Senin, 08 Februari 2010

Buletin Februari 2010

“B E R J A G A - J A G A”

Minggu - 07 Februari 2010

Saudara-saudara, kedatangan Tuhan yang kedua kali tidak ada seorang pun yang tahu saatnya, baik malaikat-malaikat, hanya Bapa saja. Pada waktu Tuhan Yesus berada di dunia ini, selama dalam pelayanan-Nya, Ia selalu merahasiakan saat tentang kedatangan-Nya. Kalau berita tentang tanda-tanda akhir zaman maupun tanda-tanda kedatangan-Nya sudah diberitahukan kepada murid-murid-Nya, tetapi khusus hari/saat kedatangan-Nya masih dirahasiakan.
Mengapa harus dirahasiakan?
Supaya setiap orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan yang sedang menanti-nantikan kedatangan-Nya tahu mempersiapkan diri dengan cara: hidup sesuai dengan firman Tuhan. Tuhan Yesus sengaja merahasiakan tentang kedatangan-Nya supaya di dalam diri kita ada sikap berjaga-jaga yang benar.
Kalau kita lihat dalam Matius 24 setelah melihat pelajaran tentang pohon ara, selanjutnya pelajaran yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya adalah pelajaran tentang “berjaga-jaga”. Hal ini sangat penting kita perhatikan, sebab tidak semua orang bisa berjaga-jaga atau mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kali. Kalau Tuhan Yesus lebih dahulu memberitahukan pelajaran tentang pohon ara dan setelah itu barulah pelajaran tentang berjaga-jaga, ini mengandung arti yang sangat besar. Sebab yang bisa berjaga-jaga adalah mereka yang sudah lebih dahulu mengalami tanda keubahan hidup, yang sudah mengalami tanda pembaharuan dari sehari ke sehari, yang sudah diubahkan menjadi sama seperti sifat-sifat Kristus.
Wahyu 21 : 2, 9 gereja yang berhasil menjadi sidang mempelai itu ditampilkan bagaikan pengantin perempuan, yang berhias dan berdandan untuk suaminya. Inilah yang layak menjadi istri/ mempelai Anak Domba.
Maka supaya bisa jadi mempelai perempuan Kristus harus lebih dahulu mengalami tanda keubahan:
- dari orang berdosa diubah menjadi
orang yang dibenarkan.
- dari orang yang sudah dibenarkan di-
ubah menjadi orang yang disucikan.
- dari orang yang disucikian diubah lagi
menjadi orang yang disempurnakan.
Sesudah mengalami tanda keubahan hidup, barulah kita bisa berjaga-jaga dengan baik. Berjaga-jaga yang benar menurut firman Tuhan: hidup sesuai dengan firman Tuhan, taat dan dengar-dengaran akan firman Tuhan.

Contoh berjaga-jaga yang benar:

1. NUH (ayat 38 - 39).

Ketika Allah memutuskan hendak memusnahkan segala makhluk di bumi, Allah memberi perintah kepada Nuh supaya membangun bahtera dari kayu gofir tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya, dan bahtera itu harus dibuat bertingkat bawah, tengah dan atas (Kejadian 6 : 13 - 17).
Nuh diperintahkan supaya membangun bahtera sebab Tuhan punya rencana bahwa bahtera itu adalah sarana untuk menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari air bah yang akan meliputi seluruh bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit. Tetapi Nuh dan keluarga nya mendapat kasih karunia dimata Tuhan. Karena Nuh mau membangun bahtera itu tepat seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya, maka Nuh dan keluarganya yang masuk ke dalam bahtera itu selamat dari air bah, semuanya mempelai. Bahkan binatang-binatang yang masuk ke dalam bahtera itu juga berpasang-pasangan.
Nuh dan keluarganya yang berhasil selamat dari air bah ini adalah contoh kehidupan yang berhasil berjaga-jaga dalam suasana kerajaan sorga, dikatakan dalam suasana kerajaan sorga karena disamping membangun bahtera ia juga tetap hidup sesuai dengan firman Tuhan. Yang artinya: hidup yang sudah memiliki persekutuan yang benar dengan Tuhan, baik dalam terang firman Tuhan, dalam persekutuan dengan Roh Kudus maupun dalam doa dan penyembahan. Bagi kita sekarang, bahtera Nuh ini mengandung arti yang besar, yakni kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Dalam skema Tabernakel:

1. Tingkat bawah = Halaman :
- percaya atau menerima Yesus sebagai Tuhan dan
Juruselamat (=Pintu Gerbang)
- bertobat atau mengalami tanda keubahan
hidup, diperdamaikan dengan Tuhan (=Mezbah Korban Bakaran)
- dibabtis yang benar baik dengan air maupun
dengan Roh Kudus (Kolam Pembasuhan & Pintu Kemah).

