Senin, 08 Februari 2010

Buletin Februari 2010

“B E R J A G A - J A G A”

Minggu - 07 Februari 2010

Saudara-saudara, kedatangan Tuhan yang kedua kali tidak ada seorang pun yang tahu saatnya, baik malaikat-malaikat, hanya Bapa saja. Pada waktu Tuhan Yesus berada di dunia ini, selama dalam pelayanan-Nya, Ia selalu merahasiakan saat tentang kedatangan-Nya. Kalau berita tentang tanda-tanda akhir zaman maupun tanda-tanda kedatangan-Nya sudah diberitahukan kepada murid-murid-Nya, tetapi khusus hari/saat kedatangan-Nya masih dirahasiakan.
Mengapa harus dirahasiakan?
Supaya setiap orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan yang sedang menanti-nantikan kedatangan-Nya tahu mempersiapkan diri dengan cara: hidup sesuai dengan firman Tuhan. Tuhan Yesus sengaja merahasiakan tentang kedatangan-Nya supaya di dalam diri kita ada sikap berjaga-jaga yang benar.
Kalau kita lihat dalam Matius 24 setelah melihat pelajaran tentang pohon ara, selanjutnya pelajaran yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya adalah pelajaran tentang “berjaga-jaga”. Hal ini sangat penting kita perhatikan, sebab tidak semua orang bisa berjaga-jaga atau mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kali. Kalau Tuhan Yesus lebih dahulu memberitahukan pelajaran tentang pohon ara dan setelah itu barulah pelajaran tentang berjaga-jaga, ini mengandung arti yang sangat besar. Sebab yang bisa berjaga-jaga adalah mereka yang sudah lebih dahulu mengalami tanda keubahan hidup, yang sudah mengalami tanda pembaharuan dari sehari ke sehari, yang sudah diubahkan menjadi sama seperti sifat-sifat Kristus.
Wahyu 21 : 2, 9 gereja yang berhasil menjadi sidang mempelai itu ditampilkan bagaikan pengantin perempuan, yang berhias dan berdandan untuk suaminya. Inilah yang layak menjadi istri/ mempelai Anak Domba.
Maka supaya bisa jadi mempelai perempuan Kristus harus lebih dahulu mengalami tanda keubahan:
- dari orang berdosa diubah menjadi
orang yang dibenarkan.
- dari orang yang sudah dibenarkan di-
ubah menjadi orang yang disucikan.
- dari orang yang disucikian diubah lagi
menjadi orang yang disempurnakan.
Sesudah mengalami tanda keubahan hidup, barulah kita bisa berjaga-jaga dengan baik. Berjaga-jaga yang benar menurut firman Tuhan: hidup sesuai dengan firman Tuhan, taat dan dengar-dengaran akan firman Tuhan.

Contoh berjaga-jaga yang benar:

1. NUH (ayat 38 - 39).

Ketika Allah memutuskan hendak memusnahkan segala makhluk di bumi, Allah memberi perintah kepada Nuh supaya membangun bahtera dari kayu gofir tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya, dan bahtera itu harus dibuat bertingkat bawah, tengah dan atas (Kejadian 6 : 13 - 17).
Nuh diperintahkan supaya membangun bahtera sebab Tuhan punya rencana bahwa bahtera itu adalah sarana untuk menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari air bah yang akan meliputi seluruh bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit. Tetapi Nuh dan keluarga nya mendapat kasih karunia dimata Tuhan. Karena Nuh mau membangun bahtera itu tepat seperti yang diperintahkan Tuhan kepadanya, maka Nuh dan keluarganya yang masuk ke dalam bahtera itu selamat dari air bah, semuanya mempelai. Bahkan binatang-binatang yang masuk ke dalam bahtera itu juga berpasang-pasangan.
Nuh dan keluarganya yang berhasil selamat dari air bah ini adalah contoh kehidupan yang berhasil berjaga-jaga dalam suasana kerajaan sorga, dikatakan dalam suasana kerajaan sorga karena disamping membangun bahtera ia juga tetap hidup sesuai dengan firman Tuhan. Yang artinya: hidup yang sudah memiliki persekutuan yang benar dengan Tuhan, baik dalam terang firman Tuhan, dalam persekutuan dengan Roh Kudus maupun dalam doa dan penyembahan. Bagi kita sekarang, bahtera Nuh ini mengandung arti yang besar, yakni kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Dalam skema Tabernakel:

1. Tingkat bawah = Halaman :
- percaya atau menerima Yesus sebagai Tuhan dan
Juruselamat (=Pintu Gerbang)
- bertobat atau mengalami tanda keubahan
hidup, diperdamaikan dengan Tuhan (=Mezbah Korban Bakaran)
- dibabtis yang benar baik dengan air maupun
dengan Roh Kudus (Kolam Pembasuhan & Pintu Kemah).

2. Tingkat Tengah = Ruangan Suci:

- Ada persekutuan dengan firman Tuhan (Meja Roti)
- Ada persekutuan dengan Roh Kudus (Pelita)
- Ada persekutuan dengan Bapa dalam doa dan penyembahan (Mezbah Dupa).

3. Tingkat Atas = Kesempurnaan:

- Diubahkan dari orang yang disucikan menjadi orang
yang disempurnakan, layak disebut menjadi mempelai
perempuan Kristus (Ruangan Maha Suci)

Maka jelas kita lihat di luar bahtera Nuh tidak ada seorang pun yang selamat dari air bah. Demikian juga orang Kristen yang tetap berjaga-jaga seperti Nuh, yaitu yang berjaga-jaga dalam suasana kerajaan sorga akan selamat dari murka Allah yang akan datang menimpa dunia ini. Karena itu tetaplah hidup dalam persekutuan yang benar dengan Tuhan, tetap lah setia melakukan firman Tuhan supaya Tuhan berkenan akan kehidupan kita.

2. Berjaga-jaga sambil berada di ladang Tuhan (Matius 24 : 40).

Setelah Tuhan Yesus mengangkat Nuh dan keluarga nya sebagai contoh berjaga-jaga yang benar, contoh kedua berjaga-jaga yang benar adalah berjaga-jaga dengan tetap setia di ladang Tuhan. Ladang di sini bukan berbicara ladang secara hurufiah, tetapi berbicara ladang Allah yaitu pelayanan. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 3 : 9b berkata: “Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.”
Jadi yang dimaksud dengan berjaga-jaga sambil berada di ladang Tuhan adalah berjaga-jaga sambil melayani Tuhan, tetap setia melayani sampai Tuhan datang kali yang kedua. Kalau tidak setia, maka akan tergenapilah apa yang telah dikatakan dalam Matius 24 : 40 “Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.”
Yang dibawa itu adalah mereka yang tetap berjaga-jaga dengan cara setia melayani Tuhan, tetap tekun menantikan kedatangan Tuhan walau berat resiko yang harus dihadapi. Sedangkan yang lain itu akan ditinggal kan, walau pun sudah berjaga-jaga tetapi kalau tidak setia melayani Tuhan, juga akan ditinggalkan.
Matius 20 : 1 - 16 Tuhan Yesus mengangkat satu perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur dengan kesepakatan upah sedinar sehari. Dari semua pekerja itu ada yang masuk pagi-pagi benar, ada yang masuk pukul sembilan, ada yang masuk pukul dua belas, ada yang masuk pukul tiga petang dan ada pula masuk pada pukul lima petang. Dan ketika tuan itu hendak memberi upah masing-masing satu dinar, ia lebih dahulu memberi upah kepada yang masuk pukul lima, yang bekerja hanya satu jam, setelah itu datanglah yang masuk terdahulu juga dengan upah satu dinar. Karena itu timbullah sungut-sungut diantara mereka yang masuk terdahulu, lalu mereka pun iri hati melihat yang masuk pukul lima petang yang bekerja hanya satu jam. Ini adalah contoh pelayan-pelayan atau hamba-hamba Tuhan yang gagal masuk ke dalam kerajaan sorga, tidak layak menerima upah di sorga.

Maka sikap yang harus kita miliki supaya bisa berjaga-jaga sambil tetap melayani Tuhan:
* melayanilah tanpa iri hati kemudian
** melayanilah dengan taat dan setia.
Kalau kedua sikap ini sudah kita miliki, maka yakinlah kita pasti berhasil berjaga-jaga sambil menanti-nantikan kedatangan Tuhan dengan tetap setia melayani.
Haleluya...!!


“BERJAGA - JAGA”

Minggu - 14 Februari 2010

Saudara-saudara, berada di ladang Tuhan merupakan suatu kemurahan Tuhan saja. Demikian juga jika kita bisa berada dalam pelayanan, ini juga merupakan suatu kemurahan, hanya karena keper-cayaan Tuhan saja. Sebab kalau dilihat dari latar belakang masing-masing, sebenarnya kita tidak layak untuk disebut sebagai jemaat Tuhan apalagi untuk melayani Tuhan. Apalagi kalau kita bisa masuk ke dalam gerak pelayanan dalam pembangunan tubuh Kristus, ini merupakan kasih karunia Tuhan yang sangat besar, patut kita hargai dan kita junjung tinggi. Sebab jika kepercayaan itu datangnya dari Tuhan, harus dilakukan dengan taat dan setia. Dan kalau sudah masuk ke ladang Tuhan, kita harus mengerjakan tugas yang telah di percayakan Tuhan itu dengan sepenuh hati dan dengan kasih.
Karena itu kalau kita sudah diberi kesempatan untuk bekerja di ladang Tuhan, melayani dalam gerak firman pengajaran untuk pembangunan tubuh Kristus ada beberapa sikap yang harus kita waspadai, yaitu:


- melayani jangan dengan sombong
- melayani jangan dengan sungut-sungut
- melayani jangan dengan iri hati/cemburu


Berikut ini contoh-contoh yang melakukan tugas /pelayanan tanpa di dasari dengan kasih, yaitu ketika raja Ahazia mengirim utusan-utusan untuk meminta petunjuk kepada Tuhan lewat perantaraan nabi Elia, pada waktu itu Elia sedang duduk di atas puncak bukit.

- 2 Raja-raja 1 : 9 - 10 Perwira yang pertama dengan kelima puluh anak buahnya, berkata kepada Elia: “Hai abdi Allah, raja bertitah: Turunlah!”
Perwira yang pertama ini datang kepada Elia tetapi tidak dengan sikap yang baik melainkan dengan sikap kesombongan, di dalam dirinya tidak ada rasa hormat dan takut akan Tuhan. Dia memang melakukan tugas yang diperintahkan kepadanya, tetapi tidak disertai dengan sikap yang benar. Ia lebih takut kepada raja Ahazia (=kepada manusia) dari pada kepada Tuhan. Akibatnya: api yang dari langit memakan habis perwira yang pertama itu dengan kelima puluh anak buahnya.

- 2 Raja-raja 1 : 11 - 12, Perwira yang kedua juga datang kepada Elia dengan kelima puluh anak buahnya. Tetapi kalau kita lihat perwira yang kedua ini lebih sombong lagi dari pada perwira yang pertama tadi. Kata perwira yang kedua itu kepada nabi Elia: “Hai abdi Allah, beginilah titah raja: Segeralah turun!” Dalam perkataannya itu ada kata “segeralah turun”, arti kata “segeralah” merupakan suatu pemaksaan, ia datang kepada Elia dengan sikap sombong, bahkan lebih sombong dari pada perwira yang pertama tadi. Kalau kita lihat dari perkataannya di atas, dapat kita lihat di dalam dirinya benar-benar tidak ada rasa takut akan Tuhan sehingga ia tidak dapat menghargai hamba Tuhan yang diurapi. Akibatnya: nasibnya sama dengan perwira yang pertama tadi, sama-sama dimakan oleh api yang turun dari langit. Walau pun perwira yang kedua ini melakukan tugasnya, tetapi karena didasari dengan sikap sombong, maka perbuatannya itu tidak memberikan hasil yang baik.

