Kamis, 18 November 2010

Buletin November 2010

“MEMILIH MENDERITA KARENA BENAR
DARI PADA BERSENANG-SENANG KARENA DOSA”

Minggu, 14 November 2010


Saudara-saudara, Firman Tuhan mengatakan bahwa hidup ini hanya seperti uap yang sebentar saja, yang berlalu begitu cepat. Namun walaupun demikian kita harus tetap mempunyai pengharapan untuk memperoleh hidup yang kekal. Sebab jika kita mempunyai pengharapan untuk memperoleh hidup yang kekal, maka kita akan dibuat menjadi semangat dan bergairah menjalani semuanya. Baik ketika sedang diberkati, ketika sedang sakit, maupun dalam penderitaan sekalipun.
Pada minggu-minggu yang lalu kita sudah melihat bahwa bagaimana firman Tuhan yang menekankan bahwa kita harus mampu membuat penderitaan itu menjadi pilihan dalam hidup, yang harus kita tetap jalani sampai Tuhan Yesus datang kembali. Dan kita juga sudah melihat bahwa penderitaan itu adalah sarana yang dipakai Tuhan untuk membentuk dan mempersiapkan kita menjadi sidang mempelai perempuan Kristus yang layak dan berkenan kepada-Nya. Karena Kristus itu sempurna, maka kita juga harus sempurna sama seperti Bapa (Matius 5 : 48).
Firman Tuhan dalam Ibrani 2 : 10 mengatakan: “....... juga menyempurnakan Yesus yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.” Tuhan Yesus itu adalah sempurna adanya, namun demikian ketika Yesus mengambil rupa dan menjadi manusia, IA juga harus mengalami banyak penderitaan yang bertujuan untuk memberi teladan bagi kita. Maksudnya supaya gereja yang hidup diakhir zaman ini mau membuat penderitaan Kristus itu menjadi teladan, menjadi pilihan yang tidak perlu disesali.
Saudara-saudara, sampai dengan hari ini bangsa Israel belum percaya kepada Kristus sebab mereka masih mengeraskan hati terhadap firman Tuhan. Karena itu Tuhan akan menghajar bangsa Israel dengan cara-Nya supaya lewat hajaran itu mereka mau mengaku kepada Yesus dan supaya mereka mau mengakui bahwa keselamatan itu hanya ada di dalam Yesus Kristus. Tuhan akan menghajar mereka dengan cara mengijinkan mereka dikuasai antikristus sehingga mereka benar-benar mengalami penderitaan yang begitu hebat.

Penyempurnaan yang dikerjakan Tuhan di dalam kita ada dua (2) hal:
- disempurnakan secara alami
- disempurnakan secara fakta