2. Tingkat Tengah = Ruangan Suci:

- Ada persekutuan dengan firman Tuhan (Meja Roti)
- Ada persekutuan dengan Roh Kudus (Pelita)
- Ada persekutuan dengan Bapa dalam doa dan penyembahan (Mezbah Dupa).

3. Tingkat Atas = Kesempurnaan:

- Diubahkan dari orang yang disucikan menjadi orang
yang disempurnakan, layak disebut menjadi mempelai
perempuan Kristus (Ruangan Maha Suci)

Maka jelas kita lihat di luar bahtera Nuh tidak ada seorang pun yang selamat dari air bah. Demikian juga orang Kristen yang tetap berjaga-jaga seperti Nuh, yaitu yang berjaga-jaga dalam suasana kerajaan sorga akan selamat dari murka Allah yang akan datang menimpa dunia ini. Karena itu tetaplah hidup dalam persekutuan yang benar dengan Tuhan, tetap lah setia melakukan firman Tuhan supaya Tuhan berkenan akan kehidupan kita.

2. Berjaga-jaga sambil berada di ladang Tuhan (Matius 24 : 40).

Setelah Tuhan Yesus mengangkat Nuh dan keluarga nya sebagai contoh berjaga-jaga yang benar, contoh kedua berjaga-jaga yang benar adalah berjaga-jaga dengan tetap setia di ladang Tuhan. Ladang di sini bukan berbicara ladang secara hurufiah, tetapi berbicara ladang Allah yaitu pelayanan. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 3 : 9b berkata: “Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.”
Jadi yang dimaksud dengan berjaga-jaga sambil berada di ladang Tuhan adalah berjaga-jaga sambil melayani Tuhan, tetap setia melayani sampai Tuhan datang kali yang kedua. Kalau tidak setia, maka akan tergenapilah apa yang telah dikatakan dalam Matius 24 : 40 “Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.”
Yang dibawa itu adalah mereka yang tetap berjaga-jaga dengan cara setia melayani Tuhan, tetap tekun menantikan kedatangan Tuhan walau berat resiko yang harus dihadapi. Sedangkan yang lain itu akan ditinggal kan, walau pun sudah berjaga-jaga tetapi kalau tidak setia melayani Tuhan, juga akan ditinggalkan.
Matius 20 : 1 - 16 Tuhan Yesus mengangkat satu perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur dengan kesepakatan upah sedinar sehari. Dari semua pekerja itu ada yang masuk pagi-pagi benar, ada yang masuk pukul sembilan, ada yang masuk pukul dua belas, ada yang masuk pukul tiga petang dan ada pula masuk pada pukul lima petang. Dan ketika tuan itu hendak memberi upah masing-masing satu dinar, ia lebih dahulu memberi upah kepada yang masuk pukul lima, yang bekerja hanya satu jam, setelah itu datanglah yang masuk terdahulu juga dengan upah satu dinar. Karena itu timbullah sungut-sungut diantara mereka yang masuk terdahulu, lalu mereka pun iri hati melihat yang masuk pukul lima petang yang bekerja hanya satu jam. Ini adalah contoh pelayan-pelayan atau hamba-hamba Tuhan yang gagal masuk ke dalam kerajaan sorga, tidak layak menerima upah di sorga.

Maka sikap yang harus kita miliki supaya bisa berjaga-jaga sambil tetap melayani Tuhan:
* melayanilah tanpa iri hati kemudian
** melayanilah dengan taat dan setia.
Kalau kedua sikap ini sudah kita miliki, maka yakinlah kita pasti berhasil berjaga-jaga sambil menanti-nantikan kedatangan Tuhan dengan tetap setia melayani.
Haleluya...!!


“BERJAGA - JAGA”

Minggu - 14 Februari 2010

Saudara-saudara, berada di ladang Tuhan merupakan suatu kemurahan Tuhan saja. Demikian juga jika kita bisa berada dalam pelayanan, ini juga merupakan suatu kemurahan, hanya karena keper-cayaan Tuhan saja. Sebab kalau dilihat dari latar belakang masing-masing, sebenarnya kita tidak layak untuk disebut sebagai jemaat Tuhan apalagi untuk melayani Tuhan. Apalagi kalau kita bisa masuk ke dalam gerak pelayanan dalam pembangunan tubuh Kristus, ini merupakan kasih karunia Tuhan yang sangat besar, patut kita hargai dan kita junjung tinggi. Sebab jika kepercayaan itu datangnya dari Tuhan, harus dilakukan dengan taat dan setia. Dan kalau sudah masuk ke ladang Tuhan, kita harus mengerjakan tugas yang telah di percayakan Tuhan itu dengan sepenuh hati dan dengan kasih.
Karena itu kalau kita sudah diberi kesempatan untuk bekerja di ladang Tuhan, melayani dalam gerak firman pengajaran untuk pembangunan tubuh Kristus ada beberapa sikap yang harus kita waspadai, yaitu:


- melayani jangan dengan sombong
- melayani jangan dengan sungut-sungut
- melayani jangan dengan iri hati/cemburu


Berikut ini contoh-contoh yang melakukan tugas /pelayanan tanpa di dasari dengan kasih, yaitu ketika raja Ahazia mengirim utusan-utusan untuk meminta petunjuk kepada Tuhan lewat perantaraan nabi Elia, pada waktu itu Elia sedang duduk di atas puncak bukit.

- 2 Raja-raja 1 : 9 - 10 Perwira yang pertama dengan kelima puluh anak buahnya, berkata kepada Elia: “Hai abdi Allah, raja bertitah: Turunlah!”
Perwira yang pertama ini datang kepada Elia tetapi tidak dengan sikap yang baik melainkan dengan sikap kesombongan, di dalam dirinya tidak ada rasa hormat dan takut akan Tuhan. Dia memang melakukan tugas yang diperintahkan kepadanya, tetapi tidak disertai dengan sikap yang benar. Ia lebih takut kepada raja Ahazia (=kepada manusia) dari pada kepada Tuhan. Akibatnya: api yang dari langit memakan habis perwira yang pertama itu dengan kelima puluh anak buahnya.

- 2 Raja-raja 1 : 11 - 12, Perwira yang kedua juga datang kepada Elia dengan kelima puluh anak buahnya. Tetapi kalau kita lihat perwira yang kedua ini lebih sombong lagi dari pada perwira yang pertama tadi. Kata perwira yang kedua itu kepada nabi Elia: “Hai abdi Allah, beginilah titah raja: Segeralah turun!” Dalam perkataannya itu ada kata “segeralah turun”, arti kata “segeralah” merupakan suatu pemaksaan, ia datang kepada Elia dengan sikap sombong, bahkan lebih sombong dari pada perwira yang pertama tadi. Kalau kita lihat dari perkataannya di atas, dapat kita lihat di dalam dirinya benar-benar tidak ada rasa takut akan Tuhan sehingga ia tidak dapat menghargai hamba Tuhan yang diurapi. Akibatnya: nasibnya sama dengan perwira yang pertama tadi, sama-sama dimakan oleh api yang turun dari langit. Walau pun perwira yang kedua ini melakukan tugasnya, tetapi karena didasari dengan sikap sombong, maka perbuatannya itu tidak memberikan hasil yang baik.

- 2 Raja-raja 1 : 13 - 14 Karena kedua perwira yang pertama dan yang kedua tidak berhasil membawa nabi Elia bertemu dengan raja Ahazia, maka raja Ahazia mengutus perwira yang ketiga juga dengan kelima puluh anak buahnya. Kalau kita lihat perwira yang ketiga ini sangat jauh berbeda dengan kedua perwira tersebut di atas. Kalau kedua perwira itu melakukan tugasnya dengan kesombongan, tidak menghargai hamba Tuhan, tetapi perwira yang ketiga ini datang dengan sikap yang benar, yaitu dengan sikap merendahkan diri sambil memohon kemurahan. Sebelum ia berbicara dengan Elia, terlebih dahulu ia “berlutut” di depan Elia kemudian berkata: “Ya abdi Allah, biarlah kiranya nyawaku dan nyawa kelima puluh orang hamba-hamba ini berharga di matamu.” Ini merupakan sikap yang baik, yang sangat berkenan kepada Tuhan sehingga nyawanya dan nyawa kelima puluh anak buahnya tertolong. Kalau datang kepada Tuhan untuk memohon petunjuk, harus disertai dengan rasa takut akan Tuhan, dengan sikap meredahkan diri, jangan dengan sombong. Maka Tuhan akan menunjukkan kemurahan-Nya, nyawa kita berharga dimata-Nya.

Kalau kita lihat dari ketiga perwira tersebut di atas, yang berhasil melakukan tugasnya dengan sikap yang baik dan benar hanyalah perwira yang ketiga. Perwira yang pertama dan yang kedua ini adalah gambaran : orang-orang yang mengerjakan pekerjaan dengan kesombongan yang di dalam dirinya tidak ada rasa hormat, baik kepada Tuhan mau pun kepada hamba-hamba Tuhan. Setiap orang yang tidak melakukan tugasnya dengan baik, nasibnya akan sama seperti kedua perwira tersebut, nyawanya tidak berharga di mata Tuhan.
Tetapi perwira yang ketiga, karena di dalam dirinya ada rasa takut akan Tuhan dan menghormati Elia sebagai nabi yang dipakai Tuhan, ia tertolong, nyawanya dan kelima puluh anak buahnya berharga di mata Tuhan.