- 2 Raja-raja 1 : 13 - 14 Karena kedua perwira yang pertama dan yang kedua tidak berhasil membawa nabi Elia bertemu dengan raja Ahazia, maka raja Ahazia mengutus perwira yang ketiga juga dengan kelima puluh anak buahnya. Kalau kita lihat perwira yang ketiga ini sangat jauh berbeda dengan kedua perwira tersebut di atas. Kalau kedua perwira itu melakukan tugasnya dengan kesombongan, tidak menghargai hamba Tuhan, tetapi perwira yang ketiga ini datang dengan sikap yang benar, yaitu dengan sikap merendahkan diri sambil memohon kemurahan. Sebelum ia berbicara dengan Elia, terlebih dahulu ia “berlutut” di depan Elia kemudian berkata: “Ya abdi Allah, biarlah kiranya nyawaku dan nyawa kelima puluh orang hamba-hamba ini berharga di matamu.” Ini merupakan sikap yang baik, yang sangat berkenan kepada Tuhan sehingga nyawanya dan nyawa kelima puluh anak buahnya tertolong. Kalau datang kepada Tuhan untuk memohon petunjuk, harus disertai dengan rasa takut akan Tuhan, dengan sikap meredahkan diri, jangan dengan sombong. Maka Tuhan akan menunjukkan kemurahan-Nya, nyawa kita berharga dimata-Nya.

Kalau kita lihat dari ketiga perwira tersebut di atas, yang berhasil melakukan tugasnya dengan sikap yang baik dan benar hanyalah perwira yang ketiga. Perwira yang pertama dan yang kedua ini adalah gambaran : orang-orang yang mengerjakan pekerjaan dengan kesombongan yang di dalam dirinya tidak ada rasa hormat, baik kepada Tuhan mau pun kepada hamba-hamba Tuhan. Setiap orang yang tidak melakukan tugasnya dengan baik, nasibnya akan sama seperti kedua perwira tersebut, nyawanya tidak berharga di mata Tuhan.
Tetapi perwira yang ketiga, karena di dalam dirinya ada rasa takut akan Tuhan dan menghormati Elia sebagai nabi yang dipakai Tuhan, ia tertolong, nyawanya dan kelima puluh anak buahnya berharga di mata Tuhan.

Perwira yang ketiga ini adalah gambaran kepada pelayan-pelayan atau hamba-hamba Tuhan yang mengerjakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, tidak dengan sungut-sungut atau dengan iri hati, sepenuhnya dilakukan dengan tanggung jawab yang benar sebagai hamba.

Saudara-saudara, kalau kita lihat kembali Matius 20 : 1 - 16 dari semua orang-orang yang diberi kesempatan bekerja di ladang, mulai dari yang masuk terdahulu sampai kepada yang masuk terakhir, banyak dari antara mereka yang diakhiri dengan sungut-sungut, iri hati melihat yang masuk terakhir. Padahal dalam ayat 1 dijelaskan, yang mencari pekerja-pekerja itu adalah pemilik ladang itu sendiri, bahkan sebelum bekerja kesepakatan untuk mendapat upah satu dinar telah disepakati bersama-sama. Tetapi mengapa masih ada rasa iri hati atau cemburu di antara mereka? penyebabnya: karena tidak menghargai kemurahan Tuhan.
Ini berbicara pekerjaan Tuhan yang telah memanggil dan memilih kita untuk melayani di ladang Tuhan.
Demikian juga dalam Yohanes 15 : 16a Tuhan Yesus berkata: “Bukan kamu yang memilih Aku,tetapi Akulah yang memilih kamu.” Jadi jelas bukan kita yang lebih dahulu memilih Tuhan, tetapi Tuhanlah yang lebih dahulu memanggil dan memilih kita dan diberi kesempatan untuk bekerja di ladang Tuhan. Karena itu patutlah kita menghargai kemurahan Tuhan yang begitu besar ini, Ia telah memanggil dan memilih kita menjadi umat kepunyaan-Nya.
Roma 3 : 10 - 11 firman Tuhan menjelaskan siapa kita dan bagaimana latar belakang kita yang sebenarnya sebelum dipanggil dan dipilih Tuhan. Pada dasarnya tidak ada seorang pun yang benar, tidak ada seorang pun yang mencari Tuhan, semua telah menyeleweng dan tidak berguna. Tetapi syukur kepada Tuhan, Ia telah memilih kita dan memberi kesempatan untuk bekerja di ladang-Nya. Karena itu baik sebagai jemaat Tuhan mau pun sebagai hamba Tuhan, mari kita hargai kesempatan ini dengan cara bekerja dengan sebaik-baiknya, penuh tanggung jawab, tanpa sungut-sungut mau pun kesombongan. Bekerja di ladang Tuhan itu adalah anugrah Tuhan bukan karena kebaikan kita.
Matius 21 : 28 - 32 kita bisa melihat contoh dua orang anak yang sama-sama diberi kesempatan untuk bekerja di kebun anggur.
- anak yang sulung, di mulut nampaknya baik, nampaknya penurut, tetapi dalam prakteknya tidak mau melakukan tugas yang telah dipercakan kepadanya. Ini adalah contoh yang tidak menghargai kemurahan Tuhan.
- anak yang kedua, di mulut memang sempat membantah perintah bapanya, tetapi kemudian ia menyesal lalu bertobat, kemudian ia pergi melakukan perintah bapanya dengan penuh tanggung jawab. Anak yang kedua ini melayani dengan kasih. Ini adalah contoh orang yang menghargai kemurahan Tuhan, yang disertai dengan tanda keubahan hidup. Walau pun pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal itu dari latar belakang yang najis dan kotor, tetapi karena mau bertobat dan mau melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan, hidup mereka lebih baik bahkan lebih benar dihadapan Tuhan dari pada orang-orang Farisi mau pun ahli-ahli Taurat.
Karena itu kalau kita sudah diberi kesempatan bekerja di ladang Tuhan, mari kita hargai dengan sebaik-baiknya. Hiduplah dalam ibadah dan penggembalaan yang benar, dan melayanilah dengan tahbisan yang benar, maka Tuhan akan berkenan akan hidup kita.



“BERJAGA - JAGA”

BEKERJA MEMBERI BUAH.

Minggu - 21 Februari 2010

Saudara-saudara, bekerja di ladang Tuhan merupakan kasih karunia Tuhan. Kalau diberi kesempatan melayani di ladang Tuhan, ini adalah anugrah yang besar yang harus kita hargai dengan sebaik-baiknya. Apalagi kalau melayani dalam gerak firman pengajaran dalam pembangunan tubuh Kristus, ini adalah benar-benar kesempatan yang harus kita hargai dengan sebaik-baiknya. Karena itu kalau Tuhan sudah memberi kesempatan bekerja di ladang Tuhan, bekerjalah dengan taat dan setia sampai menghasilkan buah-buah yang baik.
Filipi 1 : 22b rasul Paulus berkata:“Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” Dari ayat ini kita lihat kalau diberi kesempatan untuk hidup, itu berarti harus bekerja supaya menghasilkan buah, dan buah yang dimaksut adalah buah-buah yang baik. Tuhan tidak pernah mengharapkan sesuatu dari kehidupan orang yang tidak tinggal di dalam Kristus. Sebab Tuhan tahu, tidak mungkin mereka bisa menghasilkan buah-buah yang baik.
Tetapi yang diharapkan Tuhan adalah dari kehidupan yang sudah tinggal di dalam Kristus, yaitu yang hidup di dalam firman. Maka kalau sudah bekerja di ladang Tuhan, ada sikap yang perlu kita perhatikan: sebagai hamba jangan selalu menuntut hak, Tuhan pasti akan memberkati dan memperhatikan asalkan kita mau bekerja dengan sepenuh hati sampai menghasilkan buah-buah yang baik.
Saudara-saudara, kembali kita melihat Matius 20 : 1 - 16 ketika Tuhan Yesus memberikan satu perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur, ini merupakan pelajaran penting yang harus kita ketahui. Sebab dari pelajaran ini dapat kita ketahui bagaimana sikap orang-orang yang masuk terdahulu, mereka iri hati dan cemburu melihat orang yang masuk terakhir. Karena masuk lebih dahulu, mereka menyangka akan menerima upah lebih banyak dari orang yang masuk terakhir itu, tetapi kenyataannya upah yang mereka terima sama yaitu satu dinar saja. Akibatnya mereka bersungut-sungut kepada tuan yang empunya kebun anggur itu. Seharusnya mereka tidak perlu bersungut-sungut sebab sudah ada kesepakatan terlebih dahulu bahwa upah mereka adalah satu dinar.
Di sinilah kita sebagai jemaat mau pun sebagai hamba Tuhan, kalau sudah diberi kesempatan bekerja di ladang Tuhan, ini adalah anugrah Tuhan saja bekerjalah dengan sepenuh hati, lakukan pekerjaan itu dengan penuh tanggung jawab jangan dengan sungut-sungut. Jika ini sudah kita lakukan barulah kita bisa menghasilkan buah-buah yang baik.
Galatia 2 : 19 - 20 Paulus sebagai rasul Kristus menjelaskan bagaimana sikap yang benar jika kita sudah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, maka kita akan hidup untuk Tuhan. Dengan demikian maka kita dapat berkata: “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku yang hidup. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Inilah sikap hidup orang Kristen yang benar: hidupnya bukan lagi untuk dirinya sendiri melainkan untuk Tuhan sebab Kristus sudah hidup di dalam dirinya.

Supaya kita berhasil menghasilkan buah-buah yang benar, ada tiga (3) hal yang perlu kita perhatikan dengan baik-baik, yaitu:

I. KARAKTER HIDUP.

Firman Tuhan memberikan contoh karakter yang harus kita teladani, yaitu: karakter seorang petani. Jika ingin berhasil bekerja di ladang Tuhan, kita harus mempunyai sifat atau karakter seperti seorang petani.
Berikut ini ada tiga (3) karakter seorang petani yang perlu kita teladani:

1). Bekerja keras.
2 Timotius 2 : 6 “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.” Seorang petani kalau rindu menik-mati hasil baik dari tanahnya, ia harus bekerja dengan keras, harus dengan sungguh-sungguh. Kalau tidak, selebar apa pun tanahnya, sebaik apa pun benihnya, tanah itu tidak akan pernah memberikan hasil yang baik. Pada zaman sekarang ini, ada banyak orang Kristen tidak sungguh-sungguh mengikut Tuhan, tidak sungguh-sungguh beribadah, tidak sungguh-sungguh melayani Tuhan. Banyak orang hanya mengharapkan mujizat, mengharap hanya kepada kemurahan Tuhan saja, akibatnya mereka tidak sungguh-sungguh, kalau pun beribadah dan melayani hanya sebagai kebiasaan saja. Karena itu sebagai jemaat mau pun sebagai hamba Tuhan, dalam ibadah dan penggembalaan yang benar, kita harus sungguh-sungguh datang kepada Tuhan seperti seorang petani yang mau bekerja keras. Ladang itu sama dengan ibadah dan pelayanan, seorang jemaat dan hamba Tuhan harus mau bekerja keras.
2). Bersabar.
Setelah bekerja keras, karakter yang kedua seorang petani harus bersabar. Dijelaskan dalam Yakobus 5 : 7 - 8 biasanya dalam menantikan hasil yang berharga dari tanahnya, seorang petani harus sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kedatangan Tuhan sudah dekat, kita harus punya sikap seperti petani: sabar menantikan kedatangan Tuhan.
Dalam menantikan kedatangan Tuhan yang kedua kali, sikap seorang petani ini perlu kita miliki, kita harus tetap sabar. Walaupun harus mengalami banyak pencobaan dan penderitaan, kita harus tetap sabar, jangan bersungut-sungut dan jangan ada rasa bosan sedikit pun. Jika kita tetap sabar, maka kita pasti akan dapat menikmati kebahagiaan bersama dengan Kristus dalam kemuliaan-Nya. Sama seperti seorang petani yang pertama-tama menikmati hasil tanahnya, demikian jugalah nanti jika Tuhan datang, kitalah yang pertama-tama menikmati kemuliaan-Nya.
3). Ada kerjasama.
1 Korintus 3 : 6 - 8 firman Tuhan menjelaskan bagaimana kerjasama yang baik antara yang seorang dengan yang lain. Paulus menanam dan Apolos menyiram. Ini adalah bentuk kerjasama yang baik, masing-masing mempunyai tugas sehingga tidak saling berebut. Yang terpenting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Tuhan yang mau memberikan pertumbuhan dalam pelayanan kita. Jika di antara jemaat mau pun hamba Tuhan sudah ada kerjasama yang baik, masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.

