit saja yang bisa masuk ke dalamnya. Supaya masuk, kita harus berjuang walaupun harus dengan pengorbanan yang sangat besar. Sebaliknya lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan dan banyak orang yang masuk melaluinya sebab tidak perlu lagi perjuangan.
Saudara-saudara, sorga itu nilainya sangat mahal, bukan murahan, karena itu orang-orang yang bisa masuk ke dalamnya juga adalah orang-orang yang sudah bernilai tinggi. Maksudnya orang-orang yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan, yang mau berjuang melakukan firman Tuhan walaupun mungkin sedang berada dalam berbagai-bagai penderitaan. Justru jika kita bisa setia mengikut Tuhan dan bisa menang walau sedang dalam penderitaan yang berat membuat nilai kita menjadi berharga di mata Tuhan. Inilah yang disebut sebagai pemenang.Inilah bukti kasih Kristus bagi kita: IA telah mati di atas kayu salib, berjuang untuk memperdamaikan kita dengan Allah. Dalam Efesus 5 : 22 - 23 kasih Kristus itu disejajarkan dengan kasih seorang suami terhadap istrinya, Kristus telah membuktikan kasih-Nya dengan cara menyerahkan diri-Nya dan mati di atas kayu salib untuk dosa-dosa kita.
Demikian juga dalam 1 Yohanes 4 : 10 firman Tuhan menjelaskan kepada kita kasih Allah yang sesungguh nya: IA telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Kalau kita lihat dari ayat ini, tanpa kita minta pun Allah sudah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, tanpa kita minta pun Kristus sudah mati di kayu salib dan memberikan nyawa-Nya bagi kita.
Jadi jika Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar, langkah selanjutnya dari pihak kita: “tunduk” kepada Tuhan seperti istri tunduk kepada suami dalam segala hal. Gereja yang menang itu nampak dari sikapnya, ada ketundukan dalam melakukan firman Tuhan dan selalu setia beribadah kepada Tuhan.
Ibrani 5 : 8 - 9 Tuhan Yesus Kristus sebagai teladan yang sempurna telah membuktikan ketaatan-Nya dan ketundukan-Nya sebagai Anak, yaitu taat sampai mati di atas kayu salib. Dan karena ketaatan-Nya itulah maka Kristus menjadi “pokok keselamatan bagi semua orang” yang mau percaya kepada-Nya. POKOK = patokan/teladan. Maka setiap orang yang disebut Kristen harus membuat Kristus sebagai pokok keselamatan baginya.
Saudara-saudara sebenarnya Tuhan itu tahu bahwa kita tidak mungkin bisa melakukan seperti yang telah dilakukan Tuhan kepada kita. Hanya ini yang diminta Tuhan, kita harus punya sikap “tunduk” kepada Tuhan sama seperti istri tunduk kepada suaminya. Bahkan Tuhan itu juga tahu bahwa sebenarnya kalau hanya dari diri kita saja tidak mungkin bisa tunduk kepada Tuhan, untuk itu Tuhan telah mengutus Roh Kudus-Nya sebagai Penolong dan Penghibur. Roh Kudus ini adalah sarana yang diberikan Tuhan untuk menyertai dan untuk memberikan kekuatan supaya kita mampu hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Roh Kudus itulah yang memampukan supaya kita bisa tunduk kepada Allah dan melakukan firman-Nya.
Dalam Wahyu pasal 2 & 3 supaya kita bisa mengalami kemenangan bersama dengan Kristus ada tujuh langkah yang harus kita miliki, yang diwakili oleh kutujuh jemaat. Dimulai dari jemaat di Efesus, jemaat di Smirna, jemaat di Pergamus, jemaat di Tiatira, jemaat di Sardis, jemaat di Filadelfia yang terakhir kepada jemaat di Laodikia. Kepada ketujuh jemaat itu firman Tuhan selalu mengatakan: “Barangsiapa menang”, bagi kita ini sangat mengandung arti yang sangat besar. Maka dalam mengikut Tuhan, langkah pertama itu sangat menentukan dalam perjalanan untuk langkah selanjutnya sampai kelangkah yang ketujuh: menjadi mempelai perempuan Kristus. Langkah yang pertama kepada jemaat di Efesus, firman Tuhan mengatakan: “Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus.” Ini berbicara janji untuk masuk ke dalam sorga bagi orang-orang yang telah menang, yaitu yang telah membasuh jubahnya (=yang telah menyucikan hidupnya) akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan yang ada di dalam sorga.
Syaratnya: jangan meninggalkan kasih yang mula-mula.
Yang disebut kasih mula-mula itu adalah sejak kita mengalami tanda pertobatan atau tanda kelahiran baru. Praktek kasih mula-mula: mau mengikut dan melayani Tuhan walau pun harus menderita. Kita bisa bertobat, bisa mengalami pengampunan dosa & diperdamaikan dengan Allah bahkan sampai mengalami tanda kelahiran baru, sepenuhnya adalah pekerjaan Kristus. Sebaliknya praktek meninggalkan kasih yang mula-mula: kembali kepada hidup yang lama sehingga tidak mau lagi mengikut Tuhan maupun melayani Tuhan. Jika meninggalkan kasih mula-mula, firman Tuhan mengatakan kejatuhannya sangat dalam, jika tidak mau bertobat maka tidak akan berhak memperoleh hak atas pohon kehidupan.
Kalau kita lihat dalam Lukas 23 : 33 - 43 yang ada di sekitar salib Yesus ada banyak orang, seperti orang banyak, prajurid-prajurid, orang yang di sebelah kanan dan yang di sebelah kiri salib Yesus. Tetapi dari semua itu yang berhak masuk ke Firdaus adalah “orang yang di sebelah kanan” sebab ia punya sikap yang baik, yaitu sadar akan kesalahannya dan mau mengaku Yesus sebagai Raja. Mengaku Yesus sebagai “Raja” sama dengan mengaku Kristus sebagai Mempelai Pria Sorga. Maka orang yang di sebelah kanan Tuhan Yesus itu menjadi orang yang istimewa dari semua orang yang ada di sekitar salib Yesus. Orang yang di sebelah kanan Tuhan Yesus ini menggambarkan kehidupan yang telah mengalami kemenangan, walaupun mengalami banyak pencobaan dan penderitaan tetapi tetap sabar dan tetap berpengharapan kepada Yesus. Puncaknya mampu mengaku bahwa Yesus adalah Mempelai Pria Sorga. HALELUYA ...!!