Selasa, 12 Januari 2010

Buletin Minggu - JANUARI 2010

“TAHUN BARU TAHUN PEMBAHARUAN”

Minggu - 10 Januari 2010

Saudara-saudara, tema “Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini” (Wahyu 21 : 7) adalah tema kita untuk tahun ini, supaya di tahun 2010 ini kita dibekali lebih dahulu dengan firman Tuhan. Wahyu 21 : 5 = puncak kemenangan itu sendiri adalah Tuhan menjadikan segala sesuatu menjadi baru. Artinya: supaya kita bisa mengalami kemenangan demi kemenangan bersama dengan Kristus, lebih dahulu kita harus mengalami “tanda keubahan hidup” atau “tanda pembaharuan” yaitu hidup yang sudah dibaharui dalam segala hal baik dari sifat-sifat mau pun dari karakter.
Berbicara “tanda keubahan hidup” sangat identik dengan kedatangan Tuhan yang kedua kali, sebab kalau ingin masuk ke dalam sorga, harus mengalami tanda pembaharuan.

Mengapa harus mengalami tanda pembaharuan?

Firman Tuhan dalam 1 Korintus 15 : 50 menjelaskan kepada kita bahwa “darah” dan “daging” tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa. Ini berarti kalau seseorang itu belum mengalami tanda pembaharuan, maka sudah pasti ia tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah, tidak layak masuk ke dalam sorga.
Maka pada saat Tuhan Yesus datang kembali ada dua (2) garis akhir dari hidup manusia:
- mati sebelum diubah = jangan harap bisa masuk ke dalam kerajaan Allah.
- kalau hidup, harus mengalami tanda keubahan
supaya layak mendapat bagian dalam sorga.
Pada zaman Nuh, orang-orang yang berada dalam penghukuman air bah, semuanya adalah orang-orang yang sudah rusak hidupnya. Kejadian 6 : 11 - 12 firman Tuhan memperlihatkan kepada kita, bahwa bumi telah rusak dihadapan Allah dan penuh dengan kekerasan sebab semua manusia selalu menjalankan hidup yang rusak. Yang rusak bukan hanya hidup pribadinya saja, tetapi termasuk rumah tangga/keluarga, ibadahnya maupun pelayanannya.
Demikian juga pada zaman akhir ini, kalau kita lihat sekarang ini banyak orang hanya memfokuskan diri kepada perkara-perkara yang lahiriah saja, banyak pengajaran-pengajaran yang hanya berfokus perkara-perkara kepada jasmani saja. Dalam pemberitaan hanya mengajarkan tentang berkat-berkat, tentang kesembuhan, seolah-olah mengikut Tuhan itu hanya sekedar sembuh atau sekedar kaya saja.
Padahal dalam Matius 24 : 32 - 35, Tuhan Yesus sudah memberikan satu palajaran yang sangat penting, yaitu tentang “pohon ara” apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, berarti musim panas sudah dekat. Ini berbicara tentang kedatangan Tuhan yang sudah dekat.
Pelajaran tentang “pohon ara” ini adalah pelajaran tentang “tanda keubahan hidup” yang menunjuk kepada kehidupan yang sudah mengalami tanda pembaharuan.

POHON ARA = adalah pohon yang pernah dikutuk oleh Yesus karena tidak berbuah. Ini menunjuk keadaan manusia sebelum mengalami tanda pembaharuan, setiap orang yang masih tetap dalam dosa dan pelanggaran berada dalam kutuk.
Namun demikian pohon ara ini juga berbicara kepada gereja Tuhan yang sudah diampuni dosanya, yang dikuduskan dan yang dipersiapkan menjadi sidang mempelai perempuan Kristus. Maka kalau pohon ara sudah mulai melembut dan mulai bertunas, maka pohon ara akan bertunas dan berbuah. Demikian juga jika gereja Tuhan yang berasal dari bangsa kafir itu sudah mulai membuka hati dan menerima firman Tuhan, maka saatnya gereja itu akan dipulihkan, akan diubahkan dari manusia yang dahulu terkutuk supaya menjadi umat Allah.

Dalam Kidung Agung 2 : 11 - 13 dijelaskan juga tentang pohon ara jika musim dingin telah lewat, berarti musim panas sudah mulai saat itulah pohon ara mulai bertunas dan berbuah. Ini sama seperti yang telah dikatakan di atas, jika rohani sudah mengalami tanda keubahan, pasti ada semangat baru atau gairah untuk melakukan firman Tuhan. Sehingga Allah akan menunjukkan penyertaan-Nya kepada kita dalam segala hal.
Sebaliknya Yesaya 1 : 4 - 8 kalau tidak mengalami tanda pembaharuan akan masuk ke dalam celaka, akan dipukul mulai dari kaki sampai kepala, semua menjadi sakit. Ini menjadi peringatan khusus kepada orang yang tidak mengalami tanda pembaharuan.

Proses tanda keubahan itu pertama-tama akan nampak dalam hal “memperhatikan”, ada sikap mendengar dan menerima firman Tuhan. 2 Petrus 1 : 19 memperhatikan firman sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap. Artinya: jika kita mau memperhatikan firman Tuhan, maka firman itu akan menjadi terang sehingga kita tidak lagi hidup di dalam kegelapan. Bahkan dalam Yohanes 1 : 4 telah dikatakan jika kita sudah berada di dalam Dia (=di dalam firman) maka di dalam hidup kita sudah ada hidup, dan hidup itulah yang menjadi terang manusia. Itu sebabnya orang yang paling berbahagia adalah mereka, yang di dalam hidupnya sudah ada terang firman Tuhan.
Karena itu sebagai jemaat Tuhan, kalau Saudara rindu memperoleh hidup yang kekal, harus mau memperhatikan firman Tuhan, di dalam diri kita harus ada sikap beribadah yang benar dan ada kerelaan untuk melayani Tuhan. Sebab jika di dalam diri kita sudah ada sikap memperhatikan firman Tuhan, maka firman itu akan membawa kita juga untuk memperhatikan ibadah dan pelayanan sehingga kita dapat beribadah yang benar dan membawa korban yang harum bagi Tuhan kita.
Karena itu untuk mempercepat proses supaya berhasil memiliki tanda keubahan dalam hidup, ada dua (2) hal penting yang harus kita perhatikan, yaitu:
1. Tingkatkan persekutuan dengan Tuhan dalam
doa dan penyembahan yang benar.
Supaya hal ini bisa terwujud, Lukas 9 : 28 - 29 penyem-bahan yang benar itu harus diawali dahulu dengan firman pengajaran, sesuai dengan skema Tabernakel yang dimulai dengan Meja Roti Sajian, Pelita kemudian Mezbah Dupa. Jadi penyembahan yang benar tidak akan pernah terwujud kalau di dalam hidup kita tidak ada terang firman Tuhan maupun urapan dari Roh Kudus. Kalau ada penyembahan yang benar, ada dua yang akan berubah, yaitu: WAJAH & PAKAIAN.
Wajah = berkaitan dengan hati, setiap orang akan nampak dari wajahnya. Kalau hati sedang susah, akan nampak dari wajahnya yang murung, demikian sebalik nya kalau hati sedang gembira akan nampak juga dari wajahnya yang ceria.
Pakaian = berbicara sifat atau karakter dan tingkah laku, setiap orang yang sudah hidup dalam penyembahan yang benar, akan nampak dari sikap dan perbuatannya sehari-hari. Jadi kalau penyembahan sudah ditingkat kan, maka tanda keubahan itu akan nampak baik perkara dalam maupun perkara luarnya.
2. Ada kerelaan menderita/sengsara.
Menderita atau sengsara yang dimaksud bukanlah karena dosa, tetapi karena melakukan firman Tuhan. 2 Korintus 4 : 14 - 16 ketika manusia lahiriah semakin merosot, bahkan sekali pun sedang menghadapi maut, jangan tawar hati. Mengapa harus demikian? Sebab semua penderitaan itu sengaja Tuhan ijinkan terjadi, tujuannya untuk mengerjakan kemuliaan kekal yang melebihi segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Rasul Paulus mengatakan semua penderitaan itu hanyalah pende-ritaan biasa saja, maka kita tidak perlu takut menghadapi penderitaan.
Matius 6 : 25 - 26 kalau pandangan rohani kita sudah diubahkan, hasilnya : kita akan hidup tanpa kekuatiran. Ayat 27 = jika hidup dalam kekuatiran tidak dapat menambahkan sehasta pun pada jalan hidupnya, tetapi jika hidup tanpa kekuatiran: Tuhan sendiri yang akan menambahkan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan kita (ayat 33).


“PELAJARAN TENTANG POHON ARA”

Minggu - 24 Januari 2010

Puji Tuhan!
Kita sudah melihat dan mempelajari tentang pohon ara, suatu pelajaran yang sangat penting kita ketahui sebab pelajaran tentang pohon ara ini adalah pelajaran tentang "tanda keubahan hidup." Pohon ara berbuah tidak disemua musim, berbuah kalau hanya musim panas saja. Kidung Agung 2 : 11 - 13 firman Tuhan menjelaskan: saat musim dingin dan musim hujan telah berlalu, saat itulah ranting-ranting pohon ara mulai melembut dan mulai bertunas sampai menghasilkan buah-buah.

Musim panas berbicara tentang:
- kegerakan hujan akhir
- kegerakan rohani
Artinya: ada kegerakan rohani karena kasih akan Tuhan, ada gairah atau semangat untuk
mengikuti gerak firman Tuhan.

Dasar/sikap untuk menerima firman Tuhan: kita harus memiliki hati yang lembut, yaitu hati yang siap menampung kebenaran. Bagi kita sebagai jemaat Tuhan, ibadah itu sangat erat kaitannya dengan tanda keubahan hidup.
Maka tidak heran kalau dalam Roma 12 : 1 - 2 firman Tuhan sangat menekankan: “Berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Tujuannya: supaya kita jangan menjadi serupa dengan dunia ini.
Hidup yang sudah mengalami tanda keubahan atau pembaharuan, ditandai dengan sikap: beribadah kepada Tuhan dengan cara yang benar, yaitu dengan mempersembahkan “tubuh” sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah.
Sebagai contoh kita bisa melihat pribadi Yesus. Lukas 2 : 52 Yesus sendiri sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia, dalam hidup-Nya sebagai manusia juga memiliki tanda perubahan:
- semakin bertambah besar-Nya
- bertambah hikmat-Nya
- semakin dikasihi Allah dan manusia
Demikian juga setiap orang yang mau meneladani pribadi Tuhan Yesus, yaitu yang sudah mengalami tanda keubahan hidup, mereka juga pasti akan ditandai dengan sikap dan perbuatan yang benar, sehingga hidupnya akan dikasihi Allah dan juga dikasihi sesama manusia.
Hal seperti ini juga pernah dialami oleh Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, yaitu pada saat raja Nebukadnezar mengangkut orang Israel ke Babel sebagai tawanan dan menjadikan mereka sebagai budak. Walaupun mereka sebagai tawanan, dan sedang dibawa keistana raja, mereka tetap mempertahankan cara hidup yang benar. Daniel 1 : 8 mereka berketetapan (berketetapan = tidak terpengaruh dengan keadaan = tidak sama dengan dunia ini) untuk tidak menajiskan diri dengan santapan/makanan raja.
Ayat 12 setelah mereka berketetapan kepada mereka diberikan hanya sayur untuk dimakan dan air untuk diminum, maka diadakanlah pencobaan selama sepuluh hari. Walaupun demikian, perawakan mereka jauh lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja (ayat 15). Berkatnya: Allah mengaruniakan kepada mereka kasih dan sayang (=mereka dikasihi Allah), Tuhan juga memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai tulisan dan hikmat, dan khusus kepada Daniel Tuhan memberikan pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. Daniel 1 : 20 dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, raja Nebukadnezar mendapati bahwa mereka “sepuluh kali lebih cerdas” dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi diseluruh kerajaannya. Inilah yang membuat sehingga Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego mendapat kedudukan yang tinggi di Babel.
Saudara-saudara, sesungguhnya setiap orang yang berdosa, ia sedang memiliki kasus, sedang berperkara dengan Allah. Maka kalau sedang berperkara dengan Allah, perkara itu harus diselesai kan dengan secepatnya supaya jangan sampai menimbulkan masalah besar.
Adam dan Hawa setelah jatuh ke dalam dosa, Tuhan berfirman untuk memanggil supaya mereka dibetulkan/diperbaiki kembali. Sebab setelah mereka melanggar perintah Allah, mereka menjadi takut kepada Allah, bahkan mendengar bunyi langkah Tuhan pun mereka menjadi takut. Dari sini bisa kita lihat dengan sebenarnya betapa jeleknya dosa itu, bisa membuat manusia menjadi takut bertemu dengan Allah.
Yesaya 1 : 18 firman Tuhan menghimbau kepada orang-orang yang telah berdosa supaya mau berper-kara dengan Allah. Kalau Tuhan mengundang untuk berperkara, tentu ada maksud dan tujuannya, yaitu: untuk menyelesaikan masalah tersebut supaya jangan tetap berperkara dengan Tuhan. Tuhan tahu, kalau manusia berperkara dengan Tuhan maka tidak ada seorang pun yang tahan dan tidak ada seorang pun yang bisa lari dari masalah tersebut. Untuk itulah Tuhan mengundang supaya manusia yang sudah berdosa itu mau datang untuk berperkara dengan Tuhan, supaya bebas dari segala masalah.
Yesaya 1 : 19 jika mau menurut dan mau mendengar (=mau berperkara dengan Tuhan) akan memakan hasil baik, sebaliknya kalau melawan atau memberontak (=tidak mau berperkara dengan Tuhan) akan dimakan oleh pedang (ayat 20), artinya akan masuk ke dalam penghukuman.

