Kamis, 12 Agustus 2010

BULETIN AGUSTUS

“BERJALAN DALAM SALIB KRISTUS”

Minggu, 01 Agustus '10


Supaya kita bisa berjalan di jalan salib:

- harus mampu menyangkal diri dengan cara mematikan segala keinginan/tabiat daging ataupun keinginan diri sendiri
- kita harus tetap memandang kepada Kristus sebagai teladan yang lebih dahulu memikul salib.

Saudara-saudara, dalam Alkitab berita tentang “jalan salib” adalah berita yang paling penting, jauh sebelum Yesus datang ke dunia ini berita tentang kematian Yesus sudah dinubuatkan. Kalau bukan berita yang paling penting, maka tidak mungkin semua nabi bernubuat tentang kematian Yesus. Jalan salib adalah jalan yang telah ditentukan Allah sebagai sarana untuk membebaskan kita dari dosa dan untuk menyelamatkan kita dari maut.

Maka bagi kita yang mau berjalan dalam jalan salib, salib itu bukan hanya lambang saja, bukan hanya cerita dongeng saja, tetapi berbicara tantang pengalaman hidup dan perjalanan hidup.

Tuhan Yesus sendiri telah berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9 : 23). Jadi jelas, salib itu bukan hanya lambang tetapi berbicara perjalanan hidup, mau berbuat dan melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Walau pun dalam jalan salib itu harus mengalami banyak penderitaan, kita tidak boleh mundur.
INGAT....!! mundur dari jalan salib berarti:

- sudah mundur dari Tuhan
- sudah lepas dari pemeliharaan Tuhan
- tidak layak memperoleh keselamatan


Walau pun masih beribadah bahkan masih melayani Tuhan, mungkin masih berpredikat pendeta, tetapi kalau tidak mau berjalan dalam jalan salib, sesungguhnya ia sudah keluar dari kehendak Tuhan, bagaikan ranting yang telah menjadi kering. Setiap orang yang tidak mau berjalan dalam jalan salib, ia belum bisa disebut sebagai milik Kristus.
1 Korintus 15 : 1 - 4 firman Tuhan begitu tegas mengatakan: berita yang sangat penting telah disampaikan kepada banyak orang, yaitu bahwa Kristus telah mati di kayu salib karena dosa-dosa kita, bukan karena dosa-Nya. Karena itu dikatakan bahwa berita tentang kematian Tuhan Yesus ini disebut sebagai berita yang sangat penting yang sesuai dengan kitab suci.
Kalau dikatakan berita tentang salib itu sesuai dengan kitab suci, itu berarti bahwa berita tentang kematian Tuhan Yesus itu tidak perlu diragukan lagi, Tuhan Yesus telah mati di kayu salib, telah dikuburkan dan telah dibangkitkan pada hari yang ketiga. Semua berita tentang kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus adalah benar adanya.

Karena itu sebagai jemaat Tuhan mau pun sebagai hamba Tuhan, kita tidak perlu meragukan tentang kematian Tuhan Yesus, dan jangan sampai menolak apabila engkau sedang dalam penderitaan. Kalau itu datangnya dari Tuhan dan bukan karena dosa atau pelanggaranmu, terimalah dengan sukacita dan jangan mengelak. Jalani semua dengan baik, dengan penuh kasih, maka Tuhan akan turut serta dalam kehidupanmu, Ia tidak akan meninggalkan engkau tetapi akan menyertai hidupmu.

Galatia 2 : 19 - 20 Paulus sebagai rasul Kristus mengaku telah disalibkan dengan Kristus, caranya: mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat. Setelah itu: sekarang ia hidup tidak lagi karena dirinya sendiri, bukan lagi karena kekuatannya sendiri, bukan lagi karena kepintarannya sendiri, tetapi benar-benar Kristus telah hidup di dalam dirinya. Ini suatu pengakuan yang sangat luar biasa, sebab tidak banyak orang mau disalibkan dengan Kristus, tidak banyak orang yang mau menderita karena mengikut Kristus, justru kebanyakan orang ingin diberkati, ingin kaya, ingin sukses, ingin dikatakan orang hebat, mereka lupa mereka tidak mampu berbuat apa-apa tanpa seijin Tuhan. Tetapi Paulus dengan rendah hati mengatakan: aku telah disalibkan dengan Kristus.
Setiap orang yang mau berjalan dalam jalan salib, hidupnya sudah tersembunyi di dalam Allah, bukan ia sendiri lagi yang nampak tetapi Kristus yang nampak. Jika kita mau berjalan dalam jalan salib, maka Kristuslah yang bekerja untuk memberikan kekuatan. Sehingga sekali pun penderitaan itu berat, tetapi kita dapat menjalaninya dengan baik.

Seperti dikatakan dalam Filipi 1 : 21 “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Jika Kristus sudah hidup di dalam kita, maka:

- Yesus yang di dalam kita itulah yang akan mencukupkan segala keperluan kita.
- Yesus yang ada di dalam kita itulah yang akan menyelesaikan segala masalah kita, yang menyembuhkan segala sakit.
- Yesus yang di dalam kita itulah yang akan memberi kekuatan supaya kita mampu mengalahkan segala dosa dan segala tabiat daging.


Dan jika Kristus sudah hidup di dalam kita, firman Tuhan mengatakan mati pun adalah keuntungan. Mengapa? sebab sudah jelas masuk dalam sorga, dianggap layak masuk ke dalam kerajaan Allah.
Jadi kalau ada orang yang bertanya ”Mengapa Tuhan sengaja membawa kita berjalan dalam jalan salib?” jawabannya supaya kita tetap sadar bahwa:

- tanpa Tuhan tidak ada jalan untuk mendapat keselamatan,
- tanpa jalan salib tidak ada pengampunan dosa,
- tanpa salib tidak tidak ada seorang pun yang bisa mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sama seperti rasul Paulus, karena Kristus sudah hidup di dalam dirinya, ia rela menyerahkan nyawanya kepada Tuhan, ia tidak menghiraukan nyawanya sedikit pun sebab tujuan pelayanannya adalah untuk mencapai “garis akhir” dan “menyelesaikan pelayanan” yang telah ditugaskan kepadanya untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. Hal ini dijelaskan dalam Kisah Para Rasul 20 : 22 - 24 ketika rasul Paulus sebagai tawanan Roh tidak tahu apa yang akan terjadi atas dirinya walau pun sebenarnya penjara dan sengsara telah menunggu. Tetapi karena berita Injil, ia tidak menghiraukan nyawanya sedikitpun asalkan ia dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanannya. Karena itu sebagai jemaat Tuhan maupun sebagai hamba Tuhan, supaya kita berhasil berjalan dalam jalan salib ini yang paling kita butuhkan adalah “KETEKUNAN.” Ketekunan ini menjadi kunci supaya kita juga bisa sama seperti Paulus yang berhasil mencapai garis akhir dan berhasil menyelesaikan pelayanan. Firman Tuhan dalam Ibrani 10 : 32 - 36 menjelaskan setelah menerima terang, kita banyak menderita dalam perjuangan yang berat, ketika dijadikan tontonan, karena nama Tuhan harus diejek, dihina bahkan sampai dikucilkan dari keluarga, bahkan sekali pun harta habis dirampas, semua itu harus kita terima dengan sukacita. Sebab jika kita bertekun dalam Tuhan, maka kita akan tahu bahwa kita memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya, yaitu hidup yang kekal di dalam kerajaan sorga.

Untuk itu firman Tuhan dengan tegas mengatakan: “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercaanmu, karena besar upah yang menantinya.” Untuk mendapatkan semua itu, intinya kita memerlukan ketekunan, supaya sesudah berhasil melakukan kehendak Allah, kita berhak memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan tersebut.
Roma 11 : 22 ada dua hal yang perlu kita perhatikan yaitu: kemurahan dan kekerasan hati Tuhan. Tidak cukup kalau hanya memperhatikan kemurahan Tuhan saja tetapi juga harus memperhatikan kekerasan hati Tuhan supaya rasa takut akan Tuhan ada dalam hidup kita. Banyak orang hanya memperhatikan kemurahan Tuhan saja sehingga mereka tidak mau sungguh-sungguh datang kepada Tuhan, tidak sungguh-sungguh melayani Tuhan. Sebagai jemaat Tuhan, kita juga harus memperhatikan kekerasan hati Tuhan supaya di dalam diri kita ada rasa takut, yaitu takut kalau tidak beribadah, takut kalau tidak berkorban, takut kalau tidak melayani, dll. Setiap orang yang tetap memperhatikan kemurahan Tuhan, maka Tuhan akan mengampuni segala dosa kita dan Tuhan juga akan mempercayakan pelayanan kepada kita. Titus 3 : 4 - 5 kemurahan Tuhan itu nyata ketika Tuhan telah menyelamatkan kita yang dikerjakan lewat permandian kembali, kita dibaharui oleh Tuhan.
Permandian kelahiran kembali = ini murni pekerjaan Tuhan di dalam hidup kita yang mau berjalan dalam jalan salib walau harus mengalami pemderitaan. Ini juga berbicara pekerjaan Tuhan yang membaharui kita dari hari ke hari sampai kita sesuai dengan kehendak Tuhan, diampuni dosa kita, dikuduskan/disucikan dan puncaknya kita akan disempurnakan menjadi sidang mempelai perempuan-Nya.



“HIDUP ADALAH KRISTUS”


Minggu, 08 Agustus 2010


Kematian adalah resiko yang paling pahit, yang paling berat, bahkan yang paling mengerikan yang pernah dihadapi manusia. Tetapi sekali pun yang paling berat bahkan yang paling pahit sekalipun, jika Kristus sudah diam di dalam hidup kita, kematian itu bisa menjadi keuntungan, yang paling pahit sekali pun bisa menjadi manis. Ini berbicara jalan salib, dalam mengikut Tuhan sering sekali kita diperhadapkan kepada banyak penderitaan, bahkan sepertinya dengan sengaja Tuhan sedang membawa kita berjalan dalam jalan salib. Maksud Tuhan dalam semua itu ialah supaya di tengah-tengah penderitaan itu kuasa Tuhan menjadi nyata, pembelaan dan pemeliharaan Tuhan itu dapat kita alami dalam hidup sehari-hari.

Dalam kitab Perjanjian Lama, ada dua orang yang mengalami pencobaan dan penderitaan yang sangat berat, yaitu AYUB dan ABRAHAM.

Penderitaan atau ujian yang dialami Ayub:
- semua anak-anaknya mati karena bencana
- hartanya habis
- sahabat-sahabatnya menjauh
- mengalami penyakit yang sangat parah
- istrinya mengejek/menghinanya

Tetapi Ayub bisa menjalani semua itu dengan baik dan Ayub menang, karena yang ada di dalam hatinya adalah Tuhan.

Ujian yang dialami Abraham:
- lama menunggu janji Allah tentang keturunannya
- ia harus membawa anaknya yang tunggal ke gunung Moria untuk
dipersembahkan sebagai
korban persembahan kepada Allah.

Kalau kita lihat dan kalau kita bandingkan antara Ayub dan Abraham ini, ujian dan penderitaan yang mereka alami itu memang sangat jauh berbeda. Tetapi kalau kita bandingkan, sebenarnya ujian yang dialami Abraham itu jauh lebih berat dari pada yang dialami Ayub. Kalau penderitaan yang dialami Ayub mengarah kepada fisik, tetapi ujian yang dialami Abraham itu mengarah kepada perasaan hatinya.
Ketika Abraham harus membawa anaknya yang paling dikasihi untuk dipersembahkan kepada Allah, ia harus berjuang supaya ia mampu mengalahkan perasaannya sendidi, dan ia harus mampu menguasai hatinya. Kalau tidak, maka ia tidak akan pernah bisa membawa anaknya kepada Tuhan.
Perlu kita ketahui kalau Tuhan menguji :
- tidak diberitahukan lebih dahulu apa materi ujiannya.
- tidak diberitahukan kapan ujian itu akan dimulai.
Sangat berbeda dengan ujian-ujian yang diadakan di dunia ini, misalnya ujian di sekolah, ketika guru akan mengadakan ujian biasanya guru akan memberitahukan kapan ujiannya dan apa materi ujiannya juga akan diberitahukan lebih dahulu.

Bagi kita sebagai jemaat Tuhan, jika Kristus sudah tinggal di dalam kita, kapan pun ujian itu datang kita akan siap menghadapinya, bahkan apa pun bentuk ujian itu, kita sudah siap menghadapinya. Sebab Kristus yang diam di dalam kita itu pasti akan menyertai kita dan akan memberi kekuatan supaya kita bisa menang terhadap ujian. Sepahit apa pun penderitaan itu akan menjadi manis bagi kita.
PETRUS adalah contoh orang yang tidak tahan menghadapi ujian. Pada waktu Yesus memberitahu kan kepada murid-murid tentang kematian-Nya, Petrus mengaku sanggup memikul penderitaan, mengaku siap mati untuk Tuhan. Tetapi kenyataan nya, setelah Tuhan Yesus ditangkap, Petrus langsung mengandalkan kekuatannya, ia melarikan diri, dan ketika Tuhan Yesus diadili untuk disalibkan, Petrus menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali.
Petrus adalah murid yang terkenal pemberani, murid yang selalu mengikut Yesus, yang dulu mengaku siap mati untuk Tuhan Yesus, tetapi ketika ujian itu datang, sekarang Petrus rela menyangkal Tuhan Yesus, bahkan sampai mengaku tidak pernah mengenal Tuhan Yesus.

Sebagai jemaat maupun sebagai hamba Tuhan, kita harus selalu siap sedia diuji kapan pun, dan apapun bentuk ujian itu, kita harus siap menghadapinya. Bahkan sepahit apa pun dan seburuk apa pun penderitaan itu, kita harus dengan rela hati menghadapinya. Ingat! penderitaan yang pahit bisa menjadi manis jika kita dengan rela menghadapi nya.
Maka kalau kita lihat Yohanes 15 : 1 - 27 kalau Kristus sudah diam di dalam kita, ada tiga (3) praktek hidup sebagai jemaat Tuhan, yaitu:
1. ayat 1 - 8 = hubungan ranting dengan pokok, ini berbicara hubungan Kristus sebagai
Kepala dengan jemaat sebagai tubuh Kristus.
2. ayat 9 - 17 = hubungan ranting dengan ranting ini berbicara hubungan jemaat dengan
jemaat.
3. ayat 18 - 27 = hubungan ranting dengan dunia ini berbicara hubungan jemaat dengan
dunia.

Tanda kalau kita sudah menyatu dengan Kristus bagaikan ranting dengan pokok yang tidak boleh dipisahkan, jemaat sebagai ranting harus tetap menyatu dengan Kristus. Tuhan Yesus adalah pokok anggur yang benar, kita sebagai jemaat harus tinggal di dalam Kristus supaya dipelihara dengan baik.

