Senin, 05 April 2010

BULETIN - APRIL 2010

“Berpegang Kepada Firman Pengajaran”

Minggu - 28 Maret 2010


Saudara-saudara, yang disebut orang yang paling gagal, yang paling susah adalah mereka yang tidak tinggal di dalam Tuhan. Mengapa? sebab setiap orang yang tidak tinggal di dalam Tuhan, mereka tidak berada dalam kemurahan Tuhan dan tidak layak mendapat jaminan pemeliharaan dari Tuhan. Walaupun secara lahiriah mereka berhasil, limpah dengan harta dengan perusahaan yang besar, memiliki jabatan/pangkat yang tinggi, selalu sehat, dll, tetapi jika tidak tinggal di dalam Tuhan semua yang dimiliki itu tidak bisa memberi keselamatan.
Tetapi menurut firman Tuhan, orang yang paling berbahagia dan berhasil adalah mereka yang tetap tinggal di dalam Tuhan, yang hidup menurut kebenaran firman Tuhan. Sebab sebesar apapun persoalanmu, sehebat apapun penderitaanmu atau separah apapun penyakitmu, jika masih tinggal di dalam Tuhan pasti ada jalan ke luarnya. Tuhan pasti sanggup membuka jalan untuk memberikan pekerjaan, Tuhan sanggup membuat lancar usaha yang macet, Tuhan sanggup mengatasi persoalan dalam rumah tangga, bahkan Tuhan sanggup memberi kesembuhan bagi yang sakit.
Sama seperti bejana, bila bejana itu hancur ditangan pembuat, masih dapat dibentuk kembali menjadi bejana yang lain, tentunya sesuai dengan keinginan pembuatnya. Selagi hidup kita ini masih tetap di dalam Tuhan, masih ada kesempatan untuk diperbaiki sampai sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi jika sudah ke luar dari kehendak Tuhan, maka sudah pasti ia tidak berhak mendapatkan jeminan pemeliharaan Tuhan.
Mazmur 105 : 37 - 45 firman Tuhan menjelaskan kepada kita tentang sejarah perjalanan bangsa Israel ketika mereka keluar dari Mesir. Tuhan menuntun mereka keluar dengan membawa perak dan emas dan tidak ada seorangpun yang tergelincir. Tuhan membentangkan awan menjadi tudung dan api untuk menerangi malam, Tuhan mencukupkan segala kebutuhan mereka burung puyuh didatangkan dan dengan roti dari langit dikenyangkannya mereka, bahkan Tuhan juga membuat air memancar dari gunung batu supaya mereka minum.
Setelah dipadang gurun perak dan emas yang dibawa keluar dari Mesir tersebut menjadi sangat berguna sebab perak dan emas ini menjadi perlengkapan yang dipakai oleh Musa untuk membangun Tabernakel, khususnya alat-alat yang ada di Ruangan Suci dan Ruangan Maha Suci.
Tuhan mengeluarkan bangsa Israel dari Mesir tentu ada maksud dan tujuannya,yaitu:
- supaya mengikuti ketetapan Tuhan dengan setia.
- supaya memegang segala pengajaran-Nya.
Demikian juga berlaku bagi kita sekarang. Tuhan Yesus telah mati di kayu salib sebagai korban penebusan untuk memperdamaikan kita dengan Bapa. Dan oleh korban tersebut, Tuhan Yesus telah melepaskan kita dari perbudakan dosa sama seperti bangsa Israel yang dilepaskan dari Mesir. Bahkan Tuhan Yesus juga bersedia memberkati, dari hari kehari Ia memelihara kita dan selalu menjaga supaya jangan ada seorangpun yang tergelincir. Pekerjaan Tuhan dalam memberikan keselamatan itu tidak tanggung-tanggung, sekali berkorban Ia mau memelihara kita terus sampai kepada kedatangannya-Nya, tentu dengan syarat kita juga harus tetap setia mengikuti Tuhan dengan cara beribadah dalam penggembalaan yang di dalamnya ada firman Tuhan yang hidup, yang dapat memberi kekuatan dan pertumbuhan rohani yang baik.
Saudara-saudara, kalau Tuhan sudah melakukan hal-hal yang sedemikian besar tentu ada maksud dan tujuan Tuhan dan sudah pasti ada yang diinginkan oleh Tuhan dari hidup kita, yaitu:
- supaya kita juga tetap setia mengikuti Tuhan,
setia melakukan segala ketetapan-Nya.
- supaya kita juga mau berpegang teguh kepada
firman pengajaran dan hidup sesuai rencana-Nya
yaitu menjadi kudus dan sempurna.
Dan puncak rencana Tuhan dalam hidup kita adalah supaya kita sama seperti Kristus, kudus dan sempurna adanya. Untuk itulah Yesus Kristus rela mati dikayu salib, Ia mau berkorban untuk kita dan menjagai kita siang dan malam supaya kita berhasil menjadi sidang mempelai perempuan Kristus, yang dikuduskan dan disempurnakan.
Biasanya kalaupun ada orang yang keluar dari rencana Tuhan, mencoba melupakan pengajaran-Nya, yang pertama-tama datang adalah teguran. Tetapi kalau masih tetap tidak mau kembali kepada Tuhan, maka Tuhan akan menghajar kita dengan cara-Nya sendiri. Semua ini dilakukan untuk membuktikan kasih setia dan perhatian-Nya kepada kita.
Ibrani 12 : 5 - 6 menjelaskan kasih Tuhan itu sama seperti seorang bapa terhadap anaknya. Kalau anak itu sudah mulai menyimpang, biasanya seorang bapa akan memperingatkan supaya sadar, tetapi kalau belum sadar-sadar juga maka ia akan menghajar anaknya bahkan tidak segan-segan menyesah anaknya demi untuk mendatangkan kebaikan. "Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." (Ibrani 12 : 5 - 6). Jadi kalaupun Tuhan memperingatkan kita, menghajar bahkan menyesah kita, ingat itu semua untuk membuktikan Kasih Kristus bagi kita yang besar, Ia tidak mau seorangpun yang tergelincir dan jatuh. Tuhan mau supaya hidup kita ini benar-benar hanya menjadi milik-Nya sendiri.
Maka kalau kita lihat dalam Yohanes 1 : 12 yang diakui sebagai anak-anak Allah itu tidak semua orang dan tidak sembarang orang. Yang bisa diakui sebagai "anak-anak Allah" adalah mereka yang lahir bukan dari darah dan daging tetapi mereka yang sudah lahir dari Allah. Disebut berasal dari Allah karena di dalam dirinya ada firman kebenaran.
Arti kata “menyesah” sedikit sudah mengarah kepada menyiksa. Sekalipun demikian, seorang bapa tahu kemampuan anaknya, semua dilakukan demi kebaikan anaknya supaya cepat-cepat bertobat dan berbalik. Sekalipun ia menyesah anaknya, tetapi ia tahu batas sampai dimana ia harus melakukannya, ia menyesah bukan karena menginginkan kematian anaknya. Untuk mengembalikan seorang yang telah jauh dari kebenaran, pertama-tama Tuhan akan memperi-ngatkannya, tetapi kalau tidak bertobat maka Tuhan akan menghajarnya. Tetapi kalau tidak bertobat juga maka Tuhan akan menyesahnya dengan cara Tuhan sendiri supaya kembali ke jalan yang benar. Mungkin lewat penyakit, usaha tumpur, atau dengan cari lain.
Jadi jika kita harus menanggung ganjaran, berarti Tuhan sedang memperlakukan kita sebagai anak. Wahyu 3 : 19 kalau Tuhan memberi tegoran bahkan menghajar kita, sikap kita: menerimanya dengan kerelaan dan mau bertobat dari cara-cara hidup yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kalau Tuhan menghajar kita, Ia sedang membuktikan kasih-Nya yang mau bertanggung jawab atas keselamatan kita. Dan kalau Tuhan mau memberikan pengajaran-Nya, ini menjadi bukti Tuhan mau bertanggung jawab untuk memelihara kita dengan firman-Nya supaya kita bisa hidup kudus dan sempurna menjadi sidang mempelai perempuan Kristus.
Ulangan 33 : 12 dari kedua belas anak-anak Yakub ada satu orang yang sangat berbeda dengan yang lain, yaitu Benyamin yang bersaudara kandung dengan Yusuf, satu bapa dan satu ibu. Khusus tentang Benyamin, Yakub berkata: “Kekasih Tuhan yang diam pada-Nya dengan tenteram! Tuhan melindungi dia setiap waktu dan diam di antara lereng-lereng gunung.”
Tuhan sendiri yang mengakui Benyamin itu sebagai kekasih-Nya yang diam dengan tenteram , mengapa? sebab Tuhan melindungi dia setiap waktu.

Kelebihan Benyamin dari saudaranya yang lain:
- tidak turut serta dengan saudara-saudaranya yang
menyakiti dan yang menjual Yusuf
- tidak pernah punya kasus dengan Yusuf

Maka tidak heran yang diterima Benyamin “lima kali” lebih banyak dari saudaranya yang lain, bahkan kepada Benyamin, Yusuf memberikan lima potong pesalin sedangkan kepada yang lain hanya satu potong saja (Kejadian 43 : 29, 34; 45 : 22). Bahkan Yusuf sendiri mengakui Benyamin itu sebagai anaknya.
Yusuf itu adalah gambaran firman pengajaran, sedangkan Benyamin adalah gambaran gereja Tuhan yang jadi mempelai.
Jadi kalau Benyamin mendapat “lima potong pesalin”, angka “lima” disini mengandung arti: lima jabatan dari Roh Kudus yang berguna untuk memperlengkapi dan mempersiapkan gereja Tuhan menjadi sidang mempelai perempuan Kristus. Jadi setiap orang yang mau seperti Benyamin, yaitu yang mau menghargai firman pengajaran, yang tidak menganggap asing akan firman pengajaran, mereka inilah yang akan diperlengkapi oleh Roh Kudus untuk dipersiapkan menjadi mempelai perempuan Kristus, siap menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kali.
Karena itu jangan menganggap asing firman pengajaran, jangan tiru sikap kakak-kakak Yusuf yang iri melihat Yusuf, benci kepada Yusuf bahkan yang ingin membunuh Yusuf. Ingat jika engkau membenci firman pengajaran, berarti engkau sedang membuat dirimu sendiri berperkara dengan Tuhan, engkau sedang punya kasus dengan Tuhan. Kalau tetap seperti ini, maka Tuhan tidak akan pernah membuat engkau dan menyebut engkau sebagai kekasih-Nya.




“KASIH TUHAN LEBIH DARI HIDUP”

Minggu - 04 - April 2010


Puji Tuhan Saudara-saudara, kita patut bersyukur kepada Tuhan yang masih memberikan perpanjangan umur hingga pada saat ini. Ini semua tentu karena kemurahan Tuhan saja, Dia yang telah memberikan perpanjangan umur dan yang selalu memberikan firman-Nya supaya kita tetap waspada dan selalu berjaga-jaga dalam menantikan kedata-ngan Tuhan. Karena itu kita harus tetap berpegang kepada Firman Pengajaran Mempelai Alkitabiah yang sudah kita terima selama ini. Lewat firman pengajaran ini kita telah melihat bagaimana kebesaran kasih Tuhan yang sangat luar biasa, Ia telah memberikan firman-Nya untuk mempersiap kan dan memperlengkapi kita menjadi jemaat.
Menurut kitab Ibrani 5 ada dua (2) hal yang sangat perlu kita perhatikan: ada asas-asas pertama yang bisa membawa kita kepada keselamatan, kemudian kita harus beralih kepada perkembangannya yang penuh, yang bisa membawa kita kepada kedewasaan penuh, yaitu menjadi dewasa rohani.
Mazmur 36 : 6 - 7 kasih Tuhan itu sampai ke langit, setia Tuhan itu sampai ke awan, keadilan Tuhan itu seperti gunung-gunung. Dalam ayat ini bisa kita lihat betapa besar dan betapa berharganya kasih Tuhan tersebut, tidak ada kasih seperti kasih Tuhan kita. Di dunia ini tidak ada yang sanggup melepaskan manusia dari dosa-dosanya kalau bukan karena kasih Tuhan.Maka sebagai jemaat Tuhan, kita harus punya sikap: harus selalu haus akan kasih Tuhan, selalu haus akan firman Tuhan.
Jadi kalau datang ke gereja untuk beribadah yang pertama-tama kita rindukan adalah kasih Tuhan, jangan hanya mencari berkat jasmani.Kalau datang beribadah tanpa didasari dengan kasih, datang dengan kosong maka pulang juga pasti dengan kosong. Mengapa? sebab ia datang beribadah bukan untuk merebut kasih Tuhan.
Maka Mazmur 63 : 1 - 2 firman Tuhan menjelaskan sikap yang benar kalau datang kepada Tuhan: mencari Tuhan harus dengan jiwa yang haus. Sebab biasanya kalau seseorang itu haus pasti ada sikap mencari dengan serius, demikian juga kalau haus akan firman Tuhan , haus akan kasih Tuhan, datang ke gereja pasti dengan sikap yang benar yaitu beribadah untuk mendapatkan kasih Tuhan. Itu sebabnya Daud berkata: kasih setia Tuhan itu lebih baik dari pada hidup. Saudara-saudara perlu kita ketahui, mengikut Tuhan di dalam kekuatan kasih mempunyai kekuatan yang pasti, kokoh dan tidak akan tergoyahkan oleh apapun. Maka kalau ada hamba Tuhan yang tidak rela menderita, kalau ada jemaat Tuhan yang tidak tahan mengikuti Tuhan, perlu dikoreksi bagaimana kepengikutannya, mungkin kasihnya kepada Tuhan tidak ada lagi di dalam dirinya. Kalau ada hubungan yang mulai renggang, baik hubungan suami istri/dalam rumah tangga maupun dalam berjemaat, harus cepat-cepat disadari penyebabnya tentu karena di dalamnya tidak ada lagi kasih. Seorang suami kalau sudah kurang mengasihi istri demikian juga kalau seorang istri kurang mengasihi suaminya, sudah pasti hubungan dalam rumah tangga itu kurang harmonis, masing-masing akan mengambil jalannya. Dana kalau tetap seperti ini, maka rumah tangga itu sudah dekap kepada kahancuran.
Oleh sebab itu firman Tuhan dalam Kolose 3 : 14 menekankan supaya kita tetap “mengenakan kasih” ada tiga (3) tahap fungsi kasih kalau sudah kita kenakan dalam hidup kita baik dalam rumah tangga maupun dalam berjemaat :
- kasih itu sebagai pengikat
- kasih itu yang mempersatukan
- kasih itu juga yang menyempurnakan.