Berperkara kepada Tuhan = artinya adalah memohon kemurahan Tuhan supaya dihapuskan dari segala dosa maupun pelanggaran.
Menurut firman Tuhan cara yang benar berperkara dengan Tuhan sama dengan mau mengakui segala pelanggaran yang telah diperbuat.
1 Yohanes 1 : 8 jika ada orang yang berani berkata “tidak pernah berdosa”, firman Tuhan mengatakan ia sedang menipu dirinya sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam dirinya. Tetapi jika mau mengakui segala dosanya dengan jujur, Tuhan itu setia dan adil sehingga Ia pun akan mengampuni kita dari segala dosa bahkan Ia juga akan menyucikan kita dari segala kejahatan yang telah kita lakukan (1 Yohanes 1 : 9).
Sama seperti Adam dan Hawa setelah jatuh ke dalam dosa, mereka mencoba menutupi ketelanjangannya dengan cara membuat cawat dari daun pohon ara. Tetapi usaha mereka ini tidak berhasil, tetap tidak mampu menutupi segala dosa dan kekurangan mereka dihadapan Tuhan. Maka Tuhan sendiri yang bertindak, Ia memanggil mereka dan berfirman, tujuannya adalah: supaya Adam dan istrinya itu dibetulkan dan diperbaiki supaya jangan tetap tinggal di dalam dosa. Firman Tuhan dalam Roma 8 : 28 membuktikan bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang dikasihi.

Roma 8 : 29 cara Tuhan membetulkan manusia:
- dipanggil supaya dibetulkan/diperbaiki dari manusia berdosa menjadi
manusia yang dibenarkan.
- selanjutnya setelah dipanggil, akan dipilih supaya dikuduskan(disucikan)
supaya menjadi serupa dengan gambaran Kristus.
Inilah juga yang dikatakan dalam 2 Petrus 1 : 10, firman Tuhan menghimbau supaya kita berusaha dengan sungguh-sungguh, tujuannya supaya panggilan dan pilihan kita makin teguh. Sebab jika panggilan dan pilihan kita sudah teguh, maka kita tidak akan pernah tersandung. Justru Tuhan akan mengaruniakan “hak penuh” untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (ayat 11).

Maka kalau kita lihat dalam 1 Korintus 9 : 24 - 27 ada tiga (3) sikap yang perlu kita perhatikan:
1). Harus taat dan dengar-dengaran.
2). Menguasai diri dalam segala hal.
3). Tidak membiarkan sedikit pun waktu terbuang.

Seorang pelari: pertama-tama ia harus memasang telinga untuk mendengar aba-aba atau peraturan dalam pertandingan, sebab jika tidak demikian ia tidak akan bisa mengikuti pertandingan dengan baik. Kemudian ia juga harus mampu memperhatikan waktu ketika bertanding supaya jangan sampai ketinggalan dengan pelari yang lainnya.
Orang Kristen yang tidak mau memasang telinga untuk mendengarkan firman Tuhan apalagi kalau tidak mau memperhatikan firman Tuhan, maka ia akan menjadi orang Kristen yang biasa-biasa saja, manjadi hamba Tuhan yang tidak serius melayani. Maka sebagai jemaat Tuhan maupun sebagai hamab Tuhan, mari kita teladani sikap seorang pelari: pasang telinga untuk mendengarkan firman Tuhan dan perhatikan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Kalau pohon ara sudah mulai bertunas dan mengeluarkan buah, berarti kedatangan Tuhan sudah dekat. Yang bisa masuk ke dalam kerajaan sorga hanyalah mereka yang sudah mempersiapkan diri, yaitu yang sudah mengalami tanda keubahan hidup. Haleluya.......!!!

Senin, 04 Januari 2010

Buletin Januari 2010

“NATAL MENURUT INJIL LUKAS”

Minggu - 03 Januari '10

Saudara-saudara, pada minggu yang lalu kita sudah melihat bahwa NATAL adalah bukti kasih Allah yang di-nyatakan kepada manusia, Yesus datang sebagai Juruselamat bagi semua orang. NATAL adalah berkat khusus yang diberikan Allah kepada semua orang, kepada orang-orang yang baik, kepada orang-orang yang jahat bahkan kepada orang-orang yang najis sekalipun. Maka supaya dapat mengalami berkat NATAL, kuncinya: datanglah kepada Tuhan dan jadikan Dia sebagai Juruselamat pribadimu.
NATAL menurut Injil Lukas menceritakan Yesus sebagai Anak Manusia. Dan NATAL menurut Injil Lukas ini yang perlu diperhatikan supaya dapat ber-temu dengan Yesus adalah “tanda”, di mana Yesus di-lahirkan. Dalam Lukas psl 2 firman Tuhan menceritakan bagaimana proses kelahiran Yesus, malaikat Tuhan datang kepada para gembala-gembala yang tinggal di padang dan mengatakan: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (ayat 11 - 12) Jadi kepada para gembala-gembala itu Tuhan memberikan suatu “tanda” bahwa Juruselamat telah datang ke dunia ini.

Bagi kita “tanda” ini mengandung arti yang sangat penting, untuk membuktikan bahwa Allah telah datang ke dunia ini sebagai Juruselamat untuk menyelamatkan kita dan menjadikan kita sebagai milik kepunyaan-Nya.


Ulangan 6 : 4 - 15 firman Tuhan menekankan supaya mempunyai tanda: kita harus memperhatikan firman Tuhan dan mengajarkannya kepada anak-anak, baik ketika di rumah, dalam perjalanan, ketika berbaring ataupun ketika bangun. Ayat 8 - 9 firman Tuhan bisa menjadi tanda apabila firman itu diikatkan pada tangan dan menjadi lambang didahi. Berkat kalau firman Tuhan sudah menjadi tanda: rumah-rumah penuh berisi berbagai-bagai barang yang baik (berkat dalam rumah tangga) dan sumur-sumur atau kebun-kebun yang disediakan Tuhan walaupun bukan kita yang menggali atau menanami.

Untuk memperoleh tanda dari Tuhan, ada dua (2) langkah yang harus kita miliki, yaitu:

1. Mau mendengarkan firman Tuhan.

Sikap dalam mendengar firman Tuhan ini sangat penting kita miliki, sehingga dalam Lukas 8 : 18 Tuhan Yesus pun harus memperingatkan murid-murid supaya memperhatikan cara mendengar. Sikap mendengar yang baik menjadi penentu supaya kita berhasil menjadi jemaat yang berkenan kepada Allah. Sebab kalau sudah berhasil memiliki cara mendengar yang baik, maka kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai cara mendengar yang baik, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.
Gembala-gembala di padang, ketika malaikat Tuhan memberikan tanda, mereka mau mendengar dan memperhatikan. Sehingga hasilnya: mereka berhasil bertemu dengan Yesus yang baru lahir, yang dibungkus dengan lampin dan berbaring di palungan. Seperti yang telah dikatakan malaikat Tuhan demikianlah mereka bertemu dengan Yesus.
Pada NATAL yang pertama Yesus dibaringkan “dipalungan”, mengapa Yesus harus di ditempat kan di palungan? Ini mengandung arti yang sangat besar bagi kita, Yesus itu adalah Juruselamat dunia, yang sangat dibutuhkan oleh semua orang. Maka kalau Yesus ditempatkan di palungan, tujuannya adalah supaya dengan mudah domba-domba bisa menjangkau, bisa menikmati dengan baik. Jadi Yesus itu adalah benar-benar makanan yang menjadi kebutuhan semua orang terlebih mereka yang mau menghargai keselamatan.
Yesus di tempatkan di palungan:
- Yesus itu menjadi makanan bagi domba-domba,
yang tergembala dengan baik
- firman Tuhan itu menjadi makanan/kebutuhan
semua orang, yang haus akan kebenaran
Karena itu, firman Tuhan itu tidak cukup kalau hanya dipikirkan saja, tidak cukup kalau hanya didengar saja, tetapi firman itu harus ditaruh di dalam hati dan di dalam mulut. Sebab kalau firman itu sudah ditaruh di dalam mulut, berarti firman itu sudah dijadikan sebagai makanan/ kebutuhannya, yang telah dinikmati lebih dulu, sehingga bisa masuk ke dalam hati, maka firman itu akan bekerja di dalam hatinya, akan menyucikan hidupnya dan membuat hidupnya menjadi berkenan kepada Allah. Sebaliknya jika firman itu tidak dinikmati, inilah yang membuat sehingga akan timbul keragu-raguan, merasa firman itu sepertinya tidak bisa dijangkau, seperti nya tidak bisa dijangkau.
Dalam Ulangan 30 : 11 - 14 firman Tuhan sudah mengatakan bahwa sebenarnya firman itu tidaklah terlalu sukar dan tidak terlalu jauh, tidak di langit dan tidak di seberang laut tempatnya. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak mengerti akan firman Tuhan. Kalau dulu Yesus di tempatkan di palungan, tempat yang mudah dijangkau oleh domba-domba, demikian juga sekarang firman itu juga mudah dijangkau, tidak terlalu jauh. Bagi kita sekarang, firman itu sudah sangat dekat, yaitu di dalam mulut dan di dalam hati. Karena itu sebagai jemaat Tuhan, mari kita tempatkan firman itu di dalam mulut dan di dalam hati, mari kita buat firman itu menjadi makanan, menjadi kebutuhan yang lebih utama dari dari pada yang lain. Jika firman itu sudah ditaruh di dalam mulut dan di dalam hati, maka firman itu akan mengerjakan perkara yang besar di dalam hidup kita.

2. Mau melihat/memperhatikan.

Setelah para gembala-gembala itu mendengar apa yang disampaikan oleh malaikat Tuhan, langkah selanjutnya mereka cepat-cepat berangkat/pergi ke Betleham untuk melihat apa yang telah terjadi. Mereka bukan hanya mendengar, tetapi langsung bertindak mempraktekkan apa yang telah didengar.
Pada zaman sekarang ini, memang banyak orang punya mata, tetapi sayang tidak bisa melihat dengan baik, banyak orang tahu akan firman Tuhan, tetapi tidak dapat menikmatinya dengan baik. Mengapa? sebab tidak ada sikap yang baik, yaitu tidak ada kerinduan untuk melihat atau mengalami seperti yang dikatakan Tuhan. Orang Kristen seperti ini, tidak akan tahu nilai firman Tuhan, tidak bisa membuat firman itu jauh lebih berharga dari segala yang ada di dalam dunia ini, termasuk dari harta benda bahkan dari nyawa kita sekalipun.
Firman Tuhan dalam Yesaya 29 : 9 - 12, mengatakan setiap orang yang tidak dapat melihat kedalaman firman Tuhan, akibatnya mereka akan MABUK, tetapi bukan karena anggur, mereka akan PUSING, tetapi bukan karena arak.
Mengapa tidak dapat melihat kedalaman firman Tuhan?
Penyebabnya:
- kitab itu termeterai, sehingga walau tahu membaca
tetapi tidak akan dapat melihat bagian dalamnya
- kitab tidak termeterai, tetapi karena tidak tahu
membaca juga tidak akan dapat melihatnya
Lukas 2 : 20 setelah gembala-gembala itu mendengar dan melihat tepat seperti yang dikatakan oleh malaikat Tuhan, mereka kembali ke tempat masing-masing sambil memuji dan memuliakan Allah. Bahkan mereka juga dapat memberitahukan kepada orang lain, apa yang telah mereka lihat, sehingga semua orang yang melihatnya menjadi heran. Kalau gembala-gembala memberitakan apa yang telah mereka dengar dan lihat, tetapi dalam Lukas 2 : 19 Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
MARIA = gambaran jemaat atau gereja Tuhan yang jadi mempelai perempuan Kristus. Maka kalau hamba-hamba Tuhan memberitakan firman, sikap kita sebagai jemaat mau harus merenungkan firman Tuhan itu dan menyimpannya di dalam hati yang baik.