Kalau Saudara mau disempurnakan secara alami: harus mau menderita. Manusia itu pada dasarnya tidak mau menderita, jangankan untuk menderita, untuk percaya kepada firman Tuhan saja manusia itu sangat sulit. Maka salah satu cara Tuhan untuk menyempurnakan gereja Tuhan diakhir zaman ini adalah lewat penderitaan.
Maka kalaupun kita sedang melihat dunia ini mengalami goncangan yang hebat lewat bencana alam seperti gempa bumi dan meletusnya gunung merapi, ini semua merupakan cara Tuhan untuk membawa manusia itu kepada penderitaan, cara Tuhan untuk membentuk manusia itu supaya serupa dan segambar dengan Tuhan Allah. Mungkin saat ini Saudara tidak mengalami gempa bumi, Tsunami ataupun gunung merapi.
Namun Tuhan tidak kehilangan cara mendatangkan penderitaan sampai ke tengah-tengahmu, mungkin berbeda dengan Saudara-saudara kita yang sedang dilanda bencana alam, namun ingatlah penderitaan itu pasti bisa datang menimpa semua orang.
Saudara-saudara, kalau kita lihat dalam Alkitab rangkaian firman Tuhan menjelaskan bahwa di dunia ini terdiri dari beberapa kerajaan. Sejak manusia pertama diciptakan, Tuhan Allah telah memberikan kuasa kepada mereka, Tuhan telah mendelegasikan kerajaan-Nya di tengah-tengah manusia. Namun kita lihat, setelah manusia itu jatuh ke dalam dosa, Iblis juga sedang membangun kerajaannya di bumi ini. Iblis juga memakai manusia untuk mendelegasikan kerajaannya di tengah-tengah dunia ini. Pembangunan kerajaan iblis di dunia ini tidak terlepas dari manusia berdosa yang selalu hidup dalam kejahatan.
Maka kalau kita lihat dalam Kejadian 4 : 17 - 24 Iblis memakai keturunan Kain untuk membangun kota-kota untuk mendelegasikan kerajaannya, keturunan yang tidak mengenal Tuhan. Dan kota-kota inilah yang nantinya yang dipakai Iblis untuk membangun kerajaannya, Iblis akan mendudukkan antikris sebagai penguasa. Setiap kota yang telah dibangun Iblis maka Iblis juga akan mendudukkan orang-orang berdosa untuk menguasai kota itu.
Kalau kita lihat dalam ayat 18, setelah keturunan Kain itu berhasil membangun kota, mereka juga langsung melakukan perkawinan poligami. Kemudian mereka juga berhasil menjadi peternak, menjadi ahli musik, menjadi tukang tembaga dan tukang besi, jadi secara duniawi manusia itu berhasil berkembang (ayat 19 - 22).
Tidak cukup sampai di situ saja, setelah Allah membinasakan manusia pada zaman Nuh, Iblis juga masih memakai keturunan Nuh untuk mendelega-sikan kerajaannya. Manusia boleh mati tetapi Iblisnya belum mati, ia masih mencari manusia lain untuk membangun kerajaannya sampai kepada akhir zaman ini. Puncaknya Iblis akan menyerahkan kuasanya kepada antikris, yaitu manusia binatang yang tidak hidup dalam kebenaran. Mazmur 49 : 21 firman Tuhan menjelaskan yang dimaksud dengan “manusia binatang” itu adalah manusia yang tidak mempunyai pengertian akan firman Tuhan.
Manusia binatang inilah nantinya yang akan dipakai Iblis untuk membangun kerajaannya, ia akan menyerahkan kuasanya kepada antikristus untuk mewujudkan keinginannya. Namun sekalipun manusia itu berhasil membangun kota-kota, pada akhirnya semua itu akan berlalu, semua akan dihancurkan oleh Allah. Wahyu 21 : 1 firman Tuhan telah menubuatkan bahwa langit yang lama dan bumi yang lama ini akan dilenyapkan, dan tempatnya pun tidak ada lagi.
Karena itu sebagai jemaat Tuhan, kita harus membuat firman Tuhan menjadi pedoman dalam hidup supaya jangan dipakai Iblis untuk mewujudkan kehendaknya. Kita harus tetap waspada supaya jangan terjebak kepada generasi yang tidak mengenal Allah. Sebab sekalipun Allah pernah membinasakan manusia pada zaman Nuh, tetapi Iblisnya masih hidup dan mencari keturunan Nuh yang bisa dipakai untuk mendelegasi kan rencananya. Sekalipun nenek moyang kita tidak ada lagi, tetapi Iblis masih tetap bekerja untuk mencari orang-orang yang bisa dipakainya untuk mendirikan kerajaannya di bumi ini.
Maka kita harus memilih satu dari dua kerajaan tersebut, yaitu kita harus dibangun di dalam kerajaan Allah. Kolose 1 : 12 firman Tuhan mengatakan bahwa Tuhan telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan “memindahkan” kita kepada kerajaan Allah untuk mendapatkan bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerjaan terang. Itu sebabnya setiap orang yang menyebut dirinya sebagai orang Kristen, sudah seharusnya hidup dalam terang firman Tuhan, sudah seharusnya melepaskan diri dari cara-cara hidup nenek moyang yang dulunya dikuasai kegelapan. Jangan lagi ada yang mempunyai hubungan dengan ritual-ritual, jangan lagi ada yang terikat dengan dukun-dukun, jangan lagi terikat dengan adat istiadat nenek moyang yang tidak berguna. Tetapi kita harus membuat Kristus menjadi Kepala, yang memimpin dan mengatur hidup kita kepada seluruh terang firman Tuhan.