II. BENIH.

Benih sebelum ditanam harus diperhatikan dengan baik-baik, sebab jika benihnya tidak baik maka benih itu tidak akan bisa bertumbuh dengan baik. Lukas 8 : 11 benih itu ialah firman Tuhan. Jemaat bisa bertumbuh rohaninya jika firman yang diterimanya juga baik, yaitu firman pengajaran yang benar-benar murni. Jadi jemaat jangan suka dengar-dengaran kepada yang bukan kebenaran, tutup telinga terhadap kepalsuan. Dalam 1 Yohanes 3 : 9 dijelaskan jika benih ilahi itu sudah ada di dalam hati kita, kita tidak akan berbuat dosa lagi, sebab benih itu sendiri akan memberi kekuatan untuk menolak segala bentuk dosa. Benih ilahi inilah benih yang baik, bahkan yang terbaik yang harus kita konsumsi supaya iman percaya kita bisa bertumbuh dengan baik. Jadilah sebagai jemaat yang setia digembalakan.

III. LAHAN.

Lahan sebagai tempat benih ditabur juga harus baik. Jika lahan tidak baik, semua bisa menjadi sia-sia saja. LAHAN = hati manusia. Walau pun sudah punya karakter yang baik, sudah punya benih, tetapi jika tidak punya lahan yang baik, banih itu tidak akan memberikan hasil yang baik. Demikian juga walau pun sudah menerima benih firman tuhan yang baik, tetapi jika tidak punya hati yang baik maka benih itu tidak akan bisa bertumbuh dengan baik. Lukas 8 : 12 - 15 Tuhan Yesus menjelaskan ada empat jenis tanah (=lahan): dan dari keempat jenis tanah atau lahan tersebut, hanya satu lahan saja yang baik, yaitu “tanah yang baik”. Inilah yang bisa mengeluarkan buah dalam ketekunan, berhasil menyambut kedatanagn Tuhan.
- dipinggir jalan = mendengar dan menerima firman Tuhan, tetapi firman itu tidak sempat bertumbuh sebab iblis segera mengambil firman itu dari dalam hatinya. Iblis itu paling suka mengambil firman yang sudah didengar, sebab ia tidak mau kalau firman itu bertumbuh dengan baik. Sebab jika benih itu bertumbuh dengan baik, kita akan diselamatkan sehingga iblis tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
- tanah yang berbatu-batu = mendengar dan menerima firman Tuhan dengan gembira, suka akan firman Tuhan, tetapi ini belum cukup sebab ada batu-batu di dalam hatinya yang menjadi penghalang bagi benih untuk bertumbuh. Orang Kristen yang keras hatinya, walaupun suka mendengar firman Tuhan, tetapi kepercayaannya kepada firman itu tahan hanya sebentar saja. Akibatnya: dalam masa pencobaan orang yang seperti ini akan segera murtad (=tinggalkan Tuhan).
- semak duri = juga sudah mendengar dan menerima firman Tuhan, bahkan sudah sempat bertumbuh. Hanya dalam pertumbuhan selanjutnya firman itu dihimpit oleh kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup. Akibatnya : benih itu tidak sempat berbuah.
- tanah yang baik = mendengar firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati yang baik, inilah sikap yang terbaik dalam menerima firman Tuhan. Setelah mendengar, kita harus punya sikap yang baik supaya benih itu bisa bertumbuh dengan baik. Jangan dengan keras hati, jangan mau ditipu oleh kekayaan atau pun kenikmatan hidup. Tetapi firman itu harus kita masukkan ke dalam hati, selanjutnya harus dengan tekun melakukannya. Maka benih itu pasti dapat bertumbuh dengan baik dan akan mengeluarkan buah-buah dalam ketekunan. Inilah buah-buah yang baik, yang sedang dinanti-nantikan Tuhan dari dalam hidup kita. HALELUYA.....!!!!


“BERJAGA - JAGA”

Minggu - 28 Februari 2010

Matius 24 : 4 - 5 Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.”
Ketika Tuhan Yesus memberitahukan kepada murid-murid-Nya tentang tanda-tanda akhir zaman, peringatan pertama sebelum Tuhan Yesus memberikan pelajaran tentang berjaga-jaga adalah supaya waspada terhadap segala bentuk penyesatan. Penyesatan ini sangat berbahaya, bisa membuat orang gagal masuk ke dalam kerajaan sorga. Salah satu bentuk penyesatan yang harus diwaspadai akan ada orang datang dengan yang memakai nama Yesus. Bentuk penyesatan ini seperti ini nampaknya benar, kalau tidak cepat disadari akan membawa orang menyimpang dari kebenaran, yaitu murtad.

Devenisi murtad adalah orang-orang yang berhasil disesatkan dari kebenaran yang sejati kepada yang bukan kebenaran.

Setelah Tuhan Yesus memperingatkan tentang kewaspadaan, barulah Tuhan Yesus memberikan palajaran tentang berjaga-jaga (lihat Matius 24 : 37 - 42 sudah kita pelajari sebelumnya). Kemudian kelanjutan tentang berjaga-jaga ini dalam Matius 24 : 45 - 51 Tuhan Yesus memberikan lagi satu perumpamaan atau pelajaran tentang “hamba yang setia dan hamba yang jahat” tujuannya supaya kita bisa mempersiapkan diri dalam mengambil sikap yang benar. Tuhan tidak mau kita gagal apalagi disesatkan dari kebenaran. Maka dalam cerita ini Tuhan Yesus sedang memperlihatkan kepada kita bagaimana sikap yang benar dalam berjaga-jaga.
Hamba yang baik: yang didapati tuannya sedang melakukan tugasnya dengan baik.
Karena hamba itu telah melakukan tugasnya dengan tanggung jawab, maka ia disebut sebagai hamba yang setia dan bijaksana.
Inilah model jemaat-jemaat ataupun hamba-hamba Tuhan yang telah berjaga-jaga dengan baik. Berjaga-jaga yang benar harus sampai Tuhan datang tidak cukup satu tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, dst, tetapi sampai Tuhan datang kembali. Berkatnya akan menikmati kebahagiaan bersama dengan Kristus dalam kemuliaan-Nya yang kekal, layak menjadi mempelai perempuan Kristus.
Sebagai hamba yang setia dan bijaksana:
- melakukan tugas dengan taat dan setia
- memperhatikan pelayanan lebih dari kepentingan diri sendiri
- tidak ada rasa bosan/jenuh tetapi bekerja terus sampai Tuhan datang

Sedangkan hamba yang jahat, ia tidak mau melakukan apa yang telah diperintahkan tuannya kepadanya. Justru ia berkata dalam hatinya: “Tuanku tidak datang-datang” sehingga perbuatan selanjutnya: memukul hamba-hamba yang lain, makan minum bersama-sama dengan pemabuk-pemabuk.

Model hamba yang jahat:
- tidak melakukan tugasnya dengan baik
- disertai dengan sungut-sungut
- melakukan hal-hal jahat yang tidak berkenan kepada Tuhan

Setiap orang yang merasa Tuhan masih lama datang, akan memiliki sikap tidak mau berjaga-jaga dengan baik dan nasibnya akan sama dengan hamba yang jahat ini. Karena merasa Tuhan belum datang-datang juga, membuat tidak ada rasa takut untuk melakukan kejahatan. Akibatnya tidak mau berjaga-jaga dengan baik dan tidak mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kalinya.
Saudara-saudara, dalam Filipi 2 : 19 - 24 firman Tuhan mengambil satu contoh kehidupan seorang hamba/pelayan yang baik dan setia. Timotius seorang murid yang telah teruji dalam segala hal, seorang hamba yang setia melayani Paulus, sama seperti seorang hamba yang baik yang taat melakukan tugasnya sampai tuannya itu datang. Timotius ini adalah model hamba yang baik, menunjuk kepada kehidupan jemaat ataupun hamba Tuhan yang setia melayani sampai Tuhan datang.

Timotius sebagai hamba yang baik:
- lebih mementingkan kepentingan jemaat
daripada kepentingan diri sendiri.
- bisa bekerjasama dengan baik, yang telah
menolong Paulus dalam pemberitaan Injil
seperti seorang anak menolong bapanya.
- kesetiaannya benar-benar telah teruji, walaupun
seorang pembantu tetapi ia mau melakukan
tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

Timotius sebagai seorang pembantu bisa bekerja sama dengan Paulus yang adalah rasul Kristus. Kalau yang lain lebih mencari kepentingan diri sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus, tetapi Timotius lebih mementingkan kepentingan pelayanan daripada kepentingan pribadinya. Dan ini diakui sendiri oleh rasul Paulus: “tidak ada seorang padaku, yang sehati sepikir dengan aku dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu.”

Memperhatikan kepentinganmu = memperhatikan kepentingan pelayanan/jemaat.

2 Timotius 1 : 13 - 14 supaya kesetiaan itu bisa teruji dengan baik:

1) harus berpegang teguh kepada pengajaran yang benar, yaitu ajaran yang sehat dan melakukannya dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

2) harus memelihara firman pengajaran yang telah dipercayakan kepada kita oleh Roh Kudus yang diam di dalam hati kita.

Memelihara = ada sikap yang benar dalam melakukan firman Tuhan, sedangkan Harta yang indah itu adalah firman pengajaran.

Jadi sikap kita sebagai jemaat Tuhan, kita harus berpegang teguh kepada firman pengajaran yang telah kita terima, kemudian memeliharanya dengan baik. Supaya kita bisa melakukan firman Tuhan dengan sungguh-sungguh, Tuhan Yesus akan mengutus Roh Kudus-Nya ke dalam dunia sebagai penolong. Dalam Yohanes 16 : 13a Tuhan Yesus berkata: “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;”
Jadi Roh Kebenaran itu berperanan untuk memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Berarti Tuhan Yesus tidak akan membiarkan kita hidup dalam kelemahan, Ia tidak akan membiarkan kita hidup tanpa kuasa. Dia tahu bahwa tanpa Roh Kudus tidak mungkin seseorang itu bisa hidup dalam kebenaran. Maka Ia mau mengutus Roh Kudus-Nya kepada kita. Kemudian dalam Mikha 4 : 13 kalau menerima firman pengajaran yang murni/yang berkualitas akan diberi kesempatan untuk mengirik. Tuhan akan membuat tanduk dari besi (=memiliki kuasa) sehingga mampu menumbuk hancur banyak bangsa.
Dalam terang Tabernakel, proses firman menjadi daging dimulai dari Meja Roti, ada sikap mendengar dan menerima firman pengajaran dengan hati yang baik. Dan praktek jika firman Tuhan itu sudah menjadi daging: di Pintu Tirai, kita akan mampu mematikan segala tabiat-tabiat daging.
- Yesus mati di kayu salib, bukan karena dosa-dosa-Nya dan bukan karena pelanggaran-Nya.
- kita juga harus mati terhadap dosa dan terhadap segala tabiat-tabiat daging. Inilah yang disebut dengan hidup suci.
Kolose 3 : 5 firman Tuhan menjelaskan kepada kita hal-hal yang harus dimatikan dari dalam hati kita, yaitu segala sesuatu yang duniawi, seperti percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan keserakahan. Jika segala sesuatu yang duniawi itu sudah dimatikan, barulah kita layak disebut sebagai manusia baru yang telah diperbaharui. Kemudian Ibrani 12 : 14 kalau sudah hidup suci kita akan melihat Tuhan. Melihat Tuhan di sini bukan dalam wujud, tetapi kita bisa melihat Tuhan dalam pekerjaan-Nya, dalam ibadah ataupun dalam pelayanan. Termasuk ketika sedang dalam masalah, dalam penderitaan, atau dalam suka dan duka, kita akan melihat pekerjaan Tuhan dinyatakan di tengah-tengah kehidupan kita.
Kembali ke Matius 24 : 45 - 47 setelah kita berjaga-jaga seperti Nuh, berjaga-jaga dengan tetap dalam suasana kerajaan sorga, peningkatannya adalah kita akan menjadi seperti seorang hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh Tuhan untuk melayani. Bekerja di ladang Tuhan harus dengan setia. HALELUYA ...!!!!

Selasa, 12 Januari 2010

Buletin Minggu - JANUARI 2010

“TAHUN BARU TAHUN PEMBAHARUAN”

Minggu - 10 Januari 2010

Saudara-saudara, tema “Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini” (Wahyu 21 : 7) adalah tema kita untuk tahun ini, supaya di tahun 2010 ini kita dibekali lebih dahulu dengan firman Tuhan. Wahyu 21 : 5 = puncak kemenangan itu sendiri adalah Tuhan menjadikan segala sesuatu menjadi baru. Artinya: supaya kita bisa mengalami kemenangan demi kemenangan bersama dengan Kristus, lebih dahulu kita harus mengalami “tanda keubahan hidup” atau “tanda pembaharuan” yaitu hidup yang sudah dibaharui dalam segala hal baik dari sifat-sifat mau pun dari karakter.
Berbicara “tanda keubahan hidup” sangat identik dengan kedatangan Tuhan yang kedua kali, sebab kalau ingin masuk ke dalam sorga, harus mengalami tanda pembaharuan.