Saudara-saudara, kalau kita perhatikan Injil Lukas, yang perlu kita perhatikan bukan hanya tanda kelahiran Yesus saja, tetapi kita juga dibawa untuk memperhatikan tanda tentang kedatangan-Nya yang kedua kalinya. Kalau pada kedatangan-Nya yang pertama, Yesus datang sebagai tubuh atau bayi yang baru lahir dan ditempatkan dipalungan, menjadi Juruselamat. Tetapi pada kedatangan-Nya yang kedua kali, ada satu pertanyaan penting yang harus kita perhatikan: “Di mana Tuhan?” Kemudian Yesus menjawab: “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.” (Lukas 17 : 37)
Burung Nasar = pribadi Allah/lambang Injil Yohanes.
Sedangkan MAYAT :
- berbicara “tubuh” yang menunjuk kepda tubuh
Kristus, yaitu gereja yang di dalamnya Allah hadir.
- ini juga berbicara “gereja” yang sudah mengalami
proses: mati dan bangkit bersama dengan Kristus,
sudah mati terhadap dosa.
Jadi proses tanda kelahiran dan bangkit bersama dengan Kristus adalah “tanda” yang harus kita perhatikan dengan baik-baik supaya kita berhasil menjadi jemaat yang berkenan kepada ALlah. Melihat tanda kelahiran Yesus memang sudah baik, tetapi itu belum cukup, harus dilanjutkan melihat tanda yang kedua, yaitu tanda-tanda kedatangan Tuhan yang kedua kali supaya kita dapat mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, tergabung dalam pembentukan dalam tubuh Kristus yang kudus dan sempurna. HALELUYA...!!!

Rabu, 09 Desember 2009

BULETIN DESEMBER 2009

“LEBIH DARI PEMENANG”

Minggu - 06 Desember 2009

KEGERAKAH HUJAN AKHIR.

Roma 8 : 37 Kita bisa menjadi lebih dari pada orang-orang yang telah menang karena:
- ada satu pribadi menjamin untuk menang, yaitu pribadi Tuhan Yesus Kristus. Dia telah menyerahkan diri-Nya bagi kita dengan cara mati di atas kayu salib sebagai korban untuk memperdamaikan kita dengan Allah.
- Allah ada dipihak kita, ini berbicara ada hubungannya dengan kasih Kristus, di mana kita tetap berada dan terikat di dalam kasih Kristus. Sebab jika kita tetap berada di dalam kasih Kristus, maka IA akan tampil sebagai “Pembela”.
Jika Allah sudah tampil sebagai Pembela berarti Ia sudah berada dipihak kita, maka:
- tidak akan ada yang dapat melawan kita
- tidak akan ada yang dapat menggugat kita
- tidak akan ada yang dapat memisahkan kita dari
kasih Kristus
Sehingga baik penindasan, atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan, atau ketelanjangan atau bahaya atau pedang, semua ini tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Justru sebaliknya kita akan disebut sebagai pemenang, yang bisa lebih dari orang-orang yang telah menang di dunia ini.
Saudara-saudara, kasih Kristus itu adalah kasih yang besar bahkan sangat besar, tidak terukur dan tidak terbatas, kasih Kristus itu bukan hanya sekedar untuk memberi berkat, bukan hanya untuk menyembuhkan, bukan hanya untuk menghiburkan, tetapi lebih dari pada itu kasih Kristus itu adalah kasih yang mampu menyelamatkan setiap orang yang telah percaya kepada-Nya, mulai dari kelahiran-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya terhadap kematian bahkan sampai kepada kenaikan-Nya ke sorga.
Karena itu kalau kita kembali ke pemberitaan firman pada minggu-minggu yang lalu, YOSUA itu artinya: Tuhan adalah keselamatanku, artinya jika kita membuat Tuhan itu sebagai keselamatan, maka Tuhan akan memberi janji yang pasti bahwa kita pasti akan diselamatkan akan menjadi pemenang.Yosua 1 : 5 janji Tuhan kepada Yosua: “Seorang pun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau, Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Inilah janji Tuhan yang sangat luar biasa kepada Yosua dan juga kepada setiap orang yang telah membuat Tuhan sebagai pokok keselamatannya, Tuhan akan memberikan kemenangan yang gilang gemilang dari semua musuh yang mencoba memisahkan kita dari kasih Kristus. Janji Tuhan itu adalah janji untuk menjadikan kita sebagai Pemenang.
Saudara-saudara, kemenangan itu pasti bisa kita peroleh jika kita mau memandang kepada Kristus sebagai “pemimpin” yang akan membawa kita kepada kemenangan., sama seperti bangsa Israel yang mau dipimpin oleh Yosua. Sebab siapa yang kita ikuti menjadi penentu menang atau tidak.
Dalam Wahyu 6 : 1 - 2 dalam pembukaan meterai yang pertama: tampil seekor “kuda putih” dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota, yang maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan.Wahyu 6 : 1 - 2 ini berbicara penampilan Kristus yang tampil dengan segala kekuatan dan kuasa-Nya yang luar biasa dan ajaib, untuk merebut kemenangan yang gilang gemilang.

Pada zaman sekarang ini banyak orang, termasuk pendeta-pendeta yang salah menafsirkan penampilan kuda putih ini, mereka mengatakan bahwa penampilan kuda putih ini adalah antikristus yang akan tampil sebagai pemenang. Ini adalah penafsiran yang salah, sangat keliru. Sebab jika seandainya antikristus yang tampil sebagai pemenang, maka tidak ada lagi artinya kita mengikut Tuhan, tidak ada lagi gunanya kita beribadah maupun melayani Tuhan. Maka sebagai Jemaat Tuhan terlebih lagi sebagai hamba-hamba Tuhan, kita harus mengikuti kebenaran firman Tuhan dalam firman Pengajaran ini supaya jangan sampai terikut dengan penafsiran-penafsiran yang salah. Penafsiran yang salah ini sangat berbahaya sebab bisa membuat orang Kristen menjadi salah arah dalam mengikut Tuhan. Mereka menyangka bahwa mereka masih milik Kristus tetapi karena mengikuti penafsiran yang salah, ternyata mereka sudah mengikuti yang lain, akibatnya Tuhan tidak berkenan akan kehidupan mereka. Tetapi jika kita tetap mengikut Kristus dengan tepat dan benar, Kristus yang tampil dalam penampilan-Nya yang menunggangi seekor kuda putih itu akan mengaruniakan kemenangan kepada kita.
Maka semua bentuk pencobaan dan penderitaan yang ada dalam Roma 8 : 35 - 36, seperti penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya atau pedang, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Bahkan sekalipun sekalipun kita berada dalam bahaya maut sepanjang hari, dan telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan, kita bisa lebih dari orang-orang yang telah menang sebab Kristus ada dipihak kita.
Yosua 3 : 1 - 4 Tuhan Allah telah menunjukkan kepada Yosua arah yang harus ditempuh, Tuhan juga sudah memberikan rencana-Nya yang harus dilakukan. Jadi arah perjalanan bangsa Israel dalam kepemimpinan Yosua sudah terencana dengan begitu teratur dan begitu baiknya. Mereka semua tidak ada yang boleh terlalu maju dan tidak boleh ada yang terlambat apalagi tertinggal. Tetapi semua mata harus tertuju untuk melihat Tabut Perjanjian yang diangkat para imam, yang berjalan di depan. Dan untuk menerima arahan dari ALlah, Yosua harus bangun pagi-pagi untuk menghadap ALlah. Bagi kita arti "bangun pagi-pagi" ini mengandung arti yang sangat besar. Yosua 3 : 1 Yosua bangun pagi-pagi, tujuannya:
- untuk mengatur pasukannya
- untuk memberi perintah tentang apa yang harus
mereka lakukan.
Maka seorang pemimpin rohani yang benar harus bisa memberi contoh atau teladan kepada yang dipimpin supaya tetap waspada dan tetap mempersiapkan diri dalam segala hal. Demikian juga sebagai jemaat Tuhan, kita harus tahu dan mengenal pemimpin rohani yang benar itu harus tetap tinggal di dalam kebenaran supaya dapat memimpin jemaat kepada arah dan tujuan yang benar.
Bagi kita, arti “bangun pagi-pagi” itu mengandung arti yang sangat besar. Dalam Mazmur 5 : 4 = bangun pada waktu pagi-pagi ada dua (2) sikap penting yang harus kita kerjakan, yaitu:
- mengatur persembahan, ada kaitannya dengan penyembahan,
hidup dalam penyembahan yang benar.
- menunggu-nunggu, ada kaitannya dengan sikap merendahkan
diri di hadapan Allah.
Jadi kalau kita bangun pagi-pagi, kita harus mengatur persembahan: supaya kita semua punya arah dan tujuan yang pasti, baik sebagai pemimpin rohani, sebagai kepala rumah tangga, sebagai istri ataupun sebagai jemaat. Semua ini bisa kita lakukan pada waktu pagi.
Sebagaimana telah kita lihat di atas, bahwa kuda putih dan orang yang menungganginya ini berbicara kegerakan rohani yang luar biasa. Kuda putih ini juga berbicara kegerakan “hujan akhir” dalam kuasa Firman Pengajaran Mempelai yang Alkitabiah, yaitu firman pengajaran yang sanggup membawa jemaat kepada kesempurnaan, mengenal Yesus Kristus sebagai Suami atau sebagai Mempelai Pria Sorga dan yang akan mempersiapkan gereja Tuhan menjadi sidang mempelai perempuan-Nya.
Kegerakan hujan akhir ini tidak lama dan datangnya pun begitu cepat, bagaikan kuda yang berjalan dengan cepat. Maka kita patut bersyukur karena Tuhan telah memberikan firman pengaran-Nya yang besar dan mulia ini dan kita harus menghargainya. Sebab Firman pengajaran inilah sarana yang diberikan Tuhan untuk mempersiapkan kita menjadi gereja Tuhan yang tampil sebagai pemenang.
Karena itu kita harus dapat membedakan lawatan maupun kegerakan.
“Lawatan” = sifatnya temporer, bisa saja hari ini satu daerah dilawat Tuhan, bisa saja daerah-daerah lain, tetapi bisa juga ditinggalkan apabila mereka sudah mengeraskan hati terhadap firman Tuhan.
Sedangkan “kegerakan” itu sifatnya cepat sekali sebab ada yang memimpin dan menungganginya dengan kuasa yang besar, maka setiap orang yang mau mengikuti kegerakan ini akan diberikan kemenangan yang besar lebih dari pemenang. Sikap kita dalam mengikuti kegerakan ini: mata harus tertuju kepada Tuhan jangan mau diombang-ambingkan oleh angin-angin pengajaran yang palsu dan kosong.
Itu sebabnya khusus dalam kitab Yosua pasal 3 dalam kegerakan akhir ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan dengan baik-baik:
1. 3 : 1 - 4 = Allah memberi petunjuk
2. 3 : 5 - 7 = diperlukan penyucian hidup
3. 3 : 8 - 17 = menyeberangi sungai Yordan
Setelah Allah memberi petunjuk lewat firman pengajaran-Nya dan supaya kita dapat mengikuti kegerakan hujan akhir ini, maka kita harus menyucikan hidup. Haleluya....!!