Pratek kasih itu memang berat dan besar harga yang harus dibayar. Tetapi kalau kita berhasil merebut kasih Tuhan, maka kasih inilah yang dapat mendorong kita dan membawa kita lebih dekat dengan Tuhan, kita diikat menjadi satu dengan Kristus. Mengapa? sebab kasih itulah yang dapat mengikat kita atau mempersekutukan kita dengan Tuhan dan yang menyempurnakan kita sehingga menjadi sama dengan Kristus, menjadi sidang mempelai perempuan-Nya.
Karena itu kalau kita sudah masuk ke dalam kasihnya Tuhan, maka ada tiga (3) poin penting yang akan kita alami, yaitu kita akan memiliki tiga keberanian percaya:

1). kita berani menghadapi hari penghakiman (1 Yohanes 4 : 17 - 18).

Walaupun inti dari hari penghakiman itu adalah penghukuman, tetapi jika kita sudah berada di dalam kasih, kita tidak perlu takut akan hari penghakiman. Mengapa Adam takut kepada Tuhan Allah? padahal pada waktu itu mereka masih berada di taman Eden dan tidak kekurangan akan sesuatu. Mereka takut kepada Allah karena pada waktu itu dosa mereka belum diselesaikan. Demikian juga kalau dosa kita belum diselesaikan, maka kitapun akan menjadi takut dan tidak akan berani menghadapi hari penghakiman. Seseorang yang dosanya atau pelanggarannya belum diselesaikan, biasanya takut masuk gererja, takut datang beribadah kepada Tuhan. Biasanya orang seperti ini selalu merasa tidak layak, meresa tidak layak itu memang perlu, tetapi jangan karena dosa. Tetapi syukur kepada Tuhan, setelah Kristus mati di kayu salib, oleh korban Kristus ini mari kita selesaikan segala dosa kita dan rebutlah kasih Tuhan supaya segala ketakutan itu lenyap dari dalam hidup kita. Sebab kalau segala dosa sudah diselesaikan maka kita akan beroleh keberanian percaya akan hari penghakiman. Jangan anggap enteng akan dosamu, jangan anggap remeh akan ibadah, dan jangan tunggu hari esok. Sekarang! setelah menerima firman Tuhan, cepat-cepat bertindak datanglah kepada Tuhan.

2. keberanian percaya untuk mendekati Allah (1 Yohanes 3 : 21 - 24).

Pada zaman sekarang ini banyak orang tidak berani meminta kepada Tuhan, atau meminta juga tetapi dibarengi dengan keragu-raguan. Kalau ada orang Kristen takut dan ragu meminta kepada Tuhan, tentu ada penyebabnya karena adanya dosa-dosa yang belum dibereskan. Biasanya orang seperti ini sering dituduh oleh hatinya sendiri sehingga tidak beroleh keberanian percaya mendekati ALlah (=tidak berani datang beribadah kepada Tuhan). Tetapi kalau kita sudah berada di dalam kasih Tuhan, apalagi kalau kita sudah menuruti segala perintah Tuhan dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya, kita tidak perlu lagi takut meminta kepada Tuhan. Jika kita sudah menuruti perintah Tuhan dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya, kita akan beroleh keberanian meminta kepada Tuhan dan Tuhan pasti akan memberikannya. Ini janji firman Tuhan yang dikatakaan oleh Tuhan Yesus dalam Yohanes 14 : 15 jika kita mengasihi dan menuruti segala perintah Tuhan, Ia akan menyertai kita sampai selama-lamanya.Tetapi kalau kita lihat sekarang ini, banyak orang meminta dan berdoa kepada Tuhan tetapi tidak disertai dengan berbuat apa yang berkenan kepada Tuhan. Meminta tanpa didasari dengan menuruti firman Tuhan, doanya tidak akan dikenan oleh Tuhan.
Bagi kita keberanian untuk percaya dan meminta kepada Tuhan mungkin perkara yang besar dan sulit rasanya, tetapi ketika kita datang dengan kasih, ketika ada kerelaan menuruti segala perintah Tuhan dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya, maka keberanian percaya untuk mendekati Tuhan pasti ada dalam hidup kita. Sama seperti bangsa Israel, kalau Mezbah sudah dibangun dan kalau korban sudah dibakar diatasnya, tidak ada ceritanya Tuhan tidak hadir di tengah-tengah mereka. Asal datang kepada Tuhan dengan disertai dengan korbanyang benar, Tuhan pasti berkenan hadir. Kecuali mezbahnya Kain, memang Kain juga mendirikan mezbah bagi Tuhan dan membakar korban diatasnya, tetapi Tuhan tidak berkenan kepadanya, mengapa? sebab ia datang tidak disertai dengan kasih.
Matius 7 : 7 - 8 rahasia keberhasilan : meminta kepada Tuhan pasti akan diberikan.
Jadi kita tidak perlu takut meminta kepada Tuhan, Ibrani 4 : 16 firman Tuhan mengajar supaya kita berani meminta kepada Tuhan, tetapi berani yang dimaksud bukan tanpa arah, tetapi berani karena sudah mengasihi Tuhan lebih dahulu.

3. Kita beroleh keberanian percaya untuk menyambut
kedatangan Tuhan (1 Yohanes 2 : 28 - 29).

Bagaimana caranya supaya kita tidak takut menyambut kedatangan Tuhan?
1. Selesaikan dahulu segala dosa dan pelanggaran, 1 Yohanes 1 : 9 kalau mengaku maka Tuhan pasti akan mengampuni kita dari segala dosa dan menyucikan kita dair segala kejahatan.
2. Rebutlah kasih Tuhan, tinggallah di dalam kasih-Nya itu, maka Tuhan akan hadir dalam hidupmu dan akan memberikan keberanian untuk menyambut kedatangan-Nya yang kedua kali.
Maka sekalipun dahulu kita memang hidup di dalam dosa-dosa dan pelanggaran-pelanggaran, asal kita mau datang kepada Tuhan dan dengan jujur mengakui segala dosa maka Ia pasti mengampuni segala dosa kita. Inilah yang membuat sehingga kita beroleh keberanian percaya untuk menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kali.
Untuk itu dalam Efesus 4 : 11 - 12 Tuhan Yesus sudah memberikan rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala dan pengajar-pengajar (=lima jabatan dari Roh Kudus) yang berfungsi untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, yaitu bagi pembangunan tubuh Kristus. Tujuannya: supaya gereja Tuhan itu berhasil mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Yang berarti : sempurna. Karena itu kita harus tetap waspada persoalan berat yang dihadapi jemaat, bukan hanya persoalah kurang makan dan kurang minum, tetapi menghadapi pengajaran-pengajaran yang palsu. Karena itu hiduplah dalam ibadah dan penggembalaan yang benar, lakuna firman Tuhan dan jadikan kasih Tuhan itu lebih berharga dari segala sesuatu yang ada di dalam duni ini. Maka Tuhan pasti akan berkenan dalam hidupmu. H A L E L U Y A ............!!!!!!!!!!



“KUASA KEBANGKITAN KRISTUS”

Minggu - 11 April 2010


Puji Tuhan Saudara-saudara, Kristus telah mati dan bangkit bagi kita semua, kematian dan kebangkitan-Nya ini menjadi berkat bagi kita semua. Kita beribadah pada hari Minggu, sebab hari Minggu adalah hari yang pertama tiap-tiap minggu, yang juga menjadi “hari kebangkitan” Tuhan Yesus dari antara orang mati. Itu sebabnya bagi kita umat Tuhan, beribadah itu adalah “tanda” kebebasan atau kelepasan dari perbudakan dosa.
Sama seperti bangsa Israel selama 430 tahun di Mesir tidak bisa beribadah kepada Tuhan dengan bebas sebab Firaun tidak mengijinkan mereka beribadah kepada Tuhan Allah. Karena perbudakan yang berat itu maka berseru-serulah bangsa Israel kepada Tuhan memohon supaya diberi kelepasan, dan Tuhan Allah mendengar seruan mereka. Maka Tuhan berfirman kepada Musa supaya mengadakan PASKAH, sebab lewat PASKAH ini Tuhan mau melepaskan mereka dari tangan Firaun (Keluaran pasal 11 & 12).

- Bagi bangsa Israel PASKAH itu adalah tanda kelepasan dari perbudakan Mesir supaya mereka bisa beribadah kepada Tuhan dan pergi ke tanah Kanaan. Demikian juga kepada kita sekarang, PASKAH itu merupakan tanda bahwa kita telah bebas dari dosa, bebas dari ikatan kuasa-kuasa kegelapan.
- Sedangkan bagi orang Mesir, PASKAH itu adalah tanda penghukuman, sebab lewat PASKAH Tuhan membunuh semua anak sulung di Mesir, baik anak sulung manusia maupun anak sulung segala hewan.

Paulus sebagai rasul Kristus yang paling dikehendaki ialah: mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Keyakinan rasul Paulus: “supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” (Filipi 3 : 10 - 11)
Mengapa demikian?
Sebab setelah Paulus mengenal Kristus dalam kuasa kematian dan kebangkitan-Nya:
- dapat mengubah pandangannya,
- dapat mengubah cara hidupnya,
- dapat mengubah cara beribadah melayani Tuhan ke arah yang tepat dan benar.
Bahkan yang lebih hebat lagi lewat pengenalannya itu : Paulus tidak lagi mempertahankan kebenaran diri sendiri.
Keadaan Paulus sebelum mengenal Kristus: disunat pada hari kedelapan, bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, orang Farisi, penganiaya jemaat dalam mentaati hukum Tuurat tidak bercacat (ayat 5 - 6). Tetapi setelah Paulus mengenal Kristus dalam kuasa kematian dan kebangkitan-Nya, sekarang semua kebanggaannya itu telah dianggapnya menjadi “sampah.” Sehingga apa yang dahulu merupakan keuntungan baginya, sekarang dianggap rugi karena Kristus yang lebih utama. Termasuk pelayanannya, jabatannya, bahkan kebenaran diri sendiri, semua itu sudah dianggapnya menjadi sampah.
Saudara-saudara, ada satu hal yang sangat perlu kita ketahui: setiap orang yang masih mempertahankan kebenaran diri sendiri, ia tidak mungkin bisa mengenal Kristus dalam kuasa kematian dan kebangkitan-Nya. Mengapa? sebab Kristus tidak akan menyatakan diri-Nya kepada mereka.
Walaupun beribadah, walaupun melayani Tuhan bahkan walaupun suka berkorban, tetapi kalau tetap mempertahankan kebenaran diri sendiri, semua itu menjadi tidak berguna. Sama seperti Paulus, sebelum mengenal Kristus, ia menjadi seorang penganiaya jemaat, suka membunuh orang-orang yang percaya kepada Kristus, ia menganggap pekerjaannya itu berkenan kepada Tuhan. Mengapa bisa demikian? Sebab ia melakukan semua itu karena kebenarannya sendiri, karena hukum Taurat bukan karena firman Tuhan.

Karena itu supaya kita bisa mengenal Kristus dalam kuasa kematian dan kebangkitan-Nya, kita harus diubah lebih dahulu, dari yang selama ini menaruh percaya kepada hal-hal yang lahiriah, yang selama ini suka mempertahankan kebenaran diri sendiri, sekarang kita harus menaruh percaya kepada firman Tuhan. Tanda keubahan itu wajib kita miliki jika ingin mengenal Kristus dengan tepat dan benar, sebab jika tidak maka tidak mungkin seseorang itu bisa mengenal Tuhan apalagi mengenal Dia dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Hal ini sulit baginya. Kita bisa melihat pada zaman sekarang ini masih banyak orang yang meragukan tentang kematian dan kebangkitan Yesus, akibatnya mereka tidak sungguh-sungguh beribadah maupun melayani dan mereka suka mempertahankan kebenaran diri sendiri.
Sebagai jemaat Tuhan, kita harus percaya bahwa Yesus telah mati dan bangkit dari antara orang mati. Kematian-Nya adalah untuk melepaskan kita dari dosa dan maut, supaya kita bisa beribadah dengan benar. Sedangkan kebangkitan-Nya adalah untuk memberikan kuasa dan kemenangan kepada kita, supaya kita bisa berjalan terus mengikuti gerak Tuhan dalam firman pengajaran-Nya. Bagi kita kuasa kematian dan kebangkitan Kristus dapat mengubah kita dari kebenaran diri sendiri.

Dalam Alkitab kita bisa melihat contoh orang yang suka mempertahankan kebenaran diri sendiri, yaitu AYUB. Sebenarnya Ayub ini adalah seorang yang saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan (Ayub 1 : 1). Tetapi sekalipun demikian dalam Ayub 10 : 1 - 7 firman Tuhan juga menjelaskan ternyata Ayub masih memiliki kelemahan. Saudara-saudara tidak usah heran kalau orang seperti Ayub masih punya kelemahan, ini membuktikan bahwa sesaleh-salehnya manusia kalau tidak tetap di dalam kebenaran, kesalehan manusia itu bisa menjadi tidak berarti. Apalagi kalau pengenalannya tidak sampai mengenal Kristus dalam kuasa kematian dan kebangkitan-Nya, kesalehan seseorang itu tidak berarti.