Mengapa kita harus dipindahkan ke dalam kerajaan Tuhan?
2 Petrus 3 : 10 sebab bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap pada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Kita dipindahkan supaya kita dipersiapkan hidup kudus, supaya kita siap masuk ke dalam langit yang baru dan bumi yang baru, yaitu masuk ke dalam kerajaan sorga. Haleluya........!!!!!!

Selasa, 09 November 2010

Buletin Oktober 2010

“MEMILIH MENDERITA KARENA BENAR
DARI PADA BERSENANG-SENANG KARENA DOSA”

Minggu - 07 November 2010


Saudara-saudara, sekarang saatnya bagi kita untuk memperbaiki dan membersihkan diri dari dosa-dosa dan dari segala sifat dan karakter yang bertentangan dengan firman Tuhan. Kita perlu melihat beberapa kejadian yang telah menimpa bangsa dan negara kita, seperti gempa bumi yang disetai dengan Tsunami dan juga meletusnya gunung merapi di Yokyakarta. Tidak sedikit nyawa manusia yang melayang belum lagi kerugian harta benda serta penderitaan demi penderitaan yang sedang mereka alami setelah terjadinya tragedi tersebut.
Semua yang terjadi ini merupakan penggenapan firman Tuhan yang telah dinubuatkan dalam Alkitab. Kita sebagai jemaat Tuhan harus punya sikap: lebih teliti memperhatikan firman Tuhan supaya kita juga bisa mempersiapkan diri dalam segala waktu. Kita tidak boleh bersantai-santai lagi, jangan merasa aman dan jangan menganggap gempa atau Tsunami itu tidak mungkin terjadi di tengah-tengah kita. Kalau Tuhan Allah sudah mengijinkan, kapan saja dan di mana pun melapetaka itu bisa datang dengan tiba-tiba menimpa semua orang.
Firman Tuhan dalam Zepanya 1 : 14 - 16 menjelaskan jika hari Tuhan itu sudah datang, pahlawan pun menangis. Mengapa? sebab tidak ada seorang pun yang dapat tahan menghadapi hari Tuhan itu dengan kekuatan diri sendiri. Walau pun selama ini merasa kuat, selalu menang, tidak pernah mengalami sakit penyakit, tetapi jika hari Tuhan itu telah datang semua orang yang tidak berada dalam perlindungan Tuhan akan mengalami kesusahan besar.
Hari Tuhan itu dikatakan “pahit” karena Tuhan telah datang dengan “Kegemasan-Nya” untuk menghukum semua orang yang tidak hidup sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Tidak ada ceritanya orang yang tidak bertobat itu mendapat pembelaan dari Tuhan, bahkan tidak ada ceritanya Tuhan membawa mereka masuk ke dalam kerajaan sorga. Justru Tuhan akan menghukum dunia ini dengan berbagai-bagai malapetaka dengan maksud mendatangkan kesusahan dan penderitaan. Karena Tuhan itu datang dengan kegemasan sehingga hari Tuhan itu disebut:

- hari kesusahan dan kesulitan
- hari kemusnahan dan pemusnahan
- hari kegelapan dan kesuraman
- hari berawan dan kelam
- hari peniupan sangkakala dan pekik tempur terhadap kota-kota yang berkubu dan terhadap menara penjuru yang tinggi.