“LEBIH DARI PEMENANG”
Minggu - 13 Desember 2009

Manusia Yesus Kristus menjadi Pengantara

Saudara-saudara, pada bulan Desember ini biasanya banyak orang sedang sibuk merayakan Natal. Baik gereja-gereja, perusahaan, marga-marga, maupun STM semua berusaha supaya dapat merayakan Natal dengan sebaik-baiknya. Tetapi bagi kita, Natal itu bukan hanya sekedar perayaan begitu saja, tetapi kita harus menghargai Natal itu lebih dari sekedar perayaan.
Sebagaimana telah kita lihat pada minggu-minggu yang lalu, kita bisa disebut lebih dari pemenang karena Kristus telah mengasihi kita. Dan sebagai bukti Kristus mengasihi kita: Ia mau datang ke dunia ini dan menjadi manusia sama seperti kita, tujuannya untuk merasakan seperti yang kita rasakan. Jadi NATAL itu merupakan bukti kasih Allah kepada manusia, kado NATAL yang diberikan ALlah kepada manusia.
Lukas 1 : 35 firman Tuhan menjelaskan kepada kita Yesus Kristus lahir menjadi manusia bukan karena hasil perkawinan antara seorang laki-laki dengan perempuan, tetapi murni pribadi Allah yang turun menjelma menjadi manusia. Maka ketika Yesus dikandung, Roh Kudus yang turun dan kuasa Allah Yang Mahatinggi menaungi Maria, sehingga Anak yang lahir itu disebut Kudus, Anak Allah.
Mengapa Yesus harus lahir dan menjelma sebagai manusia dan sama seperti kita?
Jawabannya:
Supaya lewat kelahiran-Nya, Ia menjadi Juruselamat dan menjadi Imam Besar sebagai Pengantara untuk memperdamaikan kita dengan Allah di sorga.
Untuk itulah Yesus Kristus harus menjelma sebagai manusia supaya ada seorang manusia sebagai Pengantara untuk memperdamaikan kita dengan Allah. Kita dapat melihatnya dalam 1 Timotius 2 : 5, manusia Kristus itu benar-benar menjadi Pengantara antara Allah dengan manusia, Dialah satu-satunya yang dapat memperdamaikan manusia dengan Allah di sorga. Sebab jika seandainya tidak ada manusia Kristus Yesus yang menjadi Pengantara, maka tidak mungkin manusia itu bisa berdamai dengan Allah. Mengapa? sebab manusia itu pada dasarnya sudah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan ALlah (Roma 3 : 23).
Proses mengapa Tuhan Yesus bisa disebut sebagai manusia Kristus: Yohanes 1 : 14 sebab Yesus adalah firman yang telah menjadi manusia, kemudian dalam Yohanes 1 : 1, dijelaskan bahwa firman itu adalah Allah sendiri.
Manusia Yesus Kristus sebagai Pengantara:
  1. supaya manusia diselamatkan
  2. supaya Yesus memasukkan sifat-sifat Allah ke dalam diri manusia
Bukti Yesus sebagai Pengantara:
  • dalam doa, dalam doa selalu ditutup dengan kalimat: “Dalam nama Yesus kami berdoa.”
  • ketika mengusir setan, ketika berdoa untuk orang sakit, selalu mengatakan: “dalam nama Yesus.”
Jadi nama Tuhan Yesus itu bisa menjadi nama yang dapat kita andalkan dalam segala hal sebab di dalam nama-Nya memang ada kuasa yang besar. Seperti yang dikatakan firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 4 : 12 bahwa tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan selain di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Di atas telah dikatakan manusia Kristus menjadi Pengantara supaya Yesus memasukkan sifat-sifat Allah itu ke dalam diri manusia. Sebab jika sifat Allah telah dimasukkan ke dalam diri manusia, maka manusia itu akan disebut sebagai “manusia Allah.” Yohanes 1 : 12 mengatakan: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Yang disebut anak-anak Allah itu bukan karena diperanakkan dari darah dan daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Dan kalau kita sudah disebut sebagai anak-anak Allah, maka kita akan menerima kuasa.
Arti anak-anak Allah sama dengan manusia Allah. 1 Timotius 6 : 11, rasul Paulus juga menyebut Timotius sebagai manusia Allah. Maka jika kita sudah disebut sebagai manusia Allah, ada tandanya yaitu: mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bahkan dalam Roma 8 : 26 kepada setiap orang yang sudah disebut sebagai manusia Allah, Roh Kudus akan turut membantu kita dalam segala kelemahan kita, dan Roh Kudus itu sendiri turut berdoa untuk kita kepada Allah. Ini juga menjadi tanda bahwa Yesus itu adalah benar-benar sebagai Pengantara.
Sebaliknya kalau tidak berhasil disebut sebagai manusia Allah, akan disebut anak-anak iblis, sebab iblis juga akan berusaha memasukkan sifat-sifatnya ke dalam diri manusia. Yohanes 8 : 37 - 47 firman Tuhan menjelaskan kepada kita bagaimana sifat manusia yang disebut sebagai anak-anak iblis. Ada beberapa sifat yang dimasukkan iblis ke dalam diri manusia:
  1. tidak dapat mengasihi
  2. tidak dapat menangkap firman Tuhan = tidak hidup dalam kebenaran
  3. pekerjaannya suka membunuh manusia
  4. suka berkata dusta
Maka sekalipun mereka menyebut diri sebagai keturunan Abraham, tetapi sebenarnya mereka tidak melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan oleh Abraham. Inilah yang membuat sehingga sekalipun Yesus selalu mengatakan kebenaran, tetapi mereka tidak dapat menangkapnya apa yang telah dikatakan oleh Tuhan Yesus, sebaliknya justru mereka selalu ingin membunuh Yesus. Maka dengan tegas, Yesus berkata kepada: “Iblislah yang menjadi bapamu” jika iblis sudah memasukkan sifat-sifatnya ke dalam diri manusia, maka sekalipun mereka masih mengaku sebagai orang Kristen atau sebagai pengikut Kristus, tetapi yang sebenarnya mereka adalah anak-anak iblis.
Karena itu sebagai jemaat Tuhan, sangat perlu kita ketahui ada tiga (3) kekuatan yang mencoba menggagalkan iman manusia supaya jangan setia mengikut Tuhan:
  1. keinginan daging
  2. keinginan dunia
  3. iblis/setan
Dan kalau kita lihat firman Tuhan dalam Wahyu 21 : 8 ada delapan (8) perbuatan-perbuatan yang membuat manusia itu mendapat bagian dalam lautan api yang bernyala-nyala oleh api dan belerang, yaitu: orang-orang penakut, yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta. Kedelapan perbuatan ini dapat dibagi menjadi tiga (3) bagian :

keinginan daging :
  1. orang-orng keji
  2. orang pembunuh
  3. orang-orang sundal

keinginan yang duniawi :
  1. orang-orang penakut
  2. orang-orang yang tidak percaya
  3. orang-orang pendusta

iblis/setan :
  1. tukang-tukang sihir
  2. penyembah-penyembah berhala

Terus terang saja, kalau hanya dengan kekuatan manusia secara jasmani saja tidak mungkin kita bisa mengalahkan ketiga kekuatan tersebut di atas. Tetapi Tuhan punya cara yang tepat supaya kita dapat mengalahkan ketiga kekuatan tersebut, yaitu dengan cara:
  • 2 Petrus 1 : 5 - 8 = kita harus memiliki peningkatan secara rohani, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menambahkan kepada iman kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang. Jika semua ini sudah ada pada kita, maka kita akan menjadi giat dan berhasil dalam pengenalan akan Yesus Kristus.
Ibrani 2 : 14 - 15 = oleh kuasa kematian Kristus di atas kayu salib, IA memusnahkan dia yaitu iblis, yang berkuasa atas maut. Jadi lewat kematian Kristus di atas kayu salib, Ia telah membebaskan kita yang selama ini berada dalam perhambaan dosa supaya menjadi hamba kebenaran, yaitu menjadi milik kepunyaan Tuhan sendiri, yang dibela dan dipelihara


“LEBIH DARI PEMENANG”


Minggu - 20 Desember 200


Manusia Kristus sebagai Pengantara

Saudara-saudara, tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa selamat baik dari dosa maupun dari kuasa kegelapan kalau bukan karena kasih karunia Tuhan. Mengapa? Sebab semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3 : 23). Inilah yang membuat sehingga Allah harus turun dengan cara : memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3 : 16).
Jadi jelas, satu-satunya yang dapat menyelamatkan manusia dari dosa adalah Tuhan Yesus, satu-satunya yang bisa menjadi Juruselamat dunia hanyalah Tuhan Yesus sendiri. Firman Tuhan begitu jelas mengatakan dalam Kisah Para Rasul 4 : 12 bahwa keselamatan itu tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam nama Tuhan Yesus, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya kita bisa diselamatkan selain di dalam nama-Nya. Jadi satu-satunya yang bisa menjadi Juruselamat hanyalah pribadi Tuhan Yesus. Haleluya...!!

Yesus Kristus disebut sebagai “Anak Yang Tunggal” telah diberikan kepada dunia sebagai Juruselamat yang sanggup menghapus segala dosa dan yang sanggup melepaskan manusia dari maut. Karena itu Yesus sebagai Anak yang tunggal diberikan bukan hanya sekedar diberikan begitu saja, tetapi Ia juga telah menjadi korban perdamaian untuk memperdamaikan manusia dengan Allah di sorga, IA menjadi Pengantara antara kita dengan Allah. Maka pada NATAL yang pertama, Yesus Kristus sebagai Anak tunggal adalah “KADO” terbesar yang telah diberikan Allah kepada dunia ini.
  • Yohanes 1 : 29, = pada kedatangan Tuhan Yesus yang pertama, IA diperkenalkan sebagai “Anak Domba” yang menghapus dosa seisi dunia, IA lahir dan menjadi sama dengan manusia supaya kita diselamatkan. Puncaknya IA harus mati di atas kayu salib sebagai korban untuk memperdamaikan manusia dengan Allah.
  • Tetapi dalam Wahyu 19 : 6 - 10, = pada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, IA juga akan tampil sebagai “Anak Domba”, tetapi bukan untuk menghapus dosa lagi, melainkan sebagai Anak Domba yang akan menikah dengan gereja yang telah menjadi mempelai-Nya, yang disebut dalam pesta perjamuan Anak Domba.
1 Petrus 2 : 24 = “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”
Saudara-saudara, kalau kita lihat dari ayat tersebut di atas setelah Yesus mati di atas kayu salib sebagai korban penghapus dosa dan setelah Ia bangkit dari antara orang mati, ada tiga (3) poin penting yang perlu kita perhatikan supaya kita bisa disebut sebagai pemenang:
  • Kita juga harus mati terhadap dosa.
Artinya: 1). hidup kita ini tidak bisa lagi digerakkan olehdosa, tetapi sepenuhnya hidup kita sudah diatur dan dikuasai oleh Tuhan, 2). hidup kita ini tidak lagi menginginkan hal-hal yang berbau dosa sebab keinginan untukberbuat dosa itu sudah mati.