Kelemahan Ayub adalah:
- suka mempertahankan kebenaran diri sendiri
- menganggap dirinya lebih benar dari pada Tuhan

Ayub berkata kepada Tuhan: “Jangan mempersalahkan aku; beritahukanlah aku, mengapa Engkau berperkara dengan aku.” (ayat 2). Dari ayat ini dapat kita lihat Ayub suka mempertahankan kebenarannya sendiri. Karena Ayub suka mempertahankan kebenaran diri sendiri, kelemahannya ini berkembang terus sampai-sampai Ayub itu berani menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah. Saudara-saudara, sesaleh apapun manusia itu, kalau dibandingkan dengan Tuhan, kesalehan manusia itu belum ada apa-apanya. Karena itu sebagai jemaat Tuhan, jangan coba-coba mempertahankan kebenaran diri sendiri.

Akibat kalau mempertahan kebenaran diri sendiri:
- merasa bosan hidup
- ada kepahitan di dalam hati
Hal ini bisa kita lihat dalam Ayub 10 : 1, Ayub sendiri yang berkata: “Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku.” Jadi jelas Ayub dalam kesalehannya pun bisa merasa bosan hidup, bahkan memiliki kepahitan dalam hatinya.

Maka bagi kita, lewat kematian dan kebangkitan Kristus dari antara orang mati menjadi bukti Ia mau melepaskan kita dari kebenaran diri sendiri dan mau memberikan kuasa kepada kita. Efesus 1 : 19 - 20; Kolose 1 : 18 Tuhan Yesus telah mati tetapi bangkit lagi, karena kebangkitan-Nya itu maka dikatakan hebat kuasa-Nya, tentu tidak kepada semua orang tetapi hanya bagi orang yang percaya kepada-Nya. Kepada setiap orang yang sudah mengenal Kristus dalam kuasa kematian dan kebangkitan-Nya, ia juga akan mengalami kebangkitan bersama-sama dengan Kristus, bahkan ia akan hidup walaupun ia sudah mati.
Itu sebabnya bagi kita PASKAH itu mengandung arti yang sangat besar dan membawa berkat yang besar pula :
- PASKAH itu memberi kelepasan
- PASKAH itu memberi kemenangan
- PASKAH itu membawa berkat yang besar
Puncaknya: lewat korban Kristus dalam PASKAH kita telah dibebaskan supaya bisa beribadah kepada Tuhan dan supaya kita jangan hanya menaruh percaya kepada hal-hal yang lahiriah saja. Kolose 1 : 18 Kristus telah bangkit dari antara orang mati menjadi kepala tubuh, yaitu jemaat, manjadi yang sulung sehingga Ia yang lebih utama dari segala sesuatu. Jadi dalam kuasa kebangkitan-Nya, Ia telah membuktikan bahwa Dialah kepala jemaat, Dialah Mempelai Pria Sorga yang sanggup membawa kita kepada kesempurnaan, yaitu menjadi sidang mempelai perempuan Kristus. Bagi Dialah segala kemuliaan, segala hormat, segala keagungan, kegala kekayaan dan segala kuasa sampai selama-lamanya. Amin.



“KUASA KEBANGKITAN KRISTUS”

Minggu - 18 April 2010

Puji Tuhan! Pada hari minggu yang lalu kita sudah melihat bagaimana kuasa kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus yang luar biasa. Firman Tuhan mengatakan: “Betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya , sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga.” (Efesus 1 : 19 - 20). Jadi kematian dan kebangkitan Kristus dari antara orang mati menjadi bukti IA berkuasa atas maut, IA berkuasa atas kematian. Karena Yesus sudah mati dan bangkitlah, maka dikatakan “betapa hebat kuasa-Nya.” Sehingga lewat kematian dan kebangkitan-Nya ini, IA mau memberikan kelepasan kepada kita semua, yaitu kelepasan dari dosa dan maut.
Tujuannya: supaya kita bisa beribadah kepada Tuhan tanpa ada ikatan lagi.

Kalau sudah mengalami kuasa kematian dan kebangkitan Kristus, ada tiga (3) poin penting yang akan kita alami, yaitu:

1. Dapat mengubah seseorang supaya tidak lagi mempertahankan kebenaran diri sendiri.

Pada hari Minggu yang lalu sudah diterangkan bagaimana Paulus yang diubahkan setelah mengenal Kristus dalam kuasa kematian dan kebangkitan-Nya, sekarang berada dalam Kristus bukan lagi dengan kebenarannya sendiri karena mentaati hukum Taurat melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus. Paulus rela melepaskan apa yang dahulu merupakan kebanggaan baginya, sekarang dianggapnya menjadi sampah (Filipi 3 : 5 - 11).

2. Kuasa kematian dan kebangkitan Kristus telah melahirkan kita kembali.

Dapat kita lihat dalam 1 Petrus 1 : 3 “..........yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.” Jadi lewat kuasa kematian dan kebangkitan Kristus, IA telah melahirkan kita kita kembali supaya kita mempunyai pengharapan. Dan lewat kuasa kematian dan kebangkitan Kristus ini, kita telah diubahkan dari orang berdosa menjadi orang yang memiliki pengharapan baru. Sama seperti Paulus, yang dahulu seorang penganiaya jemaat, seorang yang ganas, tetapi setelah mengenal Kristus, sekarang ia rela menderita dalam pelayanan supaya berita Injil tentang keselamatan itu sampai kepada semua orang.

Pengharapan yang akan kita miliki itu ialah untuk menerima :
- bagian yang tidak dapat binasa
- bagian yang tidak dapat cemar
- bagian yang tidak dapat layu
Yang sekarang sedang tersimpan di sorga bagi kita yang telah mengalami kelahiran kembali oleh kuasa kematian dan kebangkitan Kristus.

Sebaliknya kalau seseorang itu belum mengalami kelahiran kembali, atau tanda keubahan hidup sesungguhnya ia disebut belum punya pengharapan. Walapun ia disebut orang Kristen yang beribadah ataupun melayani, tetapi kalau belum mengenal Kristus dalam kuasa kematian dan kebangkitan-Nya, ia belum memiliki pengharapan yang baru.
Contoh: NIKODEMUS, dalam Yohanes 3 : 1 - 6 Nikodemus adalah seorang pemimpin agama Yahudi yang datang kepada Yesus dan menunjukkan kekagumannya karena ia melihat Yesus dapat mengadakan tanda-tanda yang ajaib. Ia menyangka Yesus senang dengan perkataannya tersebut. Tetapi kepada orang seperti Nikodemus, Tuhan Yesus memberikan satu motifasi bahwa “lahir kembali” itu sangat penting.
Ketika Tuhan Yesus berkata: “Sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Lahir kembali = lahir dari air dan Roh. Tetapi sayang, orang seperti Nikodemus tidak dapat menanggapinya perkataan Tuhan Yesus dengan baik, ia tidak mengerti apa arti lahir kembali. Kepada Nikodemus, Tuhan Yesus memberikan satu motifasi bahwa kelahiran kembali itu adalah suatu keharusan kalau ingin masuk ke dalam kerajaan sorga. Inilah pengharapan baru tersebut, yang tidak dapat cemar, yang tidak layu dan yang tidak dapat binasa, yang disediakan Tuhan khusus kepada orang-orang yang sudah mengalami kelahiran kembali. Tentunya lewat mengalami proses mengenal Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya.
Sebaliknya setiap orang yang belum mengalami tanda kelahiran kembali, tidak mungkin bisa memiliki pengharapan, apalagi untuk berharap kepada perkara-perkara yang rohani.

3. kita dijadikan menjadi “suatu kerajaan” dan “imam-imam” bagi Allah.

Firman Tuhan dalam Wahyu 1 : 5 - 6 menjelaskan lewat kuasa kematian dan kebangkitan Kristus, kita akan dijadikan menjadi “suatu kerajaan” dan “imam-imam” bagi Allah. Disebut menjadi suatu kerajaan : karena sudah diberi kuasa untuk memerintah, diberi kuasa untuk mengalahkan segala tipu muslihat iblis. Gereja Tuhan yang sudah menjadi suatu kerajaan inilah yang akan dilindungi Tuhan dan yang akan dipeli-hara sampai Ia datang kembali.
Disebut menjadi imam-imam bagi Allah karena :

- sudah dipisahkan (=dikuduskan) dan dikeluarkan dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib supaya dapat melayani Tuhan (1 Petrus 2 : 9).

- sudah dipilih dan dikhususkan untuk memegang jabatan imam (Keluaran 28 : 1; 29 : 1).

- sudah ditetapkan untuk melayani karena sudah dikehendaki sendiri oleh Yesus supaya menjadi rasul-rasul (Markus 3 : 13 - 14).

Sedangkan keistimewaan seorang imam:
1. seluruh hidupnya hanya untuk Tuhan.
Dalam bahasa asli disebut “KOHEN” yang artinya: setelah mengalami kuasa penebusan oleh darah Kristus, seluruh hidupnya hanya untuk beribadah dan melayani Tuhan.
2. imam itu sebagai perantara, yaitu yang menjadi pengantara antara jemaat dengan Bapa. Sifatnya menjadi orang yang suka membawa damai ditengah-tengah jemaat atau dalam pelayanan.
3. seorang yang memangku jabatan dalam pelayanan dan yang diberi tanggung jawab untuk melayani.

Menurut firman Tuhan, jabatan imam yang benar adalah yang diberi langsung oleh Tuhan kepada seseorang yang bisa dipercaya untuk melayani dengan benar. Untuk memangku jabatan imam itu tidak semudah seperti seseorang yang memegang jabatan dalam sebuah perusahaan. Mengapa? sebab jabatan ini menyangkut keselamatan jiwa, berhasil atau tidaknya jemaat masuk ke dalam sorga juga ditentukan oleh imam yang melayani di gerejanya. Itu sebabnya seorang yang diberi jabatan imam dalam suatu pelayanan, ia sedang memangku tanggung jawab yang besar supaya jemaat yang dilayaninya berhasil masuk ke dalam kerajaan sorga.
Organisasi gereja memang bisa saja mengangkat seseorang menjadi imam di dalam gereja, tetapi kalau hidupnya tidak berkenan kepada Tuhan, pelayanannya itu hanya untuk manusia, bukan untuk Tuhan. Beda dengan seorang imam yang langsung diangkat oleh Tuhan, pelayanannya bukan hanya kepada manusia tetapi terlebih lagi kepada Tuhan.
Dalam pelayanan, yang disebut imam bukan hanya dari kalangan pendeta saja, tetapi jemaat-jemaat pun bisa disebut sebagai imam-imam asal mau melayani dengan sungguh-sungguh. Sekecil apapun pelayanan itu jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, sangat berarti bagi Tuhan. Seorang imam yang benar, seluruh hidupnya hanya untuk beribadah dan melayani Tuhan. Kalaupun bekerja atau berusaha dan mendapatkan berkat jasmani, itu bukan tujuan hidup yang sesungguhnya, semua itu harus dipakai supaya kita bisa beribadah dan melayani Tuhan. Jadi tujuan kita yang paling utama adalah supaya kita layak masuk ke kota Yerusalem yang baru, menjadi mempelai perempuan Kristus. Karena itu sebagai jemaat Tuhan, perhatikan hidupmu dan hiduplah dalam ibadah dan penggembalaan yang benar supaya engkau juga dijadikan sebagai imam-imam bagi ALlah kita. Jangan puas hanya menjadi jemaat biasa saja, tetapi harus aktif, tingkatkan terus kerohanianmu supaya engkau juga diangkat oleh Tuhan menjadi suatu kerajaan dan imam bagi Tuhan kita Yesus Kristus.
Jemaat-jemaat yang tidak mau dijadikan menjadi suatu kerajaan dan menjadi imam-imam, apalagi kalau tidak mau beribadah, nasibnya tidak jauh beda dengan binatang. Nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, sama-sama mengalami kematian, sama-sama mempunyai nafas, sama-sama dari debu tanah dan kedua-duanya menuju satu tempat, yaitu kematian (Pengkhotbah 3 : 18 - 20). Bahkan firman Tuhan begitu tegas mengatakan: manusia tidak mempunyai kelebihan atas binatang kalau tidak mau dijadikan menjadi suatu kerajaan dan imam-imam bagi Tuhan. Nasibnya: karena namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan, dilemparkan ke dalam lautan api, itulah neraka (Wahyu 20 : 14 - 15).
Itu sebab kita patut bersyukur kepada Tuhan, Ia telah mati di atas kayu salib dan telah memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan untuk mengangkat kita supaya menjadi berarti bagi Tuhan. Lewat kematian dan kebangkitan-Nya itu, Ia mau mengangkat kita menjadi suatu kerajaan dan menjadikan kita sebagai imam-imam bagi Allah, diberi kesempatan untuk melayani Tuhan dan sesama jemaat. Marilah dalam dalam suasana PASKAH ini kita lebih mendekatkan diri lagi kepada Tuhan, lakukan firman Tuhan dan jadilah sebagai jemaat atau sebagai hamba Tuhan yang tergabung dalam pembangunan tubuh Kristus, untuk mempersiap kan hidup kita supaya layak menjadi sidang mempelai perempuan Kristus. HALELUYA......!!!!!!



“KEBANGKITAN KRISTUS”

Minggu - 25 April 2010


Yohanes 20 : 1 Yesus bangkit dari antara orang mati pada hari pertama tiap-tiap minggu, tepatnya pada hari Minggu. Itu sebabnya hari Minggu itu menjadi hari untuk beribadah bagi kita, menjadi hari kemenangan bagi setiap orang yang sudah mengalami kebangkitan Kristus.
Walaupun pagi-pagi benar Maria Magdalena pergi ke kubur untuk melihat kubur Yesus, ia melihat bahwa batu yang dipakai untuk menutup kubur Yesus itu telah diambil dari kubur dan bahwa kuburan Tuhan Yesus telah terbuka. Ayat 3 - 10 ketika Petrus dan murid yang lain sampai ke kubur Yesus dan menjenguk ke dalam, mereka tidak menemukan lagi mayat Tuhan Yesus sebab IA sudah bangkit dari antara orang mati.
- kain kapan telah terletak di tanah
- kain peluh yang tadinya ada dikepala Yesus tidak terletak
dekat kain kapan itu, tetapi agak disamping ditempat
lain dan sudah tergulung.