Tuhan Allah sengaja mengijinkan semua itu terjadi supaya gereja Tuhan yang hidup di akhir zaman ini benar-benar tahu mempergunakan waktu dan kesempatan yang ada ini dengan sebaik-baiknya. Hal ini telah dikatakan firman Tuhan dalam 2 Petrus 3 : 9 bahwa Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, justru Ia sedang menunjukkan kesabaran-Nya karena Ia menghendaki supaya jangan ada seorangpun yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tuhan Allah mau supaya gereja yang hidup di akhir zaman ini tahu mempergunakan waktu untuk memperbaiki diri dan kelakuannya.
Saudara-saudara, firman Tuhan dalam 1 Korintus 15 : 43 menjelaskan : ADAM sebagai manusia pertama yang telah diciptakan Allah menjadi makhluk yang hidup. Tetapi ADAM YANG AKHIR menjadi roh yang menghidupkan.
Adam sebagai manusia pertama: mewarisi sifat dan tabiat daging yang mudah jatuh ke dalam dosa, mudah lemah, mudah putus asa, mudah sakit, dll. Tetapi “manusia yang akhir”, yaitu Tuhan Yesus Kristus adalah roh yang menghidupkan mewarisi sifat-sifat Allah yang sesungguhnya: kudus dan sempurna adanya. Tujuannya supaya semua orang yang telah mati karena dosa-dosa itu diberi kesempatan menjadi anak-anak Allah. Dengan cara: semua orang yang percaya kepada nama Yesus “diberi kuasa” supaya menjadi anak-anak Allah (lihat Yohanes 1 : 12). Inilah yang orang-orang yang telah beroleh kesempatan untuk dihidupkan kembali oleh Yesus Kristus yang adalah Adam yang akhir. Maksudnya segala dosa-dosa yang telah diwarisi dari nenek moyang telah dilepaskan/dibebaskan oleh korban penebusan dalam darah Kristus sehingga bisa hidup di dalam Kristus.
Karena itu sebagai jemaat maupun sebagai hamba Tuhan, sekaranglah saatnya kita harus bisa membuat pilihan yang tepat: “lebih baik menderita karena kebenaran daripada bersenang-senang karena dosa.” Ini adalah pilihan yang paling tepat dan benar, sehingga tidak perlu disesali apabila penderitaan itu datang. Pada minggu yang lalu kita sudah melihat supaya bisa membuat pilihan yang tepat kita harus memiliki dua (2) sikap, yaitu:

- pikiran yang dewasa
- tunduk kepada otoritas Allah


2 Tesalonika 1 : 5 menderita karena kebenaran disebut pilihan yang tepat dan benar karena lewat penderitaan itu Tuhan akan menyatakanan bahwa: kita layak menjadi warga kerajaan Allah. Jadi jelas bagi kita sekarang bahwa penderitaan yang kita alami itu menjadi sarana yang dipakai Tuhan untuk memper-siapkan kita supaya layak menjadi warga kerajaan Allah. Luar biasa bukan?
Karena itu supaya kita bisa membuat pilihan yang tepat dan benar itu, kalau memilih jangan dengan perasasan atau pikiran sebab kalau memilih dengan perasaan atau dengan pikiran bisa menjadi salah.
Contoh yang memilih dengan perasaan dan pikiran: Hawa. Dalam Kejadian 3 : 6 Hawa memakai pikiran dan perasaannya maka iapun jatuhlah ke dalam dosa. Sebab ketika ia melihat (=memakai pikiran/perasaan), bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian lalu iapun mengambil dari buahnya dan memakannya, kemudian ia juga memberikan buah itu kepada suaminya dan suaminya pun memakannya juga. Karena perempuan itu melihat dengan memakai perasaan dan pikirannya maka dengan sendirinya hatinyapun menjadi terpikat sehingga ia tidak lagi memperhatikan firman Tuhan. Setiap orang yang selalu memakai pikiran dan perasaan, ia juga tidak akan memperhatikan firman Tuhan.
Tetapi kita yang sudah menerima firman pengajaran sudah saatnya memilih bukan dengan perasaan atau pikiran lagi tetapi memilih dengan iman. Seperti Musa setelah dewasa (=dewasa dalam iman) mampu memilih lebih baik menderita karena kebenaran daripada harus bersenang-senang karena dosa.
Demikian juga dengan Paulus yang telah ditetapkan menjadi rasul Kristus, sebagai pemberita dan sebagai guru telah mengalami banyak penderitaan dengan tidak malu sebab ia tahu kepada siapa ia percaya. Ditengah-tengah penderitaan itu ia percaya bahwa Allah berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya hingga pada hari Tuhan (2 Timotius 1 : 11). Kisah Para Rasul 21 : 10 - 14 menceritakan pengalaman rasul Paulus yang telah memilih dengan iman walaupun harus mati di Yerusalem. Sebab pada waktu itu telah dinubuatkan bahwa Paulus akan diikat seperti ikat pinggang oleh orang Yahudi dan akan diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain. Walaupun nubuat itu benar dan harus terjadi, Paulus tidak mundur, justru ia rela mati demi kebenaran dalam pemberitaan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Paulus tidak terpengaruh dengan suara orang banyak, bahkan walaupun sebenarnya nasehat mereka itu baik tetapi Paulus tidak gentar dan tidak mundur. Dan akhirnya orang banyak itupun menyerah dan berkata: “Jadilah kehendak Tuhan.” Jadi penderitaan karena melakukan kebenaran itu adalah kehendak Tuhan. Jika kita mau memilih menderita karena kebenaran, tujuannya adalah supaya kita tidak bebas lagi menikmati hal-hal yang duniawi, tetapi sepenuhnya hidup dalam kebenaran firman Tuhan.

Selasa, 12 Oktober 2010

Buletin - September '10

"TANDA PENEBUSAN"


Minggu - 05 September 2010


Saudara-saudara, saat ini tidak saatnya lagi jemaat dipisahkan oleh tembok-tembok gereja atau organisasi, bukan saatnya lagi mempertahankan kebenaran diri sendiri atau kepentingan diri sendiri, bahkan tidak saatnya lagi mempertahankan tradisi/ajaran dari nenek moyang. Semua ini tidak berguna dan bisa membawa orang lebih dekat kepada Tuhan. Organisasi gereja boleh berbeda, cara beribadah atau liturgi boleh berbeda, tetapi ada satu yang tidak boleh berubah, yaitu: DOKRIN atau dasar pengajaran, ini harus sama tidak boleh diubah, tidak boleh ditambah atau pun dikurangi. Semua organisasi gereja harus kembali kepada kebenaran yang sudah dituangkan dalam firman Tuhan.

Mengapa kita semua memerlukan Tuhan Yesus dan firman Tuhan?
Kita semua memerlukan Tuhan Yesus karena hanya Dia saja Tuhan dan Juruselamat, tidak ada seorang pun yang bisa beroleh keselamatan kalau tidak datang kepada Tuhan Yesus Kristus. Hal ini dapat kita lihat dalam Kisah Para Rasul 4 : 12 "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."
Jadi jelas keselamatan tidak ada didalam siapapun juga selain di dalam nama Yesus, dan tidak ada seorang pun yang bisa selamat kalau tidak mau datang kepada Yesus. Dia yang telah mati dikayu salib dan yang sudah menanggung penderitaan yang begitu berat, tujuannya adalah :

- untuk menanggung penyakit kita
- untuk memikul kesesangsaraan kita
- untuk menanggung segala pemberontakan dan kejahatan kita


Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepada-Nya (Yesaya 53 : 4 - 5) supaya kita semua bisa bebas dari perbudakan dosa. Yesus Kristus yang telah mati di kayu salib dan darah-Nya telah tercurah adalah untuk memberikan tanda penebusan dan pengampunan dosa bagi semua orang. Korban penebusan telah diberikan kepada dunia supaya setiap orang yang sadar dan datang kepada Tuhan mengalami tanda penebusan ini.