Dalam Matius 4 : 16 ketika Tuhan Yesus lahir ke dunia sebagai manusia, dunia ini sedang dinaungi/dikuasai oleh maut. Ini membuktikan betapa manusia itu sebenarnya sangat membutuhkan seorang Juruselamat yang bisa menjadi pengantara, seorang yang sanggup memperdamaikan manusia dengan Allah. Syukur kepada Allah, IA telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal yang datang sebagai manusia, supaya bangsa-bangsa yang selama ini berada dalam kegelapan beroleh kesempatan untuk melihat Terang yang besar. Bahkan bagi mereka yang selama ini diam di negeri yang sedang dinaungi maut, sekarang telah terbit Terang. Yaitu oleh Tuhan Yesus Kristus yang telah datang ke dunia ini, sekaligus menjadi terang bagi dunia, terutama bagi mereka yang mau percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Kuncinya: terima terang firman Tuhan, dalam firman pengajaran mempelai yang Alkitabiah.
Saudara-saudara, pada hari-hari yang lalu, kita sudah melihat bahwa pekerjaan iblis itu mempunyai perkembangan yang sangat luar biasa pesatnya. Kalau dalam Kejadian psl 3 ketika menggoda perempuan yang pertama, iblis tampil lewat ular untuk menjatuhkan manusia pertama ke dalam dosa. Tetapi dalam Wahyu psl 12 iblis tampil tidak lagi seperti ular biasa, tetapi ia sudah disebut: naga besar, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan bukan seorang saja tetapi seluruh dunia. Jadi sejak dari semula iblis selalu berusaha merusak karya Allah yang ada di dalam diri manusia. Karena itu sebagai jemaat maupun sebagai hamba Tuhan, kita harus tetap waspada supaya jangan sampai gagal oleh karena tipu daya si iblis.
Cara supaya kita bisa berhenti berbuat dosa: kita harus menderita penderitaan badani (1 Petrus 4 : 1), supaya sekalipun ada tawaran untuk berbuat dosa, walaupun keingian kita sedang berjuang melawan jiwa, kita harus mampu meninggalkannya walaupun harus menderita.
  • Kita harus hidup untuk kebenaran. Artinya: menjadi hamba kebenaran, seluruh hidup kita diatur oleh Tuhan untuk melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Roma 6 : 17 - 18 cara supaya kita bisa menjadi hamba kebenaran: “mentaati pengajaran” yang telah kita terima. Sebab jika mau mentaati kebenaran, maka kebenaran itu akan memerdekakan kita dari dosa. Bahkan untuk menghentikan kita dari kutuk dosa keturunan, harus ada yang sungguh-sungguh hidup dalam kebenaran.
Contoh:
Abraham,
bisa tertolong dan dipanggil Allah supaya ke luar dari Ur-Kasdim ke negeri yang akan ditunjukkan Allah kepadanya, karena dari nenek moyangnya sudah ada lebih dahulu takut akan Tuhan, yang dimulai dari SET. Memang orangtua Abraham yang sebenarnya adalah penyembah berhala, tetapi karena sudah dimulai dari nenek moyang ada yang takut akan Tuhan, inilah yang membuat Abraham tertolong.
Timotius, bisa tertolong dan menjadi rasul Kristus juga karena ada orang-orang yang takut akan Tuhan, dimulai dari neneknya yang bernama Lois dan ibunya yang bernama Eunike (2 Timotius 1 : 5).
  • Oleh bilur-bilur-Nya kita sembuh. Artinya: sembuh bukan hanya dari sakit penyakit, tetapi lebih dari pada itu kita telah dipulihkan dari segala cacat cela. Sebagai jemaat Tuhan, kita sangat memerlukan pertolongan dari Roh Kudus supaya Tuhan memberi kan hati yang baru, yaitu hati nurani yang baik dan roh yang baru, yang sudah mengalami penyucian. Kalau sudah disucikan, barulah akan ada gairah baik untuk beribadah maupun melayani Tuhan.

Karena itu kalau kita lihat keadaan umat Tuhan pada zaman akhir ini, masih banyak dari kalangan yang menyebut dirinya sebagai orang Kristen tidak mengerti apa yang menjadi kerinduan Tuhan dalam hidupnya. Memang banyak orang bisa tahu akan firman Tuhan, tahu berdoa, tahu melayani bahkan sangat suka beribadah kepada Tuhan, tetapi yang menjadi masalah adalah mereka hanya sekedar tahu begitu saja, tetapi tidak melakukan seperti yang dikatakan oleh firman Tuhan tersebut.
Kalau kita lihat Lukas 10 : 25 - 28 menjadi contoh tentang orang yang tahu akan firman Tuhan tetapi ia tidak hidup sesuai dengan firman Tuhan yang diketahuinya tersebut. ketika seorang bertanya kepada Yesus: “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Sebenarnya ini adalah suatu pertanyaan yang sangat baik dan sangat penting kita ketahui. Sebagai jemaat, kita memang harus tahu akan firman Tuhan supaya kita bisa melakukannya dan berhasil masuk ke dalam sorga. Tetapi yang dimaksud bukan hanya sekedar tahu begitu saja, tetapi harus menjadi praktek dalam hidup sehari-hari. Mengetahui firman Tuhan itu memang pekerjaan yang sangat mudah, semudah seperti orang mengatakan: “Amin” Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana dengan melakukannya?
Karena itu sebagai orang Kristen yang benar, kita harus mengetahui apa yang harus kita lakukan supaya kita layak menjadi orang yang berkenan kepada Allah.
Yang disebut sebagai orang Kristen yang benar:
  • firman Tuhan itu harus dilakukan
  • firman Tuhan itu harus dihidupi
Inilah yang menjadi kerinduan Tuhan dalam hidup kita, Tuhan mau supaya firman Tuhan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menjadi praktek dalam hidup.



“Natal Menurut Injil Matius”

Minggu - 27 Desember 2009

Kasih karunia Allah yang tertinggi dan yang terbesar, yang telah diberikan kepada dunia adalah: Yesus. Dia adalah Raja di atas segala raja, yang berkuasa atas segala sesuatu. Allah telah memberikan diri-Nya sendiri kepada manusia dan menjadi sarana untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Dan kalau kita lihat pada NATAL yang pertama, Allah memberikan diri-Nya kepada manusia bukan saat manusia itu sedang dalam keadaan baik-baik, bukan pula dalam keadaan rohani yang baik tetapi justru sebaliknya katika manusia itu sedang dinaungi maut yang disebabkan oleh dosa-dosa dan pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan. Untuk itulah pada NATAL yang pertama, IA datang ke dalam dunia dan menjadi sama dengan manusia supaya IA menjadi Juruselamat yang dapat melepaskan manusia dari dosa-dosa mereka.
Maka bagi kita, NATAL yang benar bukanlah menurut selera masing-masing, bukan menurut aturan dan peraturan gereja maupun organisasi. Tetapi NATAl yang benar adalah jika NATAl itu kita lakukan dengan baik dan benar, yaitu ada kerelaan untuk menerima kehadiran-Nya dalam hidup kita. Jangan seperti kebanyakan orang merasa berhasil merayakan NATAL dengan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dengan kemeriahan, dengan acara-acara yang sepertinya bisa menghibur dan menyenangkan hati. Sebab jika NATAL itu diraya-kan hanya menurut selera manusia, belum tentu Allah hadir di dalamnya, Allah tidak pernah berke-nan jika NATAl itu hanya sekedar perayaan saja.

NATAL menurut Injil Matius menitikberatkan Yesus yang lahir di Betlehem disebut sebagai Anak Raja, yang berkuasa atas segala sesuatu dan yang patut disembah. Matius psl 2 orang-orang Majus dari Timur tahu bahwa seorang raja telah lahir dan karena itu mereka pergi ke Yerusalem untuk mencari sampai.
Mengapa kita harus mengenal Yesus sebagai Raja?
Karena Dialah yang sanggup memerintahkan/ memberikan kemenangan bagi umat-Nya.
Dapat kita lihat dengan jelas dalam Mazmur 44 : 2 - 9 penampilan Yesus sebagai Raja yang penuh dengan kuasa telah dinubuatkan jauh sebelum Yesus lahir, jika Yesus menjadi Raja dalam hidup kita, maka:
* dengan Tuhan kita dapat menanduk para
lawan (=menang terhadap musuh)
** dengan nama Tuhan, kita dapat menginjak-injak orang-orang
yang bangkit menyerang kita (=berhasil menjadi pemenang).
Bukti Yesus sebagai Raja: Matius 1 : 1 dalam silsilah dijelaskan tentang Yesus yang disebut: ANAK DAUD. Daud itu adalah raja Israel yang paling berkenan kepada Allah, jadi kalau disebut anak Daud ini menjelaskan bahwa Yesus itu adalah benar-benar Raja.
Sebenarnya Yesus lahir bukan karena hasil hubungan antara laki-laki dengan perempuan, tetapi sepenuhnya dari Roh Kudus (Matius 1 : 20), jadi sebenarnya tidak perlu ada silsilah. Tetapi untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Raja, maka silsilah itu juga perlu dipakai untuk menjelaskan kepada semua orang bahwa Yesus yang lahir itu adalah benar-benar sebagai Raja. Hal ini perlu supaya jangan ada orang yang ragu tentang Yesus. Tetapi yang dimaksud di sini bukan seperti raja yang ada di dunia ini, tetapi raja dalan arti yang sanggup memberikan kuasa maupun kemenangan kepada kita.
Karena itu NATAL menurut Injil Matius ini sangat perlu kita ketahui, Yesus itu adalah benar-benar seorang Raja yang penuh dengan kekuasaan. Sebagai bukti bahwa Yesus adalah Raja yang berkuasa, dalam silsilah Tuhan Yesus, sebelum IA lahir ke dunia ini ada lima (5) nama perempuan yang diangkat, yaitu TAMAR, RAHAB, RUT, BATSYEBA dan MARIA. Kelima nama ini mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, ada dari latar belakang yang jahat tetapi ada pula dari latar belakang orang yang baik-baik, kelima nama ini terangkat namanya pada saat NATAL yang pertama.

1. TAMAR, gambaran nikah yang hancur dan porak-poranda. Kejadian psl 38 menjelaskan bahwa Tamar itu adalah menantu Yehuda sendiri, yang diambil menjadi istri anaknya. Tetapi karena kedua anaknya itu jahat dimata Tuhan, maka Tuhan membunuh mereka. Lalu Yehuda berjanji akan memberikan Tamar kepada anaknya yang bernama Syela sampai anaknya itu menjadi besar. Tetapi karena Tamar melihat bahwa mertuanya itu tidak menepati janji, maka Tamar menyamar sebagai seorang perempuan dursila dan kemudian bersetubuh dengan mertuanya sendiri, lalu mengandung dan melahirkan.
Sebenarnya jika seorang menantu sampai bersetubuh dengan mertua, ini suatu perbuatan yang sangat memalukan, tidak dikenan oleh Tuhan. Tetapi sekalipun demikian bobroknya rumah tangga itu, pada NATAL yang pertama nama Tamar itu diangkat untuk mengingatkan kita bagaimana kasih Allah yang begitu besar. Allah rindu memperbaiki kembali nikah-nikah yang telah hancur. Karena itu sebobrok apapun rumah tanggamu, ijinkan Yesus lahir dalam rumah tanggamu, maka Ia akan membulihkan keadaanmu.

2. RAHAB, seorang perempuan pelacur di Yerikho, kafir dan tidak termasuk umat Allah, tetapi ia berbeda dengan semua orang yang ada di Yerikho. Kalau Yerikho menutup pintu-pintu gerbangnya terhadap umat Allah, tetapi Rahab mau membuka pintu rumahnya terhadap kedua pengintai Israel. Biasanya seorang pelacur yang paling penting baginya adalah uang, tetapi sekarang ia tahu apa yang paling penting dalam hirupnya, yaitu keselamatan. Setelah ia tahu bahwa Yerikho akan dihancurkan, maka ia mengikat perjanjian dengan kedua pengintai tersebut.
Kedua pengintai itu menunjuk kepada pekerjaan Tuhan dalam Firman dan Roh Kudus-Nya. Maka sekalipun semua penduduk Yerikho tewas oleh pedang, tetapi Rahab dan seisi rumahnya diselamatkan. Karena itu sebagai jemaat Tuhan, mari kita buka hati untuk firman Tuhan dan Roh Kudus, supaya Allah hadir di tengah-tengah kehidupan kita. Tuhan tidak melihat latar belakang kita yang jelek, tatapi yang paling dilihat Tuhan adalah hati yang terbuka terhadap firman.

3. RUT, perempuan Moab, tidak termasuk dari kalangan umat Tuhan. Nama Rut masuk dalam silsilah Tuhan Yesus karena perbuatannya: mau meninggalkan kampung halamannya dan meninggal kan allahnya dan pergi bersama Naomi ke Betlehem serta mengakui Allah Naomi sebagai Allahnya juga. Kalau mau meninggalkan kampung halaman, berarti ia juga telah meninggalkan adat istiadatnya, kebudayaan-nya maupun tradisi nenek moyangnya. Rut ini memang benar-benar memiliki sikap yang patut kita teladani. Puncaknya ia pergi ke pengirikan ke tempat di mana Boas berada dan mengakui keadaannya dan tidak mau menutup-nutupi latar belakangnya yang jelek.

4. BATSYEBA, gambaran perempuan yang tertindas tidak dapat berbuat apa-apa. Sebab karena kecantikannya, ia harus diambil oleh Daud dan menghampirinya. Bahkan ketika Uria mati, ia juga tidak dapat berbuat apa-apa, ia tertindas, ia tertekan, tidak ada yang membela. Tetapi pada Natal yang pertama, kehidupan seperti Batsyeba ini terangkat, dipulihkan kembali, sebab ada yang tampil sebagai Pembela.