Setelah melihat semua itu maka Petrus dan murid yang lain itupun menjadi percaya, sebab selama ini mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa IA harus mati tetapi bangkit kembali pada hari yang ketiga.
Padahal Tuhan Yesus, sebelum IA mati di kayu salib telah memberitahukan kepada murid-murid-Nya baik tentang penderitaan-Nya, tentang kematian-Nya dan tentang kebangkitan-Nya.
1. Matius 16 : 21 - 23 pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus, Yesus mulai menyatakan bahwa IA harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan.
Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan yang dipikirkan manusia.” (ayat 22 - 23). Petrus tidak mengerti tentang jalan salib sebab ia tidak sanggup menderita. Setiap orang yang tidak mengerti tentang jalan salib, ia disejajarkan dengan iblis sebab iblis selalu mencoba memberi janji-janji yang indah, bukan penderitaan.

2. Matius 17 : 22 - 23, pemberitahuan kedua tentang kematian Tuhan Yesus dan tentang kebangkitan-Nya, hati murid-murid menjadi sedih sekali. Mengapa? sebab mereka tidak sanggup menerima penderitaan tersebut.

3. Matius 20 : 17 - 19, pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.” Pada pemberitahuan yang ketiga ini, Tuhan Yesus sengaja memanggil kedua belas murid-Nya dengan tujuan untuk menguatkan hati mereka sebab sebentar lagi Yesus akan ditangkap dan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, Ia akan diolok-olokkan, disesah dan disalibkan.

4. Matius 26 : 1 - 5, pemberitahuan keempat tentang penderitaan Yesus, imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi sudah berkumpul di istana Imam Besar yang bernama Kayafas. Dengan maksud dan tujuan: untuk merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia bukan pada waktu perayaan sebab mereka tahu bahwa akan ada keributan diantara rakyat. Khusus pada pemberitahuan yang keempat ini, Yesus sengaja memanggil kedua belas murid-Nya dan memberitahukan apa yang akan dialami setelah Yesus selesai dengan segala pengajaran-Nya. Jadi sebelum Yesus memberitahukan apa yang akan dialami, Ia lebih dahulu membekali murid-murid dengan firman pengajaran dengan tujuan supaya mereka semua mengerti apa maksud dan rencana Tuhan dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Yesus tahu bahwa sejak pemberitahuan yang pertama, yang kedua dan yang ketiga, murid-murid itu belum juga mengerti mengapa Yesus harus diserahkan supaya mengalami kematian tetapi pada hari yang ketiga akan bangkit pula. Tetapi pada pemberitahuan yang keempat ini Tuhan Yesus ingin memberikan suatu kepastian kepada murid-murid-Nya, baik tentang kematian-Nya maupun akan kebangkitan-Nya.

Saudara-saudara, pengalaman murid-murid ini sering sekali terjadi ditengah-tengah jemaat. Banyak orang yang sudah mengaku sebagai orang Kristen, yang mengaku percaya kepada Yesus, tetapi mereka sama seperti pengalaman murid-murid: tidak mengerti tentang kematian dan kebangkitan Kristus. Menurut banyak orang, kalau mengikut Yesus itu harus senang selalu senang, maunya jangan ada penderitaan apalagi soal kematian, banyak orang langsung merasa ngeri.
Itu sebabnya dalam 1 Korintus 1 : 18, 23, 24 firman Tuhan telah mengatakan bahwa pemberitaan tentang salib itu adalah suatu kebodohan, mereka menganggap berita tentang salib itu adalah berita yang tidak begitu penting untuk diketahui. Karena itu banyak orang yang tidak mau tahu dan menutup telinga jika mendengar berita tentang penderitaan yang akan dialami. Padahal dibalik berita tentang salib Kristus ini begitu besar rahasia firman Tuhan yang terkandung di dalamnya yang perlu kita pahami.
Yaitu bahwa :
- pemberitaan tentang salib itu adalah kekuatan Allah untuk menyelamatkan manusia
dari
dosa dan maut
- dibalik berita tentang salib Kristus ini ada kekuatan dan hikmat Allah
- lewat berita tentang salib Kristus ini, Ia mengangkat orang bodoh dan orang yang lemah
untuk mempermalukan orang-orang pintar di dunia ini.
Karena itu dalam 1 Tesalonika 1 : 5 firman Tuhan mengatakan bahwa Injil yang diberitakan itu (=yaitu berita tentang salib Kristus dalam kuasa kematian dan kebangkitan-Nya) disampaikan kita bukan dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Tujuannya: supaya jangan ada seorang pun yang ragu apalagi tidak percaya akan kuasa firman Tuhan. Tuhan rindu supaya kita menjadi penurut-penurut Tuhan yang selalu setia di dalam ibadah dan penggembalaan.
Roma 8 : 9 = firman Tuhan mengatakan supaya kita jangan hidup menurut daging tetapi menurut Roh, sebab setiap orang yang sudah memiliki Roh Kristus, ia adalah milik Kristus. Sebaliknya setiap orang yang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.
Roma 8 : 10 = jika Kristus sudah ada di dalam hidup kita, tubuh memang berdosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Kemudian dalam Roma 8 : 11 jika Roh Kristus sudah diam di dalam kita, akan menghidupkan juga tubuh kita yang fana ini.

Kita dihidupkan supaya:
- tidak melakukan yang cemar ( 1Tesalonika 4 : 7).
- tidak tawar hati (1 Korintus 4 : 16)
- dijadikan menjadi suatu kerajaan dan imam-imam bagi Allah (Wah 1 : 5 - 6)

Maka dalam Mazmur 23 : 1 - 6 dikatakan Tuhan itu adalah gembala yang baik dan kita adalah domba-domba-Nya : dibaringkan di padang yang berumput hijau, dibimbing ke air yang tenang untuk mendapatkan ketenangan.
Ada kalanya domba-domba itu dibawa ke tanah daratan tetapi ada pula kalanya domba-domba itu dibawa ke tanah perbukitan. Di tanah dataran untuk mendapat kan air yang tenang untuk menikmati berkat-berkat jasmani. Di tanah perbukitan untuk mendapatkan rumput-rumput yang hijau dan yang segar, walaupun di atas bukit itu banyak binatang buas, tetapi karena ada gembala, domba-domba itu tetap merasa aman. Demikian juga jika kita sudah hidup di dalam ibadah dan penggembalaan yang benar, Tuhan akan memberi jaminan dan ketenangan untuk selama-lamanya. H A L E L U Y A .............!!!!!!!!

Senin, 08 Februari 2010

Buletin Februari 2010

“B E R J A G A - J A G A”

Minggu - 07 Februari 2010

Saudara-saudara, kedatangan Tuhan yang kedua kali tidak ada seorang pun yang tahu saatnya, baik malaikat-malaikat, hanya Bapa saja. Pada waktu Tuhan Yesus berada di dunia ini, selama dalam pelayanan-Nya, Ia selalu merahasiakan saat tentang kedatangan-Nya. Kalau berita tentang tanda-tanda akhir zaman maupun tanda-tanda kedatangan-Nya sudah diberitahukan kepada murid-murid-Nya, tetapi khusus hari/saat kedatangan-Nya masih dirahasiakan.
Mengapa harus dirahasiakan?
Supaya setiap orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan yang sedang menanti-nantikan kedatangan-Nya tahu mempersiapkan diri dengan cara: hidup sesuai dengan firman Tuhan. Tuhan Yesus sengaja merahasiakan tentang kedatangan-Nya supaya di dalam diri kita ada sikap berjaga-jaga yang benar.
Kalau kita lihat dalam Matius 24 setelah melihat pelajaran tentang pohon ara, selanjutnya pelajaran yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya adalah pelajaran tentang “berjaga-jaga”. Hal ini sangat penting kita perhatikan, sebab tidak semua orang bisa berjaga-jaga atau mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kali. Kalau Tuhan Yesus lebih dahulu memberitahukan pelajaran tentang pohon ara dan setelah itu barulah pelajaran tentang berjaga-jaga, ini mengandung arti yang sangat besar. Sebab yang bisa berjaga-jaga adalah mereka yang sudah lebih dahulu mengalami tanda keubahan hidup, yang sudah mengalami tanda pembaharuan dari sehari ke sehari, yang sudah diubahkan menjadi sama seperti sifat-sifat Kristus.
Wahyu 21 : 2, 9 gereja yang berhasil menjadi sidang mempelai itu ditampilkan bagaikan pengantin perempuan, yang berhias dan berdandan untuk suaminya. Inilah yang layak menjadi istri/ mempelai Anak Domba.
Maka supaya bisa jadi mempelai perempuan Kristus harus lebih dahulu mengalami tanda keubahan:
- dari orang berdosa diubah menjadi
orang yang dibenarkan.
- dari orang yang sudah dibenarkan di-
ubah menjadi orang yang disucikan.
- dari orang yang disucikian diubah lagi
menjadi orang yang disempurnakan.
Sesudah mengalami tanda keubahan hidup, barulah kita bisa berjaga-jaga dengan baik. Berjaga-jaga yang benar menurut firman Tuhan: hidup sesuai dengan firman Tuhan, taat dan dengar-dengaran akan firman Tuhan.

Contoh berjaga-jaga yang benar:

1. NUH (ayat 38 - 39).

Ketika Allah memutuskan hendak memusnahkan segala makhluk di bumi, Allah memberi perintah kepada Nuh supaya membangun bahtera dari kayu gofir tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya, dan bahtera itu harus dibuat bertingkat bawah, tengah dan atas (Kejadian 6 : 13 - 17).
Nuh diperintahkan supaya membangun bahtera sebab Tuhan punya rencana bahwa bahtera itu adalah sarana untuk menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari air bah yang akan meliputi seluruh bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit. Tetapi Nuh dan keluarga nya mendapat kasih karunia dimata Tuhan. Karena Nuh mau membangun bahtera itu tepat seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya, maka Nuh dan keluarganya yang masuk ke dalam bahtera itu selamat dari air bah, semuanya mempelai. Bahkan binatang-binatang yang masuk ke dalam bahtera itu juga berpasang-pasangan.
Nuh dan keluarganya yang berhasil selamat dari air bah ini adalah contoh kehidupan yang berhasil berjaga-jaga dalam suasana kerajaan sorga, dikatakan dalam suasana kerajaan sorga karena disamping membangun bahtera ia juga tetap hidup sesuai dengan firman Tuhan. Yang artinya: hidup yang sudah memiliki persekutuan yang benar dengan Tuhan, baik dalam terang firman Tuhan, dalam persekutuan dengan Roh Kudus maupun dalam doa dan penyembahan. Bagi kita sekarang, bahtera Nuh ini mengandung arti yang besar, yakni kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Dalam skema Tabernakel:

1. Tingkat bawah = Halaman :
- percaya atau menerima Yesus sebagai Tuhan dan
Juruselamat (=Pintu Gerbang)
- bertobat atau mengalami tanda keubahan
hidup, diperdamaikan dengan Tuhan (=Mezbah Korban Bakaran)
- dibabtis yang benar baik dengan air maupun
dengan Roh Kudus (Kolam Pembasuhan & Pintu Kemah).

2. Tingkat Tengah = Ruangan Suci:

- Ada persekutuan dengan firman Tuhan (Meja Roti)
- Ada persekutuan dengan Roh Kudus (Pelita)
- Ada persekutuan dengan Bapa dalam doa dan penyembahan (Mezbah Dupa).

3. Tingkat Atas = Kesempurnaan:

- Diubahkan dari orang yang disucikan menjadi orang
yang disempurnakan, layak disebut menjadi mempelai
perempuan Kristus (Ruangan Maha Suci)

Maka jelas kita lihat di luar bahtera Nuh tidak ada seorang pun yang selamat dari air bah. Demikian juga orang Kristen yang tetap berjaga-jaga seperti Nuh, yaitu yang berjaga-jaga dalam suasana kerajaan sorga akan selamat dari murka Allah yang akan datang menimpa dunia ini. Karena itu tetaplah hidup dalam persekutuan yang benar dengan Tuhan, tetap lah setia melakukan firman Tuhan supaya Tuhan berkenan akan kehidupan kita.

2. Berjaga-jaga sambil berada di ladang Tuhan (Matius 24 : 40).

Setelah Tuhan Yesus mengangkat Nuh dan keluarga nya sebagai contoh berjaga-jaga yang benar, contoh kedua berjaga-jaga yang benar adalah berjaga-jaga dengan tetap setia di ladang Tuhan. Ladang di sini bukan berbicara ladang secara hurufiah, tetapi berbicara ladang Allah yaitu pelayanan. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 3 : 9b berkata: “Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.”
Jadi yang dimaksud dengan berjaga-jaga sambil berada di ladang Tuhan adalah berjaga-jaga sambil melayani Tuhan, tetap setia melayani sampai Tuhan datang kali yang kedua. Kalau tidak setia, maka akan tergenapilah apa yang telah dikatakan dalam Matius 24 : 40 “Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.”
Yang dibawa itu adalah mereka yang tetap berjaga-jaga dengan cara setia melayani Tuhan, tetap tekun menantikan kedatangan Tuhan walau berat resiko yang harus dihadapi. Sedangkan yang lain itu akan ditinggal kan, walau pun sudah berjaga-jaga tetapi kalau tidak setia melayani Tuhan, juga akan ditinggalkan.
Matius 20 : 1 - 16 Tuhan Yesus mengangkat satu perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur dengan kesepakatan upah sedinar sehari. Dari semua pekerja itu ada yang masuk pagi-pagi benar, ada yang masuk pukul sembilan, ada yang masuk pukul dua belas, ada yang masuk pukul tiga petang dan ada pula masuk pada pukul lima petang. Dan ketika tuan itu hendak memberi upah masing-masing satu dinar, ia lebih dahulu memberi upah kepada yang masuk pukul lima, yang bekerja hanya satu jam, setelah itu datanglah yang masuk terdahulu juga dengan upah satu dinar. Karena itu timbullah sungut-sungut diantara mereka yang masuk terdahulu, lalu mereka pun iri hati melihat yang masuk pukul lima petang yang bekerja hanya satu jam. Ini adalah contoh pelayan-pelayan atau hamba-hamba Tuhan yang gagal masuk ke dalam kerajaan sorga, tidak layak menerima upah di sorga.