Perwira yang ketiga ini adalah gambaran kepada pelayan-pelayan atau hamba-hamba Tuhan yang mengerjakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, tidak dengan sungut-sungut atau dengan iri hati, sepenuhnya dilakukan dengan tanggung jawab yang benar sebagai hamba.

Saudara-saudara, kalau kita lihat kembali Matius 20 : 1 - 16 dari semua orang-orang yang diberi kesempatan bekerja di ladang, mulai dari yang masuk terdahulu sampai kepada yang masuk terakhir, banyak dari antara mereka yang diakhiri dengan sungut-sungut, iri hati melihat yang masuk terakhir. Padahal dalam ayat 1 dijelaskan, yang mencari pekerja-pekerja itu adalah pemilik ladang itu sendiri, bahkan sebelum bekerja kesepakatan untuk mendapat upah satu dinar telah disepakati bersama-sama. Tetapi mengapa masih ada rasa iri hati atau cemburu di antara mereka? penyebabnya: karena tidak menghargai kemurahan Tuhan.
Ini berbicara pekerjaan Tuhan yang telah memanggil dan memilih kita untuk melayani di ladang Tuhan.
Demikian juga dalam Yohanes 15 : 16a Tuhan Yesus berkata: “Bukan kamu yang memilih Aku,tetapi Akulah yang memilih kamu.” Jadi jelas bukan kita yang lebih dahulu memilih Tuhan, tetapi Tuhanlah yang lebih dahulu memanggil dan memilih kita dan diberi kesempatan untuk bekerja di ladang Tuhan. Karena itu patutlah kita menghargai kemurahan Tuhan yang begitu besar ini, Ia telah memanggil dan memilih kita menjadi umat kepunyaan-Nya.
Roma 3 : 10 - 11 firman Tuhan menjelaskan siapa kita dan bagaimana latar belakang kita yang sebenarnya sebelum dipanggil dan dipilih Tuhan. Pada dasarnya tidak ada seorang pun yang benar, tidak ada seorang pun yang mencari Tuhan, semua telah menyeleweng dan tidak berguna. Tetapi syukur kepada Tuhan, Ia telah memilih kita dan memberi kesempatan untuk bekerja di ladang-Nya. Karena itu baik sebagai jemaat Tuhan mau pun sebagai hamba Tuhan, mari kita hargai kesempatan ini dengan cara bekerja dengan sebaik-baiknya, penuh tanggung jawab, tanpa sungut-sungut mau pun kesombongan. Bekerja di ladang Tuhan itu adalah anugrah Tuhan bukan karena kebaikan kita.
Matius 21 : 28 - 32 kita bisa melihat contoh dua orang anak yang sama-sama diberi kesempatan untuk bekerja di kebun anggur.
- anak yang sulung, di mulut nampaknya baik, nampaknya penurut, tetapi dalam prakteknya tidak mau melakukan tugas yang telah dipercakan kepadanya. Ini adalah contoh yang tidak menghargai kemurahan Tuhan.
- anak yang kedua, di mulut memang sempat membantah perintah bapanya, tetapi kemudian ia menyesal lalu bertobat, kemudian ia pergi melakukan perintah bapanya dengan penuh tanggung jawab. Anak yang kedua ini melayani dengan kasih. Ini adalah contoh orang yang menghargai kemurahan Tuhan, yang disertai dengan tanda keubahan hidup. Walau pun pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal itu dari latar belakang yang najis dan kotor, tetapi karena mau bertobat dan mau melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan, hidup mereka lebih baik bahkan lebih benar dihadapan Tuhan dari pada orang-orang Farisi mau pun ahli-ahli Taurat.
Karena itu kalau kita sudah diberi kesempatan bekerja di ladang Tuhan, mari kita hargai dengan sebaik-baiknya. Hiduplah dalam ibadah dan penggembalaan yang benar, dan melayanilah dengan tahbisan yang benar, maka Tuhan akan berkenan akan hidup kita.



“BERJAGA - JAGA”

BEKERJA MEMBERI BUAH.