5. MARIA, perempuan biasa dan sederhana. Tetapi ia punya sikap yang sangat baik: menempatkan diri sebagai hamba, yang mau taat kepada firman Tuhan (Lukas 1 : 38). Walaupun Maria itu hanya perempuan biasa dan yang sederhana, tetapi ia berhasil menempatkan dirinya sebagai hamba Tuhan (=hamba kebenaran) dan menjadi seorang perempuan yang berkenan di hati Allah. Untuk melahirkan Yesus, yang paling dibutuhkan adalah hati yang mau menempatkan diri sebagai hamba Tuhan. Inilah sikap yang dimiliki Maria, sehingga Elisabet mengakui bahwa Maria itu adalah perempuan yang paling berbahagia dari semua perempuan.

Selasa, 10 November 2009

Buletin Nopember 2009

“LEBIH DARI PEMENANG”

Minggu, 01 Nopember 2009

Saudara-saudara, pada minggu yang lalu kita sudah melihat arti kata “setia” sama dengan “menang”, walaupun ada tantangan, penderitaan maupun pencobaan, tetapi tetap setia mengikuti Tuhan dan tetap tekun melakukan firman-Nya. Inilah yang disebut pemenang!
Yosua 1 : 5 kepada Yosua, Tuhan memberi suatu kepastian tentang kemenangan jika tetap tekun melakukan firman Tuhan. Sebagai seorang pemim-pin bangsa Israel , Tuhan tahu apa yang paling di-butuhkan oleh Yosua sebelum membawa bangsa Israel memasuki tanah Kanaan. Tuhan Allah lebih dahulu memantapkan hati Yosua bahwa tidak akan ada seorang pun yang dapat bertahan menghadapi Yosua seumur hidupnya. Kalau Tuhan mau mem-bangun seorang hamba Tuhan, seorang pemimpin rohani, Ia lebih dahulu memantapkan hati supaya yakin akan penyertaan Tuhan. Demikian juga sebagai jemaat Tuhan, hati kita juga perlu dimantap kan supaya bisa meyakini penyertaan Tuhan.
Yohanes 10 : 27 - 28 yang mendapat jaminan tidak dapat dirampas/direbut dari tangan Tuhan adalah “DOMBA”, berbicara jemaat yang hidup dalam ibadah dan penggembalaan yang benar.
Sikap domba:
- mendengar suara Tuhan = menekuni firman Tuhan.
- setia mengikut Tuhan = setia melakukan firman Tuhan.
Dalam penggembalaan yang benar, kita akan menemukan gambar Kristus sebagai Gembala. Dan sebagai Gembala yang baik :
Yesus telah memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya yang tekun melakukan firmanTuhan.
Jadi dalam penggebalaan yang benar, akan kita temukan gambar Tuhan Yesus yang tampil lewat gambar seorang pemimpin atau gembala jemaat yang hidup dalam terang firman Tuhan. Tuhan yang membangun kita dengan firman-Nya supaya bisa seperti domba tunduk dalam penggembalaan dan tekun melakukan firman Tuhan. Puncaknya firman Tuhan itu akan menyatakan gambar hidup kita yang sebenarnya baik dihadapan Tuhan maupun dihadapan sesama. Supaya ini bisa terwujud, maka sebagai:
- pemimpin yang baik, ia harus hidup dan melayani sesuai dengan firman Tuhan.
- suami yang baik, ia harus dapat mengasihi istrinya dan menjadi teladan yang baik di
di dalam rumahtangganya sendiri.
- istri yang baik, ia harus dapat mengatur rumah tangganya dan patuh kepada suaminya.

Mengerti kehendak Tuhan itu sangat indah.
Yosua 1 : 1 - 3 untuk membangun diri supaya bisa mengerti kehendak Allah, Tuhan membangun kita lewat firman-Nya. Pada dasarnya, Yosua itu hanya seorang hamba/abdi Musa. Tetapi setelah Musa mati, Tuhan memanggil Yosua untuk menggantikan Musa sebagai pemimpin untuk memimpin bangsa Israel memasuki tanah Kanaan. Maka Tuhan Allah membangun Yosua lewat mendidiknya sejak ia masih menjadi seorang abdi Musa supaya berhasil mempunyai ketetapan hati.
Sejak dari awal, Yosua itu adalah seorang yang taat kepada Musa dan kepada Tuhan, ia juga adalah seorang yang tekun melakukan firman Tuhan sejak masa mudanya. Tetapi sekalipun Yosua itu sudah taat sejak ia masih menjadi seorang pembantu, Tuhan juga masih mendidik sampai Yosua itu benar-benar bisa menjadi orang yang dipercayai.
Maka dalam Yosua 1 : 3 kepada Yosua, Allah memberikan suatu pernyataan yang luar bisa tentang kemenangan. Bahwa setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakinya, akan diberikan Allah kepadanya. Ini adalah janji Allah yang juga akan dinyatakan kepada kita, baik sebagai jemaat maupun sebagai hamba-hamba Tuhan. Tuhan Allah akan menyatakan penyertaan-Nya kepada kita ke mana pun kita melangkah. Kalau kepada Yosua, Allah mau memberikan pernyataan yang begitu luar biasa, maka kepada kita pun Allah akan menyatakannya juga.
Hanya syratnya: kita harus bergerak maju, tetap tekun melakukan segala perintah Allah ke mana pun kita melangkah.
Sebab jika Yosua tidak mau bergerak, jika ia puas hanya di tempatnya saja, walaupun Tuhan sudah berjanji bahwa setiap tempat yang akan diinjak kakinya akan menjadi miliknya, kalau tidak bergerak mengikuti kehendak Tuhan, maka ia tidak akan berhak memiliki tanah yang telah dijanjikan.
Arti kata “setiap tempat yang akan diinjak kaki”= ada aktivitas, ada pergerakan ke depan tidak berhenti tetapi melangkah terus sampai kepada akhirnya, berhasil mencapai tujuan.
Maka tidak heran dalam Ulangan 4 : 5 Musa memanggil bangsa Israel dan berkata supaya mereka mengingat segala ketetapan dan peraturan yang telah diajarkan oleh Musa kepada mereka. Ayat 6 = jika mereka melakukan segala ketetapan dan perintah Tuhan itu dengan setia, maka firman itu akan menjadi kebijaksanaan dan akal budi, bangsa-bangsa lain pun akan mengakui bahwa mereka adalah bangsa yang bijaksana dan berakal budi.
Demikian juga jika kita setia melakukan segala perintah dan ketetapan Tuhan dalam firman-Nya, maka firman itu akan membuat kita menjadi orang yang bijaksana dan berakal budi. Sebagaimana bangsa Israel diakui oleh bangsa-bangsa lain, demikian juga orang lain akan mengakui kita seba –gai orang yang bijaksana dan yang berakal budi. Orang yang bijaksana dan yang berakal budi itu pandangannya selalu mengarah ke depan, tidak terpengaruh oleh masa lalunya, tidak terpengaruh dengan penderitaannya, tidak terpengaruh dengan penyakitnya, tetapi terus berjalan mengikut Tuhan dan tekun melakukan firman Tuhan. Kepada LOT dan keluarganya, diperintahkan supaya berlari ke atas gunung dan supaya jangan menoleh ke belakang. Tetapi mereka tidak setia melakukan apa yang diperintahkan oleh malaikat Tuhan, istri Lot karena tidak mampu melepaskan diri dari perkara yang duniawi, menoleh ke belakang. Akibatnya: ia menjadi tiang garam.
Kalau masih memandang ke belakang berarti hatinya masih terikat dengan perkara-perkaran yang duniawi (harta), orang yang seperti ini tidak mungkin pandangannya bisa mengarah ke depan. Dan kalau tidak bisa memandang ke depan Amsal 29 : 18a firman Tuhan bekata: “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.” Wahyu = ada kaitannya dengan perkara-perkara yang akan datang, yang masih di depan dan yang akan terjadi. Jadi setiap orang yang tidak setia melakukan firman Tuhan, ia akan menjadi liar, tidak ada yang mengarahkannya untuk berbuat baik, dan pandangannya tidak mungkin bisa mengarah ke depan untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.
Setelah Allah memberikan suatu pernyataan yang begitu luar biasa kepada Yosua, yaitu janji tentang kemenangan, sebelum Yosua mengalami kemenangan tersebut, ada perintah Allah yang harus diperhatikan, yaitu:
- kuatkan/teguhkan hati.
- jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri.
- jangan melupakan perkataan kitab Taurat
= selalu menekuni firman Tuhan.
Hasilnya: Matius 7 : 24 - 25 orang yang bijaksana itu tahu di mana ia harus mendirikan rumahnya, yaitu di atas dasar batu. Maka sekalipun hujan dan banjir datang dan angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh, sebab sudah didirikan di atas dasar yang benar. Orang yang bijaksana itu punya sikap mendengar dan melakukan firman Tuhan = tekun melakukan firman Tuhan. Karena ia bijaksana, maka pandangannya bisa mengarah ke depan sehingga ia tahu di mana ia harus membangun rumahnya. Sebagai jemaat Tuhan yang hidup diakhir zaman ini, jika kita mau menekuni firman Tuhan dan memiliki sikap seperti Yosua, maka kita juga pasti bisa mempunyai pandangan yang mengarah ke depan, yang membuat kita menjadi orang yang bijaksana dan berakal budi, tahan terhadap segala pencobaan maupun penderitaan. Mendengar dan melakukan firman Tuhan harus menjadi sikap kita. H A L E L U Y A ...!!!



“LEBIH DARI PEMENANG”