Maka sikap yang harus kita miliki supaya bisa berjaga-jaga sambil tetap melayani Tuhan:
* melayanilah tanpa iri hati kemudian
** melayanilah dengan taat dan setia.
Kalau kedua sikap ini sudah kita miliki, maka yakinlah kita pasti berhasil berjaga-jaga sambil menanti-nantikan kedatangan Tuhan dengan tetap setia melayani.
Haleluya...!!


“BERJAGA - JAGA”

Minggu - 14 Februari 2010

Saudara-saudara, berada di ladang Tuhan merupakan suatu kemurahan Tuhan saja. Demikian juga jika kita bisa berada dalam pelayanan, ini juga merupakan suatu kemurahan, hanya karena keper-cayaan Tuhan saja. Sebab kalau dilihat dari latar belakang masing-masing, sebenarnya kita tidak layak untuk disebut sebagai jemaat Tuhan apalagi untuk melayani Tuhan. Apalagi kalau kita bisa masuk ke dalam gerak pelayanan dalam pembangunan tubuh Kristus, ini merupakan kasih karunia Tuhan yang sangat besar, patut kita hargai dan kita junjung tinggi. Sebab jika kepercayaan itu datangnya dari Tuhan, harus dilakukan dengan taat dan setia. Dan kalau sudah masuk ke ladang Tuhan, kita harus mengerjakan tugas yang telah di percayakan Tuhan itu dengan sepenuh hati dan dengan kasih.
Karena itu kalau kita sudah diberi kesempatan untuk bekerja di ladang Tuhan, melayani dalam gerak firman pengajaran untuk pembangunan tubuh Kristus ada beberapa sikap yang harus kita waspadai, yaitu:


- melayani jangan dengan sombong
- melayani jangan dengan sungut-sungut
- melayani jangan dengan iri hati/cemburu


Berikut ini contoh-contoh yang melakukan tugas /pelayanan tanpa di dasari dengan kasih, yaitu ketika raja Ahazia mengirim utusan-utusan untuk meminta petunjuk kepada Tuhan lewat perantaraan nabi Elia, pada waktu itu Elia sedang duduk di atas puncak bukit.

- 2 Raja-raja 1 : 9 - 10 Perwira yang pertama dengan kelima puluh anak buahnya, berkata kepada Elia: “Hai abdi Allah, raja bertitah: Turunlah!”
Perwira yang pertama ini datang kepada Elia tetapi tidak dengan sikap yang baik melainkan dengan sikap kesombongan, di dalam dirinya tidak ada rasa hormat dan takut akan Tuhan. Dia memang melakukan tugas yang diperintahkan kepadanya, tetapi tidak disertai dengan sikap yang benar. Ia lebih takut kepada raja Ahazia (=kepada manusia) dari pada kepada Tuhan. Akibatnya: api yang dari langit memakan habis perwira yang pertama itu dengan kelima puluh anak buahnya.

- 2 Raja-raja 1 : 11 - 12, Perwira yang kedua juga datang kepada Elia dengan kelima puluh anak buahnya. Tetapi kalau kita lihat perwira yang kedua ini lebih sombong lagi dari pada perwira yang pertama tadi. Kata perwira yang kedua itu kepada nabi Elia: “Hai abdi Allah, beginilah titah raja: Segeralah turun!” Dalam perkataannya itu ada kata “segeralah turun”, arti kata “segeralah” merupakan suatu pemaksaan, ia datang kepada Elia dengan sikap sombong, bahkan lebih sombong dari pada perwira yang pertama tadi. Kalau kita lihat dari perkataannya di atas, dapat kita lihat di dalam dirinya benar-benar tidak ada rasa takut akan Tuhan sehingga ia tidak dapat menghargai hamba Tuhan yang diurapi. Akibatnya: nasibnya sama dengan perwira yang pertama tadi, sama-sama dimakan oleh api yang turun dari langit. Walau pun perwira yang kedua ini melakukan tugasnya, tetapi karena didasari dengan sikap sombong, maka perbuatannya itu tidak memberikan hasil yang baik.

- 2 Raja-raja 1 : 13 - 14 Karena kedua perwira yang pertama dan yang kedua tidak berhasil membawa nabi Elia bertemu dengan raja Ahazia, maka raja Ahazia mengutus perwira yang ketiga juga dengan kelima puluh anak buahnya. Kalau kita lihat perwira yang ketiga ini sangat jauh berbeda dengan kedua perwira tersebut di atas. Kalau kedua perwira itu melakukan tugasnya dengan kesombongan, tidak menghargai hamba Tuhan, tetapi perwira yang ketiga ini datang dengan sikap yang benar, yaitu dengan sikap merendahkan diri sambil memohon kemurahan. Sebelum ia berbicara dengan Elia, terlebih dahulu ia “berlutut” di depan Elia kemudian berkata: “Ya abdi Allah, biarlah kiranya nyawaku dan nyawa kelima puluh orang hamba-hamba ini berharga di matamu.” Ini merupakan sikap yang baik, yang sangat berkenan kepada Tuhan sehingga nyawanya dan nyawa kelima puluh anak buahnya tertolong. Kalau datang kepada Tuhan untuk memohon petunjuk, harus disertai dengan rasa takut akan Tuhan, dengan sikap meredahkan diri, jangan dengan sombong. Maka Tuhan akan menunjukkan kemurahan-Nya, nyawa kita berharga dimata-Nya.

Kalau kita lihat dari ketiga perwira tersebut di atas, yang berhasil melakukan tugasnya dengan sikap yang baik dan benar hanyalah perwira yang ketiga. Perwira yang pertama dan yang kedua ini adalah gambaran : orang-orang yang mengerjakan pekerjaan dengan kesombongan yang di dalam dirinya tidak ada rasa hormat, baik kepada Tuhan mau pun kepada hamba-hamba Tuhan. Setiap orang yang tidak melakukan tugasnya dengan baik, nasibnya akan sama seperti kedua perwira tersebut, nyawanya tidak berharga di mata Tuhan.
Tetapi perwira yang ketiga, karena di dalam dirinya ada rasa takut akan Tuhan dan menghormati Elia sebagai nabi yang dipakai Tuhan, ia tertolong, nyawanya dan kelima puluh anak buahnya berharga di mata Tuhan.

Perwira yang ketiga ini adalah gambaran kepada pelayan-pelayan atau hamba-hamba Tuhan yang mengerjakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, tidak dengan sungut-sungut atau dengan iri hati, sepenuhnya dilakukan dengan tanggung jawab yang benar sebagai hamba.

Saudara-saudara, kalau kita lihat kembali Matius 20 : 1 - 16 dari semua orang-orang yang diberi kesempatan bekerja di ladang, mulai dari yang masuk terdahulu sampai kepada yang masuk terakhir, banyak dari antara mereka yang diakhiri dengan sungut-sungut, iri hati melihat yang masuk terakhir. Padahal dalam ayat 1 dijelaskan, yang mencari pekerja-pekerja itu adalah pemilik ladang itu sendiri, bahkan sebelum bekerja kesepakatan untuk mendapat upah satu dinar telah disepakati bersama-sama. Tetapi mengapa masih ada rasa iri hati atau cemburu di antara mereka? penyebabnya: karena tidak menghargai kemurahan Tuhan.
Ini berbicara pekerjaan Tuhan yang telah memanggil dan memilih kita untuk melayani di ladang Tuhan.
Demikian juga dalam Yohanes 15 : 16a Tuhan Yesus berkata: “Bukan kamu yang memilih Aku,tetapi Akulah yang memilih kamu.” Jadi jelas bukan kita yang lebih dahulu memilih Tuhan, tetapi Tuhanlah yang lebih dahulu memanggil dan memilih kita dan diberi kesempatan untuk bekerja di ladang Tuhan. Karena itu patutlah kita menghargai kemurahan Tuhan yang begitu besar ini, Ia telah memanggil dan memilih kita menjadi umat kepunyaan-Nya.
Roma 3 : 10 - 11 firman Tuhan menjelaskan siapa kita dan bagaimana latar belakang kita yang sebenarnya sebelum dipanggil dan dipilih Tuhan. Pada dasarnya tidak ada seorang pun yang benar, tidak ada seorang pun yang mencari Tuhan, semua telah menyeleweng dan tidak berguna. Tetapi syukur kepada Tuhan, Ia telah memilih kita dan memberi kesempatan untuk bekerja di ladang-Nya. Karena itu baik sebagai jemaat Tuhan mau pun sebagai hamba Tuhan, mari kita hargai kesempatan ini dengan cara bekerja dengan sebaik-baiknya, penuh tanggung jawab, tanpa sungut-sungut mau pun kesombongan. Bekerja di ladang Tuhan itu adalah anugrah Tuhan bukan karena kebaikan kita.
Matius 21 : 28 - 32 kita bisa melihat contoh dua orang anak yang sama-sama diberi kesempatan untuk bekerja di kebun anggur.
- anak yang sulung, di mulut nampaknya baik, nampaknya penurut, tetapi dalam prakteknya tidak mau melakukan tugas yang telah dipercakan kepadanya. Ini adalah contoh yang tidak menghargai kemurahan Tuhan.
- anak yang kedua, di mulut memang sempat membantah perintah bapanya, tetapi kemudian ia menyesal lalu bertobat, kemudian ia pergi melakukan perintah bapanya dengan penuh tanggung jawab. Anak yang kedua ini melayani dengan kasih. Ini adalah contoh orang yang menghargai kemurahan Tuhan, yang disertai dengan tanda keubahan hidup. Walau pun pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal itu dari latar belakang yang najis dan kotor, tetapi karena mau bertobat dan mau melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan, hidup mereka lebih baik bahkan lebih benar dihadapan Tuhan dari pada orang-orang Farisi mau pun ahli-ahli Taurat.
Karena itu kalau kita sudah diberi kesempatan bekerja di ladang Tuhan, mari kita hargai dengan sebaik-baiknya. Hiduplah dalam ibadah dan penggembalaan yang benar, dan melayanilah dengan tahbisan yang benar, maka Tuhan akan berkenan akan hidup kita.



“BERJAGA - JAGA”

BEKERJA MEMBERI BUAH.

Minggu - 21 Februari 2010

Saudara-saudara, bekerja di ladang Tuhan merupakan kasih karunia Tuhan. Kalau diberi kesempatan melayani di ladang Tuhan, ini adalah anugrah yang besar yang harus kita hargai dengan sebaik-baiknya. Apalagi kalau melayani dalam gerak firman pengajaran dalam pembangunan tubuh Kristus, ini adalah benar-benar kesempatan yang harus kita hargai dengan sebaik-baiknya. Karena itu kalau Tuhan sudah memberi kesempatan bekerja di ladang Tuhan, bekerjalah dengan taat dan setia sampai menghasilkan buah-buah yang baik.
Filipi 1 : 22b rasul Paulus berkata:“Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” Dari ayat ini kita lihat kalau diberi kesempatan untuk hidup, itu berarti harus bekerja supaya menghasilkan buah, dan buah yang dimaksut adalah buah-buah yang baik. Tuhan tidak pernah mengharapkan sesuatu dari kehidupan orang yang tidak tinggal di dalam Kristus. Sebab Tuhan tahu, tidak mungkin mereka bisa menghasilkan buah-buah yang baik.
Tetapi yang diharapkan Tuhan adalah dari kehidupan yang sudah tinggal di dalam Kristus, yaitu yang hidup di dalam firman. Maka kalau sudah bekerja di ladang Tuhan, ada sikap yang perlu kita perhatikan: sebagai hamba jangan selalu menuntut hak, Tuhan pasti akan memberkati dan memperhatikan asalkan kita mau bekerja dengan sepenuh hati sampai menghasilkan buah-buah yang baik.
Saudara-saudara, kembali kita melihat Matius 20 : 1 - 16 ketika Tuhan Yesus memberikan satu perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur, ini merupakan pelajaran penting yang harus kita ketahui. Sebab dari pelajaran ini dapat kita ketahui bagaimana sikap orang-orang yang masuk terdahulu, mereka iri hati dan cemburu melihat orang yang masuk terakhir. Karena masuk lebih dahulu, mereka menyangka akan menerima upah lebih banyak dari orang yang masuk terakhir itu, tetapi kenyataannya upah yang mereka terima sama yaitu satu dinar saja. Akibatnya mereka bersungut-sungut kepada tuan yang empunya kebun anggur itu. Seharusnya mereka tidak perlu bersungut-sungut sebab sudah ada kesepakatan terlebih dahulu bahwa upah mereka adalah satu dinar.
Di sinilah kita sebagai jemaat mau pun sebagai hamba Tuhan, kalau sudah diberi kesempatan bekerja di ladang Tuhan, ini adalah anugrah Tuhan saja bekerjalah dengan sepenuh hati, lakukan pekerjaan itu dengan penuh tanggung jawab jangan dengan sungut-sungut. Jika ini sudah kita lakukan barulah kita bisa menghasilkan buah-buah yang baik.
Galatia 2 : 19 - 20 Paulus sebagai rasul Kristus menjelaskan bagaimana sikap yang benar jika kita sudah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, maka kita akan hidup untuk Tuhan. Dengan demikian maka kita dapat berkata: “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku yang hidup. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Inilah sikap hidup orang Kristen yang benar: hidupnya bukan lagi untuk dirinya sendiri melainkan untuk Tuhan sebab Kristus sudah hidup di dalam dirinya.