Minggu - 21 Februari 2010

Saudara-saudara, bekerja di ladang Tuhan merupakan kasih karunia Tuhan. Kalau diberi kesempatan melayani di ladang Tuhan, ini adalah anugrah yang besar yang harus kita hargai dengan sebaik-baiknya. Apalagi kalau melayani dalam gerak firman pengajaran dalam pembangunan tubuh Kristus, ini adalah benar-benar kesempatan yang harus kita hargai dengan sebaik-baiknya. Karena itu kalau Tuhan sudah memberi kesempatan bekerja di ladang Tuhan, bekerjalah dengan taat dan setia sampai menghasilkan buah-buah yang baik.
Filipi 1 : 22b rasul Paulus berkata:“Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” Dari ayat ini kita lihat kalau diberi kesempatan untuk hidup, itu berarti harus bekerja supaya menghasilkan buah, dan buah yang dimaksut adalah buah-buah yang baik. Tuhan tidak pernah mengharapkan sesuatu dari kehidupan orang yang tidak tinggal di dalam Kristus. Sebab Tuhan tahu, tidak mungkin mereka bisa menghasilkan buah-buah yang baik.
Tetapi yang diharapkan Tuhan adalah dari kehidupan yang sudah tinggal di dalam Kristus, yaitu yang hidup di dalam firman. Maka kalau sudah bekerja di ladang Tuhan, ada sikap yang perlu kita perhatikan: sebagai hamba jangan selalu menuntut hak, Tuhan pasti akan memberkati dan memperhatikan asalkan kita mau bekerja dengan sepenuh hati sampai menghasilkan buah-buah yang baik.
Saudara-saudara, kembali kita melihat Matius 20 : 1 - 16 ketika Tuhan Yesus memberikan satu perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur, ini merupakan pelajaran penting yang harus kita ketahui. Sebab dari pelajaran ini dapat kita ketahui bagaimana sikap orang-orang yang masuk terdahulu, mereka iri hati dan cemburu melihat orang yang masuk terakhir. Karena masuk lebih dahulu, mereka menyangka akan menerima upah lebih banyak dari orang yang masuk terakhir itu, tetapi kenyataannya upah yang mereka terima sama yaitu satu dinar saja. Akibatnya mereka bersungut-sungut kepada tuan yang empunya kebun anggur itu. Seharusnya mereka tidak perlu bersungut-sungut sebab sudah ada kesepakatan terlebih dahulu bahwa upah mereka adalah satu dinar.
Di sinilah kita sebagai jemaat mau pun sebagai hamba Tuhan, kalau sudah diberi kesempatan bekerja di ladang Tuhan, ini adalah anugrah Tuhan saja bekerjalah dengan sepenuh hati, lakukan pekerjaan itu dengan penuh tanggung jawab jangan dengan sungut-sungut. Jika ini sudah kita lakukan barulah kita bisa menghasilkan buah-buah yang baik.
Galatia 2 : 19 - 20 Paulus sebagai rasul Kristus menjelaskan bagaimana sikap yang benar jika kita sudah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, maka kita akan hidup untuk Tuhan. Dengan demikian maka kita dapat berkata: “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku yang hidup. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Inilah sikap hidup orang Kristen yang benar: hidupnya bukan lagi untuk dirinya sendiri melainkan untuk Tuhan sebab Kristus sudah hidup di dalam dirinya.

Supaya kita berhasil menghasilkan buah-buah yang benar, ada tiga (3) hal yang perlu kita perhatikan dengan baik-baik, yaitu:

I. KARAKTER HIDUP.

Firman Tuhan memberikan contoh karakter yang harus kita teladani, yaitu: karakter seorang petani. Jika ingin berhasil bekerja di ladang Tuhan, kita harus mempunyai sifat atau karakter seperti seorang petani.
Berikut ini ada tiga (3) karakter seorang petani yang perlu kita teladani:

1). Bekerja keras.
2 Timotius 2 : 6 “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.” Seorang petani kalau rindu menik-mati hasil baik dari tanahnya, ia harus bekerja dengan keras, harus dengan sungguh-sungguh. Kalau tidak, selebar apa pun tanahnya, sebaik apa pun benihnya, tanah itu tidak akan pernah memberikan hasil yang baik. Pada zaman sekarang ini, ada banyak orang Kristen tidak sungguh-sungguh mengikut Tuhan, tidak sungguh-sungguh beribadah, tidak sungguh-sungguh melayani Tuhan. Banyak orang hanya mengharapkan mujizat, mengharap hanya kepada kemurahan Tuhan saja, akibatnya mereka tidak sungguh-sungguh, kalau pun beribadah dan melayani hanya sebagai kebiasaan saja. Karena itu sebagai jemaat mau pun sebagai hamba Tuhan, dalam ibadah dan penggembalaan yang benar, kita harus sungguh-sungguh datang kepada Tuhan seperti seorang petani yang mau bekerja keras. Ladang itu sama dengan ibadah dan pelayanan, seorang jemaat dan hamba Tuhan harus mau bekerja keras.
2). Bersabar.
Setelah bekerja keras, karakter yang kedua seorang petani harus bersabar. Dijelaskan dalam Yakobus 5 : 7 - 8 biasanya dalam menantikan hasil yang berharga dari tanahnya, seorang petani harus sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kedatangan Tuhan sudah dekat, kita harus punya sikap seperti petani: sabar menantikan kedatangan Tuhan.
Dalam menantikan kedatangan Tuhan yang kedua kali, sikap seorang petani ini perlu kita miliki, kita harus tetap sabar. Walaupun harus mengalami banyak pencobaan dan penderitaan, kita harus tetap sabar, jangan bersungut-sungut dan jangan ada rasa bosan sedikit pun. Jika kita tetap sabar, maka kita pasti akan dapat menikmati kebahagiaan bersama dengan Kristus dalam kemuliaan-Nya. Sama seperti seorang petani yang pertama-tama menikmati hasil tanahnya, demikian jugalah nanti jika Tuhan datang, kitalah yang pertama-tama menikmati kemuliaan-Nya.
3). Ada kerjasama.
1 Korintus 3 : 6 - 8 firman Tuhan menjelaskan bagaimana kerjasama yang baik antara yang seorang dengan yang lain. Paulus menanam dan Apolos menyiram. Ini adalah bentuk kerjasama yang baik, masing-masing mempunyai tugas sehingga tidak saling berebut. Yang terpenting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Tuhan yang mau memberikan pertumbuhan dalam pelayanan kita. Jika di antara jemaat mau pun hamba Tuhan sudah ada kerjasama yang baik, masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.

II. BENIH.

Benih sebelum ditanam harus diperhatikan dengan baik-baik, sebab jika benihnya tidak baik maka benih itu tidak akan bisa bertumbuh dengan baik. Lukas 8 : 11 benih itu ialah firman Tuhan. Jemaat bisa bertumbuh rohaninya jika firman yang diterimanya juga baik, yaitu firman pengajaran yang benar-benar murni. Jadi jemaat jangan suka dengar-dengaran kepada yang bukan kebenaran, tutup telinga terhadap kepalsuan. Dalam 1 Yohanes 3 : 9 dijelaskan jika benih ilahi itu sudah ada di dalam hati kita, kita tidak akan berbuat dosa lagi, sebab benih itu sendiri akan memberi kekuatan untuk menolak segala bentuk dosa. Benih ilahi inilah benih yang baik, bahkan yang terbaik yang harus kita konsumsi supaya iman percaya kita bisa bertumbuh dengan baik. Jadilah sebagai jemaat yang setia digembalakan.

III. LAHAN.

Lahan sebagai tempat benih ditabur juga harus baik. Jika lahan tidak baik, semua bisa menjadi sia-sia saja. LAHAN = hati manusia. Walau pun sudah punya karakter yang baik, sudah punya benih, tetapi jika tidak punya lahan yang baik, banih itu tidak akan memberikan hasil yang baik. Demikian juga walau pun sudah menerima benih firman tuhan yang baik, tetapi jika tidak punya hati yang baik maka benih itu tidak akan bisa bertumbuh dengan baik. Lukas 8 : 12 - 15 Tuhan Yesus menjelaskan ada empat jenis tanah (=lahan): dan dari keempat jenis tanah atau lahan tersebut, hanya satu lahan saja yang baik, yaitu “tanah yang baik”. Inilah yang bisa mengeluarkan buah dalam ketekunan, berhasil menyambut kedatanagn Tuhan.
- dipinggir jalan = mendengar dan menerima firman Tuhan, tetapi firman itu tidak sempat bertumbuh sebab iblis segera mengambil firman itu dari dalam hatinya. Iblis itu paling suka mengambil firman yang sudah didengar, sebab ia tidak mau kalau firman itu bertumbuh dengan baik. Sebab jika benih itu bertumbuh dengan baik, kita akan diselamatkan sehingga iblis tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
- tanah yang berbatu-batu = mendengar dan menerima firman Tuhan dengan gembira, suka akan firman Tuhan, tetapi ini belum cukup sebab ada batu-batu di dalam hatinya yang menjadi penghalang bagi benih untuk bertumbuh. Orang Kristen yang keras hatinya, walaupun suka mendengar firman Tuhan, tetapi kepercayaannya kepada firman itu tahan hanya sebentar saja. Akibatnya: dalam masa pencobaan orang yang seperti ini akan segera murtad (=tinggalkan Tuhan).
- semak duri = juga sudah mendengar dan menerima firman Tuhan, bahkan sudah sempat bertumbuh. Hanya dalam pertumbuhan selanjutnya firman itu dihimpit oleh kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup. Akibatnya : benih itu tidak sempat berbuah.
- tanah yang baik = mendengar firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati yang baik, inilah sikap yang terbaik dalam menerima firman Tuhan. Setelah mendengar, kita harus punya sikap yang baik supaya benih itu bisa bertumbuh dengan baik. Jangan dengan keras hati, jangan mau ditipu oleh kekayaan atau pun kenikmatan hidup. Tetapi firman itu harus kita masukkan ke dalam hati, selanjutnya harus dengan tekun melakukannya. Maka benih itu pasti dapat bertumbuh dengan baik dan akan mengeluarkan buah-buah dalam ketekunan. Inilah buah-buah yang baik, yang sedang dinanti-nantikan Tuhan dari dalam hidup kita. HALELUYA.....!!!!