Minggu, 08 Nopember 2009

Saudara-saudara, janji kemenangan yang diberikan Tuhan itu tidak tanggung-tanggung, tidak hanya satu hari, tidak hanya satu minggu, tidak hanya satu bulan, tidak hanya satu tahun, dst, tetapi sampai selama-lamanya, sampai Tuhan Yesus datang kembali. Sebab sedikit saja kita menyimpang dari kebenaran, maka kita sendiri akan menanggung akibatnya: tidak akan masuk ke dalam kerajaan sorga.
Yosua 1 : 3, 5 kepada Yosua dan kepada seluruh bangsa Israel, Allah telah memberikan pernyataan yang sangat luar biasa tentang kemenangan atas semua musuh-musuh mereka.
Ayat 3 = janji Allah untuk memberikan tempat = janji tentang kememangan atas semua
musuh mereka.
Ayat 5 = janji Allah, bahwa Allah tidak akan membiarkan dan tidak akan meninggalkan
umat-Nya.
Yang disebut “pemenang” bukan hanya sekedar menang begitu saja, mungkin karena sudah diberkati, sudah disembuhkan, sudah diberi jodoh, sudah mendapat pekerjaan, maka disebut sudah menang. Semua ini memang sudah baik. Tetapi belum cukup, sebab yang disebut dengan pemenang itu adalah: ia harus bisa lebih dari orang-orang yang menang.
Saudara-saudara, sebenarnya kalau dilihat dari segi kemampuan kita sendiri, disebut menang saja sudah syukur, sudah luar biasa. Tetapi firman Tuhan menekankan bahwa sebagai jemaat Tuhan maupun sebagai hamba-hamba Tuhan, kita harus bisa lebih dari orang-orang yang menang. Jadi lewat firman Tuhan, kita juga bisa menerima pernyataan dari Tuhan yang sangat luar biasa seperti yang telah diberikan kepada Yosua. Pernyataan Allah yang luar biasa kepada kita: kita bisa menjadi pemenang lebih dari orang-orang yang menang.
Roma 8 : 34 - 37 firman Tuhan menjelaskan kepada kita tentang keadaan umat Tuhan yang lebih dari orang-orang yang telah menang. Kuncinya: kita harus mengalami kuasa kematian dan kebangkitan. Dalam ayat ini dijelaskan Kristus Yesus telah bangkit dan duduk di sebelah kanan Allah dan menjadi “PEMBELA” bagi kita. Ini berbicara tentang kuasa kematian dan kebangkitan Kristus, sebab jika Kristus tidak mati dan bangkit, maka keselamatan itu tidak mungkin bisa kita miliki. Tetapi karena Kristus Yesus telah mati dan bangkit, maka Ia sendiri yang tampil sebagai Pembela bagi kita untuk menyertai dan untuk memberi kekuatan. Jika Kristus Yesus sudah menjadi Pembela bagi kita, maka:
- tidak akan ada yang bisa melawan kita
- tidak akan ada yang bisa menggugat
- tidak akan ada yang bisa menghukum
- tidak akan ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus.
Baik penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya atau pedang, dan sekalipun selalu berada dalam bahaya maut sepanjang hari dan dianggap sebagai domba-domba sembelihan, namun tidak akan ada yang bisa memisahkan kita dari Kristus. Justru sebaliknya dalam semuanya itu kita bisa menjadi pemenang lebih dari orang-orang yang menang.
Pada zaman akhir ini, masih banyak dari kalangan orang Kristen belum mengalami proses kematian dan kebangkitan seperti yang telah dialami oleh Tuhan Yesus Kristus. Mereka enggan menekuni firman Tuhan dan tidak sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan. Akibatnya mereka tidak mengerti apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup mereka. Sebenarnya yang disebut mengalami proses mati dan bangkit bersama dengan Kristus adalah “mengalami proses kelahiran baru”, ada sikap membuang segala perbuatan-perbuatan yang lama supaya dapat mengenakan sifat-sifat yang baru, yaitu sifat Kristus. Sebab jika kita sudah mati terhadap dosa dan mengenakan sifat Kristus, barulah kita disebut sebagai manusia baru, yang telah diciptakan menjadi manusia baru.
Mengapa kita harus mengalami proses kelahiran baru?
Firman Tuhan dalam Kejadian 3 menjelaskan sebagai akibat setelah manusia jatuh ke dalam dosa:
1. Kehilangan kemuliaan Allah.
2. Diusir dari taman Eden.
3. Tanah menjadi terkutuk.
Kemudian dijelaskan lagi dalam Roma 3 : 23; 6 : 23 akibat dosa bukan hanya kehilangan kemuliaan Allah, tetapi manusia itu sesungguhnya sedang berada di dalam maut. Maka bagi gereja Tuhan, berita tentang kematian dan kebangkitan Kristus ini harus menjadi berita yang paling utama supaya jemaat-jemaat itu bisa mengerti keadaan/posisinya dihadapan Tuhan. Fokus pemberitaan jangan hanya tentang kekayaan, kesembuhan ataupun perkara-perkara yang duniawi, sebab semua ini tidak bisa membawa kepada keselamatan. Keselamatan itu mutlak pemberian Tuhan, anugrah Tuhan yang harus kita kerjakan dengan sungguh-sungguh dengan cara melakukan segala perintah ALlah.
Saudara-saudara, sebelum bangsa Israel merebut kota Yeriko, sebelum mengalahkan rajanya dan rakyatnya, dalam Yosua 5 : 13 Yosua melihat ke atas dan melihat “seorang laki-laki” berdiri di depan nya dengan pedang terhunus ditangan. Kemudian Yosua bertanya: “Kawankah engkau atau lawan?” Laki-laki yang berdiri di hadapan Yosua itu adalah menunjuk kepada pribadi Yesus Kristus yang datang kepada Yosua untuk menunjukkan penyertaan-Nya kepada bangsa Israel. Tuhan Allah sengaja menyatakan diri-Nya sebab sebentar lagi umat Israel akan diperhadapkan dengan kota Yeriko yang tertutup rapat dengan tembok yang tinggi-tinggi.
Ketika Yosua bertanya: “Kawankah engkau atau lawan?” bagi kita ini merupakan suatu koreksi, jika kita sedang berhadapan dengan pribadi Allah, kita harus tahu di mana posisi kita, lawankah kita atau musuh Allah? Maka kalau terjadi suatu koreksi, kita harus tahu mengambil posisi yang benar, yaitu harus menjadi kawan/sahabat Tuhan. Sebab jika menjadi lawan atau musuh Tuhan, maka kemenangan itu tidak mungkin bisa diperoleh, sebaliknya akan mengalami malapetaka. Tetapi jika kita sudah menjadi kawan, maka Tuhan akan memberikan kemenangan yang gilang gemilang, Tuhan akan memberikan penyertaan-Nya dalam setiap waktu. Walaupun dunia ini bagaikan kota Yeriko yang tertutup, segala sesuatu serba sulit, banyak tantangan dan penderitaan, tetapi jika Tuhan sudah bersama dengan kita maka kemenangan itu pasti akan kita peroleh. Tuhan Yesus akan tampil dengan kuasa-Nya untuk memberi kemenangan kepada kita semua.
Yosua 5 : 14 - 15 setelah Yosua mengoreksi diri, Yosua diperintahkan supaya melepaskan kasut sebab tempat itu adalah kudus. Ini berbicara : ada sikap menanggalkan cara-cara/sifat-sifat yang lama.
Inilah hasilnya jika kita mau mengoreksi diri: kita akan dibawa kepada pengudusan hidup. Sebab selama manusia itu masih tetap mengenakan cara-cara hidup yang lama, maka Tuhan tidak akan menyertai sebab dosa itu merupakan kejijikan bagi Tuhan. Walaupun Yosua dan orang-orang Israel itu orang-orang yang gagah perkasa, tetapi Tuhan memberi kemenangan bukan dengan cara mereka sendiri tetapi dengan cara Tuhan sendiri. Yaitu dengan cara menguduskan diri. Demikian juga supaya kita bisa mengalami kemenangan demi kemenangan, kita harus disucikan baik oleh darah Kristus maupun oleh firman Tuhan.
Setelah selesai mengoreksi diri, dalam Yosua 6 : 2 barulah Tuhan berjanji untuk memberikan kemenangan kepada bangsa Israel, bahwa Yerikho beserta dengan rajanya dan rakyatnya akan diserahkan.
Yosua 6 : 3 = cara yang diberikan Tuhan kepada Yosua supaya Yerikho bisa dikalahkan: selama enam hari semua prajurit mengedari/menglilingi kota itu sekali saja, tujuh orang imam membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut, dan pada hari yang ketujuh mereka harus mengelilingi kota itu tujuh kali. Dan sikap selanjutnya mereka harus bersorak dengan nyaring, artinya ada sukacita karena Tuhan, bersorak itu tanda kemenangan. Maka sekalipun Yerikho itu kota tertutup pasti dapat dihancurkan dengan cara Allah. Demikian juga walaupun saudara sedang dalam masalah, dalam penderitaan, tetapi dengan sukacita yang dari Allah pasti menang. Bukti penyertaan Allah dalam hidup kita: dalam penderitaan pun kita bisa mengalami kemenangan demi kemenangan. Haleluya..!



“LEBIH DARI PEMENANG”

Minggu, 15 Nopember 2009


Wahyu 21 : 7, firman Tuhan mengatakan “Barangsiapa menang, ia akan memperoleh sumuanya ini,” yang dimaksud dengan “semuanya ini” menunjuk kepada:
- Yerusalem Baru = sorga
- Menjadi mempelai perempuan Kristus.
Mengapa harus menang?
Firman Tuhan sudah mengatakan bahwa langit yang pertama dan bumi yang pertama ini akan berlalu dan laut pun tidak ada lagi, jadi dunia ini hanyalah tempat yang sementara. Kemudian dalam 2 Petrus 3 : 7 juga telah dikatakan bahwa langit bumi yang lama ini sengaja disimpan untuk disediakan menjadi tempat penghakiman bagi orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang tidak menjadi pemenang. Nasib langit dan bumi yang pertama akan lenyap oleh gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api (ayat 10).
2 Petrus 3 : 11 = menjadi peringatan kepada kita yang hidup diakhir zaman, maka sebagai jemaat Tuhan kita harus hidup saleh dan suci supaya bisa disebut sebagai pemenang. 1 Korintus 15 : 19 jika menaruh pengharapan pada Kristus jangan hanya dalam hidup ini saja, maksudnya hidup ini bukan hanya untuk makan dan minum saja, sebab kalau hanya untuk makan dan minum saja maka akan menjadi orang-orang yang paling malang dari antara manusia.
Percaya kepada Kristus tidak salah, berpengharapan kepada Kristus juga tidak salah, tetapi yang salah adalah kalau berpengharapan hanya supaya diberkati, supaya disembuhkan, supaya diberi jodoh, supaya diberi pekerjaan, dll. Orang yang berpengharapan kepada Kristus harus ditandai dengan ketekunannya dalam melakukan firman Tuhan.
Maka tidak heran, Tuhan Yesus sudah lebih dahulu mengatakan bahwa hanya sedikit saja yang bisa masuk ke dalam sorga. Ini adalah pernyataan langsung dari Tuhan Yesus.
Mengapa hanya sedikit saja yang berhasil?
Dalam Matius 7 : 13 - 14 Tuhan Yesus menjelaskan kepada kita bahwa pintu untuk masuk ke dalam hidup itu sesak (=sempit), inilah yang membuat sehingga sedikit saja yang bisa masuk ke dalamnya. Supaya masuk, kita harus berjuang walaupun harus dengan pengorbanan yang sangat besar. Sebaliknya lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan dan banyak orang yang masuk melaluinya sebab tidak perlu lagi perjuangan.
Saudara-saudara, sorga itu nilainya sangat mahal, bukan murahan, karena itu orang-orang yang bisa masuk ke dalamnya juga adalah orang-orang yang sudah bernilai tinggi. Maksudnya orang-orang yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan, yang mau berjuang melakukan firman Tuhan walaupun mungkin sedang berada dalam berbagai-bagai penderitaan. Justru jika kita bisa setia mengikut Tuhan dan bisa menang walau sedang dalam penderitaan yang berat membuat nilai kita menjadi berharga di mata Tuhan. Inilah yang disebut sebagai pemenang.
Inilah bukti kasih Kristus bagi kita: IA telah mati di atas kayu salib, berjuang untuk memperdamaikan kita dengan Allah. Dalam Efesus 5 : 22 - 23 kasih Kristus itu disejajarkan dengan kasih seorang suami terhadap istrinya, Kristus telah membuktikan kasih-Nya dengan cara menyerahkan diri-Nya dan mati di atas kayu salib untuk dosa-dosa kita.
Demikian juga dalam 1 Yohanes 4 : 10 firman Tuhan menjelaskan kepada kita kasih Allah yang sesungguh nya: IA telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Kalau kita lihat dari ayat ini, tanpa kita minta pun Allah sudah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, tanpa kita minta pun Kristus sudah mati di kayu salib dan memberikan nyawa-Nya bagi kita.
Jadi jika Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar, langkah selanjutnya dari pihak kita: “tunduk” kepada Tuhan seperti istri tunduk kepada suami dalam segala hal. Gereja yang menang itu nampak dari sikapnya, ada ketundukan dalam melakukan firman Tuhan dan selalu setia beribadah kepada Tuhan.
Ibrani 5 : 8 - 9 Tuhan Yesus Kristus sebagai teladan yang sempurna telah membuktikan ketaatan-Nya dan ketundukan-Nya sebagai Anak, yaitu taat sampai mati di atas kayu salib. Dan karena ketaatan-Nya itulah maka Kristus menjadi “pokok keselamatan bagi semua orang” yang mau percaya kepada-Nya. POKOK = patokan/teladan. Maka setiap orang yang disebut Kristen harus membuat Kristus sebagai pokok keselamatan baginya.
Saudara-saudara sebenarnya Tuhan itu tahu bahwa kita tidak mungkin bisa melakukan seperti yang telah dilakukan Tuhan kepada kita. Hanya ini yang diminta Tuhan, kita harus punya sikap “tunduk” kepada Tuhan sama seperti istri tunduk kepada suaminya. Bahkan Tuhan itu juga tahu bahwa sebenarnya kalau hanya dari diri kita saja tidak mungkin bisa tunduk kepada Tuhan, untuk itu Tuhan telah mengutus Roh Kudus-Nya sebagai Penolong dan Penghibur. Roh Kudus ini adalah sarana yang diberikan Tuhan untuk menyertai dan untuk memberikan kekuatan supaya kita mampu hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Roh Kudus itulah yang memampukan supaya kita bisa tunduk kepada Allah dan melakukan firman-Nya.
Dalam Wahyu pasal 2 & 3 supaya kita bisa mengalami kemenangan bersama dengan Kristus ada tujuh langkah yang harus kita miliki, yang diwakili oleh kutujuh jemaat. Dimulai dari jemaat di Efesus, jemaat di Smirna, jemaat di Pergamus, jemaat di Tiatira, jemaat di Sardis, jemaat di Filadelfia yang terakhir kepada jemaat di Laodikia. Kepada ketujuh jemaat itu firman Tuhan selalu mengatakan: “Barangsiapa menang”, bagi kita ini sangat mengandung arti yang sangat besar. Maka dalam mengikut Tuhan, langkah pertama itu sangat menentukan dalam perjalanan untuk langkah selanjutnya sampai kelangkah yang ketujuh: menjadi mempelai perempuan Kristus. Langkah yang pertama kepada jemaat di Efesus, firman Tuhan mengatakan: “Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus.” Ini berbicara janji untuk masuk ke dalam sorga bagi orang-orang yang telah menang, yaitu yang telah membasuh jubahnya (=yang telah menyucikan hidupnya) akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan yang ada di dalam sorga.
Syaratnya: jangan meninggalkan kasih yang mula-mula.
Yang disebut kasih mula-mula itu adalah sejak kita mengalami tanda pertobatan atau tanda kelahiran baru. Praktek kasih mula-mula: mau mengikut dan melayani Tuhan walau pun harus menderita. Kita bisa bertobat, bisa mengalami pengampunan dosa & diperdamaikan dengan Allah bahkan sampai mengalami tanda kelahiran baru, sepenuhnya adalah pekerjaan Kristus. Sebaliknya praktek meninggalkan kasih yang mula-mula: kembali kepada hidup yang lama sehingga tidak mau lagi mengikut Tuhan maupun melayani Tuhan. Jika meninggalkan kasih mula-mula, firman Tuhan mengatakan kejatuhannya sangat dalam, jika tidak mau bertobat maka tidak akan berhak memperoleh hak atas pohon kehidupan.
Kalau kita lihat dalam Lukas 23 : 33 - 43 yang ada di sekitar salib Yesus ada banyak orang, seperti orang banyak, prajurid-prajurid, orang yang di sebelah kanan dan yang di sebelah kiri salib Yesus. Tetapi dari semua itu yang berhak masuk ke Firdaus adalah “orang yang di sebelah kanan” sebab ia punya sikap yang baik, yaitu sadar akan kesalahannya dan mau mengaku Yesus sebagai Raja. Mengaku Yesus sebagai “Raja” sama dengan mengaku Kristus sebagai Mempelai Pria Sorga. Maka orang yang di sebelah kanan Tuhan Yesus itu menjadi orang yang istimewa dari semua orang yang ada di sekitar salib Yesus. Orang yang di sebelah kanan Tuhan Yesus ini menggambarkan kehidupan yang telah mengalami kemenangan, walaupun mengalami banyak pencobaan dan penderitaan tetapi tetap sabar dan tetap berpengharapan kepada Yesus. Puncaknya mampu mengaku bahwa Yesus adalah Mempelai Pria Sorga. HALELUYA ...!!