Mengapa harus mengalami tanda pembaharuan?

Firman Tuhan dalam 1 Korintus 15 : 50 menjelaskan kepada kita bahwa “darah” dan “daging” tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa. Ini berarti kalau seseorang itu belum mengalami tanda pembaharuan, maka sudah pasti ia tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah, tidak layak masuk ke dalam sorga.
Maka pada saat Tuhan Yesus datang kembali ada dua (2) garis akhir dari hidup manusia:
- mati sebelum diubah = jangan harap bisa masuk ke dalam kerajaan Allah.
- kalau hidup, harus mengalami tanda keubahan
supaya layak mendapat bagian dalam sorga.
Pada zaman Nuh, orang-orang yang berada dalam penghukuman air bah, semuanya adalah orang-orang yang sudah rusak hidupnya. Kejadian 6 : 11 - 12 firman Tuhan memperlihatkan kepada kita, bahwa bumi telah rusak dihadapan Allah dan penuh dengan kekerasan sebab semua manusia selalu menjalankan hidup yang rusak. Yang rusak bukan hanya hidup pribadinya saja, tetapi termasuk rumah tangga/keluarga, ibadahnya maupun pelayanannya.
Demikian juga pada zaman akhir ini, kalau kita lihat sekarang ini banyak orang hanya memfokuskan diri kepada perkara-perkara yang lahiriah saja, banyak pengajaran-pengajaran yang hanya berfokus perkara-perkara kepada jasmani saja. Dalam pemberitaan hanya mengajarkan tentang berkat-berkat, tentang kesembuhan, seolah-olah mengikut Tuhan itu hanya sekedar sembuh atau sekedar kaya saja.
Padahal dalam Matius 24 : 32 - 35, Tuhan Yesus sudah memberikan satu palajaran yang sangat penting, yaitu tentang “pohon ara” apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, berarti musim panas sudah dekat. Ini berbicara tentang kedatangan Tuhan yang sudah dekat.
Pelajaran tentang “pohon ara” ini adalah pelajaran tentang “tanda keubahan hidup” yang menunjuk kepada kehidupan yang sudah mengalami tanda pembaharuan.

POHON ARA = adalah pohon yang pernah dikutuk oleh Yesus karena tidak berbuah. Ini menunjuk keadaan manusia sebelum mengalami tanda pembaharuan, setiap orang yang masih tetap dalam dosa dan pelanggaran berada dalam kutuk.
Namun demikian pohon ara ini juga berbicara kepada gereja Tuhan yang sudah diampuni dosanya, yang dikuduskan dan yang dipersiapkan menjadi sidang mempelai perempuan Kristus. Maka kalau pohon ara sudah mulai melembut dan mulai bertunas, maka pohon ara akan bertunas dan berbuah. Demikian juga jika gereja Tuhan yang berasal dari bangsa kafir itu sudah mulai membuka hati dan menerima firman Tuhan, maka saatnya gereja itu akan dipulihkan, akan diubahkan dari manusia yang dahulu terkutuk supaya menjadi umat Allah.

Dalam Kidung Agung 2 : 11 - 13 dijelaskan juga tentang pohon ara jika musim dingin telah lewat, berarti musim panas sudah mulai saat itulah pohon ara mulai bertunas dan berbuah. Ini sama seperti yang telah dikatakan di atas, jika rohani sudah mengalami tanda keubahan, pasti ada semangat baru atau gairah untuk melakukan firman Tuhan. Sehingga Allah akan menunjukkan penyertaan-Nya kepada kita dalam segala hal.
Sebaliknya Yesaya 1 : 4 - 8 kalau tidak mengalami tanda pembaharuan akan masuk ke dalam celaka, akan dipukul mulai dari kaki sampai kepala, semua menjadi sakit. Ini menjadi peringatan khusus kepada orang yang tidak mengalami tanda pembaharuan.

Proses tanda keubahan itu pertama-tama akan nampak dalam hal “memperhatikan”, ada sikap mendengar dan menerima firman Tuhan. 2 Petrus 1 : 19 memperhatikan firman sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap. Artinya: jika kita mau memperhatikan firman Tuhan, maka firman itu akan menjadi terang sehingga kita tidak lagi hidup di dalam kegelapan. Bahkan dalam Yohanes 1 : 4 telah dikatakan jika kita sudah berada di dalam Dia (=di dalam firman) maka di dalam hidup kita sudah ada hidup, dan hidup itulah yang menjadi terang manusia. Itu sebabnya orang yang paling berbahagia adalah mereka, yang di dalam hidupnya sudah ada terang firman Tuhan.
Karena itu sebagai jemaat Tuhan, kalau Saudara rindu memperoleh hidup yang kekal, harus mau memperhatikan firman Tuhan, di dalam diri kita harus ada sikap beribadah yang benar dan ada kerelaan untuk melayani Tuhan. Sebab jika di dalam diri kita sudah ada sikap memperhatikan firman Tuhan, maka firman itu akan membawa kita juga untuk memperhatikan ibadah dan pelayanan sehingga kita dapat beribadah yang benar dan membawa korban yang harum bagi Tuhan kita.
Karena itu untuk mempercepat proses supaya berhasil memiliki tanda keubahan dalam hidup, ada dua (2) hal penting yang harus kita perhatikan, yaitu:
1. Tingkatkan persekutuan dengan Tuhan dalam
doa dan penyembahan yang benar.
Supaya hal ini bisa terwujud, Lukas 9 : 28 - 29 penyem-bahan yang benar itu harus diawali dahulu dengan firman pengajaran, sesuai dengan skema Tabernakel yang dimulai dengan Meja Roti Sajian, Pelita kemudian Mezbah Dupa. Jadi penyembahan yang benar tidak akan pernah terwujud kalau di dalam hidup kita tidak ada terang firman Tuhan maupun urapan dari Roh Kudus. Kalau ada penyembahan yang benar, ada dua yang akan berubah, yaitu: WAJAH & PAKAIAN.
Wajah = berkaitan dengan hati, setiap orang akan nampak dari wajahnya. Kalau hati sedang susah, akan nampak dari wajahnya yang murung, demikian sebalik nya kalau hati sedang gembira akan nampak juga dari wajahnya yang ceria.
Pakaian = berbicara sifat atau karakter dan tingkah laku, setiap orang yang sudah hidup dalam penyembahan yang benar, akan nampak dari sikap dan perbuatannya sehari-hari. Jadi kalau penyembahan sudah ditingkat kan, maka tanda keubahan itu akan nampak baik perkara dalam maupun perkara luarnya.
2. Ada kerelaan menderita/sengsara.
Menderita atau sengsara yang dimaksud bukanlah karena dosa, tetapi karena melakukan firman Tuhan. 2 Korintus 4 : 14 - 16 ketika manusia lahiriah semakin merosot, bahkan sekali pun sedang menghadapi maut, jangan tawar hati. Mengapa harus demikian? Sebab semua penderitaan itu sengaja Tuhan ijinkan terjadi, tujuannya untuk mengerjakan kemuliaan kekal yang melebihi segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Rasul Paulus mengatakan semua penderitaan itu hanyalah pende-ritaan biasa saja, maka kita tidak perlu takut menghadapi penderitaan.
Matius 6 : 25 - 26 kalau pandangan rohani kita sudah diubahkan, hasilnya : kita akan hidup tanpa kekuatiran. Ayat 27 = jika hidup dalam kekuatiran tidak dapat menambahkan sehasta pun pada jalan hidupnya, tetapi jika hidup tanpa kekuatiran: Tuhan sendiri yang akan menambahkan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan kita (ayat 33).


“PELAJARAN TENTANG POHON ARA”

Minggu - 24 Januari 2010

Puji Tuhan!
Kita sudah melihat dan mempelajari tentang pohon ara, suatu pelajaran yang sangat penting kita ketahui sebab pelajaran tentang pohon ara ini adalah pelajaran tentang "tanda keubahan hidup." Pohon ara berbuah tidak disemua musim, berbuah kalau hanya musim panas saja. Kidung Agung 2 : 11 - 13 firman Tuhan menjelaskan: saat musim dingin dan musim hujan telah berlalu, saat itulah ranting-ranting pohon ara mulai melembut dan mulai bertunas sampai menghasilkan buah-buah.

Musim panas berbicara tentang:
- kegerakan hujan akhir
- kegerakan rohani
Artinya: ada kegerakan rohani karena kasih akan Tuhan, ada gairah atau semangat untuk
mengikuti gerak firman Tuhan.

Dasar/sikap untuk menerima firman Tuhan: kita harus memiliki hati yang lembut, yaitu hati yang siap menampung kebenaran. Bagi kita sebagai jemaat Tuhan, ibadah itu sangat erat kaitannya dengan tanda keubahan hidup.
Maka tidak heran kalau dalam Roma 12 : 1 - 2 firman Tuhan sangat menekankan: “Berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Tujuannya: supaya kita jangan menjadi serupa dengan dunia ini.
Hidup yang sudah mengalami tanda keubahan atau pembaharuan, ditandai dengan sikap: beribadah kepada Tuhan dengan cara yang benar, yaitu dengan mempersembahkan “tubuh” sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah.
Sebagai contoh kita bisa melihat pribadi Yesus. Lukas 2 : 52 Yesus sendiri sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia, dalam hidup-Nya sebagai manusia juga memiliki tanda perubahan:
- semakin bertambah besar-Nya
- bertambah hikmat-Nya
- semakin dikasihi Allah dan manusia
Demikian juga setiap orang yang mau meneladani pribadi Tuhan Yesus, yaitu yang sudah mengalami tanda keubahan hidup, mereka juga pasti akan ditandai dengan sikap dan perbuatan yang benar, sehingga hidupnya akan dikasihi Allah dan juga dikasihi sesama manusia.
Hal seperti ini juga pernah dialami oleh Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, yaitu pada saat raja Nebukadnezar mengangkut orang Israel ke Babel sebagai tawanan dan menjadikan mereka sebagai budak. Walaupun mereka sebagai tawanan, dan sedang dibawa keistana raja, mereka tetap mempertahankan cara hidup yang benar. Daniel 1 : 8 mereka berketetapan (berketetapan = tidak terpengaruh dengan keadaan = tidak sama dengan dunia ini) untuk tidak menajiskan diri dengan santapan/makanan raja.
Ayat 12 setelah mereka berketetapan kepada mereka diberikan hanya sayur untuk dimakan dan air untuk diminum, maka diadakanlah pencobaan selama sepuluh hari. Walaupun demikian, perawakan mereka jauh lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja (ayat 15). Berkatnya: Allah mengaruniakan kepada mereka kasih dan sayang (=mereka dikasihi Allah), Tuhan juga memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai tulisan dan hikmat, dan khusus kepada Daniel Tuhan memberikan pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. Daniel 1 : 20 dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, raja Nebukadnezar mendapati bahwa mereka “sepuluh kali lebih cerdas” dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi diseluruh kerajaannya. Inilah yang membuat sehingga Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego mendapat kedudukan yang tinggi di Babel.
Saudara-saudara, sesungguhnya setiap orang yang berdosa, ia sedang memiliki kasus, sedang berperkara dengan Allah. Maka kalau sedang berperkara dengan Allah, perkara itu harus diselesai kan dengan secepatnya supaya jangan sampai menimbulkan masalah besar.
Adam dan Hawa setelah jatuh ke dalam dosa, Tuhan berfirman untuk memanggil supaya mereka dibetulkan/diperbaiki kembali. Sebab setelah mereka melanggar perintah Allah, mereka menjadi takut kepada Allah, bahkan mendengar bunyi langkah Tuhan pun mereka menjadi takut. Dari sini bisa kita lihat dengan sebenarnya betapa jeleknya dosa itu, bisa membuat manusia menjadi takut bertemu dengan Allah.
Yesaya 1 : 18 firman Tuhan menghimbau kepada orang-orang yang telah berdosa supaya mau berper-kara dengan Allah. Kalau Tuhan mengundang untuk berperkara, tentu ada maksud dan tujuannya, yaitu: untuk menyelesaikan masalah tersebut supaya jangan tetap berperkara dengan Tuhan. Tuhan tahu, kalau manusia berperkara dengan Tuhan maka tidak ada seorang pun yang tahan dan tidak ada seorang pun yang bisa lari dari masalah tersebut. Untuk itulah Tuhan mengundang supaya manusia yang sudah berdosa itu mau datang untuk berperkara dengan Tuhan, supaya bebas dari segala masalah.
Yesaya 1 : 19 jika mau menurut dan mau mendengar (=mau berperkara dengan Tuhan) akan memakan hasil baik, sebaliknya kalau melawan atau memberontak (=tidak mau berperkara dengan Tuhan) akan dimakan oleh pedang (ayat 20), artinya akan masuk ke dalam penghukuman.