Ada dua (2) bentuk pemeliharaan dari Tuhan:
1. pemeliharaan secara biasa, misalnya ketika kita tidak punya apa-apa, tetapi karena ada hubungan dengan sesama jemaat, maka orang lain bisa dipakai untuk memberi kepada kita.
2. Pemeliharaan yang ajaib, misalnya ketika kita sedang tidak punya apa-apa lagi di rumah atau ketika sedang mengalami sakit penyakit, tetapi tanpa sepengetahuan kita dan diluar kemampuan kita, Tuhan melakukannya dengan ajaib, Ia menyediakan dengan ajaib dan menyembuhkan sakit kita.

Contoh: ketika kepercayaan Abraham diuji, sebenarnya ia tidak punya domba untuk dipersembahkan kepada Tuhan, tetapi karena Abraham cinta kepada Tuhan dan karena Tuhan diam di dalam hidupnya, Tuhan sendiri yang menyediakan domba baginya untuk dipersembah kan kepada Allah. Kejadian 22 : 7 - 8 ketika Ishak bertanya: “Dimanakah domba untuk korban bakaran itu?” Abraham menjawab: “Allah yang menyediakan ...........” Ayat 9 - 10 = tindakan/perbuatan Abraham yang berkenan kepada Tuhan. Maka dalam ayat 11 - 14 setelah Tuhan melihat hati Abraham yang tidak segan-segan menyerahkan anaknya yang tunggal kepada Allah, Abraham lulus ujian.

Ini juga berbicara tentang jalan salib, Abraham telah berhasil menyangkal diri sehingga ia berhasil membawa anaknya untuk dipersembahkan kepada Allah. Abraham berhasil karena Kristus sudah tinggal di dalam hidupnya.

Karena Abraham berhasil berjalan dalam jalan salib, maka ia berhak mendapatkan pemeliharaan Tuhan yang ajaib. Ketika Abraham menoleh, maka ia melihat seekor domba jantan di belakangnya yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Domba jantan inilah yang disembelih lalu dipersembahkan kepada Allah, sebagai ganti anaknya Ishak. Apa yang tidak pernah ada dalam pikirannya, Tuhan adakan dengan ajaib.
Supaya kita bisa punya hubungan dengan Kristus sebagai Kepala jemaat, kita harus kudus dan setia. Yohanes 15 : 2 firman Tuhan menggambarkan hubungan yang baik itu bagaikan ranting-ranting yang berbuah lalu dibersihkan. Ini berbicara kehidupan jemaat-jemaat Tuhan yang sudah memiliki persekutuan dengan Kristus, setia beribadah dan melayani, akibatnya: dibersihkan (=dikuduskan). Kita bisa hidup kudus sepenuhnya karena pekerjaan firman Tuhan, lewat firman pengajaran yang ditampilkan di dalam hidup kita. Demikian juga kita bisa setia sepenuhnya juga karena pekerjaan Tuhan yang memberi kekuatan dan kuasa supaya kita mampu menolak dosa.
Tetapi setiap ranting yang tidak berbuah akan dipotong.
Ini berbicara kehidupan jemaat-jemaat yang tidak setia digembalakan dan yang tidak suci hidupnya. Akibatnya akan sama seperti ranting yang menjadi kering, yang dikumpulkan, lalu dicampakkan ke dalam api untuk dibakar.




“HIDUP ADALAH KRISTUS”


Minggu, 15 Agustus 2010


Puji Tuhan!
Kita patut bersyukur kepada Tuhan jika Kristus sudah hidup di dalam kita dan kita hidup di dalam Kristus. Sebab jika kita sudah hidup di dalam Kristus, kita akan layak diberkati, layak dibela dan dipelihara. Namun walau pun kita sudah hidup di dalam Kristus bukan berarti hidup kita sudah bebas dari penderitaan, tetapi masih berada dalam pergumulan-pergumulan yang harus kita lewati dan harus kita menangkan.
Kalau kita lihat dalam Yosua 18 : 1 - 10 setelah bangsa Israel sampai ke tanah Kanaan dan menaklukkan negeri itu, lalu mereka berkumpul di Silo dan menempatkan kemah pertemuan di sana. Dari kedua belas suku Israel, masih tinggal tujuh suku yang belum mendapat bagian milik pusaka, sementara yang sudah mendapat milik pusaka masih lima suku saja. Jadi tidak sebanding banyaknya antara yang sudah mendapat milik pusaka dengan yang belum mendapat, mayoritas dari antara mereka masih harus berjuang. Bahkan kalau kita lihat dalam kitab Yosua pasal 18 ini Yosua sendiri pun sebagai pemimpin belum mendapatkan milik pusaka, sebab nanti pada pasal 19 : 49 - 50 barulah Yosua mendapatkan milik pusaka di tengah-tengah bangsa Israel. Dan milik pusaka yang diberikan kepada Yosua itu sesuai dengan titah Tuhan, mereka memberikan kepadanya kota yang dimintanya, yakni Timnat-Serah di pegunungan Efraim.

Ini menggambarkan perjalanan kita sekarang, gereja Tuhan yang masih hidup diakhir zaman ini masih harus berjuang supaya berhasil mendapat bagian yang terbaik dari Tuhan, yaitu untuk masuk ke dalam kerajaan sorga dan menjadi sidang mempelai perempuan Kristus. Walau pun kita sudah percaya kepada Yesus Kristus, sudah diselamatkan, tetapi kita masih harus terus berjuang dan bergumul sampai berhasil menjadi orang yang berkenan kepada Tuhan. Seperti bangsa Israel, walau pun mereka sudah sudah sampai ke tanah Kanaan dan sudah berhasil mengalahkan penduduk negeri itu, tetapi mereka masih harus berjuang terus.

Yakub mempunyai anak-anak dua belas orang banyaknya dan semua tercatat dalam kitab Kejadian 49 : 1 - 28 untuk mendapat berkat dari Yakub. Kemudian kalau kita lihat dalam kitab Yosua pasal 13 sampai pasal 19 nama Yusuf tidak tercatat untuk mendapat bagian milik pusaka sedangkan yang lain mendapat. Tetapi kalau kita lihat dalam Wahyu 7 : 1 - 8 nama Yusuf sudah tercatat kembali, sebaliknya ada dua suku dari keturunan Israel yang tidak tercatat namanya, yaitu suku Dan dan suku Efraim. Padahal diwaktu-waktu sebelumnya kedua nama ini selalu tercatat namanya.
Kalau kita lihat dari kedua belas nama anak atau suku Israel tersebut, diawal semua nama-nama mereka tercatat namanya, tetapi ditengah perjalanan ada yang tidak tercatat, dilanjutkan dalam kitab Wahyu sebagai kitab terakhir dari semua kitab ada dua nama yang tidak tercatat namanya, yaitu suku Dan dan Efraim.

Bagi kita sekarang nama-nama yang tercatat seperti tersebut di atas mengandung arti yang sangat besar, sebagai jemaat Tuhan, kita harus berjuang supaya menang. Perjalanan suku-suku Israel ini menggambarkan perjalanan gereja Tuhan diakhir zaman ini, kita semua harus berjuang supaya nama kita benar-benar tercatat dalam kitab kehidupan Anak Domba. Kita harus dengan sungguh-sungguh baik beribadah mau pun melayani Tuhan.
Mungkin Saudara bertanya: “Mengapa harus ada daftar nama-nama yang berhak mendapat milik pusaka, tetapi mengapa pula ada nama-nama yang tidak tercacat?” maksud semua itu adalah:

- Tuhan mau tunjukkan mana yang pada awal-awalnya tidak
diperhitungkan

- Tuhan mau tunjukkan mana yang gugur di tengah jalan
- Tuhan mau tunjukkan mana yang menang sampai kepada akhirnya


Jadi dalam perjalanan gereja Tuhan, perjalanan bangsa Israel ini sebenarnya menggambarkan perjalanan kita supaya kita berjuang sampai kepada akhirnya. Berbicara kitab Wahyu ini adalah berbicara kitab terakhir, jadi kalau nama kita tidak tercatat dalam kitab Wahyu berarti tamatlah riwayat kita, sudah pasti tidak akan masuk ke dalam kerajaan sorga. Kalau seandainya dalam kitab Kejadian belum tercatat, masih ada kesempatan dalam kitab Yosua, dan kalau pun seandainya dalam kitab Yosua belum tercatat juga, masih ada kesempatan dicatat dalam kitab Wahyu. Tetapi jika dalam kitab Wahyu belum juga tercatat, tamatlah perjalanan kerohaniannya, dengan kata lain tertutuplah kesempatan untuk selama-lamanya, namanya tidak akan tercatat dalam kitab kehidupan Anak Domba. Langsung tidak berhak mendapat apa-apa dari apa yang telah dijanjikan Tuhan.

Itu sebabnya Tuhan sangat harapkan supaya persekutuan kita dengan Tuhan itu harus tetap. Mengapa suku Dan tidak tercatat dalam kitab Wahyu? Dalam kitab Kejadian suku Dan itu perjalanannya digambarkan seperti ular, jalannya tidak pernah lurus, hidupnya tidak pernah sungguh-sungguh mengikut Tuhan. Seperti ular yang tidak berjalan lurus demikianlah suku Dan tidak pernah sungguh-sungguh melakukan firman Tuhan.

Kita patut kagum melihat Paulus, seorang rasul yang sangat luar biasa dipakai Tuhan untuk memberita kan Injil tentang keselamatan kepada banyak bangsa. Paulus mengaku: “aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.” Maka kalau kita lihat dalam Roma 7 : 14 - 20 firman Tuhan menjelaskan kepada kita, bahwa tanpa Tuhan tidak ada seorang pun yang bisa melakukan kehendak Tuhan, sebab justru apa yang tidak diinginkan, itulah yang dilakukan.
Firman Tuhan menegaskan: di dalam diri kita sebagai manusia tidak ada yang baik. Sering sekali kita melakukan apa yang kita benci yang sebenarnya tidak ingin kita perbuat, tetapi kita perbuat. Mengapa demikian? sebab di dalam diri kita sebagai manusia benar-benar tidak ada yang baik. Inilah yang membuat sehingga sekali pun kita ingin berbuat yang baik, tetapi justru yang tidak baiklah yang kita lakukan.

Disinilah kita melihat betapa besarnya kasih Kristus itu telah dinyatakan di tengah-tengah kita, Ia telah mati di kayu salib untuk memberikan penebusan kepada kita. Tidak ada kasih selebar atau sehebat kasih Kristus. Kematian-Nya di kayu salib adalah untuk menebus segala dosa yang telah kita lakukan dan juga untuk melepaskan kita dari segala perbuatan yang jahat.
Untuk itulah kita harus membuat Yesus itu sebagai yang paling berharga dari semua yang ada di dalam dunia ini. Kita harus membuat firman Tuhan lebih utama dari segala sesuatunya. Jika kita sadar sebagai manusia berdosa, kita harus sama seperti Paulus yang mengatakan: “Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah.” Inilah yang membuat sehingga sekali pun selama ini kita sedang berada dalam tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuh, tetapi oleh Yesus Kristus dan oleh firman-Nya, kita telah dilepaskan. Tuhan tahu tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa melepaskan dirinya dari hukum dosa, kecuali oleh kuasa Tuhan saja.
Karena itu sebagai jemaat kita harus tahu, Tuhan tidak mau tubuh yang berdosa ini masuk ke dalam sorga, Tuhan tidak mau tubuh yang berdosa ini mengotori sorga. Karena itu Tuhan mau lebih dahulu menyucikan tubuh yang berdosa ini dengan darah dan dengan firman-Nya. Tubuh kita yang sekarang ini terlalu banyak kelemahan nya, bisa mengalami sakit penyakit yang sangat tidak diinginkan. Namun demikian, kita harus mau menerima semua itu dengan ucapan syukur, kita harus tetap berjuang sampai kepada akhirnya sampai nama kita benar-benar terdaftar dalam kitab kehidupan Anak Domba. Jika Kristus sudah diam di dalam kita dan kita tinggal di dalam Kristus, seberat apa pun kelemahan yang ada pada tubuh kita ini, ada kuasa Tuhan yang sanggup menyucikannya. Pada zaman akhir ini, marilah kita lebih sungguh-sungguh lagi beribadah dan melayani Tuhan sampai kepada akhirnya supaya nama kita benar-benar telah tercatat dalam kitab kehidupan Anak Domba.
HALELUYA......!!!!!!



“HIDUP ADALAH KRISTUS”

Minggu - 22 Agustus 2010


Saudara-saudara, bagi kita, gereja Tuhan yang berasal dari bangsa kafir, kematian Yesus di atas kayu salib adalah untuk “membuka jalan” supaya:

- pelanggaran-pelanggaran diampuni
- segala dosa ditutupi
- kesalahan tidak diperhitungkan lagi


Sebab sebelum manusia itu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sesungguhnya manusia itu sedang berada di dalam maut (Roma 6 : 23). Itu sebabnya setiap orang yang hidup tanpa Yesus, tidak memiliki pengharapan dan tidak ada keselamatan dalam hidupnya.

Untuk itulah Yesus rela mati di kayu salib supaya kita bisa memiliki pengharapan pasti akan adanya keselamatan yang telah dikerjakan Yesus. Inilah yang disebut dengan “kekayaan kasih karunia” yang akan dilimpahkan Tuhan kepada kita, sebab oleh darah Yesus kita telah beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa (Efesus 1 : 7 - 8).
Kalau ada orang mencari keselamatan dengan kekuatan diri sendiri atau dengan hikmatnya sendiri, maka ia tidak akan pernah menemukannya. Sebab keselamatan itu hanya ada pada Tuhan Yesus Kristus saja, maka setiap orang yang ingin diselamatkan, ia harus datang kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, bukan dengan kekuatan diri sendiri.

Karena itu kalau Saudara datang dan masuk ke dalam gereja untuk beribadah:
- jangan merasa diri sebagai orang yang benar
- jangan merasa diri sebagai orang yang suci
- jangan merasa lebih baik dari pada orang lain


Tetapi datanglah kepada Tuhan dengan rendah hati dan dengan hati yang tulus supaya Tuhan berkenan akan hidupmu. Firman Tuhan telah mengatakan bahwa keselamatan itu datangnya hanya dari Tuhan Yesus saja, karena itu kita harus datang dengan sikap yang benar, menganggap semua itu hanya karena kasih karunia Tuhan saja. Tuhan mau supaya jangan ada seorang pun yang memegahkan diri dihadapan Tuhan.
Maka kalau kita lihat dalam 1 Korintus 1 : 30 firman Tuhan menegaskan: jika kita sudah hidup di dalam Kristus dan Kristus hidup di dalam kita, maka kita akan memperoleh hikmat. Hikmat itu sangat penting kita miliki, sebab dengan hikmat Tuhan lah kita dapat mengetahui segala rencana Tuhan, dan dengan hikmatlah kita dapat mengetahui bahwa Kristus telah diam di dalam kita. Kalau kita sudah memiliki hikmat, maka kita juga akan mengetahui bahwa Kristus telah membenarkan, menguduskan dan menebus kita dari segala dosa dan pelanggaran yang telah kita lakukan.
Sehingga kalau kita datang kepada Tuhan, yang kita megahkan bukan lagi diri sendiri, yang kita megahkan bukan lagi harta kekayaan yang ada di dalam dunia ini, melainkan Kristus Yesus. Kita bisa melihatnya dalam 1 Korintus 1 : 31 “Barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”

Jadi yang kita megahkan itu ialah pribadi Tuhan kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus yang telah mati di kayu salib untuk dosa-dosa kita, lewat kematian-Nya, Ia telah mengangkat kita dari dalam maut.