“LEBIH DARI PEMENANG”

Minggu, 22 Nopember 2009

Yang menang: yang telah diakui sebagai anak, dan yang layak disebut sebagai anak: yang sudah mengalami proses “lahir baru”, yaitu lahir dari benih ilahi. 1 Yohanes 3 : 9 - 10 setiap orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa lagi, sebab benih ilahi, yaitu firman Tuhan sudah ada di dalam hidupnya. Firman Tuhan inilah yang memberi kekuatan supaya kita dapat menolak dosa. Maka setiap orang yang sudah disebut sebagai anak-anak Tuhan akan nampak bukan hanya dari perkataan atau pengakuannya saja, tetapi akan nampak dari sikap dan perbuatannya sehari-hari. Karena itu kalau kita lihat dari 1 Yohanes 3 : 9 - 10 ini yang disebut anak-anak Allah itu tandanya, yaitu:
*tidak berbuat dosa lagi
**dapat mengasihi saudara-saudaranya.

Saudara-saudara pada akhir-akhir ini, dunia ini sedang dihebohkan oleh berita-berita atau filem yang menceritakan apa yang akan terjadi pada tahun 2012 nanti. Banyak orang bertanya-tanya benarkah hal iu akan terjadi pada tahun 2012 nanti? dan banyak juga orang menjadi takut. Namun sebagai jemaat Tuhan, kita tidak perlu bingung, tidak perlu waswas apalagi takut, kita harus tetap memandang kepada firman Tuhan yang dapat menjelaskan kepada kita tentang tanda-tanda akhir zaman. Segala ramalan-ramalan kalau itu di luar kebenaran firman Tuhan, kalau tidak tertulis di dalam Alkitab, itu namanya bohong. Sebab di dalam Alkitab tidak ada disebutkan bahwa Tuhan Yesus akan datang pada tahun 2012, Yesus sendiri tidak tahu, yang tahu hanyalah Bapa. Walaupun dalam kitab Daniel psl 12 firman Tuhan sudah menubuatkan bahwa pengetahuan akan semakin bertambah/berkembang, tetapi tetap saja tidak dapat mengimbangi firman Tuhan. Firman Tuhan itulah di atas segala-galanya.
Setelah disebut sebagai anak-anak Allah, langkah selanjutnya supaya kita bisa disebut “lebih dari pemenang” kita harus tetap disertai Tuhan. Dan supaya disertai Tuhan kita harus senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada Tuhan, sama seperti Yesus yang selalu berbuat apa yang berkenan kepada Bapa. Itulah sebabnya Yesus selalu disetai dan tidak pernah ditinggalkan (Yohanes 8 : 29). Banyak orang Kristen tidak menyadari akan hal ini, bahwa sebenarnya hidupnya sudah ke luar dari kebenaran, sudah mengikuti kemauannya sendiri, mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu sudah bertentangan dengan kehendak Allah. Orang yang seperi ini sudah di luar rencana Tuhan.

Mengapa orang Kristen bisa seperti ini?

Jawabannya: karena di dalam dirinya tidak ada benih ilahi, yaitu firman Tuhan.
Firman Tuhan dalam 1 Tesalonika 5 : 9 - 10 menjelaskan kepada kita bahwa sebenarnya Allah tidak pernah menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus yang sudah mati untuk kita, supaya kita bisa hidup bersama-sama dengan Dia dalam kemuliaan-Nya yang kekal. Bahkan dalam Yeremia 29 : 11 firman Tuhan telah mengatakan bahwa rancangan Tuhan bagi kita bukanlah rancangan kecelakaan, tetapi yang ada adalah rancangan damai sejahtera untuk memberikan hari depan yang penuh dengan kebahagiaan. Tetapi sayang banyak orang Kristen tidak menyadari akan hal ini sehingga mereka tidak sungguh-sungguh beribadah dan tidak mau melakukan apa yang telah diperintahkan Tuhan dalam firman-Nya.
Ibrani 12 : 14 disamping berusaha untuk hidup berdamai dengan semua orang, firman Tuhan juga memerintahkan supaya kita juga “mengejar” kekudusan. Mengapa? sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Bagaimana caranya? 1 Petrus 1 : 22 bahwa ketaatan kepada kebenaran akan menyucikan hidup kita dari segala dosa untuk dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus iklas.
Saudara-saudara, kalau kita bandingkan pribadi kita dengan pribadi Allah, sesungguhnya terlalu jauh dan terlalu besar. Oleh sebab itu sebagai jemaat Tuhan, kita harus mengerti apa yang menjadi rencana atau agenda Tuhan dalam hidup kita. Puncak rencana/agenda Tuhan dalam hidup kita adalah: menjadikan kita sebagai sidang mempelai perempuan Kristus, yang dikuduskan dan disempurnakan.
Mazmur 139 : 16 - 17 firman Tuhan menjelaskan kepada kita tentang rencana Tuhan yang begitu besar dan ajaib.
- selagi bakal anak, Tuhan sudah melihat
atau mengetahui siapa kita kita sebenarnya.
- dalam kitab, semua rencana Tuhan sudah
tertulis tentang kita.
Ayat 17 secara manusia, kita memang tidak mungkin bisa mengerti atau mengetahui pikiran/ rencana Allah yang begitu ajaib. Tetapi sekalipun demikian, dalam ayat 16 telah dikatakan rencana Tuhan itu besar dan mulia, kita bisa mengetahui bahwa Allah sudah punya agenda untuk kita. Mazmur 139 : 1 - 3 bukti dahsyatnya kuasa Tuhan dalam agendanya:
- Tuhan menyelidiki dan mengenal kita
- Tuhan mengetahui kalau duduk atau berdiri
- Tuhan mengerti pikiran kita dari jauh
- Tuhan memeriksa hati kita
- Sebelum lidah mengeluarkan perkataan, Tuhan sudah tahu.
Karena itu kita harus punya sikap: belajarlah mengerti kehendak Tuhan, dan sebelum Tuhan selesai dalam segala pekerjaan-Nya, kita harus sudah siap sedia menyambut kedatangan-Nya yang kedua kalinya. Mari kita lihat Matius 25 : 1 - 13 gadis-gadis yang bodoh terlambat masuk sebab pintu sudah ditutup. Padahal sebelum pintu ditutup, masih ada kesempatan yang besar untuk mempersiapkan diri, tetapi karena tidak mau belajar mengerti kehendak Tuhan akhirnya ia terlambat, pintu pun ditutup.
Tetapi gadis-gadis yang bijaksana, karena mau belajar mengerti kehendak Tuhan, mereka pun tahu mempersiapkan diri dengan cara hidup sesuai dengan firman Tuhan. Akhirnya mereka berhasil menjadi mempelai perempuan Kristus. Dari sini dapat kita lihat bahwa sebenarnya Tuhan yang menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada Tuhan (Mazmur 37 : 23 - 24). Yaitu yang selalu berbuat apa yang berkenan kepada Tuhan.
Saudara-saudara, Mazmur 119 : 126 pekerjaan manusia yang sudah keluar dari kebenaran, atau yang sudah keluar dari agenda Tuhan: “suka merombak Taurat Tuhan” inilah yang membuat sehingga banyak orang tidak segan-segan melakukan kejahatan, dan tidak malu-malu hidup di luar kebenaran.
Tetapi dalam Mazmur 119 : 96 pemazmur sangat menyadari walaupun ia sanggup melihat batas-batas kesempurnaan, tetapi tetap saja menganggap perintah (=firman) Tuhan itu luas sekali. Ini sikap yang sangat baik, sikap dalam menanggapi firman Tuhan harus menganggap firman itu lebih dari segala-galanya.
Contoh yang tidak mengerti agenda/rencana Tuhan, yaitu YEROBEAM.
1 Raja-raja 11 firman Tuhan menjelaskan tentang seorang yang diangkat menjadi raja Israel, walau pun sebenarnya ia tidak berasal dari keturunan Daud, yaitu YEROBEAM bin Nebat, seorang yang tangkas dan sangat rajin bekerja. Firman Tuhan sendiri yang telah berfirman lewat nabi Ahia bahwa suatu saat Yerobeam akan menjadi raja dan kepadanya akan diberikan sepuluh suku Israel. Tetapi Yerobeam ini mempunyai sikap yang tidak baik, yaitu: tidak sabar menanti janji Tuhan dan tidak memandang kepada firman Tuhan.
Karena Yerobeam itu adalah orang yang tangkas dan rajin bekerja, maka ia mendapat perhatian dari raja Salomo dan menjadikannya untuk mengawasi semua pekerja yang wajib dari keturunan Yusuf. Tetapi karena Yerobeam tidak sabar akan rencana/agenda Tuhan, maka ia memberontak terhadap Salomo, sehingga Salomo pun menginginkan kematiannya. Tetapi karena sudah punya agenda kepada Yerobeam, ia tetap menjadi raja dan memperoleh sepuluh suku Israel. Hanya sayang, dalam 1 Raja-raja psl 12, Yerobeam tetap tidak mengerti kehendak Tuhan, justru yang timbul adalah ketakutan yang menghantui pikirannya. Akibatnya ia bertindak di luar kebenaran firman Tuhan, ia berlaku bodoh dengan cara mengganti penyembahan yang benar dengan yang tidak benar. Dengan maksud supaya umat Tuhan itu jangan pergi ke Yerusalem untuk beribadah kepada ALlah yang benar. TIndakan Yerobeam ini menjadi dosa bagi Yerobeam, sehingga ia harus dilenyapkan dari muka bumi. Bahkan yang lebih parah lagi, ia disamakan dengan tahi.
Perbuatan Tuhan selanjutnya kepada Yerobeam:
- Tuhan mendatangkan malapetaka kepada keluarga Yerobeam,
- Tuhan akan melenyapkan dari pada Yerobeam setiap orang laki-laki,
- Tuhan akan melenyapkan keluarga Yerobeam
seperti orang menyapu tahi sampai habis.
Banyak orang Kristen seperti Yerobeam, sudah diselamatkan, sudah diberkati, tetapi tetap saja tidak sabar melakukan apa yang menjadi kehendak Allah, akibatnya harus menanggung akibatnya seperti Yerobeam, tidak masuk rencana Tuhan.