Berperkara kepada Tuhan = artinya adalah memohon kemurahan Tuhan supaya dihapuskan dari segala dosa maupun pelanggaran.
Menurut firman Tuhan cara yang benar berperkara dengan Tuhan sama dengan mau mengakui segala pelanggaran yang telah diperbuat.
1 Yohanes 1 : 8 jika ada orang yang berani berkata “tidak pernah berdosa”, firman Tuhan mengatakan ia sedang menipu dirinya sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam dirinya. Tetapi jika mau mengakui segala dosanya dengan jujur, Tuhan itu setia dan adil sehingga Ia pun akan mengampuni kita dari segala dosa bahkan Ia juga akan menyucikan kita dari segala kejahatan yang telah kita lakukan (1 Yohanes 1 : 9).
Sama seperti Adam dan Hawa setelah jatuh ke dalam dosa, mereka mencoba menutupi ketelanjangannya dengan cara membuat cawat dari daun pohon ara. Tetapi usaha mereka ini tidak berhasil, tetap tidak mampu menutupi segala dosa dan kekurangan mereka dihadapan Tuhan. Maka Tuhan sendiri yang bertindak, Ia memanggil mereka dan berfirman, tujuannya adalah: supaya Adam dan istrinya itu dibetulkan dan diperbaiki supaya jangan tetap tinggal di dalam dosa. Firman Tuhan dalam Roma 8 : 28 membuktikan bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang dikasihi.

Roma 8 : 29 cara Tuhan membetulkan manusia:
- dipanggil supaya dibetulkan/diperbaiki dari manusia berdosa menjadi
manusia yang dibenarkan.
- selanjutnya setelah dipanggil, akan dipilih supaya dikuduskan(disucikan)
supaya menjadi serupa dengan gambaran Kristus.
Inilah juga yang dikatakan dalam 2 Petrus 1 : 10, firman Tuhan menghimbau supaya kita berusaha dengan sungguh-sungguh, tujuannya supaya panggilan dan pilihan kita makin teguh. Sebab jika panggilan dan pilihan kita sudah teguh, maka kita tidak akan pernah tersandung. Justru Tuhan akan mengaruniakan “hak penuh” untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (ayat 11).

Maka kalau kita lihat dalam 1 Korintus 9 : 24 - 27 ada tiga (3) sikap yang perlu kita perhatikan:
1). Harus taat dan dengar-dengaran.
2). Menguasai diri dalam segala hal.
3). Tidak membiarkan sedikit pun waktu terbuang.

Seorang pelari: pertama-tama ia harus memasang telinga untuk mendengar aba-aba atau peraturan dalam pertandingan, sebab jika tidak demikian ia tidak akan bisa mengikuti pertandingan dengan baik. Kemudian ia juga harus mampu memperhatikan waktu ketika bertanding supaya jangan sampai ketinggalan dengan pelari yang lainnya.
Orang Kristen yang tidak mau memasang telinga untuk mendengarkan firman Tuhan apalagi kalau tidak mau memperhatikan firman Tuhan, maka ia akan menjadi orang Kristen yang biasa-biasa saja, manjadi hamba Tuhan yang tidak serius melayani. Maka sebagai jemaat Tuhan maupun sebagai hamab Tuhan, mari kita teladani sikap seorang pelari: pasang telinga untuk mendengarkan firman Tuhan dan perhatikan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Kalau pohon ara sudah mulai bertunas dan mengeluarkan buah, berarti kedatangan Tuhan sudah dekat. Yang bisa masuk ke dalam kerajaan sorga hanyalah mereka yang sudah mempersiapkan diri, yaitu yang sudah mengalami tanda keubahan hidup. Haleluya.......!!!

Senin, 04 Januari 2010

Buletin Januari 2010

“NATAL MENURUT INJIL LUKAS”

Minggu - 03 Januari '10

Saudara-saudara, pada minggu yang lalu kita sudah melihat bahwa NATAL adalah bukti kasih Allah yang di-nyatakan kepada manusia, Yesus datang sebagai Juruselamat bagi semua orang. NATAL adalah berkat khusus yang diberikan Allah kepada semua orang, kepada orang-orang yang baik, kepada orang-orang yang jahat bahkan kepada orang-orang yang najis sekalipun. Maka supaya dapat mengalami berkat NATAL, kuncinya: datanglah kepada Tuhan dan jadikan Dia sebagai Juruselamat pribadimu.
NATAL menurut Injil Lukas menceritakan Yesus sebagai Anak Manusia. Dan NATAL menurut Injil Lukas ini yang perlu diperhatikan supaya dapat ber-temu dengan Yesus adalah “tanda”, di mana Yesus di-lahirkan. Dalam Lukas psl 2 firman Tuhan menceritakan bagaimana proses kelahiran Yesus, malaikat Tuhan datang kepada para gembala-gembala yang tinggal di padang dan mengatakan: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (ayat 11 - 12) Jadi kepada para gembala-gembala itu Tuhan memberikan suatu “tanda” bahwa Juruselamat telah datang ke dunia ini.

Bagi kita “tanda” ini mengandung arti yang sangat penting, untuk membuktikan bahwa Allah telah datang ke dunia ini sebagai Juruselamat untuk menyelamatkan kita dan menjadikan kita sebagai milik kepunyaan-Nya.


Ulangan 6 : 4 - 15 firman Tuhan menekankan supaya mempunyai tanda: kita harus memperhatikan firman Tuhan dan mengajarkannya kepada anak-anak, baik ketika di rumah, dalam perjalanan, ketika berbaring ataupun ketika bangun. Ayat 8 - 9 firman Tuhan bisa menjadi tanda apabila firman itu diikatkan pada tangan dan menjadi lambang didahi. Berkat kalau firman Tuhan sudah menjadi tanda: rumah-rumah penuh berisi berbagai-bagai barang yang baik (berkat dalam rumah tangga) dan sumur-sumur atau kebun-kebun yang disediakan Tuhan walaupun bukan kita yang menggali atau menanami.

Untuk memperoleh tanda dari Tuhan, ada dua (2) langkah yang harus kita miliki, yaitu:

1. Mau mendengarkan firman Tuhan.

Sikap dalam mendengar firman Tuhan ini sangat penting kita miliki, sehingga dalam Lukas 8 : 18 Tuhan Yesus pun harus memperingatkan murid-murid supaya memperhatikan cara mendengar. Sikap mendengar yang baik menjadi penentu supaya kita berhasil menjadi jemaat yang berkenan kepada Allah. Sebab kalau sudah berhasil memiliki cara mendengar yang baik, maka kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai cara mendengar yang baik, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.
Gembala-gembala di padang, ketika malaikat Tuhan memberikan tanda, mereka mau mendengar dan memperhatikan. Sehingga hasilnya: mereka berhasil bertemu dengan Yesus yang baru lahir, yang dibungkus dengan lampin dan berbaring di palungan. Seperti yang telah dikatakan malaikat Tuhan demikianlah mereka bertemu dengan Yesus.
Pada NATAL yang pertama Yesus dibaringkan “dipalungan”, mengapa Yesus harus di ditempat kan di palungan? Ini mengandung arti yang sangat besar bagi kita, Yesus itu adalah Juruselamat dunia, yang sangat dibutuhkan oleh semua orang. Maka kalau Yesus ditempatkan di palungan, tujuannya adalah supaya dengan mudah domba-domba bisa menjangkau, bisa menikmati dengan baik. Jadi Yesus itu adalah benar-benar makanan yang menjadi kebutuhan semua orang terlebih mereka yang mau menghargai keselamatan.
Yesus di tempatkan di palungan:
- Yesus itu menjadi makanan bagi domba-domba,
yang tergembala dengan baik
- firman Tuhan itu menjadi makanan/kebutuhan
semua orang, yang haus akan kebenaran
Karena itu, firman Tuhan itu tidak cukup kalau hanya dipikirkan saja, tidak cukup kalau hanya didengar saja, tetapi firman itu harus ditaruh di dalam hati dan di dalam mulut. Sebab kalau firman itu sudah ditaruh di dalam mulut, berarti firman itu sudah dijadikan sebagai makanan/ kebutuhannya, yang telah dinikmati lebih dulu, sehingga bisa masuk ke dalam hati, maka firman itu akan bekerja di dalam hatinya, akan menyucikan hidupnya dan membuat hidupnya menjadi berkenan kepada Allah. Sebaliknya jika firman itu tidak dinikmati, inilah yang membuat sehingga akan timbul keragu-raguan, merasa firman itu sepertinya tidak bisa dijangkau, seperti nya tidak bisa dijangkau.
Dalam Ulangan 30 : 11 - 14 firman Tuhan sudah mengatakan bahwa sebenarnya firman itu tidaklah terlalu sukar dan tidak terlalu jauh, tidak di langit dan tidak di seberang laut tempatnya. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak mengerti akan firman Tuhan. Kalau dulu Yesus di tempatkan di palungan, tempat yang mudah dijangkau oleh domba-domba, demikian juga sekarang firman itu juga mudah dijangkau, tidak terlalu jauh. Bagi kita sekarang, firman itu sudah sangat dekat, yaitu di dalam mulut dan di dalam hati. Karena itu sebagai jemaat Tuhan, mari kita tempatkan firman itu di dalam mulut dan di dalam hati, mari kita buat firman itu menjadi makanan, menjadi kebutuhan yang lebih utama dari dari pada yang lain. Jika firman itu sudah ditaruh di dalam mulut dan di dalam hati, maka firman itu akan mengerjakan perkara yang besar di dalam hidup kita.

2. Mau melihat/memperhatikan.

Setelah para gembala-gembala itu mendengar apa yang disampaikan oleh malaikat Tuhan, langkah selanjutnya mereka cepat-cepat berangkat/pergi ke Betleham untuk melihat apa yang telah terjadi. Mereka bukan hanya mendengar, tetapi langsung bertindak mempraktekkan apa yang telah didengar.
Pada zaman sekarang ini, memang banyak orang punya mata, tetapi sayang tidak bisa melihat dengan baik, banyak orang tahu akan firman Tuhan, tetapi tidak dapat menikmatinya dengan baik. Mengapa? sebab tidak ada sikap yang baik, yaitu tidak ada kerinduan untuk melihat atau mengalami seperti yang dikatakan Tuhan. Orang Kristen seperti ini, tidak akan tahu nilai firman Tuhan, tidak bisa membuat firman itu jauh lebih berharga dari segala yang ada di dalam dunia ini, termasuk dari harta benda bahkan dari nyawa kita sekalipun.
Firman Tuhan dalam Yesaya 29 : 9 - 12, mengatakan setiap orang yang tidak dapat melihat kedalaman firman Tuhan, akibatnya mereka akan MABUK, tetapi bukan karena anggur, mereka akan PUSING, tetapi bukan karena arak.
Mengapa tidak dapat melihat kedalaman firman Tuhan?
Penyebabnya:
- kitab itu termeterai, sehingga walau tahu membaca
tetapi tidak akan dapat melihat bagian dalamnya
- kitab tidak termeterai, tetapi karena tidak tahu
membaca juga tidak akan dapat melihatnya
Lukas 2 : 20 setelah gembala-gembala itu mendengar dan melihat tepat seperti yang dikatakan oleh malaikat Tuhan, mereka kembali ke tempat masing-masing sambil memuji dan memuliakan Allah. Bahkan mereka juga dapat memberitahukan kepada orang lain, apa yang telah mereka lihat, sehingga semua orang yang melihatnya menjadi heran. Kalau gembala-gembala memberitakan apa yang telah mereka dengar dan lihat, tetapi dalam Lukas 2 : 19 Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
MARIA = gambaran jemaat atau gereja Tuhan yang jadi mempelai perempuan Kristus. Maka kalau hamba-hamba Tuhan memberitakan firman, sikap kita sebagai jemaat mau harus merenungkan firman Tuhan itu dan menyimpannya di dalam hati yang baik.