Saudara-saudara, dalam 1 Korintus 2 : 2 Paulus sebagai rasul Kristus telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa, selain Yesus Kristus yang telah disalibkan. Ini adalah berbicara prinsip atau pendirian yang teguh akan Kristus. Paulus sebagai rasul Kristus, telah mengambil keputusan yang tepat dan benar untuk membuat Kristus yang lebih dominan dalam hidupnya.
Kita juga sebagai jemaat Tuhan, kita harus mau meneladani sikap Paulus ini, membuat Tuhan lebih dominan dalam hidup kita. Kalau dikatakan “telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa selain Yesus Kristus”, bukan berarti kita tidak lagi memerlukan uang atau harta yang banyak, bukan berarti tidak boleh berusaha, bekerja, atau yang lain-lain. Kita semua sangat memerlukan semua itu, butuh uang, butuh pekerjaan, butuh usaha yang semakin maju, dll, hanya dalam semua kegiatan itu kita harus membuat Kristus yang lebih dominan dalam hidup kita. Kristus harus diam di dalam kita dan kita di dalam Kristus, inilah yang disebut hidup adalah Kristus.

Mengapa kita harus mengerti bahwa hidup adalah Kristus? tujuannya adalah :

- supaya Kristus yang lebih dominan dalam hidup kita, baik dalam usaha, dalam pekerjaan atau
pun dalam rumah tangga kita.
- supaya kemegahan kita tidak ada lagi selain di dalam Kristus Yesus.

Selama manusia itu tidak membuat Tuhan yang lebih dominan dalam hidupnya, maka manusia itu tidak akan pernah menemukan Kristus dan Kristus pun tidak akan tinggal di dalam hidupnya.
Selama manusia itu lebih mengidolakan dirinya, kekuatannya, kekayaannya atau pun kepintarannya lebih dari pada Tuhan Yesus, maka ia tidak akan pernah membuat Kristus Yesus sebagai kebanggaan nya. Jadi kalau rasul Paulus berkata: “aku tidak mau tahu selain Yesus Kristus” tujuannya:
- ia mau membuat pribadi Tuhan Yesus lebih dominan dalam hidupnya, lebih mengidolakan
Yesus dari pada dirinya sendiri.
- ia mau lebih mengutamakan pemberitaan Injil keselamatan kepada bangsa-bangsa dari pada
segala sesuatu yang ada di dunia ini.
Untuk inilah Paulus rela meninggalkan semuanya.

MUSA, setelah lari dari hadapan Firaun, selama empat puluh tahun ia dididik oleh Allah sebelum diutus ke Mesir untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan. Sekali pun sudah sekian lama Musa belum juga berhasil, masih harus diuji lagi supaya ia mengerti akan panggilan Tuhan kepadanya. Maka dalam Keluaran psl 4 ketika Tuhan Allah bertemu dengan Musa dan berfirman, Tuhan lebih dahulu mengubah pola pikirannya dan pendiriannya, supaya ia membuat Allah yang lebih dominan bukan dirinya sendiri. Maka ketika Allah menyuruh supaya Musa melemparkan tongkatnya ke tanah, tongkat itu berubah menjadi ular, sehingga Musa sendiri lari meninggalkannya (ayat 3). Tongkat itu adalah milik kepunyaan Musa sendiri, tetapi kalau sudah berubah menjadi ular, Musa sendiri pun menjadi takut.
Cerita tentang Musa ini adalah satu pelajaran penting yang harus kita ketahui. Sebab hal seperti ini sering sekali terjadi ditengah-tengah kehidupan jemaat mau pun hamba Tuhan. Segala sesuatu yang dimiliki, seperti halnya kekayaan, jabatan, pekerjaan, atau apa pun yang kita miliki di dunia ini, semua itu bisa berubah menjadi sangat menakutkan, termasuk pelayanan sekali pun. Kalau tidak hidup di dalam Kristus, nikah itu bisa menakutkan, istri takut melihat suami yang tidak bertobat demikian juga sebaliknya. Kalau tidak membuat Tuhan lebih dominan dalam hidup, segala usaha atau pekerjaan bahkan kekayaan bisa menakut kan bahkan membahayakan hidup manusia.
Tetapi dalam Keluaran 4 : 3 - 5 setelah tongkat itu berubah menjadi ular, Allah memerintahkan supaya Musa memegang ekornya, bukan kepalanya, maka ular itu pun kembali menjadi tongkat. Dalam hal ini Tuhan mau mendidik kita semua, supaya kita mau membuat Tuhan itu lebih dominan dalam hidup kita, jangan hanya berpatokan kepada apa yang ada pada kita. Sebab jika Tuhan sudah lebih dominan, maka apa yang ada pada kita yang selama ini bisa menakutkan atau pun membahayakan, akan dipakai oleh Tuhan sebagai alat. Keluaran 4 : 17 tongkat Musa itu dipakai untuk membuat tanda-tanda dan mujizat, kemudian dalam ayat 20 tongkat yang tadinya milik Musa sekarang sudah berubah menjadi “tongkat Allah” yang dipakai untuk membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir. Jika hidup adalah Kristus, maka Tuhan akan bersedia mempergunakan kita menjadi alat ditangan-Nya, seperti bersaksi kepada sesama, berkorban, melayani, mengadakan mujizat, dll.



“HIDUP ADALAH KRISTUS”


Minggu - 29 Agustus 2010


Hidup adalah Kristus, itu berarti:

- Kristus Yesus dalam firman-Nya telah memenuhi hidup kita
- Dalam setiap sikap dan perbuatan kita harus mencerminkan Kristus yang ada dalam kita


Maka supaya kita bisa hidup dalam Kristus, firman Tuhan harus tinggal dan memenuhi hidup kita. Karena segala sesuatu dimulai dengan firman Tuhan maka kita wajib hidup sesuai dengan firman Tuhan, yang hidup dan yang berkuasa membaharui hidup kita.

1 Yohanes 1 : 1 - 4 rasul Yohanes memberikan suatu kesaksian tentang firman Tuhan yang hidup:
- yang dapat didengar
- yang dapat dilihat
- yang dapat disaksikan
- yang dapat diraba
Selama rasul Yohanes mendampingi Tuhan Yesus melayani, terlebih setelah Yesus naik ke sorga, Yohanes sudah melihat dan sudah merasakan pengalaman pelayanan bersama dengan Yesus. Karena rasul Yohanes telah menyaksikan tentang firman hidup itu, maka ia menyampaikannya kepada kita sampai sekarang ini.

Tujuannya: supaya kita juga dapat mengalami seperti yang telah dialami rasul Yohanes, dan supaya kita juga dapat merasakan kehebatan kuasa Tuhan dalam firman-Nya.

Maka dalam Kolose 2 : 6 firman Tuhan menjelaskan apa yang kita lakukan setelah kita menerima dan percaya kepada Tuhan Yesus, selanjutnya yang harus kita kerjakan adalah kita harus tetap tinggal di dalam Kristus. Yang dimaksud tinggal di dalam Kristus bukan hanya sekedar percaya begitu saja, tidak cukup hanya datang ke gereja saja, tetapi harus dibarengi dengan sikap dan perbuatan yang benar yaitu yang sesuai dengan firman Tuhan. Kita tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya di dalam kita inilah yang disebut tinggal di dalam Tuhan yang benar.
Kemudian Kolose 2 : 7 Kalau sudah hidup di dalam Kristus ada dua (2) hal penting yang harus tetap kita lakukan, prakteknya:
1. Kita harus berakar di dalam Kristus.
2. Kita harus dibangun di atas Kristus.

Kata “berakar” biasanya ditujukan kepada pohon yang hidup, yang mempunyai akar, pohon itu bisa menjadi besar dan berbuah tentu karena ada akarnya. Pohon yang tidak berakar tidak mungkin bisa bertumbuh dengan baik dan tidak mungkin bisa bertahan menghadapi goncangan angin. Itu sebabnya kalau kita melihat dan memperhatikan sebatang, akar pohon itu selalu dibawah, yaitu di dalam tanah jadi tidak kelihatan, tetapi sekali pun tidak kelihatan fungsinya sangat besar dan nyata, yaitu untuk mencari makanan supaya pohon itu bisa menjadi besar dan berbuah-buah. Akar itu jugalah yang berfungsi menahan supaya pohon itu tidak tumbang walau harus diterpa oleh angin yang kencang.
Maka setiap orang yang sudah berakar di dalam Kristus, rohaninya pasti hidup dan akan bertumbuh dengan baik, ia akan menjadi orang Kristen yang kuat, tidak tergoncangkan oleh apa pun, baik oleh penyakit, oleh penderitaan, kesusahan, atau apa pun yang mencoba menggoncang imannya pasti akan tetap teguh.

Sedangkan kata “dibangun” sering dipakai untuk sebuah bangunan, misalnya rumah, gedung gereja, ruko, dll. Untuk membangun sebuah rumah, seorang ahli tukang biasanya yang pertama-tama dipersiapkan adalah pondasi atau dasarnya, sesudah itu barulah rumah itu mulai dibangun tahap demi tahap, tiangnya, dindingnya, atapnya, plafonnya dan seterusnya sampai bangunan itu selesai dibangun dan siap ditempati.
Untuk itu firman Tuhan dalam 1 Korintus 3 : 9 - 17 menjelas kan jemaat itu sebagai :
- Bangunan Allah
- Rumah Allah/Bait Allah
Yang secara keseluruhan disebut sebagai Tabernakel Allah, yaitu tempat Allah menyatakan kehadiran-Nya ditengah-tengah umat-Nya. Jadi kalau dibangun menjadi rumah atau Bait Allah, tujuannya adalah supaya Allah diam di dalam hidup kita dan kita di dalam Allah.
1 Korintus 3 : 16 satu pernyataan dari firman Tuhan yang harus tetap kita ingat: “Kamu adalah bait Alllah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu.” Ayat firman Tuhan ini harus tetap kita yakini bahwa kita sudah dibangun menjadi baik Allah dan bahwa Roh Allah sudah diam diam di dalam kita. Karena itu setelah percaya kepada Yesus atau setelah diperdamaikan dengan Allah oleh korban Kristus, selanjutnya kita harus mau dibangun supaya menjadi bait Allah yang kudus.
Untuk membangun kita, 1 Korintus 3 : 10 - 11 Paulus sebagai rasul Kristus adalah seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, yaitu Kristus sebagai teladan yang sempurna. Tidak ada seorang pun yang bisa meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Ini berbicara: kita harus mau hidup dan tinggal di dalam ibadah dan penggembalaan yang benar supaya kita memiliki persekutuan yang erat dengan Kristus sebagai Kepala atau sebagai Mempelai Pria sorga, bagaikan ranting yang tetap melekat pada pokok supaya tetap dibersihkan dan mendapat perhatian dari pemilik anggur tersebut (Yohanes 15).

Inti dari semua itu supaya kita berhasil dibangun menjadi bait Allah yang kudus, harus dibangun di atas dasar firman Tuhan. Mengapa? sebab Yesus itu adalah firman Tuhan yang telah menjadi manusia dan yang mau diam ditengah-tengah kita. Kalau dibangun diluar dasar firman Tuhan, maka sudah pasti Allah tidak akan mau diam di dalamnya, dan bangunan itu tidak bisa disebut sebagai bait Allah. Tetapi karena sudah dibangun di atas dasar yang benar, yaitu berdasarkan firman Tuhan, maka kita akan layak disebut sebagai bait Allah yang dikuduskan, yang dipandang layak untuk dijadikan sebagai umat kepunyaan Tuhan sendiri.
Tetapi perlu kita perhatikan dengan baik-baik, sekali pun sudah dibangun menjadi bait Allah, perlu kita ketahui bahwa bangunan itu juga masih akan diuji lagi. Dijelaskan dalam 1 Korintus 3 : 12 ada dua (2) bentuk bangunan, yaitu:
- yang dibangun di atas dasar emas, perak dan batu permata
- yang dibangun di atas dasar kayu, rumput kering dan jerami
Kedua bentuk bangunan ini sama-sama akan diuji dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Bangunan yang sudah dibangun di atas dasar yang benar, yaitu yang berdasarkan korban Kristus dan yang dibangun di atas firman Tuhan “akan tahan uji.” Bagaikan emas, perak dan batu permata yang tahan dibakar, demikian juga kita akan tahan walau pun ujian itu datangnya seperti api (ayat 14). Dan setiap orang yang sudah tahan uji, ia akan mendapat upah yang besar, yaitu: berhak mendapatkan hidup yang kekal di dalam kerajaan sorga bersama-sama dengan Kristus.
Sebaliknya kalau bangunan itu tidak dibangun di atas dasar yang benar, maka bangunan itu akan hangus terbakar. Seperti kayu, rumput kering dan jerami yang mudah terbakar, demikianlah setiap orang yang tidak mau membangun rohaninya di atas dasar kebenaran, suatu saat akan hangus sebab tidak tahan uji (ayat 15). Dengan sendirinya ia akan meninggalkan Tuhan, meninggalkan pelayanan, bahkan akan merusak dirinya sendiri, merusak rumah tangganya sebab tidak ada firman Tuhan dalam hatinya. Seseorang yang tidak tahan uji, ia akan menderita kerugian yang sangat besar, pertama-tama hidupnya jauh dari pemeliharaan Tuhan selanjutnya kalau tidak bertobat, ia tidak akan layak masuk ke dalam kerajaan sorga. Kalau mau bertobat, ia masih bisa diselamatkan, tetapi seperti sesuatu yang dirampas dari dalam api.
Sejak dalam Keluaran 25 : 8 - 9 firman Tuhan sudah datang kepada bangsa Israel supaya membangun “tempat kudus” supaya Tuhan diam di tengah-tengah mereka. Tempat kudus itu dibangun harus sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan Tuhan sendiri, termasuk segala perabotan yang diperlukan untuk membangun, seluruhnya harus sesuai dengan ketentuan Tuhan sendiri.

Karena itu kalau kita dibangun menjadi bait Allah yang kudus tentu ada maksud dan tujuannya, yaitu:

1. Supaya menjadi tempat Allah menyatakan kehadiran-Nya, yaitu supaya persiapkan menjadi tubuh Kristus. Gereja Tuhan yang jadi tubuh Kristus inilah nantinya yang mendapat perhatian dari Tuhan secara sepenuh, dari hari kehari dibentuk sampai sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri.
2. Supaya kita mengetahui sampai di mana tingkat kerohanaian kita dalam mengikut Tuhan. Ini sangat perlu, sebab pada zaman sekarang ini banyak orang merasa sudah benar, merasa sudah kudus, merasa sudah jadi mempelai perempuan, padahal hidupnya jauh dari kebenaran, masih jauh dari kehendak Tuhan.
3. Supaya kita dipenuhi dengan kemuliaan Allah. Kemuliaan itu ditempatkan tidak disembarang tempat, tidak kepada semua orang, tidak di dalam gedung gereja tetapi di dalam diri gereja Tuhan yang sudah dibangun menjadi bait Allah yang kudus.