Supaya kita berhasil menghasilkan buah-buah yang benar, ada tiga (3) hal yang perlu kita perhatikan dengan baik-baik, yaitu:

I. KARAKTER HIDUP.

Firman Tuhan memberikan contoh karakter yang harus kita teladani, yaitu: karakter seorang petani. Jika ingin berhasil bekerja di ladang Tuhan, kita harus mempunyai sifat atau karakter seperti seorang petani.
Berikut ini ada tiga (3) karakter seorang petani yang perlu kita teladani:

1). Bekerja keras.
2 Timotius 2 : 6 “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.” Seorang petani kalau rindu menik-mati hasil baik dari tanahnya, ia harus bekerja dengan keras, harus dengan sungguh-sungguh. Kalau tidak, selebar apa pun tanahnya, sebaik apa pun benihnya, tanah itu tidak akan pernah memberikan hasil yang baik. Pada zaman sekarang ini, ada banyak orang Kristen tidak sungguh-sungguh mengikut Tuhan, tidak sungguh-sungguh beribadah, tidak sungguh-sungguh melayani Tuhan. Banyak orang hanya mengharapkan mujizat, mengharap hanya kepada kemurahan Tuhan saja, akibatnya mereka tidak sungguh-sungguh, kalau pun beribadah dan melayani hanya sebagai kebiasaan saja. Karena itu sebagai jemaat mau pun sebagai hamba Tuhan, dalam ibadah dan penggembalaan yang benar, kita harus sungguh-sungguh datang kepada Tuhan seperti seorang petani yang mau bekerja keras. Ladang itu sama dengan ibadah dan pelayanan, seorang jemaat dan hamba Tuhan harus mau bekerja keras.
2). Bersabar.
Setelah bekerja keras, karakter yang kedua seorang petani harus bersabar. Dijelaskan dalam Yakobus 5 : 7 - 8 biasanya dalam menantikan hasil yang berharga dari tanahnya, seorang petani harus sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kedatangan Tuhan sudah dekat, kita harus punya sikap seperti petani: sabar menantikan kedatangan Tuhan.
Dalam menantikan kedatangan Tuhan yang kedua kali, sikap seorang petani ini perlu kita miliki, kita harus tetap sabar. Walaupun harus mengalami banyak pencobaan dan penderitaan, kita harus tetap sabar, jangan bersungut-sungut dan jangan ada rasa bosan sedikit pun. Jika kita tetap sabar, maka kita pasti akan dapat menikmati kebahagiaan bersama dengan Kristus dalam kemuliaan-Nya. Sama seperti seorang petani yang pertama-tama menikmati hasil tanahnya, demikian jugalah nanti jika Tuhan datang, kitalah yang pertama-tama menikmati kemuliaan-Nya.
3). Ada kerjasama.
1 Korintus 3 : 6 - 8 firman Tuhan menjelaskan bagaimana kerjasama yang baik antara yang seorang dengan yang lain. Paulus menanam dan Apolos menyiram. Ini adalah bentuk kerjasama yang baik, masing-masing mempunyai tugas sehingga tidak saling berebut. Yang terpenting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Tuhan yang mau memberikan pertumbuhan dalam pelayanan kita. Jika di antara jemaat mau pun hamba Tuhan sudah ada kerjasama yang baik, masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.

II. BENIH.

Benih sebelum ditanam harus diperhatikan dengan baik-baik, sebab jika benihnya tidak baik maka benih itu tidak akan bisa bertumbuh dengan baik. Lukas 8 : 11 benih itu ialah firman Tuhan. Jemaat bisa bertumbuh rohaninya jika firman yang diterimanya juga baik, yaitu firman pengajaran yang benar-benar murni. Jadi jemaat jangan suka dengar-dengaran kepada yang bukan kebenaran, tutup telinga terhadap kepalsuan. Dalam 1 Yohanes 3 : 9 dijelaskan jika benih ilahi itu sudah ada di dalam hati kita, kita tidak akan berbuat dosa lagi, sebab benih itu sendiri akan memberi kekuatan untuk menolak segala bentuk dosa. Benih ilahi inilah benih yang baik, bahkan yang terbaik yang harus kita konsumsi supaya iman percaya kita bisa bertumbuh dengan baik. Jadilah sebagai jemaat yang setia digembalakan.

III. LAHAN.

Lahan sebagai tempat benih ditabur juga harus baik. Jika lahan tidak baik, semua bisa menjadi sia-sia saja. LAHAN = hati manusia. Walau pun sudah punya karakter yang baik, sudah punya benih, tetapi jika tidak punya lahan yang baik, banih itu tidak akan memberikan hasil yang baik. Demikian juga walau pun sudah menerima benih firman tuhan yang baik, tetapi jika tidak punya hati yang baik maka benih itu tidak akan bisa bertumbuh dengan baik. Lukas 8 : 12 - 15 Tuhan Yesus menjelaskan ada empat jenis tanah (=lahan): dan dari keempat jenis tanah atau lahan tersebut, hanya satu lahan saja yang baik, yaitu “tanah yang baik”. Inilah yang bisa mengeluarkan buah dalam ketekunan, berhasil menyambut kedatanagn Tuhan.
- dipinggir jalan = mendengar dan menerima firman Tuhan, tetapi firman itu tidak sempat bertumbuh sebab iblis segera mengambil firman itu dari dalam hatinya. Iblis itu paling suka mengambil firman yang sudah didengar, sebab ia tidak mau kalau firman itu bertumbuh dengan baik. Sebab jika benih itu bertumbuh dengan baik, kita akan diselamatkan sehingga iblis tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
- tanah yang berbatu-batu = mendengar dan menerima firman Tuhan dengan gembira, suka akan firman Tuhan, tetapi ini belum cukup sebab ada batu-batu di dalam hatinya yang menjadi penghalang bagi benih untuk bertumbuh. Orang Kristen yang keras hatinya, walaupun suka mendengar firman Tuhan, tetapi kepercayaannya kepada firman itu tahan hanya sebentar saja. Akibatnya: dalam masa pencobaan orang yang seperti ini akan segera murtad (=tinggalkan Tuhan).
- semak duri = juga sudah mendengar dan menerima firman Tuhan, bahkan sudah sempat bertumbuh. Hanya dalam pertumbuhan selanjutnya firman itu dihimpit oleh kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup. Akibatnya : benih itu tidak sempat berbuah.
- tanah yang baik = mendengar firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati yang baik, inilah sikap yang terbaik dalam menerima firman Tuhan. Setelah mendengar, kita harus punya sikap yang baik supaya benih itu bisa bertumbuh dengan baik. Jangan dengan keras hati, jangan mau ditipu oleh kekayaan atau pun kenikmatan hidup. Tetapi firman itu harus kita masukkan ke dalam hati, selanjutnya harus dengan tekun melakukannya. Maka benih itu pasti dapat bertumbuh dengan baik dan akan mengeluarkan buah-buah dalam ketekunan. Inilah buah-buah yang baik, yang sedang dinanti-nantikan Tuhan dari dalam hidup kita. HALELUYA.....!!!!


“BERJAGA - JAGA”

Minggu - 28 Februari 2010

Matius 24 : 4 - 5 Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.”
Ketika Tuhan Yesus memberitahukan kepada murid-murid-Nya tentang tanda-tanda akhir zaman, peringatan pertama sebelum Tuhan Yesus memberikan pelajaran tentang berjaga-jaga adalah supaya waspada terhadap segala bentuk penyesatan. Penyesatan ini sangat berbahaya, bisa membuat orang gagal masuk ke dalam kerajaan sorga. Salah satu bentuk penyesatan yang harus diwaspadai akan ada orang datang dengan yang memakai nama Yesus. Bentuk penyesatan ini seperti ini nampaknya benar, kalau tidak cepat disadari akan membawa orang menyimpang dari kebenaran, yaitu murtad.

Devenisi murtad adalah orang-orang yang berhasil disesatkan dari kebenaran yang sejati kepada yang bukan kebenaran.

Setelah Tuhan Yesus memperingatkan tentang kewaspadaan, barulah Tuhan Yesus memberikan palajaran tentang berjaga-jaga (lihat Matius 24 : 37 - 42 sudah kita pelajari sebelumnya). Kemudian kelanjutan tentang berjaga-jaga ini dalam Matius 24 : 45 - 51 Tuhan Yesus memberikan lagi satu perumpamaan atau pelajaran tentang “hamba yang setia dan hamba yang jahat” tujuannya supaya kita bisa mempersiapkan diri dalam mengambil sikap yang benar. Tuhan tidak mau kita gagal apalagi disesatkan dari kebenaran. Maka dalam cerita ini Tuhan Yesus sedang memperlihatkan kepada kita bagaimana sikap yang benar dalam berjaga-jaga.
Hamba yang baik: yang didapati tuannya sedang melakukan tugasnya dengan baik.
Karena hamba itu telah melakukan tugasnya dengan tanggung jawab, maka ia disebut sebagai hamba yang setia dan bijaksana.
Inilah model jemaat-jemaat ataupun hamba-hamba Tuhan yang telah berjaga-jaga dengan baik. Berjaga-jaga yang benar harus sampai Tuhan datang tidak cukup satu tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, dst, tetapi sampai Tuhan datang kembali. Berkatnya akan menikmati kebahagiaan bersama dengan Kristus dalam kemuliaan-Nya yang kekal, layak menjadi mempelai perempuan Kristus.
Sebagai hamba yang setia dan bijaksana:
- melakukan tugas dengan taat dan setia
- memperhatikan pelayanan lebih dari kepentingan diri sendiri
- tidak ada rasa bosan/jenuh tetapi bekerja terus sampai Tuhan datang

Sedangkan hamba yang jahat, ia tidak mau melakukan apa yang telah diperintahkan tuannya kepadanya. Justru ia berkata dalam hatinya: “Tuanku tidak datang-datang” sehingga perbuatan selanjutnya: memukul hamba-hamba yang lain, makan minum bersama-sama dengan pemabuk-pemabuk.

Model hamba yang jahat:
- tidak melakukan tugasnya dengan baik
- disertai dengan sungut-sungut
- melakukan hal-hal jahat yang tidak berkenan kepada Tuhan

Setiap orang yang merasa Tuhan masih lama datang, akan memiliki sikap tidak mau berjaga-jaga dengan baik dan nasibnya akan sama dengan hamba yang jahat ini. Karena merasa Tuhan belum datang-datang juga, membuat tidak ada rasa takut untuk melakukan kejahatan. Akibatnya tidak mau berjaga-jaga dengan baik dan tidak mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kalinya.
Saudara-saudara, dalam Filipi 2 : 19 - 24 firman Tuhan mengambil satu contoh kehidupan seorang hamba/pelayan yang baik dan setia. Timotius seorang murid yang telah teruji dalam segala hal, seorang hamba yang setia melayani Paulus, sama seperti seorang hamba yang baik yang taat melakukan tugasnya sampai tuannya itu datang. Timotius ini adalah model hamba yang baik, menunjuk kepada kehidupan jemaat ataupun hamba Tuhan yang setia melayani sampai Tuhan datang.

Timotius sebagai hamba yang baik:
- lebih mementingkan kepentingan jemaat
daripada kepentingan diri sendiri.
- bisa bekerjasama dengan baik, yang telah
menolong Paulus dalam pemberitaan Injil
seperti seorang anak menolong bapanya.
- kesetiaannya benar-benar telah teruji, walaupun
seorang pembantu tetapi ia mau melakukan
tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

Timotius sebagai seorang pembantu bisa bekerja sama dengan Paulus yang adalah rasul Kristus. Kalau yang lain lebih mencari kepentingan diri sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus, tetapi Timotius lebih mementingkan kepentingan pelayanan daripada kepentingan pribadinya. Dan ini diakui sendiri oleh rasul Paulus: “tidak ada seorang padaku, yang sehati sepikir dengan aku dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu.”

Memperhatikan kepentinganmu = memperhatikan kepentingan pelayanan/jemaat.

2 Timotius 1 : 13 - 14 supaya kesetiaan itu bisa teruji dengan baik:

1) harus berpegang teguh kepada pengajaran yang benar, yaitu ajaran yang sehat dan melakukannya dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

2) harus memelihara firman pengajaran yang telah dipercayakan kepada kita oleh Roh Kudus yang diam di dalam hati kita.

Memelihara = ada sikap yang benar dalam melakukan firman Tuhan, sedangkan Harta yang indah itu adalah firman pengajaran.

Jadi sikap kita sebagai jemaat Tuhan, kita harus berpegang teguh kepada firman pengajaran yang telah kita terima, kemudian memeliharanya dengan baik. Supaya kita bisa melakukan firman Tuhan dengan sungguh-sungguh, Tuhan Yesus akan mengutus Roh Kudus-Nya ke dalam dunia sebagai penolong. Dalam Yohanes 16 : 13a Tuhan Yesus berkata: “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;”
Jadi Roh Kebenaran itu berperanan untuk memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Berarti Tuhan Yesus tidak akan membiarkan kita hidup dalam kelemahan, Ia tidak akan membiarkan kita hidup tanpa kuasa. Dia tahu bahwa tanpa Roh Kudus tidak mungkin seseorang itu bisa hidup dalam kebenaran. Maka Ia mau mengutus Roh Kudus-Nya kepada kita. Kemudian dalam Mikha 4 : 13 kalau menerima firman pengajaran yang murni/yang berkualitas akan diberi kesempatan untuk mengirik. Tuhan akan membuat tanduk dari besi (=memiliki kuasa) sehingga mampu menumbuk hancur banyak bangsa.
Dalam terang Tabernakel, proses firman menjadi daging dimulai dari Meja Roti, ada sikap mendengar dan menerima firman pengajaran dengan hati yang baik. Dan praktek jika firman Tuhan itu sudah menjadi daging: di Pintu Tirai, kita akan mampu mematikan segala tabiat-tabiat daging.
- Yesus mati di kayu salib, bukan karena dosa-dosa-Nya dan bukan karena pelanggaran-Nya.
- kita juga harus mati terhadap dosa dan terhadap segala tabiat-tabiat daging. Inilah yang disebut dengan hidup suci.
Kolose 3 : 5 firman Tuhan menjelaskan kepada kita hal-hal yang harus dimatikan dari dalam hati kita, yaitu segala sesuatu yang duniawi, seperti percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan keserakahan. Jika segala sesuatu yang duniawi itu sudah dimatikan, barulah kita layak disebut sebagai manusia baru yang telah diperbaharui. Kemudian Ibrani 12 : 14 kalau sudah hidup suci kita akan melihat Tuhan. Melihat Tuhan di sini bukan dalam wujud, tetapi kita bisa melihat Tuhan dalam pekerjaan-Nya, dalam ibadah ataupun dalam pelayanan. Termasuk ketika sedang dalam masalah, dalam penderitaan, atau dalam suka dan duka, kita akan melihat pekerjaan Tuhan dinyatakan di tengah-tengah kehidupan kita.
Kembali ke Matius 24 : 45 - 47 setelah kita berjaga-jaga seperti Nuh, berjaga-jaga dengan tetap dalam suasana kerajaan sorga, peningkatannya adalah kita akan menjadi seperti seorang hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh Tuhan untuk melayani. Bekerja di ladang Tuhan harus dengan setia. HALELUYA ...!!!!