Saudara-saudara, kalau kita perhatikan Injil Lukas, yang perlu kita perhatikan bukan hanya tanda kelahiran Yesus saja, tetapi kita juga dibawa untuk memperhatikan tanda tentang kedatangan-Nya yang kedua kalinya. Kalau pada kedatangan-Nya yang pertama, Yesus datang sebagai tubuh atau bayi yang baru lahir dan ditempatkan dipalungan, menjadi Juruselamat. Tetapi pada kedatangan-Nya yang kedua kali, ada satu pertanyaan penting yang harus kita perhatikan: “Di mana Tuhan?” Kemudian Yesus menjawab: “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.” (Lukas 17 : 37)
Burung Nasar = pribadi Allah/lambang Injil Yohanes.
Sedangkan MAYAT :
- berbicara “tubuh” yang menunjuk kepda tubuh
Kristus, yaitu gereja yang di dalamnya Allah hadir.
- ini juga berbicara “gereja” yang sudah mengalami
proses: mati dan bangkit bersama dengan Kristus,
sudah mati terhadap dosa.
Jadi proses tanda kelahiran dan bangkit bersama dengan Kristus adalah “tanda” yang harus kita perhatikan dengan baik-baik supaya kita berhasil menjadi jemaat yang berkenan kepada ALlah. Melihat tanda kelahiran Yesus memang sudah baik, tetapi itu belum cukup, harus dilanjutkan melihat tanda yang kedua, yaitu tanda-tanda kedatangan Tuhan yang kedua kali supaya kita dapat mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, tergabung dalam pembentukan dalam tubuh Kristus yang kudus dan sempurna. HALELUYA...!!!

Rabu, 09 Desember 2009

BULETIN DESEMBER 2009

“LEBIH DARI PEMENANG”

Minggu - 06 Desember 2009

KEGERAKAH HUJAN AKHIR.

Roma 8 : 37 Kita bisa menjadi lebih dari pada orang-orang yang telah menang karena:
- ada satu pribadi menjamin untuk menang, yaitu pribadi Tuhan Yesus Kristus. Dia telah menyerahkan diri-Nya bagi kita dengan cara mati di atas kayu salib sebagai korban untuk memperdamaikan kita dengan Allah.
- Allah ada dipihak kita, ini berbicara ada hubungannya dengan kasih Kristus, di mana kita tetap berada dan terikat di dalam kasih Kristus. Sebab jika kita tetap berada di dalam kasih Kristus, maka IA akan tampil sebagai “Pembela”.
Jika Allah sudah tampil sebagai Pembela berarti Ia sudah berada dipihak kita, maka:
- tidak akan ada yang dapat melawan kita
- tidak akan ada yang dapat menggugat kita
- tidak akan ada yang dapat memisahkan kita dari
kasih Kristus
Sehingga baik penindasan, atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan, atau ketelanjangan atau bahaya atau pedang, semua ini tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Justru sebaliknya kita akan disebut sebagai pemenang, yang bisa lebih dari orang-orang yang telah menang di dunia ini.
Saudara-saudara, kasih Kristus itu adalah kasih yang besar bahkan sangat besar, tidak terukur dan tidak terbatas, kasih Kristus itu bukan hanya sekedar untuk memberi berkat, bukan hanya untuk menyembuhkan, bukan hanya untuk menghiburkan, tetapi lebih dari pada itu kasih Kristus itu adalah kasih yang mampu menyelamatkan setiap orang yang telah percaya kepada-Nya, mulai dari kelahiran-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya terhadap kematian bahkan sampai kepada kenaikan-Nya ke sorga.
Karena itu kalau kita kembali ke pemberitaan firman pada minggu-minggu yang lalu, YOSUA itu artinya: Tuhan adalah keselamatanku, artinya jika kita membuat Tuhan itu sebagai keselamatan, maka Tuhan akan memberi janji yang pasti bahwa kita pasti akan diselamatkan akan menjadi pemenang.Yosua 1 : 5 janji Tuhan kepada Yosua: “Seorang pun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau, Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Inilah janji Tuhan yang sangat luar biasa kepada Yosua dan juga kepada setiap orang yang telah membuat Tuhan sebagai pokok keselamatannya, Tuhan akan memberikan kemenangan yang gilang gemilang dari semua musuh yang mencoba memisahkan kita dari kasih Kristus. Janji Tuhan itu adalah janji untuk menjadikan kita sebagai Pemenang.
Saudara-saudara, kemenangan itu pasti bisa kita peroleh jika kita mau memandang kepada Kristus sebagai “pemimpin” yang akan membawa kita kepada kemenangan., sama seperti bangsa Israel yang mau dipimpin oleh Yosua. Sebab siapa yang kita ikuti menjadi penentu menang atau tidak.
Dalam Wahyu 6 : 1 - 2 dalam pembukaan meterai yang pertama: tampil seekor “kuda putih” dan orang yang menungganginya memegang sebuah panah dan kepadanya dikaruniakan sebuah mahkota, yang maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan.Wahyu 6 : 1 - 2 ini berbicara penampilan Kristus yang tampil dengan segala kekuatan dan kuasa-Nya yang luar biasa dan ajaib, untuk merebut kemenangan yang gilang gemilang.

Pada zaman sekarang ini banyak orang, termasuk pendeta-pendeta yang salah menafsirkan penampilan kuda putih ini, mereka mengatakan bahwa penampilan kuda putih ini adalah antikristus yang akan tampil sebagai pemenang. Ini adalah penafsiran yang salah, sangat keliru. Sebab jika seandainya antikristus yang tampil sebagai pemenang, maka tidak ada lagi artinya kita mengikut Tuhan, tidak ada lagi gunanya kita beribadah maupun melayani Tuhan. Maka sebagai Jemaat Tuhan terlebih lagi sebagai hamba-hamba Tuhan, kita harus mengikuti kebenaran firman Tuhan dalam firman Pengajaran ini supaya jangan sampai terikut dengan penafsiran-penafsiran yang salah. Penafsiran yang salah ini sangat berbahaya sebab bisa membuat orang Kristen menjadi salah arah dalam mengikut Tuhan. Mereka menyangka bahwa mereka masih milik Kristus tetapi karena mengikuti penafsiran yang salah, ternyata mereka sudah mengikuti yang lain, akibatnya Tuhan tidak berkenan akan kehidupan mereka. Tetapi jika kita tetap mengikut Kristus dengan tepat dan benar, Kristus yang tampil dalam penampilan-Nya yang menunggangi seekor kuda putih itu akan mengaruniakan kemenangan kepada kita.
Maka semua bentuk pencobaan dan penderitaan yang ada dalam Roma 8 : 35 - 36, seperti penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya atau pedang, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Bahkan sekalipun sekalipun kita berada dalam bahaya maut sepanjang hari, dan telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan, kita bisa lebih dari orang-orang yang telah menang sebab Kristus ada dipihak kita.
Yosua 3 : 1 - 4 Tuhan Allah telah menunjukkan kepada Yosua arah yang harus ditempuh, Tuhan juga sudah memberikan rencana-Nya yang harus dilakukan. Jadi arah perjalanan bangsa Israel dalam kepemimpinan Yosua sudah terencana dengan begitu teratur dan begitu baiknya. Mereka semua tidak ada yang boleh terlalu maju dan tidak boleh ada yang terlambat apalagi tertinggal. Tetapi semua mata harus tertuju untuk melihat Tabut Perjanjian yang diangkat para imam, yang berjalan di depan. Dan untuk menerima arahan dari ALlah, Yosua harus bangun pagi-pagi untuk menghadap ALlah. Bagi kita arti "bangun pagi-pagi" ini mengandung arti yang sangat besar. Yosua 3 : 1 Yosua bangun pagi-pagi, tujuannya:
- untuk mengatur pasukannya
- untuk memberi perintah tentang apa yang harus
mereka lakukan.
Maka seorang pemimpin rohani yang benar harus bisa memberi contoh atau teladan kepada yang dipimpin supaya tetap waspada dan tetap mempersiapkan diri dalam segala hal. Demikian juga sebagai jemaat Tuhan, kita harus tahu dan mengenal pemimpin rohani yang benar itu harus tetap tinggal di dalam kebenaran supaya dapat memimpin jemaat kepada arah dan tujuan yang benar.
Bagi kita, arti “bangun pagi-pagi” itu mengandung arti yang sangat besar. Dalam Mazmur 5 : 4 = bangun pada waktu pagi-pagi ada dua (2) sikap penting yang harus kita kerjakan, yaitu:
- mengatur persembahan, ada kaitannya dengan penyembahan,
hidup dalam penyembahan yang benar.
- menunggu-nunggu, ada kaitannya dengan sikap merendahkan
diri di hadapan Allah.
Jadi kalau kita bangun pagi-pagi, kita harus mengatur persembahan: supaya kita semua punya arah dan tujuan yang pasti, baik sebagai pemimpin rohani, sebagai kepala rumah tangga, sebagai istri ataupun sebagai jemaat. Semua ini bisa kita lakukan pada waktu pagi.
Sebagaimana telah kita lihat di atas, bahwa kuda putih dan orang yang menungganginya ini berbicara kegerakan rohani yang luar biasa. Kuda putih ini juga berbicara kegerakan “hujan akhir” dalam kuasa Firman Pengajaran Mempelai yang Alkitabiah, yaitu firman pengajaran yang sanggup membawa jemaat kepada kesempurnaan, mengenal Yesus Kristus sebagai Suami atau sebagai Mempelai Pria Sorga dan yang akan mempersiapkan gereja Tuhan menjadi sidang mempelai perempuan-Nya.
Kegerakan hujan akhir ini tidak lama dan datangnya pun begitu cepat, bagaikan kuda yang berjalan dengan cepat. Maka kita patut bersyukur karena Tuhan telah memberikan firman pengaran-Nya yang besar dan mulia ini dan kita harus menghargainya. Sebab Firman pengajaran inilah sarana yang diberikan Tuhan untuk mempersiapkan kita menjadi gereja Tuhan yang tampil sebagai pemenang.
Karena itu kita harus dapat membedakan lawatan maupun kegerakan.
“Lawatan” = sifatnya temporer, bisa saja hari ini satu daerah dilawat Tuhan, bisa saja daerah-daerah lain, tetapi bisa juga ditinggalkan apabila mereka sudah mengeraskan hati terhadap firman Tuhan.
Sedangkan “kegerakan” itu sifatnya cepat sekali sebab ada yang memimpin dan menungganginya dengan kuasa yang besar, maka setiap orang yang mau mengikuti kegerakan ini akan diberikan kemenangan yang besar lebih dari pemenang. Sikap kita dalam mengikuti kegerakan ini: mata harus tertuju kepada Tuhan jangan mau diombang-ambingkan oleh angin-angin pengajaran yang palsu dan kosong.
Itu sebabnya khusus dalam kitab Yosua pasal 3 dalam kegerakan akhir ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan dengan baik-baik:
1. 3 : 1 - 4 = Allah memberi petunjuk
2. 3 : 5 - 7 = diperlukan penyucian hidup
3. 3 : 8 - 17 = menyeberangi sungai Yordan
Setelah Allah memberi petunjuk lewat firman pengajaran-Nya dan supaya kita dapat mengikuti kegerakan hujan akhir ini, maka kita harus menyucikan hidup. Haleluya....!!