Jadi kalau kita mau dibangun menjadi bait Allah yang kudus, kita juga akan dibangun menjadi tubuh Kristus, yaitu menjadi sidang mempelai perempuan Kristus yang dikuduskan dan disempurnakan. HALELUYA ....... !!!!!

Rabu, 07 Juli 2010

Buletin J U L I 2010

“MEMANDANG SALIB KRISTUS”


Minggu - 04 Juli 2010



Melayani yang benar harus didasari dengan kasih dan dengan pengabdian diri secara sepenuhnya kepada Tuhan. Maka yang disebut melayani itu adalah seberapa besar kita telah berbuat bagi bagi Tuhan dan seberapa besar kita berguna baik kepada Tuhan mau pun kepada sesama manusia. Sebab yang disebut melayani bukan hanya sekedar melayani begitu saja dan bukan hanya sekedar berbuat begitu saja, tetapi dengan arah dan tujuan yang jelas.

Saudara-saudara, Tuhan ingin menguasai hati kita, hasrat atau pun keinginan kita, Dia mau supaya hanya Dia saja yang ada di dalam hati dan pikiran kita. Tetapi yang menjadi masalah adalah dari diri manusia itu sendiri. Sebab banyak orang tidak mau memperhatikan kebenaran dan tidak mau hidup sesuai dengan firman Tuhan. Kerinduan Tuhan Yesus supaya kita mampu menyangkal diri dan memikul salib setiap hari, tetapi banyak orang Kristen yang hidupnya tidak sesuai dengan keinginan Tuhan Yesus tersebut.

SALIB itu menunjuk kepada penderitaan, kita harus mampu mengikut Tuhan walau pun harus mengalami banyak penderitaan. Tetapi menderita disini bukan karena dosa atau karena pelanggaran, melainkan karena nama Tuhan, menderita karena mau melakukan firman Tuhan. Sama seperti Tuhan Yesus, ketika Ia disalibkan bukan karena dosa-Nya sendiri dan bukan karena kejahatan-Nya, tetapi karena dosa-dosa manusia. Ia tersalib supaya terbuka jalan keselamatan bagi kita, jalan yang membawa kita kepada kehendak Tuhan. Dan kehendak Tuhan itu ialah kita harus berjalan dalam salib, berjalan menuruti kehendak Tuhan. Berjalan dalam salib itu bukan karena paksaan dan bukan pula karena keinginan diri sendiri tetapi sepenuhnya harus karena kehendak Tuhan sendiri.
Yesus disalibkan bukan karena terpaksa tetapi murni karena kehendak Tuhan sendiri. Tetapi kalau kita lihat lewat salib itu Tuhan Yesus dipermuliakan, sebab sekali pun Ia telah mati namun Ia hidup kembali dan naik ke sorga dipermuliakan di dalam kerajaan-Nya.
Bagi kita sekarang, salib itu menjadi sumber pertolongan, sumber pengharapan, sumber keselamatan, sumber kemenangan, salib itu juga menjadi sumber pengurapan dari Roh Kudus yang bisa membawa kita untuk memperoleh kemenangan demi kemenangan. 1 Korintus 1 : 18 firman Tuhan berkata: “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”
- Bagi orang-orang yang akan binasa pemberitaan tentang salib itu adalah kebodohan, mereka menganggapnya sebagai suatu kebodohan karena mereka tidak sanggup menerima jalan salib tersebut. Maka kalau ada orang Kristen yang berani menolak salib, berarti ia sedang menolak firman Tuhan, ia sedang menolak kemuliaan = menolak sorga maka ia akan mati binasa di api neraka.

- Tetapi bagi kita, yang mau menderita karena mengikut Tuhan, pemberitaan tentang salib itu bukanlah suatu kebodohan, sebaliknya menjadi berkat. Sebab lewat salib itu kita telah diselamatkan, segala dosa dan pelanggaran kita telah dihapuskan dan lewat salib itu ada janji-janji Tuhan yang besar. Jadi bagi kita pemberitaan tentang salib itu merupakan kekuatan Allah, artinya kalau kita mau menderita karena firman Tuhan, maka kekuatan Allah akan diberikan kepada kita. Ada kekuatan atau kemampuan berjalan bersama dengan Kristus.

Roma 8 : 22 - 23 firman Tuhan menjelaskan jalan salib itu diibaratkan seperti “seorang ibu” yang sedang merasa sakit bersalin, yang mengalami banyak kesakitan. Tetapi jika tetap sabar, kesakitan itu akan berubah menjadi sukacita yang besar, sebab jika kita tetap setia mengikut Tuhan maka kita akan menerima karunia sulung Roh, Tuhan akan memenuhi kita dengan Roh Kudus-Nya yang memberi penghiburan dan pertolongan.
Sekali pun dalam memikul salib itu hati kita juga mengeluh, namun Tuhan akan memberi kekuatan dan penghiburan sambil kita menantikan pengangkatan, kita dipermuliakan bersama dengan Kristus dalam kemuliaan-Nya.

Saudara-saudara, pada hari-hari yang lalu kita sudah melihat Abraham sebagai contoh seorang yang hidup dalam iman, yang tetap percaya kepada Allah walau pun harus mengalami penderitaan yang besar. Namun Abraham tetap percaya dan berharap kepada Tuhan, oleh iman itu ia mampu meninggalkan negerinya, rumah bapanya dan sanak saudaranya. Dan oleh iman itu juga Abraham mampu berjalan dan pergi ke tempat yang belum pernah ia jalani. Kita bisa melihatnya dalam Kejadian 12 : 1 - 3 ketika pertama kali Allah mulai memanggil Abram supaya meninggalkan negerinya, rumah bapanya dan sanak saudaranya. Janji yang diberikan Tuhan kepadanya masih disebut “akan” yang berarti belum diberikan, tetapi masih akan diberikan. Tetapi sekali pun demikian, karena imannya ia tetap berjalan ke tempat yang telah dijanjikan Tuhan kepadanya.
Demikian juga setiap orang yang rindu disebut sebagai keturunan Abraham, kita harus mau meneladani sikap Abraham. Kalau kita sudah hidup dalam iman, maka iman itu akan kita pakai untuk memperoleh apa yang telah dijanjikan Tuhan. Dan kalau kita sudah hidup dalam iman, maka berkat Abraham akan turun kepada kita. Kalau kita sudah hidup dalam iman, berarti kita juga akan disebut sebagai anak-anak janji, yang telah dilahirkan dari benih ilahi. Maleakhi 2 : 15 yang paling diinginkan Tuhan adalah keturunan ilahi, inilah orang-orang yang telah dilahirkan dari Allah, yang sudah hidup dalam iman.
Karena itu supaya kita bisa hidup dalam iman, ada satu perkara yang sangat penting kita perhatikan, perkara ini sifatnya mengikat dan membuat manusia jauh dari kebenaran, yaitu “adat istiadat” atau ajaran turun temurn dari nenek moyang. Kolose 2 : 20 - 23 firman Tuhan menjelaskan yang disebut orang-orang merdeka adalah mereka yang sudah bebas dari roh-roh dunia. Apakah yang dimaksud dengan roh-roh dunia tersebut? yaitu rupa-rupa peraturan, perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia, yang tidak berdasarkan kebenaran = inilah adat istiadat tersebut.
Ajaran-ajaran manusia itu memang nampaknya penuh hikmat tetapi banyak peraturannya yang membuat manusia itu menjadi terikat, sehingga tidak heran banyak orang sukar sekali melepaskan diri dari adat istiadat. Kalau kita lihat sekarang ini banyak orang punya prinsip: lebih takut disebut tidak punya adat, lebih takut dikucilkan dari sanak saudara dari pada memperhatikan firman Tuhan. Ini prinsip yang salah, tidak boleh dipertahankan. Keselamatan itu kita peroleh hanya dari Tuhan Yesus lewat mengerjakan apa yang menjadi kehendak-Nya, bukan karena melakukan adat istiadat atau peraturan-peraturan manusia.

Maka setiap orang yang masih terikat dengan adat istiadat berarti:
- ia masih diikat oleh roh-roh dunia
- ia sedang menaklukkan dirinya pada rupa-rupa peraturan manusia yang tidak menurut firman
- ia bukan melakukan firman Tuhan tetapi ajaran manusia

Adat istiadat atau peraturan-peraturan manusai itu nampaknya memang baik, sepertinya bisa merendahkan diri dan sepertinya penuh hikmat, tetapi menurut firman Tuhan ini tidak berguna selain hanya untuk memuaskan hidup duniawi. Setiap orang yang masih terikat dengan adat istiadat atau ajaran-ajaran dari nenek moyang, ia sedang melakukannya untuk manusia bukan untuk Tuhan, ia sedang memuaskan hawa nafsunya. Kalau tetap seperti ini keselamatan yang dari pada Tuhan itu tidak akan menjadi miliknya. Sebab dalam Markus 7 : 7 - 9 Tuhan Yesus menjelaskan bagaimana bahaya adat istiadat tersebut. Walau pun beribadah bahkan sekalipun masih tetap melayani, tetapi kalau yang dilakukan itu hanya karena perintah manusia (adat istiadat = kebiasaan) dihadapan Tuhan semua itu percuma saja. Tuhan Yesus menyebutnya sebagai orang-orang yang munafik.
Jadi supaya kita bisa bebas dari roh-roh dunia atau dari adat istiadat, syaratnya: kita harus mampu menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Yaitu mengalami proses mati dan bangkit bersama dengan Kristus. Jadi setiap orang yang rela meninggal kan adat istiadatnya sama dengan merelakan diri untuk memandang salib Kristus, mau menderita karena melakukan firman Tuhan.
Galatia 5 : 16 jika kita sudah hidup oleh Roh, maka kita tidak akan menuruti keinginan daging, oleh Roh Kudus itu kita dapat mematikan segala keinginan daging. Sebaliknya kalau tidak hidup oleh Roh, ia akan selalu menuruti keinginan daging yang sebenarnya tidak dikehendakinya. Mengapa demikian? sebab di dalam dirinya tidak ada kekuatan atau kuasa untuk mematikan segala keinginan dagingnya.

Maka dalam 2 Korintus 5 : 17 firman Tuhan mengatakan yang layak disebut “di dalam Kristus” adalah mereka yang sudah diciptakan menjadi ciptaan baru, yaitu yang sudah mengalami tanda pembaharuan sehingga yang lama sudah berlalu dan sekarang yang datang adalah yang baru, yaitu perkara-perkara yang rohani.
DAUD adalah contoh orang yang cinta Tuhan, yang cinta kebenaran dan yang cinta firman Tuhan. 2 Samuel 16 : 5 - 14 sekalipun Daud pernah diejek bahkan dikutuki oleh Simei, tetapi Daud tidak tersinggung. Mengapa? sebab ia sudah hidup dalam Roh. Demikian lah setiap orang yang sudah hidup dalam Roh, ia akan dipimpin oleh Roh untuk menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.




“BERJALAN DALAM SALIB KRISTUS”

Minggu - 11 J u l y 2010


Terpujilah Tuhan kita, Yesus Kristus, Kepala gereja dan Mempelai Pria sorga yang menyertai dan yang memberkati kita terus menerus sampai Ia datang kembali. Kita patut bersyukur karena firman Tuhan terus menerus diperdengarkan dan diberikan kepada kita. Betapa pentingnya kita tetap memandang salib Kristus, sumber pertolongan bagi kita, sumber pengurapan dari Roh Kudus. Walaupun salib itu berbicara kepada kematian, tetapi inilah sumber yang menghidupkan kita supaya kita semua layak disebut milik Kristus. Kita semua harus mau berjalan dalam salib Kristus.
Dalam Ibadah pendalaman Alkitab, pada hari-hari yang lalu, kita sudah melihat bahwa untuk mendapatkan minyak urapan harus terbuat dari bahan-bahan yang telah ditentukan sendiri oleh Tuhan, tidak boleh ditambah dengan bahan-bahan yang lain, sepenuhnya Tuhan yang menentukan. Yaitu dari rempah-rempah pilihan, seperti mur tetesan lima ratus syikal, kayu manis, tebu yang baik, kayu teja dan minyak zaitun (Keluaran 30 : 22 - 25).
Khusus untuk mendapatkan mur tetesan lima ratus syikal, pohonnya harus dilukai supaya keluar tetesan mur. Ini berbicara jalan salib, sebagai umat Tuhan kita harus tetap berjalan di dalam salib supaya Roh Kudus mengurapi kita. Jalan salib = menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Sebelum Yesus disalibkan, terlebih dahulu Ia harus mengalami penderitaan yang begitu berat setelah itu barulah Ia mati di kayu salib, darah-Nya menetes bagaikan tetesan minyak mur yang keluar dari pohon yang telah dilukai. Kalau Saudara mau hidup rohanimu, harus mau menghargai salib Kristus.

Jadi mur tetesan itu menunjuk jalan salib, Tuhan Yesus sedang membawa kita berjalan dalam jalan salib supaya kita bisa mati terhadap segala keinginan diri sendiri, mati terhadap ego.

Angka lima ratus syikal = angka penuntasan terhadap segala keinginan daging. Setiap orang yang ingin diurapi oleh Roh Kudus, ia harus mau mematikan segala keinginan dagingnya.

Jalan salib itu bukan jalan yang tepaksa, Yesus mati di kayu salib bukan karena terpaksa, tetapi karena telah ditentukan sendiri oleh Tuhan supaya menjadi korban penebusan dan pendamaian bagi kita. Kalau seandainya Tuhan Yesus tidak rela mati di kayu, atau jika seandainya Yesus karena terpaksa saja mati di kayu salib, maka keselamatan tidak akan pernah menjasdi milik kita, dar tidak akan ada satu paku pun yang bisa menembus tangan-Nya atau kaki-Nya. Karena itu kalau pun sekarang ini Tuhan sengaja membawa kita berjalan dalam salib, jangan dengan paksaan tetapi harus dengan kerelaan, jalani semua dengan sukacita. Sebab kalau dengan paksaan maka Saudara tidak akan pernah melihat mujizat yang besar, tidak akan pernah mengalami keselamatan dan tidak mungkin bisa masuk ke dalam kerajaan sorga. Kalau pun dengan seijin Tuhan kita harus berjalan dalam salib, jangan mengelak dan jangan dengan paksaan, INGAT! ini jalan untuk mendekatkan kita kepada Tuhan.