“BERJAGA - JAGA”

Minggu - 28 Februari 2010

Matius 24 : 4 - 5 Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.”
Ketika Tuhan Yesus memberitahukan kepada murid-murid-Nya tentang tanda-tanda akhir zaman, peringatan pertama sebelum Tuhan Yesus memberikan pelajaran tentang berjaga-jaga adalah supaya waspada terhadap segala bentuk penyesatan. Penyesatan ini sangat berbahaya, bisa membuat orang gagal masuk ke dalam kerajaan sorga. Salah satu bentuk penyesatan yang harus diwaspadai akan ada orang datang dengan yang memakai nama Yesus. Bentuk penyesatan ini seperti ini nampaknya benar, kalau tidak cepat disadari akan membawa orang menyimpang dari kebenaran, yaitu murtad.

Devenisi murtad adalah orang-orang yang berhasil disesatkan dari kebenaran yang sejati kepada yang bukan kebenaran.

Setelah Tuhan Yesus memperingatkan tentang kewaspadaan, barulah Tuhan Yesus memberikan palajaran tentang berjaga-jaga (lihat Matius 24 : 37 - 42 sudah kita pelajari sebelumnya). Kemudian kelanjutan tentang berjaga-jaga ini dalam Matius 24 : 45 - 51 Tuhan Yesus memberikan lagi satu perumpamaan atau pelajaran tentang “hamba yang setia dan hamba yang jahat” tujuannya supaya kita bisa mempersiapkan diri dalam mengambil sikap yang benar. Tuhan tidak mau kita gagal apalagi disesatkan dari kebenaran. Maka dalam cerita ini Tuhan Yesus sedang memperlihatkan kepada kita bagaimana sikap yang benar dalam berjaga-jaga.
Hamba yang baik: yang didapati tuannya sedang melakukan tugasnya dengan baik.
Karena hamba itu telah melakukan tugasnya dengan tanggung jawab, maka ia disebut sebagai hamba yang setia dan bijaksana.
Inilah model jemaat-jemaat ataupun hamba-hamba Tuhan yang telah berjaga-jaga dengan baik. Berjaga-jaga yang benar harus sampai Tuhan datang tidak cukup satu tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, dst, tetapi sampai Tuhan datang kembali. Berkatnya akan menikmati kebahagiaan bersama dengan Kristus dalam kemuliaan-Nya yang kekal, layak menjadi mempelai perempuan Kristus.
Sebagai hamba yang setia dan bijaksana:
- melakukan tugas dengan taat dan setia
- memperhatikan pelayanan lebih dari kepentingan diri sendiri
- tidak ada rasa bosan/jenuh tetapi bekerja terus sampai Tuhan datang

Sedangkan hamba yang jahat, ia tidak mau melakukan apa yang telah diperintahkan tuannya kepadanya. Justru ia berkata dalam hatinya: “Tuanku tidak datang-datang” sehingga perbuatan selanjutnya: memukul hamba-hamba yang lain, makan minum bersama-sama dengan pemabuk-pemabuk.

Model hamba yang jahat:
- tidak melakukan tugasnya dengan baik
- disertai dengan sungut-sungut
- melakukan hal-hal jahat yang tidak berkenan kepada Tuhan

Setiap orang yang merasa Tuhan masih lama datang, akan memiliki sikap tidak mau berjaga-jaga dengan baik dan nasibnya akan sama dengan hamba yang jahat ini. Karena merasa Tuhan belum datang-datang juga, membuat tidak ada rasa takut untuk melakukan kejahatan. Akibatnya tidak mau berjaga-jaga dengan baik dan tidak mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kalinya.
Saudara-saudara, dalam Filipi 2 : 19 - 24 firman Tuhan mengambil satu contoh kehidupan seorang hamba/pelayan yang baik dan setia. Timotius seorang murid yang telah teruji dalam segala hal, seorang hamba yang setia melayani Paulus, sama seperti seorang hamba yang baik yang taat melakukan tugasnya sampai tuannya itu datang. Timotius ini adalah model hamba yang baik, menunjuk kepada kehidupan jemaat ataupun hamba Tuhan yang setia melayani sampai Tuhan datang.