Tujuan tanda penebusan yang dikerjakan Yesus adalah untuk membebaskan kita dari perbudakan dosa yang selanjutnya dijadikan sebagai kerajaan imam-imam bagi ALlah kita.

Saudara-saudara, kita harus selalu mengingat dosa itu sifatnya mengikat bahkan memperbudak. Demikain juga dengan sifat-sifat atau tabiat-tabiat daging sifatnya mengikat, sehingga setiap orang yang sudah terikat itu tidak bisa datang kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kalau tidak mengalami tanda penebusan, jangankan dosa atau pun tabiat daging, segala aktivitas, segala usaha dan pekerjaan bisa mengikat dan memperbudak sehingga kebanyakan orang tanpa sadar hidupnya. Kalau tidak bisa menguasai diri, segala aktivitas itu bisa membuat orang lupa kepada Tuhan, lupa beribadah bahkan bisa lupa melayani Tuhan.
Kita bisa melihat pengalaman bangsa Israel: lebih lama mereka diperbudak di Mesir dari pada berjalan di padang gurun menuju tanah Kanaan. Kalau di Mesir mereka diperbudak kurang lebih selama empat ratus tahun sedangkan dalam perjalan di padang gurun hanya selama empat puluh tahun saja. Jadi tidak sebanding antara lamanya mereka di Mesir dengan diperjalanan di padang gurun.
Untuk itulah Tuhan Allah mengutus Musa kembali ke Mesir, tujuannya untuk melepaskan bangsa Israel dari perbudakan dan membawa mereka ke tanah Kanaan. Sebab kalau bukan karena pekerjaan Tuhan, maka dari antara orang Israel itu tidak ada seorang pun yang bisa lepas atau bebas dari tangan Firaun.
Demikian juga dengan gereja Tuhan diakhir zaman ini, tidak ada seorang pun yagn bisa melepaskan dirinya dari perbudakan dosa kecuali oleh darah Yesus yagn dikerjakan-Nya lewat tanda penebusan. Seorang hamba Tuhan/pendeta jemaat, walau pun sudah terkenal dan luar biasa dipakai dalam hal mengadakan mujizat, tetap saja ia seorang manusia yang tidak dapat menebus jemaatnya dari dosa. Tidak ada seorang pun yang bisa ditebusnya, baik dirinya, baik istrinya, baik anak-anaknya maupun jemaatnya, sebab dirinya sendiri pun haru memerlukan tanda penebusan yang dari Tuhan Yesus Kristus.

Penebusan itu terjadi sepenuhnya hanya karena pekerjaan Tuhan Yesus saja, yang telah dikerjakan-Nya lewat kematian-Nya di kayu salib.

Pekerjaan tanda penebusan itu bisa kita lihat dengan jelas dalam Ibrani 9 : 12 yang mengatakan: "dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal." Ayat ini membuktikan bahwa tanda penebusan itu tidak bisa dikerjakan oleh siapa pun selain oleh Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada yang lain yang bisa menyelamatkan manusia dari dosa dan dari maut, selain pribadi Tuhan Yesus.
Ibrani 9 : 13 - 15 menjelaskan "darah Yesus" itu jauh lebih hebat kuasanya dari darah lembu jantan bahkan dari percikan abu lembu muda. Mengapa? sebab darah binatang itu sifatnya hanya menguduskan secara lahiriah saja, tetapi darah Yesus Kristus bisa menguduskan seluruh hidup baik dari dosa mau pun dari segala tabiat daging. Kuasa darah Yesus itu bisa menyucikan hati kita, pikiran kita maupun perasaan kita. Darah Yesus itu bisa membebaskan tubuh yang berdosa ini untuk selanjutnya dijadikan sebagai umat kepunyaan Tuhan sendiri.
Mala dalam Ibrani 9 : 15 Firman Tuhan menjelaskan Kristus menjadi "pengantara" dari suatu perjanjian baru. Tujuannya: supaya setiap orang yang telah dipanggil dapat menerima bagian kekal yang telah dijanjikan.
kemuaian dalam Ibrani 9 : 16 - 18 menjelaskan cara penebusan yang dikerjakan Tuhan Yesus: suatu wasiat barulah sah kalau pembuat wasiat itu sudah mati. Wasiat tidak berlaku selama pembuat wasiat itu masih hidup. Yesus telah ditentukan untuk mati di kayu salib sebagai jalan untuk menebus manusia dari dosa. Maka kalau seandainya Yesus tidak mati di kayu salib, sia-sialah kepercayaan kita kepada Yesus, sia-sialah kita menjadi orang Kristen. Tetapi karena Yesus telah mati "genaplah" seluruh kehendak Allah di dalam diri kita. Pembuat wasiat itu sendiri adalah Yesus, Dia telah mati untuk kita semua.