Selasa, 12 Januari 2010

Buletin Minggu - JANUARI 2010

“TAHUN BARU TAHUN PEMBAHARUAN”

Minggu - 10 Januari 2010

Saudara-saudara, tema “Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini” (Wahyu 21 : 7) adalah tema kita untuk tahun ini, supaya di tahun 2010 ini kita dibekali lebih dahulu dengan firman Tuhan. Wahyu 21 : 5 = puncak kemenangan itu sendiri adalah Tuhan menjadikan segala sesuatu menjadi baru. Artinya: supaya kita bisa mengalami kemenangan demi kemenangan bersama dengan Kristus, lebih dahulu kita harus mengalami “tanda keubahan hidup” atau “tanda pembaharuan” yaitu hidup yang sudah dibaharui dalam segala hal baik dari sifat-sifat mau pun dari karakter.
Berbicara “tanda keubahan hidup” sangat identik dengan kedatangan Tuhan yang kedua kali, sebab kalau ingin masuk ke dalam sorga, harus mengalami tanda pembaharuan.

Mengapa harus mengalami tanda pembaharuan?

Firman Tuhan dalam 1 Korintus 15 : 50 menjelaskan kepada kita bahwa “darah” dan “daging” tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa. Ini berarti kalau seseorang itu belum mengalami tanda pembaharuan, maka sudah pasti ia tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah, tidak layak masuk ke dalam sorga.
Maka pada saat Tuhan Yesus datang kembali ada dua (2) garis akhir dari hidup manusia:
- mati sebelum diubah = jangan harap bisa masuk ke dalam kerajaan Allah.
- kalau hidup, harus mengalami tanda keubahan
supaya layak mendapat bagian dalam sorga.
Pada zaman Nuh, orang-orang yang berada dalam penghukuman air bah, semuanya adalah orang-orang yang sudah rusak hidupnya. Kejadian 6 : 11 - 12 firman Tuhan memperlihatkan kepada kita, bahwa bumi telah rusak dihadapan Allah dan penuh dengan kekerasan sebab semua manusia selalu menjalankan hidup yang rusak. Yang rusak bukan hanya hidup pribadinya saja, tetapi termasuk rumah tangga/keluarga, ibadahnya maupun pelayanannya.
Demikian juga pada zaman akhir ini, kalau kita lihat sekarang ini banyak orang hanya memfokuskan diri kepada perkara-perkara yang lahiriah saja, banyak pengajaran-pengajaran yang hanya berfokus perkara-perkara kepada jasmani saja. Dalam pemberitaan hanya mengajarkan tentang berkat-berkat, tentang kesembuhan, seolah-olah mengikut Tuhan itu hanya sekedar sembuh atau sekedar kaya saja.
Padahal dalam Matius 24 : 32 - 35, Tuhan Yesus sudah memberikan satu palajaran yang sangat penting, yaitu tentang “pohon ara” apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, berarti musim panas sudah dekat. Ini berbicara tentang kedatangan Tuhan yang sudah dekat.
Pelajaran tentang “pohon ara” ini adalah pelajaran tentang “tanda keubahan hidup” yang menunjuk kepada kehidupan yang sudah mengalami tanda pembaharuan.

POHON ARA = adalah pohon yang pernah dikutuk oleh Yesus karena tidak berbuah. Ini menunjuk keadaan manusia sebelum mengalami tanda pembaharuan, setiap orang yang masih tetap dalam dosa dan pelanggaran berada dalam kutuk.
Namun demikian pohon ara ini juga berbicara kepada gereja Tuhan yang sudah diampuni dosanya, yang dikuduskan dan yang dipersiapkan menjadi sidang mempelai perempuan Kristus. Maka kalau pohon ara sudah mulai melembut dan mulai bertunas, maka pohon ara akan bertunas dan berbuah. Demikian juga jika gereja Tuhan yang berasal dari bangsa kafir itu sudah mulai membuka hati dan menerima firman Tuhan, maka saatnya gereja itu akan dipulihkan, akan diubahkan dari manusia yang dahulu terkutuk supaya menjadi umat Allah.

Dalam Kidung Agung 2 : 11 - 13 dijelaskan juga tentang pohon ara jika musim dingin telah lewat, berarti musim panas sudah mulai saat itulah pohon ara mulai bertunas dan berbuah. Ini sama seperti yang telah dikatakan di atas, jika rohani sudah mengalami tanda keubahan, pasti ada semangat baru atau gairah untuk melakukan firman Tuhan. Sehingga Allah akan menunjukkan penyertaan-Nya kepada kita dalam segala hal.
Sebaliknya Yesaya 1 : 4 - 8 kalau tidak mengalami tanda pembaharuan akan masuk ke dalam celaka, akan dipukul mulai dari kaki sampai kepala, semua menjadi sakit. Ini menjadi peringatan khusus kepada orang yang tidak mengalami tanda pembaharuan.

Proses tanda keubahan itu pertama-tama akan nampak dalam hal “memperhatikan”, ada sikap mendengar dan menerima firman Tuhan. 2 Petrus 1 : 19 memperhatikan firman sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap. Artinya: jika kita mau memperhatikan firman Tuhan, maka firman itu akan menjadi terang sehingga kita tidak lagi hidup di dalam kegelapan. Bahkan dalam Yohanes 1 : 4 telah dikatakan jika kita sudah berada di dalam Dia (=di dalam firman) maka di dalam hidup kita sudah ada hidup, dan hidup itulah yang menjadi terang manusia. Itu sebabnya orang yang paling berbahagia adalah mereka, yang di dalam hidupnya sudah ada terang firman Tuhan.
Karena itu sebagai jemaat Tuhan, kalau Saudara rindu memperoleh hidup yang kekal, harus mau memperhatikan firman Tuhan, di dalam diri kita harus ada sikap beribadah yang benar dan ada kerelaan untuk melayani Tuhan. Sebab jika di dalam diri kita sudah ada sikap memperhatikan firman Tuhan, maka firman itu akan membawa kita juga untuk memperhatikan ibadah dan pelayanan sehingga kita dapat beribadah yang benar dan membawa korban yang harum bagi Tuhan kita.
Karena itu untuk mempercepat proses supaya berhasil memiliki tanda keubahan dalam hidup, ada dua (2) hal penting yang harus kita perhatikan, yaitu:
1. Tingkatkan persekutuan dengan Tuhan dalam
doa dan penyembahan yang benar.
Supaya hal ini bisa terwujud, Lukas 9 : 28 - 29 penyem-bahan yang benar itu harus diawali dahulu dengan firman pengajaran, sesuai dengan skema Tabernakel yang dimulai dengan Meja Roti Sajian, Pelita kemudian Mezbah Dupa. Jadi penyembahan yang benar tidak akan pernah terwujud kalau di dalam hidup kita tidak ada terang firman Tuhan maupun urapan dari Roh Kudus. Kalau ada penyembahan yang benar, ada dua yang akan berubah, yaitu: WAJAH & PAKAIAN.
Wajah = berkaitan dengan hati, setiap orang akan nampak dari wajahnya. Kalau hati sedang susah, akan nampak dari wajahnya yang murung, demikian sebalik nya kalau hati sedang gembira akan nampak juga dari wajahnya yang ceria.
Pakaian = berbicara sifat atau karakter dan tingkah laku, setiap orang yang sudah hidup dalam penyembahan yang benar, akan nampak dari sikap dan perbuatannya sehari-hari. Jadi kalau penyembahan sudah ditingkat kan, maka tanda keubahan itu akan nampak baik perkara dalam maupun perkara luarnya.
2. Ada kerelaan menderita/sengsara.
Menderita atau sengsara yang dimaksud bukanlah karena dosa, tetapi karena melakukan firman Tuhan. 2 Korintus 4 : 14 - 16 ketika manusia lahiriah semakin merosot, bahkan sekali pun sedang menghadapi maut, jangan tawar hati. Mengapa harus demikian? Sebab semua penderitaan itu sengaja Tuhan ijinkan terjadi, tujuannya untuk mengerjakan kemuliaan kekal yang melebihi segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Rasul Paulus mengatakan semua penderitaan itu hanyalah pende-ritaan biasa saja, maka kita tidak perlu takut menghadapi penderitaan.
Matius 6 : 25 - 26 kalau pandangan rohani kita sudah diubahkan, hasilnya : kita akan hidup tanpa kekuatiran. Ayat 27 = jika hidup dalam kekuatiran tidak dapat menambahkan sehasta pun pada jalan hidupnya, tetapi jika hidup tanpa kekuatiran: Tuhan sendiri yang akan menambahkan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan kita (ayat 33).


“PELAJARAN TENTANG POHON ARA”

Minggu - 24 Januari 2010

Puji Tuhan!
Kita sudah melihat dan mempelajari tentang pohon ara, suatu pelajaran yang sangat penting kita ketahui sebab pelajaran tentang pohon ara ini adalah pelajaran tentang "tanda keubahan hidup." Pohon ara berbuah tidak disemua musim, berbuah kalau hanya musim panas saja. Kidung Agung 2 : 11 - 13 firman Tuhan menjelaskan: saat musim dingin dan musim hujan telah berlalu, saat itulah ranting-ranting pohon ara mulai melembut dan mulai bertunas sampai menghasilkan buah-buah.

Musim panas berbicara tentang:
- kegerakan hujan akhir
- kegerakan rohani
Artinya: ada kegerakan rohani karena kasih akan Tuhan, ada gairah atau semangat untuk
mengikuti gerak firman Tuhan.

Dasar/sikap untuk menerima firman Tuhan: kita harus memiliki hati yang lembut, yaitu hati yang siap menampung kebenaran. Bagi kita sebagai jemaat Tuhan, ibadah itu sangat erat kaitannya dengan tanda keubahan hidup.
Maka tidak heran kalau dalam Roma 12 : 1 - 2 firman Tuhan sangat menekankan: “Berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Tujuannya: supaya kita jangan menjadi serupa dengan dunia ini.
Hidup yang sudah mengalami tanda keubahan atau pembaharuan, ditandai dengan sikap: beribadah kepada Tuhan dengan cara yang benar, yaitu dengan mempersembahkan “tubuh” sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah.
Sebagai contoh kita bisa melihat pribadi Yesus. Lukas 2 : 52 Yesus sendiri sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia, dalam hidup-Nya sebagai manusia juga memiliki tanda perubahan:
- semakin bertambah besar-Nya
- bertambah hikmat-Nya
- semakin dikasihi Allah dan manusia
Demikian juga setiap orang yang mau meneladani pribadi Tuhan Yesus, yaitu yang sudah mengalami tanda keubahan hidup, mereka juga pasti akan ditandai dengan sikap dan perbuatan yang benar, sehingga hidupnya akan dikasihi Allah dan juga dikasihi sesama manusia.
Hal seperti ini juga pernah dialami oleh Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, yaitu pada saat raja Nebukadnezar mengangkut orang Israel ke Babel sebagai tawanan dan menjadikan mereka sebagai budak. Walaupun mereka sebagai tawanan, dan sedang dibawa keistana raja, mereka tetap mempertahankan cara hidup yang benar. Daniel 1 : 8 mereka berketetapan (berketetapan = tidak terpengaruh dengan keadaan = tidak sama dengan dunia ini) untuk tidak menajiskan diri dengan santapan/makanan raja.
Ayat 12 setelah mereka berketetapan kepada mereka diberikan hanya sayur untuk dimakan dan air untuk diminum, maka diadakanlah pencobaan selama sepuluh hari. Walaupun demikian, perawakan mereka jauh lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja (ayat 15). Berkatnya: Allah mengaruniakan kepada mereka kasih dan sayang (=mereka dikasihi Allah), Tuhan juga memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai tulisan dan hikmat, dan khusus kepada Daniel Tuhan memberikan pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. Daniel 1 : 20 dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, raja Nebukadnezar mendapati bahwa mereka “sepuluh kali lebih cerdas” dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi diseluruh kerajaannya. Inilah yang membuat sehingga Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego mendapat kedudukan yang tinggi di Babel.
Saudara-saudara, sesungguhnya setiap orang yang berdosa, ia sedang memiliki kasus, sedang berperkara dengan Allah. Maka kalau sedang berperkara dengan Allah, perkara itu harus diselesai kan dengan secepatnya supaya jangan sampai menimbulkan masalah besar.
Adam dan Hawa setelah jatuh ke dalam dosa, Tuhan berfirman untuk memanggil supaya mereka dibetulkan/diperbaiki kembali. Sebab setelah mereka melanggar perintah Allah, mereka menjadi takut kepada Allah, bahkan mendengar bunyi langkah Tuhan pun mereka menjadi takut. Dari sini bisa kita lihat dengan sebenarnya betapa jeleknya dosa itu, bisa membuat manusia menjadi takut bertemu dengan Allah.
Yesaya 1 : 18 firman Tuhan menghimbau kepada orang-orang yang telah berdosa supaya mau berper-kara dengan Allah. Kalau Tuhan mengundang untuk berperkara, tentu ada maksud dan tujuannya, yaitu: untuk menyelesaikan masalah tersebut supaya jangan tetap berperkara dengan Tuhan. Tuhan tahu, kalau manusia berperkara dengan Tuhan maka tidak ada seorang pun yang tahan dan tidak ada seorang pun yang bisa lari dari masalah tersebut. Untuk itulah Tuhan mengundang supaya manusia yang sudah berdosa itu mau datang untuk berperkara dengan Tuhan, supaya bebas dari segala masalah.
Yesaya 1 : 19 jika mau menurut dan mau mendengar (=mau berperkara dengan Tuhan) akan memakan hasil baik, sebaliknya kalau melawan atau memberontak (=tidak mau berperkara dengan Tuhan) akan dimakan oleh pedang (ayat 20), artinya akan masuk ke dalam penghukuman.