Timotius sebagai hamba yang baik:
- lebih mementingkan kepentingan jemaat
daripada kepentingan diri sendiri.
- bisa bekerjasama dengan baik, yang telah
menolong Paulus dalam pemberitaan Injil
seperti seorang anak menolong bapanya.
- kesetiaannya benar-benar telah teruji, walaupun
seorang pembantu tetapi ia mau melakukan
tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

Timotius sebagai seorang pembantu bisa bekerja sama dengan Paulus yang adalah rasul Kristus. Kalau yang lain lebih mencari kepentingan diri sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus, tetapi Timotius lebih mementingkan kepentingan pelayanan daripada kepentingan pribadinya. Dan ini diakui sendiri oleh rasul Paulus: “tidak ada seorang padaku, yang sehati sepikir dengan aku dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu.”

Memperhatikan kepentinganmu = memperhatikan kepentingan pelayanan/jemaat.

2 Timotius 1 : 13 - 14 supaya kesetiaan itu bisa teruji dengan baik:

1) harus berpegang teguh kepada pengajaran yang benar, yaitu ajaran yang sehat dan melakukannya dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

2) harus memelihara firman pengajaran yang telah dipercayakan kepada kita oleh Roh Kudus yang diam di dalam hati kita.

Memelihara = ada sikap yang benar dalam melakukan firman Tuhan, sedangkan Harta yang indah itu adalah firman pengajaran.

Jadi sikap kita sebagai jemaat Tuhan, kita harus berpegang teguh kepada firman pengajaran yang telah kita terima, kemudian memeliharanya dengan baik. Supaya kita bisa melakukan firman Tuhan dengan sungguh-sungguh, Tuhan Yesus akan mengutus Roh Kudus-Nya ke dalam dunia sebagai penolong. Dalam Yohanes 16 : 13a Tuhan Yesus berkata: “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;”
Jadi Roh Kebenaran itu berperanan untuk memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Berarti Tuhan Yesus tidak akan membiarkan kita hidup dalam kelemahan, Ia tidak akan membiarkan kita hidup tanpa kuasa. Dia tahu bahwa tanpa Roh Kudus tidak mungkin seseorang itu bisa hidup dalam kebenaran. Maka Ia mau mengutus Roh Kudus-Nya kepada kita. Kemudian dalam Mikha 4 : 13 kalau menerima firman pengajaran yang murni/yang berkualitas akan diberi kesempatan untuk mengirik. Tuhan akan membuat tanduk dari besi (=memiliki kuasa) sehingga mampu menumbuk hancur banyak bangsa.
Dalam terang Tabernakel, proses firman menjadi daging dimulai dari Meja Roti, ada sikap mendengar dan menerima firman pengajaran dengan hati yang baik. Dan praktek jika firman Tuhan itu sudah menjadi daging: di Pintu Tirai, kita akan mampu mematikan segala tabiat-tabiat daging.
- Yesus mati di kayu salib, bukan karena dosa-dosa-Nya dan bukan karena pelanggaran-Nya.
- kita juga harus mati terhadap dosa dan terhadap segala tabiat-tabiat daging. Inilah yang disebut dengan hidup suci.
Kolose 3 : 5 firman Tuhan menjelaskan kepada kita hal-hal yang harus dimatikan dari dalam hati kita, yaitu segala sesuatu yang duniawi, seperti percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan keserakahan. Jika segala sesuatu yang duniawi itu sudah dimatikan, barulah kita layak disebut sebagai manusia baru yang telah diperbaharui. Kemudian Ibrani 12 : 14 kalau sudah hidup suci kita akan melihat Tuhan. Melihat Tuhan di sini bukan dalam wujud, tetapi kita bisa melihat Tuhan dalam pekerjaan-Nya, dalam ibadah ataupun dalam pelayanan. Termasuk ketika sedang dalam masalah, dalam penderitaan, atau dalam suka dan duka, kita akan melihat pekerjaan Tuhan dinyatakan di tengah-tengah kehidupan kita.
Kembali ke Matius 24 : 45 - 47 setelah kita berjaga-jaga seperti Nuh, berjaga-jaga dengan tetap dalam suasana kerajaan sorga, peningkatannya adalah kita akan menjadi seperti seorang hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh Tuhan untuk melayani. Bekerja di ladang Tuhan harus dengan setia. HALELUYA ...!!!!