Yesaya 53 : 3 - 5 nubuat tentang penderitaan yang dialami Tuhan Yesus. Kematian Kristus di kayu salib adalah untuk menanggung penyakit kita, kesengsaraan kita, kita dan pemberontakankejahatan kita. Oleh kematian Yesus di kayu salib, maka ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita telah ditimpakan kepada Tuhan Yesus (=jalan salib). Sehingga sekali pun kita sedang mengalami banyak penderitaan, itu bukan lagi karena dosa tetapi karena seijin Tuhan, kita harus menjalaninya dengan kerelaan.
Jalan salib adalah jalan yang telah ditentukan Tuhan supaya kita diselamatkan, supaya kita diberkati, supaya kita dipelihara sampai kepada kedatangan-Nya yang kedua kali. Kita lihat dalam Filipi 1 : 29 firman Tuhan menjelaskan: kepada kita dikaruniakan bukan hanya percaya saja, tetapi menderita untuk Kristus (=jalan dalam salib). Jadi kalau kita mau menderita karena Kristus, menderita karena melakukan kebenaran, penderitaan yang kita alami itu adalah untuk Kristus. Kalau hanya untuk percaya saja siapa pun bisa, apalagi kalau hanya untuk diberkati, pasti lebih banyak orang percaya kepada Tuhan. Tetapi bagaimana jika Saudara sedang dibawa berjalan dalam salib, apakah Saudara mau? Tidak ada jalan lain yang bisa menyelamatkan kita dari dosa, tidak ada jalan lain yang bisa membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, selain jalan dalam salib.

Salah satu jemaat yang berjalan dalam jalan salib adalah jemaat di Tesalonika, yang berhasil hidup dalam iman, tetap berharap kepada Tuhan dan hidup dalam kasih sehingga Tuhan sendiri telah memilih mereka. Dalam terang Tabernakel kitab Tesalonika ini berbicara pakaian imam, yang menunjuk sikap dan perbuatan yang benar sehingga kita layak disebut sebagai imam-imam bagi Allah. Artinya jika kita ingin seperti jemaat di Tesalonika yang berhasil menjadi orang yang dipilih oleh Tuhan, maka kita juga harus mau berjalan dalam jalan salib. 1 Tesalonika 1 : 6 dijelaskan: sekali pun jemaat di Tesalonika ini hidup dalam penindasan yang berat, tetapi mereka berhasil menerima firman Tuhan dengan sukacita, bukan dengan paksaan dan Roh Kudus pun bekerja dengan leluasa dalam hidup mereka. Sehingga firman Tuhan mengatakan bahwa mereka telah berhasil menjadi teladan untuk semua orang (ayat 7).

Proses supaya kita bisa berjalan dalam salib:
- kita harus mau hidup dalam kebenaran,
- kita harus diurapi dengan Roh Kudus.

Firman Tuhan dalam 1 Petrus 4 : 12 - 16 menjelaskan penderitaan itu bentuknya seperti nyala api siksaan yang datang sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kita. Tetapi sekali pun demikian, karena penderitaan itu seijin Tuhan, kita harus bergembira dan bersukacita menerimanya, jangan dengan paksaan dan jangan menolak jika hal ini datang menimpa kita. Kalau kita sabar, berkatnya maka Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada pada kita.
Demikian juga dalam 2 Korintus 4 : 16 - 17 firman Tuhan mengatakan Tuhan sedang membawa kita masuk ke dalam penderitaan, untuk itu kita tidak boleh tawar hati. Mengapa? sebab penderitaan itu mengerjakan bagi kita kemuliaan yang kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari penderitaan yang sedang kita alami. Sebab justru lewat penderitaan itu manusia batiniah kita sedang dibaharui dari sehari ke sehari sampai kita memperoleh kemuliaan yang kekal (ayat 18). Penderitaan yang datang dengan seijin Tuhan itu berfungsi untuk membaharui kita, termasuk hati dan pikiran, supaya tetap berharap hanya kepada Tuhan saja, tidak mengandalkan diri sendiri apalagi tidak mengandalkan orang lain.
Hidup manusia itu sebenarnya sangat singkat dan tidak banyak yang bisa diperbuat. Tidak ada jalan lain yang bisa membawa kita kepada kehidupan yang kekal selain lewat jalan salib. Dunia ini memang selalu menawarkan yang baik-baik, banyak orang yang ingin kaya, jabatan yang bagus, pekerjaan yang bagus, usaha yang maju, tidak sadar mereka sedang tertipu.
Bahkan dalam pelayanan banyak orang berkhotbah hanya berfokus kepada berkat-berkat saja, khotbah yang paling dikejar orang adalah khotbah soal berkat-berkat jasmani. dan kesembuhan secara jasmani saja. Mereka tidak sadar bahwa perkara-perkara yang jasmani itu bisa membawa mereka jauh dari pada Tuhan. Wahyu 2 : 4 - 5 firman Tuhan menjelaskan tentang keadaan jemaat di Efesus yang ditegur oleh Tuhan dengan keras sebab ada pekerjaan mereka yang tidak berkenan kepada Tuhan. Firman Tuhan mengatakan bahwa kejatuhan yang paling dalam itu bukan karena berzinah, bukan karena mencuri atau membunuh. Tetapi dimata Tuhan, kejatuhan yang paling dalam adalah meninggalkan kasih yang mula-mula. Meninggalkan kasih yang mula-mula itu juga termasuk di dalamnya karena tidak mau lagi menderita karena kebenaran, tidak mau menderita karena melakukan firman Tuhan, dengan kata lain tidak mau berjalan dalam salib.
Sauadara-saudara, kita semua mempunyai jalan salib masing-masing. Baik sebagai suami mempunyai jalan salib sendiri, baik sebagai istri mempunyai jalan salib sendiri, demikian juga sebagai hamba Tuhan mempunyai jalan salib sendiri. Seorang yang sedang mengalami jalan salib karena Kristus tidak boleh digantikan dengan yang lain. Misalnya suami tidak bisa menyerahkan jalan salibnya kepada istri demikian sebaliknya istri tidak bisa menyerahkan jalan salibnya kepada suaminya. Masing-masing harus menjalaninya dengan taat dan setia sambil beribadah dan melayani Tuhan. Sebagai seorang suami ataupun sebagai seorang istri, harus mau memikul salib yang telah dipikulkan Tuhan kepadanya, tidak boleh diserahkan kepada yang lain.
Orang yang mau berjalan dalam salib Kristus, yang mau menderita karena melakukan firman Tuhan, berkatnya: pandangannya akan diubahkan oleh Tuhan. Fokus pandangannya bukan kepada yang sementara, bukan kepada yang dapat kelihatan, tetapi kepada yang tidak dapat kelihatan, yaitu yang kekal.

MUSA
adalah contoh orang yang sudah diubahkan pandangannya. Ibrani 11 : 24 - 26:
- mampu menolak disebut sebagai putri Firaun (=berubah menjadi anak Tuhan)
- lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah (=mau berjalan dalam jalan salib)
- menganggap penderitaan itu sebagai kekayaan yang lebih besar dari semua harta Mesir (=membuat jalan salib itu sebagai kebanggan bukan karena paksaan).

Sebagai jemaat Tuhan, kita patut kagum melihat tindakan Musa ini sebab, yang ditinggalkan Musa di Mesir itu bukan harta yang sedikit, bukan jabatan yang rendah, tetapi kekayaan yang luar biasa besarnya. Namun walaupun demikian Musa mampu meninggalkan semua itu setelah pandangannya diubah, sekarang pandangannya sudah diarahkan kepada upah, yaitu untuk memperoleh hidup yang kekal.
Demikian juga kalau kita mau meniru sikap Musa tersebut, jika kita mau berjalan dalam salib Kristus, pandangan kita juga akan diubahkan untuk memperoleh hidup yang kekal di dalam kerajaan Sorga. Karena itu jangan mengelak dari jalan salib yang sudah ditentukan Tuhan untuk kita jalani, jangan bersungut-sungut dan jangan menganggap penderitaan itu sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan. Ingat! dibalik jalan salib itu sudah tersedia berkat yang besar, sudah tersedia hidup kekal yang disediakan bagi kita di dalam kerajaan sorga.
H A L E L U Y A ..................!!!!!!!!!!!!!



“BERJALAN DALAM SALIB KRISTUS”


Minggu - 18 July 2010


SALIB adalah hikmat Tuhan yang sanggup membawa kita kepada keselamatan, hikmat Tuhan yang bisa membawa kita mendekat kepada Allah. Maka bagi kita jalan salib itu adalah jalan yang sudah ditentukan untuk kita jalani, tidak ada seorang pun yang bisa mengelak dari jalan salib ini.
Kalau Tuhan sengaja membawa kita berjalan dalam salib, berarti Tuhan sedang mengajar supaya kita bisa menjadi nol, yaitu menganggap diri tidak ada apa-apanya, tidak lagi mengandalkan diri sendiri tetapi sepenuhnya sudah bergantung harap hanya kepada Tuhan Yesus saja. Dalam 2 Korintus 12 : 7 - 10 firman Tuhan menjelaskan apa yang dialami oleh rasul Paulus ketika di dalam dirinya Tuhan sengaja menaruh suatu “duri” di dalam dagingnya.
Duri dalam daging itu adalah utusan iblis yang datang untuk menggocoh (=mengacau) hidupnya. Paulus sebagai rasul Kristus sudah tiga kali berseru kepada Tuhan supaya utusan iblis itu undur dari padanya, tetapi Tuhan tidak menjawab doanya, duri dalam dagingnya itu tidak dicabut. Justru Tuhan berkata kepadanya: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Tuhan Allah sengaja mengijinkan utusan iblis itu bagaikan duri dalam daging supaya Paulus tetap bersandar hanya kepada Tuhan dan supaya Paulus jangan sampai mengandalkan kehebatannya.
Intinya:
- Tuhan mau supaya hanya Dia saja yang lebih dominan dalam hidupnya.
- Tuhan mau hanya Dia saja diandalkan.


Mazmur 49 : 6 - 8 ciri-ciri atau keadaan manusia kalau Tuhan tidak dominan di dalam dirinya:
- menaruh percaya hanya kepada harta benda.
- kemegahan/kebanggaannya hanya kepada banyaknya harta kekayaannya.


Firman Tuhan dalam Mazmur 49 : 8 - 9 mengatakan “Tidak seorang pun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya.”

Saudara-saudara, kalau bukan Tuhan yang dominan maka tidak ada seorang pun yang dapat membebaskan dirinya dari dosa atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya. Mengapa? karena seberapa pun besarnya harta kekayaan yang kita miliki, semua itu tidak bisa membebaskan kita dari dosa. Walaupun hartanya melimpah, walau pun pangkatnya tinggi, jabatannya juga tinggi, ini juga tidak bisa melepaskan manusia dari dosa.
Justru firman Tuhan dengan tegas mengatakan: “Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.” Jadi kalau bukan Tuhan yang lebih dominan di dalam diri manusia, nasib manusia itu akan menjadi sama dengan binatang (ayat 21). Mereka akan sama seperti domba yang meluncur ke dunia orang mati, digembalakan langsung oleh maut. Selama manusia itu bergantung kepada apa yang ada padanya, semua itu bisa berubah, semua bisa mengecewakan dan semua bisa meninggalkannya dengan tiba-tiba.
- Ketika engkau punya sahabat, saudara atau orang yang paling dekat dengan dirimu, suatu saat mereka bisa saja meninggalkan engkau.
- Ketika engkau punya segala-galanya, engkau dihormati orang lain, banyak orang yang kagum karena kekayaan atau karena jabatanmu, tetapi ketika engkau tidak punya apa-apa lagi mereka semua dengan segera akan meninggalkan engkau.

Itulah dunia dan itulah juga sifat manusia, sifatnya tidak kekal hanya sementara saja, semua bisa berubah dengan segera. Hanya satu saja sifatnya yang kekal, yaitu jika kita berjalan bersama dengan Kristus dalam jalan salib, Tuhan Yesus pasti setia menemani kita sampai berhasil masuk ke dalam kerajaan sorga. Satu-satunya yang bisa membebaskan kita dari dosa hanyalah darah Kristus yang telah memperdamaikan kita dengan Bapa di sorga. Karena itu kalau Saudara ingin diperdamaikan dengan Kristus, harus ada kerelaan berjalan bersama dengan Kristus dalam salib. Bagi Tuhan tidak terlalu sulit untuk memberikan pertolongan.
Saudara-saudara, sebenarnya tidak terlalu sulit bagi Tuhan untuk melepaskan bangsa Israel dari Mesir, dan tidak terlalu sulit bagi Tuhan untuk memberikan apa yang mereka perlukan di padang gurun, ketika bangsa Israel keluar Tuhan bersedia mencukupkan segala kebutuhan mereka. Tetapi yang jadi masalah adalah dari pihak bangsa Israel sendiri, yaitu karena mereka tidak dapat mengikuti apa yang menjadi kehendak Tuhan, mereka tidak taat dan tidak dengar-dengaran kepada firman Tuhan. Bangsa Israel tidak dapat mengalahkan kehendak diri sendiri = tidak mampu berjalan dalam salib.
Sebagai jemaat Tuhan yang benar, kita harus tahu bahwa kita di dunia ini hanyalah sebagai PENDATANG & PERANTAU (1 Petrus 2 : 11).
Maksudnya adalah:
- Tuhan mau supaya kita semua tidak terikat dengan perkara-perkara yang duniawi.
- Tuhan mau supaya hanya Dia saja yang lebih dominan dalam hidup kita.

Sehingga kalaupun Tuhan sengaja mengijinkan kita berjalan dalam salib, pederitaan atau pencobaan itu datang silih berganti, ingat! Tuhan selalu bersedia memberi jalan keluarnya, Dia pasti akan memberi pertolongan tepat pada waktunya.
1 Raja-raja 18 : 36 - 40 ketika nabi Elia berhadapan dengan nabi-nabi Baal, bangsa Israel sudah beribadah kepada allah lain. Dan setelah nabi Elia memperbaiki mezbah dan ia sendiri berdoa kepada Tuhan memohon supaya Tuhan menjawab doanya, setelah Tuhan melihat Elia sudah menyerahkan dirinya kepada Tuhan, maka Tuhan pun menjawab doanya.
Musa sebelum diutus ke Mesir memang sudah punya tongkat, tetapi tongkatnya ini belum punya kuasa, ketika tongkatnya itu dilemparkan ke tanah tongkat itu berubah menjadi ular. Ini berbicara sebelum Tuhan mendominasi dalam hidup manusia, maka kuasa Tuhan tidak akan menjadi nyata. Tetapi setelah Tuhan mendominasi dalam hidupnya dan setelah pola pikir Musa diubahkan, tongkat yang ditangan Musa itu menjadi tongkat Tuhan yang dipakai untuk menunjukkan kuasa Tuhan baik kepada orang Mesir mau pun kepada bangsa Israel sendiri bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya yang sanggup memberi kelepasan dari Mesir. Tongkat inilah yang dipakai oleh Musa untuk mengadakan mujizat selama di padang gurun, dan tongkat inilah juga yang dipakai untuk memimpin mereka selama di padang gurun. Supaya bangsa Israel mampu berjalan di padang gurun, kemampuan Tuhan harus di atas segala-galanya.
Saudara-saudara, jalan salib itu berfungsi membuat hidup kita menjadi tidak kelihatan lagi (=dihadapan Tuhan menjadi nol) namun lewat jalan salib itu juga kuasa Tuhan akan menjadi nyata yang memberi pertolongan tepat pada waktunya. Asalkan Kristus yang mendominasi dalam hiaup kita, maka kuasa Tuhan itu akan memimpin hidup kita. Tuhan itu akan hidup di dalam kita, kuasa Tuhan itu akan menjadi nyata dalam kehidupan kita yang dikendalikan oleh Tuhan.
Yeremia 29 : 11
menjelaskan rancangan Tuhan dalam hidup kita bukanlah rancangan kecelakaan, tetapi rancangan yang mendatangkan damai sejahtera untuk memberikan hari depan yang penuh harapan. Teladan supaya kita bisa berjalan dalam salib adalah pribadi Tuhan Yesus sendiri yang telah meninggalkan teladan yang baik kepada kita semua. Kristus telah menderita untuk kita maka kita wajib mengikuti teladannya tersebut, kita harus mengikuti jejak-Nya (1 Petrus 2 : 21). Jika sudah demikian, maka kasih karunia Allah akan nyata dalam hidup kita, kita hidup tetapi bukan kita lagi melainkan Kristus yang diam di dalam kita.