“LEBIH DARI PEMENANG”
Minggu - 13 Desember 2009

Manusia Yesus Kristus menjadi Pengantara

Saudara-saudara, pada bulan Desember ini biasanya banyak orang sedang sibuk merayakan Natal. Baik gereja-gereja, perusahaan, marga-marga, maupun STM semua berusaha supaya dapat merayakan Natal dengan sebaik-baiknya. Tetapi bagi kita, Natal itu bukan hanya sekedar perayaan begitu saja, tetapi kita harus menghargai Natal itu lebih dari sekedar perayaan.
Sebagaimana telah kita lihat pada minggu-minggu yang lalu, kita bisa disebut lebih dari pemenang karena Kristus telah mengasihi kita. Dan sebagai bukti Kristus mengasihi kita: Ia mau datang ke dunia ini dan menjadi manusia sama seperti kita, tujuannya untuk merasakan seperti yang kita rasakan. Jadi NATAL itu merupakan bukti kasih Allah kepada manusia, kado NATAL yang diberikan ALlah kepada manusia.
Lukas 1 : 35 firman Tuhan menjelaskan kepada kita Yesus Kristus lahir menjadi manusia bukan karena hasil perkawinan antara seorang laki-laki dengan perempuan, tetapi murni pribadi Allah yang turun menjelma menjadi manusia. Maka ketika Yesus dikandung, Roh Kudus yang turun dan kuasa Allah Yang Mahatinggi menaungi Maria, sehingga Anak yang lahir itu disebut Kudus, Anak Allah.
Mengapa Yesus harus lahir dan menjelma sebagai manusia dan sama seperti kita?
Jawabannya:
Supaya lewat kelahiran-Nya, Ia menjadi Juruselamat dan menjadi Imam Besar sebagai Pengantara untuk memperdamaikan kita dengan Allah di sorga.
Untuk itulah Yesus Kristus harus menjelma sebagai manusia supaya ada seorang manusia sebagai Pengantara untuk memperdamaikan kita dengan Allah. Kita dapat melihatnya dalam 1 Timotius 2 : 5, manusia Kristus itu benar-benar menjadi Pengantara antara Allah dengan manusia, Dialah satu-satunya yang dapat memperdamaikan manusia dengan Allah di sorga. Sebab jika seandainya tidak ada manusia Kristus Yesus yang menjadi Pengantara, maka tidak mungkin manusia itu bisa berdamai dengan Allah. Mengapa? sebab manusia itu pada dasarnya sudah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan ALlah (Roma 3 : 23).
Proses mengapa Tuhan Yesus bisa disebut sebagai manusia Kristus: Yohanes 1 : 14 sebab Yesus adalah firman yang telah menjadi manusia, kemudian dalam Yohanes 1 : 1, dijelaskan bahwa firman itu adalah Allah sendiri.
Manusia Yesus Kristus sebagai Pengantara:
  1. supaya manusia diselamatkan
  2. supaya Yesus memasukkan sifat-sifat Allah ke dalam diri manusia
Bukti Yesus sebagai Pengantara:
  • dalam doa, dalam doa selalu ditutup dengan kalimat: “Dalam nama Yesus kami berdoa.”
  • ketika mengusir setan, ketika berdoa untuk orang sakit, selalu mengatakan: “dalam nama Yesus.”
Jadi nama Tuhan Yesus itu bisa menjadi nama yang dapat kita andalkan dalam segala hal sebab di dalam nama-Nya memang ada kuasa yang besar. Seperti yang dikatakan firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 4 : 12 bahwa tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan selain di dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Di atas telah dikatakan manusia Kristus menjadi Pengantara supaya Yesus memasukkan sifat-sifat Allah itu ke dalam diri manusia. Sebab jika sifat Allah telah dimasukkan ke dalam diri manusia, maka manusia itu akan disebut sebagai “manusia Allah.” Yohanes 1 : 12 mengatakan: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Yang disebut anak-anak Allah itu bukan karena diperanakkan dari darah dan daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Dan kalau kita sudah disebut sebagai anak-anak Allah, maka kita akan menerima kuasa.
Arti anak-anak Allah sama dengan manusia Allah. 1 Timotius 6 : 11, rasul Paulus juga menyebut Timotius sebagai manusia Allah. Maka jika kita sudah disebut sebagai manusia Allah, ada tandanya yaitu: mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bahkan dalam Roma 8 : 26 kepada setiap orang yang sudah disebut sebagai manusia Allah, Roh Kudus akan turut membantu kita dalam segala kelemahan kita, dan Roh Kudus itu sendiri turut berdoa untuk kita kepada Allah. Ini juga menjadi tanda bahwa Yesus itu adalah benar-benar sebagai Pengantara.
Sebaliknya kalau tidak berhasil disebut sebagai manusia Allah, akan disebut anak-anak iblis, sebab iblis juga akan berusaha memasukkan sifat-sifatnya ke dalam diri manusia. Yohanes 8 : 37 - 47 firman Tuhan menjelaskan kepada kita bagaimana sifat manusia yang disebut sebagai anak-anak iblis. Ada beberapa sifat yang dimasukkan iblis ke dalam diri manusia:
  1. tidak dapat mengasihi
  2. tidak dapat menangkap firman Tuhan = tidak hidup dalam kebenaran
  3. pekerjaannya suka membunuh manusia
  4. suka berkata dusta
Maka sekalipun mereka menyebut diri sebagai keturunan Abraham, tetapi sebenarnya mereka tidak melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan oleh Abraham. Inilah yang membuat sehingga sekalipun Yesus selalu mengatakan kebenaran, tetapi mereka tidak dapat menangkapnya apa yang telah dikatakan oleh Tuhan Yesus, sebaliknya justru mereka selalu ingin membunuh Yesus. Maka dengan tegas, Yesus berkata kepada: “Iblislah yang menjadi bapamu” jika iblis sudah memasukkan sifat-sifatnya ke dalam diri manusia, maka sekalipun mereka masih mengaku sebagai orang Kristen atau sebagai pengikut Kristus, tetapi yang sebenarnya mereka adalah anak-anak iblis.
Karena itu sebagai jemaat Tuhan, sangat perlu kita ketahui ada tiga (3) kekuatan yang mencoba menggagalkan iman manusia supaya jangan setia mengikut Tuhan:
  1. keinginan daging
  2. keinginan dunia
  3. iblis/setan
Dan kalau kita lihat firman Tuhan dalam Wahyu 21 : 8 ada delapan (8) perbuatan-perbuatan yang membuat manusia itu mendapat bagian dalam lautan api yang bernyala-nyala oleh api dan belerang, yaitu: orang-orang penakut, yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta. Kedelapan perbuatan ini dapat dibagi menjadi tiga (3) bagian :

keinginan daging :
  1. orang-orng keji
  2. orang pembunuh
  3. orang-orang sundal

keinginan yang duniawi :
  1. orang-orang penakut
  2. orang-orang yang tidak percaya
  3. orang-orang pendusta

iblis/setan :
  1. tukang-tukang sihir
  2. penyembah-penyembah berhala

Terus terang saja, kalau hanya dengan kekuatan manusia secara jasmani saja tidak mungkin kita bisa mengalahkan ketiga kekuatan tersebut di atas. Tetapi Tuhan punya cara yang tepat supaya kita dapat mengalahkan ketiga kekuatan tersebut, yaitu dengan cara:
  • 2 Petrus 1 : 5 - 8 = kita harus memiliki peningkatan secara rohani, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menambahkan kepada iman kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang. Jika semua ini sudah ada pada kita, maka kita akan menjadi giat dan berhasil dalam pengenalan akan Yesus Kristus.
Ibrani 2 : 14 - 15 = oleh kuasa kematian Kristus di atas kayu salib, IA memusnahkan dia yaitu iblis, yang berkuasa atas maut. Jadi lewat kematian Kristus di atas kayu salib, Ia telah membebaskan kita yang selama ini berada dalam perhambaan dosa supaya menjadi hamba kebenaran, yaitu menjadi milik kepunyaan Tuhan sendiri, yang dibela dan dipelihara


“LEBIH DARI PEMENANG”


Minggu - 20 Desember 200


Manusia Kristus sebagai Pengantara

Saudara-saudara, tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa selamat baik dari dosa maupun dari kuasa kegelapan kalau bukan karena kasih karunia Tuhan. Mengapa? Sebab semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3 : 23). Inilah yang membuat sehingga Allah harus turun dengan cara : memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3 : 16).
Jadi jelas, satu-satunya yang dapat menyelamatkan manusia dari dosa adalah Tuhan Yesus, satu-satunya yang bisa menjadi Juruselamat dunia hanyalah Tuhan Yesus sendiri. Firman Tuhan begitu jelas mengatakan dalam Kisah Para Rasul 4 : 12 bahwa keselamatan itu tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam nama Tuhan Yesus, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya kita bisa diselamatkan selain di dalam nama-Nya. Jadi satu-satunya yang bisa menjadi Juruselamat hanyalah pribadi Tuhan Yesus. Haleluya...!!

Yesus Kristus disebut sebagai “Anak Yang Tunggal” telah diberikan kepada dunia sebagai Juruselamat yang sanggup menghapus segala dosa dan yang sanggup melepaskan manusia dari maut. Karena itu Yesus sebagai Anak yang tunggal diberikan bukan hanya sekedar diberikan begitu saja, tetapi Ia juga telah menjadi korban perdamaian untuk memperdamaikan manusia dengan Allah di sorga, IA menjadi Pengantara antara kita dengan Allah. Maka pada NATAL yang pertama, Yesus Kristus sebagai Anak tunggal adalah “KADO” terbesar yang telah diberikan Allah kepada dunia ini.
  • Yohanes 1 : 29, = pada kedatangan Tuhan Yesus yang pertama, IA diperkenalkan sebagai “Anak Domba” yang menghapus dosa seisi dunia, IA lahir dan menjadi sama dengan manusia supaya kita diselamatkan. Puncaknya IA harus mati di atas kayu salib sebagai korban untuk memperdamaikan manusia dengan Allah.
  • Tetapi dalam Wahyu 19 : 6 - 10, = pada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, IA juga akan tampil sebagai “Anak Domba”, tetapi bukan untuk menghapus dosa lagi, melainkan sebagai Anak Domba yang akan menikah dengan gereja yang telah menjadi mempelai-Nya, yang disebut dalam pesta perjamuan Anak Domba.
1 Petrus 2 : 24 = “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”
Saudara-saudara, kalau kita lihat dari ayat tersebut di atas setelah Yesus mati di atas kayu salib sebagai korban penghapus dosa dan setelah Ia bangkit dari antara orang mati, ada tiga (3) poin penting yang perlu kita perhatikan supaya kita bisa disebut sebagai pemenang:
  • Kita juga harus mati terhadap dosa.
Artinya: 1). hidup kita ini tidak bisa lagi digerakkan olehdosa, tetapi sepenuhnya hidup kita sudah diatur dan dikuasai oleh Tuhan, 2). hidup kita ini tidak lagi menginginkan hal-hal yang berbau dosa sebab keinginan untukberbuat dosa itu sudah mati.

Dalam Matius 4 : 16 ketika Tuhan Yesus lahir ke dunia sebagai manusia, dunia ini sedang dinaungi/dikuasai oleh maut. Ini membuktikan betapa manusia itu sebenarnya sangat membutuhkan seorang Juruselamat yang bisa menjadi pengantara, seorang yang sanggup memperdamaikan manusia dengan Allah. Syukur kepada Allah, IA telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal yang datang sebagai manusia, supaya bangsa-bangsa yang selama ini berada dalam kegelapan beroleh kesempatan untuk melihat Terang yang besar. Bahkan bagi mereka yang selama ini diam di negeri yang sedang dinaungi maut, sekarang telah terbit Terang. Yaitu oleh Tuhan Yesus Kristus yang telah datang ke dunia ini, sekaligus menjadi terang bagi dunia, terutama bagi mereka yang mau percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Kuncinya: terima terang firman Tuhan, dalam firman pengajaran mempelai yang Alkitabiah.
Saudara-saudara, pada hari-hari yang lalu, kita sudah melihat bahwa pekerjaan iblis itu mempunyai perkembangan yang sangat luar biasa pesatnya. Kalau dalam Kejadian psl 3 ketika menggoda perempuan yang pertama, iblis tampil lewat ular untuk menjatuhkan manusia pertama ke dalam dosa. Tetapi dalam Wahyu psl 12 iblis tampil tidak lagi seperti ular biasa, tetapi ia sudah disebut: naga besar, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan bukan seorang saja tetapi seluruh dunia. Jadi sejak dari semula iblis selalu berusaha merusak karya Allah yang ada di dalam diri manusia. Karena itu sebagai jemaat maupun sebagai hamba Tuhan, kita harus tetap waspada supaya jangan sampai gagal oleh karena tipu daya si iblis.
Cara supaya kita bisa berhenti berbuat dosa: kita harus menderita penderitaan badani (1 Petrus 4 : 1), supaya sekalipun ada tawaran untuk berbuat dosa, walaupun keingian kita sedang berjuang melawan jiwa, kita harus mampu meninggalkannya walaupun harus menderita.
  • Kita harus hidup untuk kebenaran. Artinya: menjadi hamba kebenaran, seluruh hidup kita diatur oleh Tuhan untuk melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Roma 6 : 17 - 18 cara supaya kita bisa menjadi hamba kebenaran: “mentaati pengajaran” yang telah kita terima. Sebab jika mau mentaati kebenaran, maka kebenaran itu akan memerdekakan kita dari dosa. Bahkan untuk menghentikan kita dari kutuk dosa keturunan, harus ada yang sungguh-sungguh hidup dalam kebenaran.
Contoh:
Abraham,
bisa tertolong dan dipanggil Allah supaya ke luar dari Ur-Kasdim ke negeri yang akan ditunjukkan Allah kepadanya, karena dari nenek moyangnya sudah ada lebih dahulu takut akan Tuhan, yang dimulai dari SET. Memang orangtua Abraham yang sebenarnya adalah penyembah berhala, tetapi karena sudah dimulai dari nenek moyang ada yang takut akan Tuhan, inilah yang membuat Abraham tertolong.
Timotius, bisa tertolong dan menjadi rasul Kristus juga karena ada orang-orang yang takut akan Tuhan, dimulai dari neneknya yang bernama Lois dan ibunya yang bernama Eunike (2 Timotius 1 : 5).
  • Oleh bilur-bilur-Nya kita sembuh. Artinya: sembuh bukan hanya dari sakit penyakit, tetapi lebih dari pada itu kita telah dipulihkan dari segala cacat cela. Sebagai jemaat Tuhan, kita sangat memerlukan pertolongan dari Roh Kudus supaya Tuhan memberi kan hati yang baru, yaitu hati nurani yang baik dan roh yang baru, yang sudah mengalami penyucian. Kalau sudah disucikan, barulah akan ada gairah baik untuk beribadah maupun melayani Tuhan.