Berperkara kepada Tuhan = artinya adalah memohon kemurahan Tuhan supaya dihapuskan dari segala dosa maupun pelanggaran.
Menurut firman Tuhan cara yang benar berperkara dengan Tuhan sama dengan mau mengakui segala pelanggaran yang telah diperbuat.
1 Yohanes 1 : 8 jika ada orang yang berani berkata “tidak pernah berdosa”, firman Tuhan mengatakan ia sedang menipu dirinya sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam dirinya. Tetapi jika mau mengakui segala dosanya dengan jujur, Tuhan itu setia dan adil sehingga Ia pun akan mengampuni kita dari segala dosa bahkan Ia juga akan menyucikan kita dari segala kejahatan yang telah kita lakukan (1 Yohanes 1 : 9).
Sama seperti Adam dan Hawa setelah jatuh ke dalam dosa, mereka mencoba menutupi ketelanjangannya dengan cara membuat cawat dari daun pohon ara. Tetapi usaha mereka ini tidak berhasil, tetap tidak mampu menutupi segala dosa dan kekurangan mereka dihadapan Tuhan. Maka Tuhan sendiri yang bertindak, Ia memanggil mereka dan berfirman, tujuannya adalah: supaya Adam dan istrinya itu dibetulkan dan diperbaiki supaya jangan tetap tinggal di dalam dosa. Firman Tuhan dalam Roma 8 : 28 membuktikan bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang dikasihi.

Roma 8 : 29 cara Tuhan membetulkan manusia:
- dipanggil supaya dibetulkan/diperbaiki dari manusia berdosa menjadi
manusia yang dibenarkan.
- selanjutnya setelah dipanggil, akan dipilih supaya dikuduskan(disucikan)
supaya menjadi serupa dengan gambaran Kristus.
Inilah juga yang dikatakan dalam 2 Petrus 1 : 10, firman Tuhan menghimbau supaya kita berusaha dengan sungguh-sungguh, tujuannya supaya panggilan dan pilihan kita makin teguh. Sebab jika panggilan dan pilihan kita sudah teguh, maka kita tidak akan pernah tersandung. Justru Tuhan akan mengaruniakan “hak penuh” untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (ayat 11).

Maka kalau kita lihat dalam 1 Korintus 9 : 24 - 27 ada tiga (3) sikap yang perlu kita perhatikan:
1). Harus taat dan dengar-dengaran.
2). Menguasai diri dalam segala hal.
3). Tidak membiarkan sedikit pun waktu terbuang.

Seorang pelari: pertama-tama ia harus memasang telinga untuk mendengar aba-aba atau peraturan dalam pertandingan, sebab jika tidak demikian ia tidak akan bisa mengikuti pertandingan dengan baik. Kemudian ia juga harus mampu memperhatikan waktu ketika bertanding supaya jangan sampai ketinggalan dengan pelari yang lainnya.
Orang Kristen yang tidak mau memasang telinga untuk mendengarkan firman Tuhan apalagi kalau tidak mau memperhatikan firman Tuhan, maka ia akan menjadi orang Kristen yang biasa-biasa saja, manjadi hamba Tuhan yang tidak serius melayani. Maka sebagai jemaat Tuhan maupun sebagai hamab Tuhan, mari kita teladani sikap seorang pelari: pasang telinga untuk mendengarkan firman Tuhan dan perhatikan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Kalau pohon ara sudah mulai bertunas dan mengeluarkan buah, berarti kedatangan Tuhan sudah dekat. Yang bisa masuk ke dalam kerajaan sorga hanyalah mereka yang sudah mempersiapkan diri, yaitu yang sudah mengalami tanda keubahan hidup. Haleluya.......!!!

Senin, 04 Januari 2010

Buletin Januari 2010

“NATAL MENURUT INJIL LUKAS”

Minggu - 03 Januari '10

Saudara-saudara, pada minggu yang lalu kita sudah melihat bahwa NATAL adalah bukti kasih Allah yang di-nyatakan kepada manusia, Yesus datang sebagai Juruselamat bagi semua orang. NATAL adalah berkat khusus yang diberikan Allah kepada semua orang, kepada orang-orang yang baik, kepada orang-orang yang jahat bahkan kepada orang-orang yang najis sekalipun. Maka supaya dapat mengalami berkat NATAL, kuncinya: datanglah kepada Tuhan dan jadikan Dia sebagai Juruselamat pribadimu.
NATAL menurut Injil Lukas menceritakan Yesus sebagai Anak Manusia. Dan NATAL menurut Injil Lukas ini yang perlu diperhatikan supaya dapat ber-temu dengan Yesus adalah “tanda”, di mana Yesus di-lahirkan. Dalam Lukas psl 2 firman Tuhan menceritakan bagaimana proses kelahiran Yesus, malaikat Tuhan datang kepada para gembala-gembala yang tinggal di padang dan mengatakan: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (ayat 11 - 12) Jadi kepada para gembala-gembala itu Tuhan memberikan suatu “tanda” bahwa Juruselamat telah datang ke dunia ini.

Bagi kita “tanda” ini mengandung arti yang sangat penting, untuk membuktikan bahwa Allah telah datang ke dunia ini sebagai Juruselamat untuk menyelamatkan kita dan menjadikan kita sebagai milik kepunyaan-Nya.


Ulangan 6 : 4 - 15 firman Tuhan menekankan supaya mempunyai tanda: kita harus memperhatikan firman Tuhan dan mengajarkannya kepada anak-anak, baik ketika di rumah, dalam perjalanan, ketika berbaring ataupun ketika bangun. Ayat 8 - 9 firman Tuhan bisa menjadi tanda apabila firman itu diikatkan pada tangan dan menjadi lambang didahi. Berkat kalau firman Tuhan sudah menjadi tanda: rumah-rumah penuh berisi berbagai-bagai barang yang baik (berkat dalam rumah tangga) dan sumur-sumur atau kebun-kebun yang disediakan Tuhan walaupun bukan kita yang menggali atau menanami.

Untuk memperoleh tanda dari Tuhan, ada dua (2) langkah yang harus kita miliki, yaitu:

1. Mau mendengarkan firman Tuhan.

Sikap dalam mendengar firman Tuhan ini sangat penting kita miliki, sehingga dalam Lukas 8 : 18 Tuhan Yesus pun harus memperingatkan murid-murid supaya memperhatikan cara mendengar. Sikap mendengar yang baik menjadi penentu supaya kita berhasil menjadi jemaat yang berkenan kepada Allah. Sebab kalau sudah berhasil memiliki cara mendengar yang baik, maka kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai cara mendengar yang baik, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.
Gembala-gembala di padang, ketika malaikat Tuhan memberikan tanda, mereka mau mendengar dan memperhatikan. Sehingga hasilnya: mereka berhasil bertemu dengan Yesus yang baru lahir, yang dibungkus dengan lampin dan berbaring di palungan. Seperti yang telah dikatakan malaikat Tuhan demikianlah mereka bertemu dengan Yesus.
Pada NATAL yang pertama Yesus dibaringkan “dipalungan”, mengapa Yesus harus di ditempat kan di palungan? Ini mengandung arti yang sangat besar bagi kita, Yesus itu adalah Juruselamat dunia, yang sangat dibutuhkan oleh semua orang. Maka kalau Yesus ditempatkan di palungan, tujuannya adalah supaya dengan mudah domba-domba bisa menjangkau, bisa menikmati dengan baik. Jadi Yesus itu adalah benar-benar makanan yang menjadi kebutuhan semua orang terlebih mereka yang mau menghargai keselamatan.
Yesus di tempatkan di palungan:
- Yesus itu menjadi makanan bagi domba-domba,
yang tergembala dengan baik
- firman Tuhan itu menjadi makanan/kebutuhan
semua orang, yang haus akan kebenaran
Karena itu, firman Tuhan itu tidak cukup kalau hanya dipikirkan saja, tidak cukup kalau hanya didengar saja, tetapi firman itu harus ditaruh di dalam hati dan di dalam mulut. Sebab kalau firman itu sudah ditaruh di dalam mulut, berarti firman itu sudah dijadikan sebagai makanan/ kebutuhannya, yang telah dinikmati lebih dulu, sehingga bisa masuk ke dalam hati, maka firman itu akan bekerja di dalam hatinya, akan menyucikan hidupnya dan membuat hidupnya menjadi berkenan kepada Allah. Sebaliknya jika firman itu tidak dinikmati, inilah yang membuat sehingga akan timbul keragu-raguan, merasa firman itu sepertinya tidak bisa dijangkau, seperti nya tidak bisa dijangkau.
Dalam Ulangan 30 : 11 - 14 firman Tuhan sudah mengatakan bahwa sebenarnya firman itu tidaklah terlalu sukar dan tidak terlalu jauh, tidak di langit dan tidak di seberang laut tempatnya. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak mengerti akan firman Tuhan. Kalau dulu Yesus di tempatkan di palungan, tempat yang mudah dijangkau oleh domba-domba, demikian juga sekarang firman itu juga mudah dijangkau, tidak terlalu jauh. Bagi kita sekarang, firman itu sudah sangat dekat, yaitu di dalam mulut dan di dalam hati. Karena itu sebagai jemaat Tuhan, mari kita tempatkan firman itu di dalam mulut dan di dalam hati, mari kita buat firman itu menjadi makanan, menjadi kebutuhan yang lebih utama dari dari pada yang lain. Jika firman itu sudah ditaruh di dalam mulut dan di dalam hati, maka firman itu akan mengerjakan perkara yang besar di dalam hidup kita.

2. Mau melihat/memperhatikan.

Setelah para gembala-gembala itu mendengar apa yang disampaikan oleh malaikat Tuhan, langkah selanjutnya mereka cepat-cepat berangkat/pergi ke Betleham untuk melihat apa yang telah terjadi. Mereka bukan hanya mendengar, tetapi langsung bertindak mempraktekkan apa yang telah didengar.
Pada zaman sekarang ini, memang banyak orang punya mata, tetapi sayang tidak bisa melihat dengan baik, banyak orang tahu akan firman Tuhan, tetapi tidak dapat menikmatinya dengan baik. Mengapa? sebab tidak ada sikap yang baik, yaitu tidak ada kerinduan untuk melihat atau mengalami seperti yang dikatakan Tuhan. Orang Kristen seperti ini, tidak akan tahu nilai firman Tuhan, tidak bisa membuat firman itu jauh lebih berharga dari segala yang ada di dalam dunia ini, termasuk dari harta benda bahkan dari nyawa kita sekalipun.
Firman Tuhan dalam Yesaya 29 : 9 - 12, mengatakan setiap orang yang tidak dapat melihat kedalaman firman Tuhan, akibatnya mereka akan MABUK, tetapi bukan karena anggur, mereka akan PUSING, tetapi bukan karena arak.
Mengapa tidak dapat melihat kedalaman firman Tuhan?
Penyebabnya:
- kitab itu termeterai, sehingga walau tahu membaca
tetapi tidak akan dapat melihat bagian dalamnya
- kitab tidak termeterai, tetapi karena tidak tahu
membaca juga tidak akan dapat melihatnya
Lukas 2 : 20 setelah gembala-gembala itu mendengar dan melihat tepat seperti yang dikatakan oleh malaikat Tuhan, mereka kembali ke tempat masing-masing sambil memuji dan memuliakan Allah. Bahkan mereka juga dapat memberitahukan kepada orang lain, apa yang telah mereka lihat, sehingga semua orang yang melihatnya menjadi heran. Kalau gembala-gembala memberitakan apa yang telah mereka dengar dan lihat, tetapi dalam Lukas 2 : 19 Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
MARIA = gambaran jemaat atau gereja Tuhan yang jadi mempelai perempuan Kristus. Maka kalau hamba-hamba Tuhan memberitakan firman, sikap kita sebagai jemaat mau harus merenungkan firman Tuhan itu dan menyimpannya di dalam hati yang baik.

Saudara-saudara, kalau kita perhatikan Injil Lukas, yang perlu kita perhatikan bukan hanya tanda kelahiran Yesus saja, tetapi kita juga dibawa untuk memperhatikan tanda tentang kedatangan-Nya yang kedua kalinya. Kalau pada kedatangan-Nya yang pertama, Yesus datang sebagai tubuh atau bayi yang baru lahir dan ditempatkan dipalungan, menjadi Juruselamat. Tetapi pada kedatangan-Nya yang kedua kali, ada satu pertanyaan penting yang harus kita perhatikan: “Di mana Tuhan?” Kemudian Yesus menjawab: “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.” (Lukas 17 : 37)
Burung Nasar = pribadi Allah/lambang Injil Yohanes.
Sedangkan MAYAT :
- berbicara “tubuh” yang menunjuk kepda tubuh
Kristus, yaitu gereja yang di dalamnya Allah hadir.
- ini juga berbicara “gereja” yang sudah mengalami
proses: mati dan bangkit bersama dengan Kristus,
sudah mati terhadap dosa.
Jadi proses tanda kelahiran dan bangkit bersama dengan Kristus adalah “tanda” yang harus kita perhatikan dengan baik-baik supaya kita berhasil menjadi jemaat yang berkenan kepada ALlah. Melihat tanda kelahiran Yesus memang sudah baik, tetapi itu belum cukup, harus dilanjutkan melihat tanda yang kedua, yaitu tanda-tanda kedatangan Tuhan yang kedua kali supaya kita dapat mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, tergabung dalam pembentukan dalam tubuh Kristus yang kudus dan sempurna. HALELUYA...!!!