“BERJALAN DALAM SALIB KRISTUS”


Minggu - 25 Juli 2010


Mengapa kita harus beribadah?
Tujuannya : untuk membawa kepada Tuhan sebuah persembahan yang hidup dan yang berkenan kepada-Nya, yaitu tubuh kita sendiri.
Kita datang beribadah ke gereja jangan karena suatu aturan dan peraturan, jangan hanya karena agama Kristen, jangan hanya untuk bertemu dengan teman-teman yang lain, bukan supaya dikenal oleh orang lain, tetapi sepenuhnya untuk membawa dan mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan, supaya hidup kita bisa berkenan kepada Tuhan. Beribadah itu bukan hanya sekedar datang ke gereja saja, beribadah itu bukan hanya sekedar membawa korban persembahan, tetapi untuk menyenangkan hati Tuhan dan untuk mengambil hati Tuhan.

Kejadian 4 : 1 - 7 Adam mempunyai dua orang anak, yang pertama bernama Kain dan yang kedua bernama Habel. Kain menjadi seorang “petani” yang mengusahakan tanah yang telah dikutuk karena dosa, sedangkan Habel menjadi seorang “gembala” kambing domba.Setelah mereka besar, mereka sama-sama beribadah dan berkorban kepada Tuhan. Kain mempersem-bahkan sebagian dari hasil tanahnya, sedangkan Habel mempersembahkan korban persembahan dari “anak sulung” kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya.

Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan Tuhan, sedangkan Habel diindahkan Tuhan. Karena persembahan Kain tidak diindahkan Tuhan, maka hatinya menjadi panas dan mukanya muram.Walau pun firman Tuhan datang mengingatkan Kain tetapi Kain tidak memperhatikannya, sehingga Kain menjadi seorang pembunuh dan yang dibunuhnya adalah saudara kandungnya sendiri, bukan orang lain.

Yang perlu kita pelajari dari ayat tersebut di atas adalah bahwa ibadah dan persembahan yang benar itu harus didasari dengan adanya korban yang benar, yang di dalamnya ada penumpahan darah sebagai lambang korban Kristus di kayu salib sebagai Anak Domba yang disembelih.
Kain dan korban persembahannya tidak diindah kan Tuhan, karena yang dipersembahkan adalah dari hasil tanah. Segala sesuatu yang dipersembahkan kepada Tuhan jika berasal dari tanah, maka persembahan itu tidak mungkin bisa berkenan kepada Tuhan. Mengapa? karena tanah itu sudah dikutuk oleh Allah ketika Adam dan istrinya sudah jatuh ke dalam dosa. Kejadian 2 : 7 manusia itu dibuat dan dibentuk oleh Allah dari debu tanah menjadi makhluk yang hidup. Sedangkan dalam Kejadian 3 : 17 tanah itu menjadi terkutuk setelah Adam dan istrinya jatuh ke dalam dosa. Jadi yang dipersembahkan Kain kepada Tuhan adalah hasil tanah yang telah dikutuk.

Bagi kita sekarang, arti korban persembahan dari hasil tanah itu sama dengan ibadah dan pelayanan yang bercampur dengan keinginan daging. Segala sesuatu yang dipersembahkan kepada Tuhan yang bercampur dengan keinginan daging, atau untuk kepentingan diri sendiri saja, tidak mungkin bisa berkenan kepada Allah.

Yohanes 3 : 6 Tuhan Yesus berkata kepada Nikodemus: “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah Roh.” Setiap orang yang dilahirkan dari daging kalau belum mengalami tanda keubahan hidup, ia sama seperti angin yang bertiup ke mana ia mau, memang orang bisa mendengar suaranya tetapi kita tidak tahu dari mana ia datang dan ke mana ia pergi (ayat 8a). Walaupun sudah seperti Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi, kalau tidak mengalami tanda kelahiran baru, ia hanya seperti angin saja.

Berbeda dengan Habel dan korban persembahannya, karena yang dipersembahkan itu adalah anak sulung dari kambing domba, maka Habel dan korban persembahannya diindahkan oleh Tuhan. Tuhan Allah sangat berkenan jika yang dipersembahkan itu dari ternak peliharaan.

Kambing domba itu adalah ternak peliharaan, yang mau dijaga dan dipelihara dengan baik dalam penggembalaan. Ini menunjuk sikap hidup yang benar, jemaat yang mau digembalakan dalam ibadah dan penggembalaan yang benar, yang mau dipimpin dan dipelihara dengan firman Tuhan. Sebab jika kita sudah hidup di dalam ibadah dan penggembalaan yang benar, maka kita juga akan disebut sebagai “domba-dombanya Tuhan” yang digembalakan dalam firman pengajaran.
Tuhan Yesus Kristus juga disebut sebagai “Anak Domba Allah” yang telah disembelih (Wahyu 5 : 6, 9) karena Yesus mau menurut dan melakukan seluruh kehendak Bapa. Karena itu jika kita mau melakukan seluruh kehendak Tuhan, kita juga akan disebut sebagai domba-dombanya Tuhan yang digembalakan dalam firman pengajaran.
DOMBA = gambaran pribadi Yesus . Maka setiap orang yang di dalam dirinya sudah ada pribadi Yesus Kristus, sudah ada sikap seperti domba yang telah dipelihara, maka ibadah dan persembahan kita juga pasti akan berkenan kepada Tuhan.

Sebab arti yang sesungguhnya “mempersembahkan kambing domba” itu sama dengan:
- mempersembahkan sikap hidup yang benar, bagaikan domba yang disembelih supaya bisadipersembahkan di atas mezbah.
- mau berjalan dalam jalan salib, sama seperti domba yang disembelih memang sakit tetapi domba itu tidak mengelak ketika disembelih.


Jadi jelas, Kain dan korban persembahannya tidak di-indahkan Tuhan karena yang dipersembahkan adalah dari hasil tanah, persembahan yang tidak ditandai dengan sikap hidup yang benar. Setiap orang yang tidak berhasil mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan, sikap hidupnya:
- tidak dapat menerima orang lain.
- di dalam dirinya hanya ada kebencian dan iri hati.
Puncaknya: Kain menjadi seorang pembunuh dan yang dibunuhnya adalah adik kandungnya sendiri, satu ayah dan satu ibu. Jadi Kain adalah gambaran orang Kristen yang tidak berhasil mempersembahkan sikap yang benar kepada Tuhan.

Dalam Filipi 1 : 21 ada dua (2) hal penting yang perlu kita perhatikan, yaitu:
- HIDUP ADALAH KRISTUS
- MATI ADALAH KEUNTUNGAN

Ayat firman Tuhan ini berbicara sikap hidup orang Kristen yang benar, yang di dalam dirinya pribadi Kristus benar-benar nyata, jadi baik ketika hidup bahkan ketika mati sekalipun dalam kuasa Tuhan.
Sebagai jemaat Tuhan maupun sebagai hamba Tuhan, kita hidup harus untuk Kristus, hidup jangan hanya untuk diri sendiri, jangan hanya untuk istri, suami atau anak-anak, hidup itu bukan hanya untuk orang lain, tetapi sepenuhnya untuk Kristus. Kita harus sama seperti domba yang disembelih, baik ketika hidup mau pun setelah mati sama-sama berguna untuk Tuhan.
Kalau hidup bukan untuk Tuhan, berarti ia hidup hanya untuk dirinya sendiri, hanya untuk istri, untuk suami atau untuk anak-anaknya saja. Orang yang seperti ini pasti akan ditolak oleh Tuhan, sama seperti Tuhan menolak Kain dan korban persembahannya yang berasal dari tanah, demikianlah ia akan ditolak walaupun ia berkorban juga. Habel dan korban persembahannya diindahkan Tuhan karena yang dipersembahkan dari kambing domba, rohaninya hidup, ibadahnya hidup maka persembahannya pun harum dihadapan Tuhan.
Galatia 2 : 19 - 20 firman Tuhan menjelaskan, jika kita sudah mati oleh hukum Taurat dan untuk hukum Taurat, maka kita akan hidup untuk Allah. Sehingga sekali pun kita hidup, tetapi bukan hanya kita sendiri lagi yang hidup, melainkan Kristus juga sudah hidup di dalam hidup kita. Setelah itu barulah kita bisa menyerah kan seluruh hidup sebagai persembahan yang benar.

Minggu, 20 Juni 2010

Buletin - J U N I 2010

"HARI PENTAKOSTA"

Minggu - 06 Juni 2010


Saudara-saudara, Roh Kudus dicurahkan setelah Yesus ditinggikan, yaitu setelah Ia naik ke sorga. Proses Yesus ditinggikan dimulai sejak Ia mati di kayu salib, kemudian dibangkitkan pada hari yang ketiga dan setelah itu barulah Ia nai kembali ke sorga.
Andaikata Yesus tidak mati, berarti Ia juga tidak akan pernah bangkit, dan andaikata Yesus tidak bangkit berarti Ia juga tidak akan pernah naik. Dan seandainya Yesus tidak naik ke sorga, maka Roh Kudus tidak akan pernah dicurahkan kepada murid-murid-Nya, sehingga keselamatan itu akan menjasi sia-sia saja. Yesus itu menjadi berarti bagi kita, baik sebagai Juruselamat, baik sebagai Tuhan mau pun sebagai Mempelai Pria Sorga, setelah Ia ditinggikan dengan cara naik ke sorga.

MEngapa manusia itu harus menerima Roh Kudus?

1. Supaya manusia jasmani yang mudah rapuh dan yang mudah lemah ini mendapatkan kekuatan.
Manusia itu sebenarnya terlalu rapuh dan terlalu lemath. Walau pun badannya nampak sehat, gemuk, tidak kekurangan sesuatupun, tetapi ketika diperhadapkan kepada masalah, saat itulah akan nampak bagaimana kekuatannya yang sebenarnya, benar-benar rapuh, mudah putus asa, mudah lemah.
Firman Tuhan dalam 2 Korintus 4 : 7 memperlihatkan kepada kita bagaimana keadaan manusia yang sebenarnya, tidak ubahnya seperti "bejana tanah liat" yang mudah pecah/hancur. Kalau tidak diisi dengan kekuatan yang dari Tuhan, yaitu dengan firman dan Roh Kudus, maka manusia itu lemah, mudah hancur bahkan akan putus asa.
Maka firman Tuhan dalam Zakharia 4 : 6 berkata: "Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku, firman Tuhan semesta alam." Tuhan mau supaya hidup manusia itu diisi dengan dengan kuasa Tuhan lewat firman dan Roh Kudus.
Mengapa manusia itu mudah jatuh ke dalam dosa?
jawabannya: karena manusia itu dibentuk dan diciptakan dari debu tanah (Kejadian 2 : 7).
Ketika Tuhan menciptakan di taman Eden, manusia itu memang segambar dan serupa dengan ALlah, bahkan dibentuk langsung dengan tangan-Nya. Namun walaupun manusia itu segambar dengan Tuhan ALlah, tetapi karena berasal dari debu tanah, manusia itu terlalu mudah jatuh ke dalam dosa. Perempuan itu terlalu mudah digoda oleh ular, mereka tidak mengingat firman yang telah dikatakan Tuhan ALlah.
Untuk itulah firman Tuhan datang kepada kita dan mengatakan bahwa bukan karena keperkasaan dan bukan pula karena kekuatan secara manusia, tetapi harus dengan Roh Tuhan. Sekali pun manusia itu sama seperti bejana tanah liat yang mudah pecah dan mudah hancur, tetapi jika hidup kita sudah diisi dengan harta rohani, yaitu dengan firman dan Roh Kudus, maka hidup kita akan menerima kuasa, diberi kekuatan untuk menolak dosa, diberi kekuatan untuk mengatasi segala masalah, dan diberi kuasa supaya tetap bersama dengan Tuhan. Manusia yang rapuh dan lemah kalau sudah diisi dengan firman dan Roh Kudus, akan menjadi kuat, tidak mudah goyah dan tidak akan meninggalkan Tuhan walau sedang dalam penderitaan.
Buktinya 2 Korintus 4 : 8 - 9:
- walau ditindas, namun tidak terjepit
- walau habis akal, namun tidak putus asa
- walau dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian
- walau dihempaskan, namun tidak binasa


Saudara-saudara, pada zaman akhir ini, yaitu menjelang kedatangan Tuhan Yesu yang kedua kali, akan datang masa-masa yang sukar (lihat 2 Timotius 3 : 1 - 4). Manusia akan mengalami banyak pencobaan atau penderitaan bagaikan beban yang menindas hidup manusia sehingga manusia itu bisa putus asa dan habis akal. Tetapi kalau hidup kita ini sudah diisi dengan firman Tuhan dan dengan Roh Kudus, tidak akan putus asa dan tidak akan habis akal, selalu ada pertolongan dari Tuhan. Bahkan sekali pun sedang mengalami penganiayaan, tetap merasa tidak ditinggalkan sendirian, dan sekalipun dihempaskan namun tidak akan binasa. Biasanya kalau bejana tanah liat dihempaskan ke tanah, pasti akan pecah dan hancur, tetapi kalau hidup kita sudah diisi dengan harta rohani yang berasal dari Tuhan, sekalipun masalah itu datang bertubi-tubi, hidup kita tidak akan pernah hancur. Mengapa? sebab sudah diisi dengan kuasa Tuhan. Haleluya

2. Supaya kita tahu apa yagn telah dikaruniakan Tuhan kepada kita.

Firman Tuhan dalam 1 Korintus 2 : 10 - 12 berkata: "Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari ALlah, supaya kita tahu, apa yagn dikaruniakan ALlah kepada kita."
Jadi Roh Kudus yang dicurahkan di dalam hidup kita bekerja supaya kita tahu apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita, supaya kita bisa mengerti akan janji Tuhan, bukan hanya tentang berkat-berkat jasmani saja tetapi terlebih lagi tentang keselamatan. Roh Kudus yang berasal dari ALlah itu bekerja untuk menyatakan betapa besarnya dan betapa mahalnya keselamatan itu.
Pada zaman sekarang ini banyak orang tidak menyadari akan kasih karunia Tuhan yang begitu besar ini. Efesus 5 : 17 firman Tuhan mengingatkan supaya kita jangan menjadi bodoh, sebagai jemaat Tuhan, kita harus mengerti apa yang sudah menjadi kehendak Tuhan supaya kita dapat melakukannya dengan baik. Misalnya: tidak boleh mabuk oleh anggur, sebab anggur (=minuman keras) itu menimbulkan hawa nafsu yang membawa manusia itu terjebak ke dalam dosa. Hanya zaman sekarang ini banyak orang Kristen menganggap sepele akan hal ini, mereka merasa tidak apa-apa kalau mabuk dengan minuman keras, bahkan mereka merasa tidak dosa sekali pun mabuk oleh minuman keras yang memabukkan. Mengapa? sebab mereka tidak mengerti akan firman Tuhan. Karena itu orang yang bodoh tidak mungkin bisa mengerti apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Bahkan mereka tidak akan sadar bahwa tanpa Tuhan hidup manusia itu tidak ada bedanya dengan bejana tanah liat yang mudah hancur dan mudah pecah. Manusia itu bisa menjadi berguna dan berharga dimata Tuhan hanya apabila sudah diisi dengan kuasa Tuhan lewat firman dan Roh Kudus-Nya.