Karena itu kalau kita lihat keadaan umat Tuhan pada zaman akhir ini, masih banyak dari kalangan yang menyebut dirinya sebagai orang Kristen tidak mengerti apa yang menjadi kerinduan Tuhan dalam hidupnya. Memang banyak orang bisa tahu akan firman Tuhan, tahu berdoa, tahu melayani bahkan sangat suka beribadah kepada Tuhan, tetapi yang menjadi masalah adalah mereka hanya sekedar tahu begitu saja, tetapi tidak melakukan seperti yang dikatakan oleh firman Tuhan tersebut.
Kalau kita lihat Lukas 10 : 25 - 28 menjadi contoh tentang orang yang tahu akan firman Tuhan tetapi ia tidak hidup sesuai dengan firman Tuhan yang diketahuinya tersebut. ketika seorang bertanya kepada Yesus: “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Sebenarnya ini adalah suatu pertanyaan yang sangat baik dan sangat penting kita ketahui. Sebagai jemaat, kita memang harus tahu akan firman Tuhan supaya kita bisa melakukannya dan berhasil masuk ke dalam sorga. Tetapi yang dimaksud bukan hanya sekedar tahu begitu saja, tetapi harus menjadi praktek dalam hidup sehari-hari. Mengetahui firman Tuhan itu memang pekerjaan yang sangat mudah, semudah seperti orang mengatakan: “Amin” Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana dengan melakukannya?
Karena itu sebagai orang Kristen yang benar, kita harus mengetahui apa yang harus kita lakukan supaya kita layak menjadi orang yang berkenan kepada Allah.
Yang disebut sebagai orang Kristen yang benar:
  • firman Tuhan itu harus dilakukan
  • firman Tuhan itu harus dihidupi
Inilah yang menjadi kerinduan Tuhan dalam hidup kita, Tuhan mau supaya firman Tuhan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan menjadi praktek dalam hidup.



“Natal Menurut Injil Matius”

Minggu - 27 Desember 2009

Kasih karunia Allah yang tertinggi dan yang terbesar, yang telah diberikan kepada dunia adalah: Yesus. Dia adalah Raja di atas segala raja, yang berkuasa atas segala sesuatu. Allah telah memberikan diri-Nya sendiri kepada manusia dan menjadi sarana untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Dan kalau kita lihat pada NATAL yang pertama, Allah memberikan diri-Nya kepada manusia bukan saat manusia itu sedang dalam keadaan baik-baik, bukan pula dalam keadaan rohani yang baik tetapi justru sebaliknya katika manusia itu sedang dinaungi maut yang disebabkan oleh dosa-dosa dan pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan. Untuk itulah pada NATAL yang pertama, IA datang ke dalam dunia dan menjadi sama dengan manusia supaya IA menjadi Juruselamat yang dapat melepaskan manusia dari dosa-dosa mereka.
Maka bagi kita, NATAL yang benar bukanlah menurut selera masing-masing, bukan menurut aturan dan peraturan gereja maupun organisasi. Tetapi NATAl yang benar adalah jika NATAl itu kita lakukan dengan baik dan benar, yaitu ada kerelaan untuk menerima kehadiran-Nya dalam hidup kita. Jangan seperti kebanyakan orang merasa berhasil merayakan NATAL dengan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dengan kemeriahan, dengan acara-acara yang sepertinya bisa menghibur dan menyenangkan hati. Sebab jika NATAL itu diraya-kan hanya menurut selera manusia, belum tentu Allah hadir di dalamnya, Allah tidak pernah berke-nan jika NATAl itu hanya sekedar perayaan saja.

NATAL menurut Injil Matius menitikberatkan Yesus yang lahir di Betlehem disebut sebagai Anak Raja, yang berkuasa atas segala sesuatu dan yang patut disembah. Matius psl 2 orang-orang Majus dari Timur tahu bahwa seorang raja telah lahir dan karena itu mereka pergi ke Yerusalem untuk mencari sampai.
Mengapa kita harus mengenal Yesus sebagai Raja?
Karena Dialah yang sanggup memerintahkan/ memberikan kemenangan bagi umat-Nya.
Dapat kita lihat dengan jelas dalam Mazmur 44 : 2 - 9 penampilan Yesus sebagai Raja yang penuh dengan kuasa telah dinubuatkan jauh sebelum Yesus lahir, jika Yesus menjadi Raja dalam hidup kita, maka:
* dengan Tuhan kita dapat menanduk para
lawan (=menang terhadap musuh)
** dengan nama Tuhan, kita dapat menginjak-injak orang-orang
yang bangkit menyerang kita (=berhasil menjadi pemenang).
Bukti Yesus sebagai Raja: Matius 1 : 1 dalam silsilah dijelaskan tentang Yesus yang disebut: ANAK DAUD. Daud itu adalah raja Israel yang paling berkenan kepada Allah, jadi kalau disebut anak Daud ini menjelaskan bahwa Yesus itu adalah benar-benar Raja.
Sebenarnya Yesus lahir bukan karena hasil hubungan antara laki-laki dengan perempuan, tetapi sepenuhnya dari Roh Kudus (Matius 1 : 20), jadi sebenarnya tidak perlu ada silsilah. Tetapi untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Raja, maka silsilah itu juga perlu dipakai untuk menjelaskan kepada semua orang bahwa Yesus yang lahir itu adalah benar-benar sebagai Raja. Hal ini perlu supaya jangan ada orang yang ragu tentang Yesus. Tetapi yang dimaksud di sini bukan seperti raja yang ada di dunia ini, tetapi raja dalan arti yang sanggup memberikan kuasa maupun kemenangan kepada kita.
Karena itu NATAL menurut Injil Matius ini sangat perlu kita ketahui, Yesus itu adalah benar-benar seorang Raja yang penuh dengan kekuasaan. Sebagai bukti bahwa Yesus adalah Raja yang berkuasa, dalam silsilah Tuhan Yesus, sebelum IA lahir ke dunia ini ada lima (5) nama perempuan yang diangkat, yaitu TAMAR, RAHAB, RUT, BATSYEBA dan MARIA. Kelima nama ini mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, ada dari latar belakang yang jahat tetapi ada pula dari latar belakang orang yang baik-baik, kelima nama ini terangkat namanya pada saat NATAL yang pertama.

1. TAMAR, gambaran nikah yang hancur dan porak-poranda. Kejadian psl 38 menjelaskan bahwa Tamar itu adalah menantu Yehuda sendiri, yang diambil menjadi istri anaknya. Tetapi karena kedua anaknya itu jahat dimata Tuhan, maka Tuhan membunuh mereka. Lalu Yehuda berjanji akan memberikan Tamar kepada anaknya yang bernama Syela sampai anaknya itu menjadi besar. Tetapi karena Tamar melihat bahwa mertuanya itu tidak menepati janji, maka Tamar menyamar sebagai seorang perempuan dursila dan kemudian bersetubuh dengan mertuanya sendiri, lalu mengandung dan melahirkan.
Sebenarnya jika seorang menantu sampai bersetubuh dengan mertua, ini suatu perbuatan yang sangat memalukan, tidak dikenan oleh Tuhan. Tetapi sekalipun demikian bobroknya rumah tangga itu, pada NATAL yang pertama nama Tamar itu diangkat untuk mengingatkan kita bagaimana kasih Allah yang begitu besar. Allah rindu memperbaiki kembali nikah-nikah yang telah hancur. Karena itu sebobrok apapun rumah tanggamu, ijinkan Yesus lahir dalam rumah tanggamu, maka Ia akan membulihkan keadaanmu.

2. RAHAB, seorang perempuan pelacur di Yerikho, kafir dan tidak termasuk umat Allah, tetapi ia berbeda dengan semua orang yang ada di Yerikho. Kalau Yerikho menutup pintu-pintu gerbangnya terhadap umat Allah, tetapi Rahab mau membuka pintu rumahnya terhadap kedua pengintai Israel. Biasanya seorang pelacur yang paling penting baginya adalah uang, tetapi sekarang ia tahu apa yang paling penting dalam hirupnya, yaitu keselamatan. Setelah ia tahu bahwa Yerikho akan dihancurkan, maka ia mengikat perjanjian dengan kedua pengintai tersebut.
Kedua pengintai itu menunjuk kepada pekerjaan Tuhan dalam Firman dan Roh Kudus-Nya. Maka sekalipun semua penduduk Yerikho tewas oleh pedang, tetapi Rahab dan seisi rumahnya diselamatkan. Karena itu sebagai jemaat Tuhan, mari kita buka hati untuk firman Tuhan dan Roh Kudus, supaya Allah hadir di tengah-tengah kehidupan kita. Tuhan tidak melihat latar belakang kita yang jelek, tatapi yang paling dilihat Tuhan adalah hati yang terbuka terhadap firman.

3. RUT, perempuan Moab, tidak termasuk dari kalangan umat Tuhan. Nama Rut masuk dalam silsilah Tuhan Yesus karena perbuatannya: mau meninggalkan kampung halamannya dan meninggal kan allahnya dan pergi bersama Naomi ke Betlehem serta mengakui Allah Naomi sebagai Allahnya juga. Kalau mau meninggalkan kampung halaman, berarti ia juga telah meninggalkan adat istiadatnya, kebudayaan-nya maupun tradisi nenek moyangnya. Rut ini memang benar-benar memiliki sikap yang patut kita teladani. Puncaknya ia pergi ke pengirikan ke tempat di mana Boas berada dan mengakui keadaannya dan tidak mau menutup-nutupi latar belakangnya yang jelek.

4. BATSYEBA, gambaran perempuan yang tertindas tidak dapat berbuat apa-apa. Sebab karena kecantikannya, ia harus diambil oleh Daud dan menghampirinya. Bahkan ketika Uria mati, ia juga tidak dapat berbuat apa-apa, ia tertindas, ia tertekan, tidak ada yang membela. Tetapi pada Natal yang pertama, kehidupan seperti Batsyeba ini terangkat, dipulihkan kembali, sebab ada yang tampil sebagai Pembela.

5. MARIA, perempuan biasa dan sederhana. Tetapi ia punya sikap yang sangat baik: menempatkan diri sebagai hamba, yang mau taat kepada firman Tuhan (Lukas 1 : 38). Walaupun Maria itu hanya perempuan biasa dan yang sederhana, tetapi ia berhasil menempatkan dirinya sebagai hamba Tuhan (=hamba kebenaran) dan menjadi seorang perempuan yang berkenan di hati Allah. Untuk melahirkan Yesus, yang paling dibutuhkan adalah hati yang mau menempatkan diri sebagai hamba Tuhan. Inilah sikap yang dimiliki Maria, sehingga Elisabet mengakui bahwa Maria itu adalah perempuan yang paling berbahagia dari semua perempuan.