3. Roh Kudus itu membuat supaya kita mengerti nubuat firman Tuhan yang telah dinubuatkan dalam Alkitab.
Nubuat-nubuat dalam kitab suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak diri sendiri, tidak boleh ditafsir dengan ilmu pengetahuan, tetapi harus oleh Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus, biasanya manusia itu akan memakai akal dan pikirannya sendiri untuk menanggapi firman Tuhan, orang yang seperti ini tidak mungkin bisa mengerti nubuat firman Tuhan, justru mereka akan tersesat dan mengikuti kehendak diri sendiri.
Saudara-saudara, dalam Matius 24 ada empat (4) nubuat besar yang telah dikatakan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya, yaitu: tanda tentang keagamaan (=munculnya nabi-nabi palsu yang menyesatkan), tentang politik dunia (yang semakin kacau, tidak terkendali), tentang bencana alam (yang akan terjadi menimpa dunia ini) dan tentang keadaan masyarakat dunia menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.
Dan khusus dalam Matius 24 : 1 - 2 Tuhan Yesus telah menubuatjkan tentang bangunan-bangunan Bait ALlah yang di Yerusalem bahwa "tidak ada satu batupun yang dibiarkan terletak diatas batu yang lain." Ini adalah satu nubuatan penting yang harus kita ketahui, yang akan digenapi menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Memang pada tahun 70 sesudah Masehi, Bait ALlah yang di Yerusalem itu sudah pernah dihancurkan oleh Jenderal Titus, tetapi ini belum puncak penggenapan friman nubuat tersebut, sebab pada tahun 300 sesudah Masehi ratu Helena yang bertobat kepada Tuhan membangun kembali bait ALlah tersebut. Dan sampai sekarang Bait ALlah yang di Yerusalem itu sedang diusahakan supaya dibangun kembali dan mata dunia sedang tertuju kesana.
Tetapi sebagai jemaat Tuhan apalagi sebagai hamba Tuhan, kita harus tahu bahwa puncak penggenapan firman nubuat itu akan terjadi menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya, yaitu pada saat antikristus diijinkan untuk sesaat lamanya berkuasa di bumi, saat itulah Bait Allah yang di Yerusalem akan dihancurkan, sampai tidak ada satu batu pun yang dibiarkan berdiri di atas batu yang lain. Dan bangsa Israel sendiri akan dikelilingi oleh musuh-musuh dan akan mengalahkan bangsa mereka. Tetapi pada saat mereka kalah itu, mereka akan berseru-seru kepada Tuhan dan memanggil Mesias supaya turun memberikan pertolongan, dan Tuhan Yesus sendiri yang adalah Mesias yang sedang dinanti-nantikan, akan turun untuk memberikan pertolongan kepada umat-Nya. Sehingga tergenapilah firman Tuhan dalam Roma 11 : 26 yang mengatakan: "Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan." mengapa? sebab mereka adalah umat kepunyaan Tuhan, bangsa pilihan Tuhan yang mau berseru-seru kembali memanggil nama Yesus dan mengakui bahwa Yesus itulah Mesias yang sanggup memberi pertolongan.

Firman Tuhan itu harus kita mengerti dan harus menjadi praktek hidup sehari-hari.



“PEKERJAAN ROH KUDUS”

Minggu - 13 Juni 2010


Puji Tuhan!
Oleh karena kemurahan Tuhan yang telah memberikan kesempatan bagi kita untuk mendengar dan menikmati firman pengajaran-Nya. Saat ini kita masih dalam suasana Pentakosta, saat di mana Roh Kudus pernah dicurahkan ketengah-tengah dunia ini untuk menyertai umat-Nya. Dan oleh Roh Tuhan itulah kita beroleh kesempatan dipersekutukan dengan Tuhan supaya berhak mendapatkan segala janji Tuhan. Sebab sesungguhnya sebelum Roh Kristus Kristus , yaitu Roh Kudus diam di dalam diri manusia, maka sebenarnya manusia itu masih hidup tanpa Tuhan dan tanpa keselamatan, bahkan ia tidak layak disebut sebagai milik Kristus.

Efesus 2 : 11 - 13
menjelaskan keadaan kita yang sebenarnya sebelum Kristus tinggal di dalam kita:

-tidak termasuk kewargaan Israel

- tidak mendapat bagian dalam ketentuan-
ketentuan yang dijanjikan.
- tanpa pengharapan dan tanpa Allah


Itu sebabnya pusat keselamatan kita adalah Kristus.
Karena itu ada satu pertanyaan penting yang harus kita ketahui: siapakah yang dapat membawa kita masuk ke dalam Kristus? Jawabannya adalah Roh Kudus. Dijelaskan dalam Efesus 2 : 17 - 18 lewat korban Kristus dan oleh satu Roh kita telah beroleh jalan masuk kepada Bapa. Jadi Roh Kudus itulah yang menggiring supaya kita bisa masuk ke dalam Kristus sehingga kita bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan menjadi kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.
Namun pertama-tama yang membuka jalan bagi kita supaya bisa masuk ke dalam Kristus adalah lewat salib, yaitu lewat kematian dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Sebab setelah Yesus bangkit, Ia telah naik ke sorga supaya Roh Kudus itu dicurahkan. Jadi sebenarnya kalau Tuhan memberikan Roh Kudus-Nya kepada kita ada maksud dan tujuannya, yaitu supaya berkat Abraham bisa turun kepada kita. Galatia 3 : 14 firman Tuhan berkata: “Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.”
Banyak orang menafsirkan berkat Abraham itu hanya berfokus kepada berkat-berkat lahiriah saja, sebenarnya bukan. Kita harus tahu, fokus berkat Abraham itu bukan hanya berkat-berkat jasmani saja, tetapi lebih lagi kepada perkara-perkara yang Rohani, yaitu keselamatan yang sampai kepada bangsa kafir. Jadi berkat yang dijanjikan Tuhan lewat Abraham supaya sampai kepada bangsa-bangsa lain adalah berkat rohani, termasuk Roh Kudus yang akan dicurahkan kepada setiap orang yang mau menerima Tuhan Yesus dengan benar dan percaya bahwa hanya lewat Yesus saja ada keselamatan.
Maka jelas yang bisa membawa kita supaya berhak mendapat berkat Abraham ini hanya lewat Kristus, yaitu oleh Roh Kudus-Nya yang mampu memberikan iman kepada kita semua.
Galatia 3 : 1 - 5 menjelaskan tanpa Injil tidak ada seorang pun yang bisa menerima Roh Kudus. Dan kalau kita lihat dalam Galatia 3 : 1 - 5 ini ada dua (2) hal penting yang harus kita ketahui, bahwa :

1. untuk menerima Roh Kudus, harus di dasari oleh pemberitaan Injil.
2. untuk mengalami mujizat, juga harus di dasari oleh pemberitaan Injil.


Maka tidak heran di mana saja Injil diberitakan, di situ juga Tuhan menyatakan kuasa dan mujizat-Nya yang luar biasa. Sedangkan pemberitaan Injil itu sendiri intinya adalah pemberitaan tentang keselamatan yang dikerjakan Yesus lewat kematian dan kebangkitan-Nya. Kita diperdamaikan dengan Bapa hanya oleh korban Kristus di kayu salib.
Karena itu sebagai jemaat Tuhan, kalau datang kepada Tuhan jangan hanya mencari kuasa atau mujizat, tetapi fokuskan dirimu untuk menerima firman Tuhan. Kita bisa melihat Abraham sebagai contoh, setelah ia dipanggil Allah ada tiga (3) tindakan yang dilakukan Abraham, yaitu mau mendengar dengan baik, ia percaya kepada Allah dan mau melakukan kehendak Allah itu dengan taat dan setia. Maka kalau kita lihat dalam Kejadian 12 ada tiga hal yang ditinggalkan Abraham, yaitu negerinya, rumah bapanya dan sanak saudaranya. Ini semua berbicara perkara-perkara yang lahiriah yang harus ditinggalkan untuk memperoleh janji Allah.
Demikian juga berlaku kepada kita sekarang, supaya kita layak menerima berkat Abraham, kita juga harus memiliki sikap seperti Abraham:
- kita harus mendengar firman Tuhan
- kita harus percaya akan janji Tuhan
- kita harus melakukan kehendak Tuhan

Tetapi ingat, kalau percaya kepada Tuhan hanya dalam perkara-perkara yang lahiriah saja, dan kalau mengukur seseorang hanya dengan berkat-berkat jasmani, ini adalah prinsip yang salah. Semua hal-hal yang jasmani stu sifatnya hanya sementara saja dan ini hanya berbciara yang kelihatan saja, suatu saat akan diserahkan kepada Iblis dan kepada antikris. Perjalanan rohani kita sekarang sedang diarahkan bukan kepada perkara-perkara yang duniawi, tetapi untuk memperoleh perkara-perkara yang rohani. Filipi 3 : 3 - 9 Rasul Paulus setelah dipanggil menjadi rasul Kristus, pengenalan akan Kristus itu lebih tinggi nilainya dan lebih mulia dari segala yang ada di dunia ini, bahkan ia menganggapnya sampah. Prinsip Paulus: apa yang dahulu merupakan keuntungan sekarang dianggap rugi karena Kristus.”
Jadi arti iman yang sesungguhnya adalah ada kerelaan meninggalkan perkara-perkara yang lahiriah untuk mengerjar perkara-perkara yang rohani. Sebab Tuhan itu adalah Tuhannya orang-orang yang mau mencari perkara-perkara yang rohani, bukan Tuhannya orang-orang yang hanya mencari perkara-perkara lahiriah saja. Sebab kalau kita sudah mencari perkara-perkara yang rohani, maka Tuhan tidak akan malu kita sebut sebagai Tuhan. Sebaliknya Tuhan itu akan malu kalau orang-orang yang berfokus kepada perkara-perkara yang lahiriah itu menyebutkan nama Tuhan.
Ibrani 11 : 16
menjelaskan orang-orang yang hidup di dalam iman itu merindukan tanah air yang lebih baik yaitu tanah air sorgawi. Tanah air sorgawi itu adalah kota yang mempunyai dasar, yang dirancang dan direncanakan oleh Allah sendiri.
2 Korintus 4 : 18 firman Tuhan menjelaskan perkara-perkara yang lahiriah itu adalah yang kelihatan, sedangkan perkara yang rohani itu tidak kelihatan tetapi sifat nya kekal. Makanya Tuhan tidak mau kalau umat Tuhan itu percaya kepada tetapi hanya dalam perkara-perkara yang lahiriah saja. Tuhan mau membawa kita supaya mempunyai iman, mampu percaya kepada Tuhan walau pun belum kelihatan.
Roma 1 : 21 - 23 bangsa Israel pernah menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat. Mengapa? sebab mereka sudah tidak percaya lagi kepada Tuhan, mereka tidak lagi berharap kepada Tuhan.
Maka supaya kita layak masuk ke dalam sorga yaitu ke rumah Bapa, layak disebut warga kerajaan sorga, lebih dahulu kita harus mau meneladani sikap Abraham, yang rela meninggalkan negerinya, rumah bapanya dan sanak saudaranya. Kita harus tahu ke mana arah gerak kepengikutan kita, kepada Tuhankah atau kepada dunia? Kalau kepada Tuhan, maka hati kita kita akan terikat kepada Tuhan, sebaliknya kalau kepada dunia maka hati kita juga akan terikat dunia. 1 Korintus 15 : 50 mengatakan bahwa darah daging tidak mendapat bagian dalam kerajaan sorga, dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak dapat binasa. Jadi supaya hati kita condong kepada Tuhan: harus ada kerelaan untuk berkorban dengan sukarela dan tulus ikhlas (1 Tawarikh 29 : 19). Sebab yang telah kita korbankan itu mengikat hati kita kepada Tuhan.



“MEMANDANG SALIB KRISTUS”

Minggu - 20 Juni 2010


Saudara-saudara, bangsa Israel ketika diperbudak di Mesir selama empat ratus tiga puluh tahun, tidak ada seorang pun yang bisa keluar dari tangan Firaun dan tidak ada seorang pun yang bisa melepaskan diri dari perbudakan. Kecuali karena dipaksa dengan tangan yang kuat, Tuhan Allah menghukum Mesir dengan sepuluh tulah, setelah itu barulah bangsa Israel bisa bebas dari perbudakan.
Maka kalau kita lihat dalam Keluaran 15 : 1 - 21 setelah bangsa Israel keluar dari Mesir, barulah mereka bisa mengekspresikan sukacita mereka dengan nyanyian sebagai tanda kelepasan. Musa dan bangsa Israel menyanyikan bahwa Tuhan itu tinggi luhur, penuh kuasa sehingga kuda dan penunggang-penungganya dilemparkan ke laut.
Perjalanan bangsa Israel ini merupakan gambaran perjalanan gereja Tuhan di akhir zaman, yang telah dibebaskan dari perbudakan dosa oleh karena korban Kristus. Sama seperti bangsa Israel tidak ada seorang pun yang bisa melepaskan diri dari perbudakan, demikian juga tidak ada seorang pun yang bisa melepaskan dirinya dari perbudakan dosa mau pun dari cengkraman iblis kecuali oleh korban Kristus yang telah mati di kayu salib. Bagi kita sekarang, tanda kelepasan itu dimulai dari sejak kita menerima korban Kristus yang menebus dan yang memperdamaikan kita dengan Bapa di sorga. Seperti bangsa Israel yang bebas dari perbudakan Mesir oleh tanda darah, demikian juga kita telah dibebaskan baik dari dosa mau pun dari cengkraman Iblis, juga oleh tanda darah, yaitu darah Kristus.

Dan setelah kita dibebaskan dari perbudakan dosa, langkah selanjutnya yang harus kita lakukan adalah kita harus:
- percaya yang benar, artinya percaya harus karena didorong oleh firman Tuhan
- bertobat yang benar, artinya harus karena kesadaran setelah menerima firman Tuhan
- dibabtis yang benar yaitu dengan air dan Roh bukan karena paksaan dan bukan karena
aturan dan peraturan.


Tetapi sebenarnya perjalanan kita tidak cukup sampai di sini saja, harus ditingkatkan lagi sampai dikuduskan dan disempurnakan supaya sama seperti Yesus. Sebab sekali pun kita sudah dibebaskan dari kutuk dosa dan dari cengkraman iblis, perjalanan kita tidak boleh terhenti sampai di sini saja, tetapi harus terus dilanjutkan, kita harus tetap setia mengikuti dan melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan.
Mengapa kita harus tetap setia?
Sebab kalau kita lihat kembali perjalanan bangsa Israel, setelah mereka berjalan selama tiga hari dari Mesir ke padang gurun sambil menyanyikan nyanyian pujian kepada Tuhan, dalam Keluaran 15 : 22 - 26 sampailah mereka ke Mara. Tetapi ketika mereka haus akan air, mereka tidak dapat meminum air karena pahit rasanya. Kalau dalam ayat sebelumnya mereka yang tadinya mengatakan: “Tuhan itu tinggi luhur” sekarang sudah berubah mereka mengatakan: “Apakah yang harus kami minum?” mereka mengatakannya sambil bersungut-sungut kepada Musa.
Jadi kepahitan itu menjadi masalah besar sebab banyak dari antara mereka yang tidak tahan sehingga mendatangkan sungut-sungut. Mereka yang tadinya bersukacita dan memuji Tuhan, kepahitan hidup merubah nyanyian itu menjadi sungut-sungut.
Berbeda dengan Musa, sekali pun seluruh bangsa Israel itu bersungut-sungut kepada Musa, Musa tidak terpengaruh, yang dilakukan Musa justru berseru-seru kepada Tuhan memohon petunjuk (Keluaran 15 : 25). Maka Tuhan menunjukkan kepadanya “sepotong kayu” supaya melemparkan kayu itu ke dalam air yang pahit rasanya, lalu air itu pun menjadi manis rasanya sehingga seluruh bangsa Israel dapat meminum air yang di Mara tersebut.
Perjalanan bangsa Israel selama “tiga hari” ini menggambarkan perjalanan kepengikutan kita kepada Tuhan Yesus yang disertai dengan “memikul salib”, artinya harus ada kerelaan walau menderita tetapi harus tetap setia mengikut Yesus.
Sedangkan SEPOTONG KAYU = menggambarkan SALIP KRISTUS yang dikerjakan lewat kematian dan kebangkitan-Nya.
Mengikut Yesus ada harga yang harus dibayar, yaitu harus mau menderita. Setiap orang yang mau memandang kepada salib Kristus dan percaya bahwa salib itu adalah sumber pengharapan, maka sepahit apapun penderitaannya, separah apapun penyakitnya, Tuhan Yesus pasti akan memberi pertolongan. Oleh salib Kristus penderitaan yang pahit pun bisa menjadi manis. Mengapa? sebab bagi kita salib Kristus itu adalah sumber pengharapan dan sumber pertolongan. Ingat Filipi 1 : 29 firman Tuhan telah mengatakan bahwa kepada kita dikaruniakan bukan hanya untuk percaya saja, tetapi juga untuk menderita untuk Kristus. Menderita = memikul salib, tetap memandang kepada salib Kristus yang menjadi sumber pertolongan.
Untuk itu dalam Lukas 9 : 23 Tuhan Yesus mengatakan: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Kalau Tuhan Yesus memikul salib hanya satu kali saja, tetapi kita memikul salib tidak cukup hanya satu kali saja tetapi harus setiap hari. Itu sebabnya di atas telah dikatakan, bahwa orang Kristen yang benar itu tidak cukup kalau hanya percaya, bertobat dan dibabtis, harus ditingkatkan terus dengan cara mengikuti dan melakukan segala kehendak Tuhan dengan taat dan setia sampai berhasil memperoleh segala janji-janji Tuhan.
Memandang salib Kristus = ini juga berbicara ada sikap menyalibkan daging dengan segala keinginannya. Hal ini bisa kita lihat dengan jelas dalam Galatia 5 : 24 firman Tuhan menjelaskan bahwa setiap orang yang ingin menjadi milik Kristus Yesus, ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu: ia harus mampu menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.
Bagaimana caranya supaya kita mampu menyalibkan segala keinginan daging? Galatia 5 : 25 firman Tuhan memberi solusi, yaitu: kita harus hidup oleh Roh Kudus dan juga harus dipimpin oleh Roh Kudus.

Kolose 3 : 5 - 9 praktek menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya:

1. Mematikan segala sesuatu yang duniawi, seperti percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan (ayat 5 - 6).
2. Membuang marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut (ayat 8).
3. Menanggalkan manusia lama & kelakuannya (ayat 9).


Setelah kita berhasil mematikan segala sesuatu yang duniawi, membuang yang ada di dalam hati dan menanggalkan manusia lama, barulah kita layak “mengenakan manusia baru” yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya (ayat 11 ).
Karena itu sebagai jemaat Tuhan, kita harus meneladani sikap rasul Paulus: kemegahan kita tidak ada selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus. Mengapa? sebab oleh salib itu dunia telah disalibkan bagi kita dan kita bagi dunia (Galatia 6 : 14). Maka sekali pun penderitaan itu pahit rasanya dan sekali pun engkau sedang memikul salib, tetaplah pandang salib Kristus yang sanggup memberi jalan keluar. Tuhan sanggup mengubah perjalanan hidupmu yang pahit menjadi manis, sehingga dapat mengucap syukur kepada Tuhan. Kalau orang lain bersungut-sungut tetapi kita tidak, kalau orang lain putus asa tetapi kita tetap punya pengharapan, bahkan kalau pun orang lain rela meninggalkan Tuhan tetapi kita tetap setia kepada Tuhan. Roma 8 : 10 - 11 jika Kristus ada di dalam kita, kita akan dihidupkan kembali oleh Roh. Sama seperti Yesus yang dibangkitkan dari antara orang mati oleh Roh, demikian juga kita akan dibangkitkan, kita akan mengalami seperti yang dialami oleh Tuhan Yesus. HALELUYA...........!!!!!!!!!!!!



“MEMANDANG SALIB KRISTUS”

Minggu - 27 Juni 2010


Saudara-saudara, menjadi orang percaya tidak sulit, menjadi orang yang bertobat tidak begitu sulit, demikian juga untuk dibabtis tidaklah begitu sulit, sebab semua itu telah dikerjakan oleh kasih karunia Tuhan.
Tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana kita sebagai jemaat menanggapi dan mengerjakan kasih karunia dan keselamatan yang telah dikerjakan Tuhan ditengah-tengah kehidupan kita. Sebagai jemaat Tuhan, kita harus menghargai dan mengerjakan kasih karunia itu dengan cara: TAAT & SETIA melakukan apa yang telah menjadi kehendak Tuhan, yaitu dengan beribadah dan melayani dengan sungguh-sungguh.

Dan salah satu kehendak Tuhan dalam hidup kita adalah: kita harus mampu menyangkal diri dan menyalibkan segala keinginan daging. Sebagaimana telah dikatakan dalam Galatia 5 : 24: “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”
Dari ayat firman Tuhan ini dapat kita lihat bahwa yang layak disebut sebagai milik Kristus Yesus adalah mereka yang sudah berhasil menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Yaitu: yang tidak lagi menuruti keinginan diri sendiri, tidak mengikuti keinginan hati, melainkan menuruti kebenaran firman Tuhan, seluruh hidupnya benar-benar dipimpim dan dikuasi oleh Tuhan. Kehendak Tuhan dalam hidup kita bukan hanya percaya percaya begitu saja, bukan hanya sekedar beribadah atau melayani begitu saja, tetapi harus karena didorong oleh kasih.
Dan pada minggu yang lalu kita juga sudah melihat, bahwa arti menyalibkan segala keinginan daging itu sama dengan memandang kepada salib Kristus, dimana Kristus telah mati dan dibangkitkan untuk menghapus segala dosa-dosa manusia. Sama seperti Kristus telah disalibkan karena dosa manusia, demikian juga daging dengan segala keinginannya harus disalibkan.
Tetapi yang dimaksud "disalibkan" disini bukan tubuh secara jasmani disalibkan dikayu salib melainkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya, itulah yang harus disalibkan = dimatikan keinginannya
Mengapa harus disalibkan?
supaya segala keinginan daging ini bisa dimatikan. Karena kalau keinginan daging ini tidak disalibkan, maka keinginan daging ini akan terus menggoda supaya berbuat dosa sehingga manusia tidak lagi memperhatikan firman Tuhan.
Kalau Kristus disalibkan karena dosa manusia, demikian juga kita menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya supaya kita jangan lagi dikuasai oleh dosa.
Kalau kita lihat kembali perjalanan bangsa Israel setelah mereka keluar dari Mesir, mereka memang sudah lepas dari tangan Firaun yang selama ini memperbudak mereka, tetapi di tengah jalan timbul masalah-masalah besar yang membuat Tuhan Allah murka dan banyak dari antara mereka yang ditewaskan ditengah jalan. Apa penyebabnya? karena mereka tidak mampu menyalibkan hawa nafsu dan keinginan mereka.

1 Korintus 10 : 1 - 11 firman Tuhan mengangkat perjalanan bangsa Israel itu sebagai contoh untuk memperingatkan gereja di akhir zaman. Sekali pun sudah melihat perbuatan tangan Tuhan yang luar biasa bahkan sekali pun sudah mengalami mujizat-mujizat, tetapi di tengah jalan mereka tidak setia kepada Tuhan Allah.
- Mereka menjadi penyembah-penyembah berhala,
- mereka melakukan percabulan,
- mereka mencobai Tuhan
- bahkan mereka juga bersungut-sungut kepada Tuhan.
Inilah yang membuat sehingga Tuhan mengijinkan mereka dibinasakan oleh malaikat maut.
Jadi hal ini sengaja dituliskan kembali sebagai contoh untuk memperingatkan kita supaya kita jangan sampai meniru perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 15 : 19 menerangkan kalau kita percaya kepada Kristus hanya dalam hal-hal lahiriah saja, firman Tuhan mengatakan akan menjadi orang yang paling malang dari antara semua manusia. Dikatakan disini menjadi orang “yang paling malang dari antara semua manusia”, jadi sekali pun engkau orang yang paling kaya, punya jabatan atau pangkat yang tinggi, dan sekali pun engkau paling dihormat oleh manusia, tetapi kalau percaya kepada Tuhan hanya dalam hal-hal pahiriah saja, firman Tuhan mengatakan engkau adalah orang yang paling malang dari antara semua manusia.

Mengapa kita harus tetap memandang kepada salib Kristus?
Sebab “TANDA SALIB” ini adalah tanda yang tidak pernah hilang dari diri Tuhan Yesus, tanda salib ini masih tetap menjadi tanda sampai Ia naik ke sorga, bahkan sampai kepada pesta kawin Anak Domba. Yesus sendiri setelah naik ke sorga tidak melepaskan tanda salib tersebut, Ia disebut sebagai “Anak Domba yang telah disembelih” = ini menunjuk kepada tanda salib dimana Yesus pernah disalibkan di bukit Golgota sebagai korban untuk menghapus segala dosa-dosa kita. (Wahyu 5 : 6, 9).
Itulah sebabnya, kita sebagai jemaat Tuhan, kita juga harus tetap memandang kepada salib Kristus supaya kita mampu menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Apalagi untuk menjadi mempelai perempuan Kristus, tanda salib itu harus ada pada kita supaya layak masuk ke dalam pesta kawin Anak Domba. Jika Kristus sebagai Mempelai Pria sorga masih memiliki tanda salib, demikian juga kita sebagai mempelai perempuan Kristus harus memiliki tanda salib.
Roma 8 : 6 mengatakan bahwa keinginan daging adalah maut, setiap orang yang masih tetap mengikuti keinginan dagingnya masih tetap menjadi seteru Allah. Mengapa? karena keinginan dagingnya itu ia tidak takluk kepada hukum Allah. Jadi statusnya jelas: selama manusia itu tidak menyalibkan keinginan dagingnya, ia masih menjadi musuh Tuhan dan tidak mungkin bisa berkenan. Sehingga walau pun diberi firman, walau pun diberkati, walau pun badannya sehat, tetapi tetap saja hidupnya menjadi musuh Tuhan.

Karena itu firman Tuhan telah mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang melepaskan diri dari dosa kecuali oleh oleh kuasa Tuhan lewat darah, oleh firman dan Roh Kudus-Nya.

Firman Tuhan memberi jalan keluar supaya kita mampu menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya: kita harus hidup oleh Roh. Firman Tuhan dalam Roma 8 : 13 “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Jadi jelas jika kita sudah hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh, barulah kita bisa dimerdekakan dari hukum dosa, kita akan hidup. Atau dengan kata lain: “kita akan mampu memandang salib Kristus.”
Kalau kita sudah hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh, barulah kita layak disebut sebagai “anak-anak Allah” yang memiliki cara hidup yang benar. Dan karena kita sudah hidup oleh Roh Kudus, maka kita tidak akan menerima roh perbudakan yang membuat orang menjadi takut. Roh perbudakan itulah yang sering menyeret orang ke dalam dosa, roh perbudakan itulah yang membuat hidup manusia jauh dari Tuhan.

Cara hidup orang yang tetap menurut daging:
- tetap berseteru dengan Allah
- tidak takluk kepada hukum Allah
- tidak berkenan kepada Allah
- akan mati (masuk ke dalam api neraka)


Tetapi jika kita sudah hidup menurut Roh:
-sudah bebas/dimerdekakan dari hukum maut
- beroleh hidup dan damai sejahtera.
- kita menjadi milik Kristus yang berhak menerima janji-janji Allah.
- kita akan dipermuliakan bersama dengan Kristus.


Roma 8 : 16 - 17
menjelaskan jika kita sudah dipimpin oleh Roh Kudus, Roh itulah yang akan bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah “anak-anak Allah” yang menjadi ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerima nya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita telah menderita bersama-sama dengan Kristus, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus dalam kemuliaan-Nya yang kekal.
Janji Allah kepada bangsa Israel: akan masuk ke tanah Kanaan yang menjadi milik pusaka yang limpah dengan susu dan madunya.
Sedangkan janji Tuhan kepada kita: akan masuk ke dalam sorga bersama-sama dengan Kristus selama-lamanya.
Bahkan khusus gereja Tuhan yang telah dikuduskan dan disempurnakan akan dijadi kan menjadi sidang mempelai perempuan Kristus, akan dibawa masuk ke dalam pesta kawin Anak Domba. Haleluya......!!!!!!!!!!1