Keluaran 13 : 13 "Tetapi setiap anak keledai yang lahir terdahulu kautebuslah dengan seekor anak domba; atau jika engkau tidak menebusnya, engkau harus mematahkan batang lehernya. tetapi mengenai manusia, setiap anak sulung diantara anak-anakmu lelaki, haruslah kautebus."
Dari ayat tersebut dapat kita lihat ada dua (2) golongan yang sangat memerlukan tanda penebusan, yaitu:
- anak keledai
- anak sulung manusia
"ANAK KELEDAI"
gambar bayang dari gereja Tuhan yagn berasal dari bangsa kafir, yagn telah beroleh kesempatan untuk ditebus. Kita harus tetap menyadari bahwa tanda penebusan itu membuat hidup kita berguna dan berharga di mata Tuhan. Sebab jika sendainya kita tidak mengalami tanda penebusan, maka sama seperti anak keledai yang dipatahkan batang lehernya kalau tidak ditebus demikian juga kita akan dibinasakan di api neraka selama-lamanya.
Sedangkan "anak sulung" itu menunjuk kepada bangsa Israel yang telah diangkat menjadi anak. Jadi baik bangsa Israel sendiri mau pun gereja Tuhan yagn berasal dari bangsa kafir sama-sama harus ditebus supaya berhak menjadi umat kepunyaan Tuhan.
Jadi tanda penebusan itu adalah hal yang sangat penting dalam kepengikutan kita kepada Tuhan, baik orang Israel terlebih pula orang kafir. Efesus 2 : 1 - 2 kalau belum mengalami tanda penebusan masih dalam keadaan mati rohani yagn disebabkan oleh pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa. Tetapi dalam Efesus 2 : 8 - 9 dijelaskan kita telah ditebus dan telah dilepaskan dari perbudakan dosa hanya oleh kasih karunia Tuhan saja. Bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi sepenuhnya karena kasih karunia Tuhan saja. Karena itu kita tidak boleh sombong.
Selanjutnya 1 Petrus 1 : 13 kasih karunia Tuhan itulah yagn telah menyucikan dan menguduskan supaya kita bisa hidup kudus sama seperti Yesus yang adalah kudus adanya. Syukur kepada Tuhan kita Yesus Kristus, sekarang kita telah beroleh tanda penebusan oleh darah-Nya supaya kita berharga di mata Tuhan. Haleluya................!!!!



"TANDA PENEBUSAN"


Minggu, 19 September 2010


Setelah bangsa Israel dilepaskan dari perbudakan Mesir, selanjutnya Tuhan Allah mau membawa mereka masuk ke tanah Kanaan, yaitu tanah yang telah dijanjikan kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Bangsa Israel tidak cukup hanya dilepaskan begitu saja, mereka juga harus dituntun selama dalam perjalanan supaya mereka bisa sampai ke tanah Kanaan tersebut. Sebab kalau tidak dituntun maka sudah jelas bangsa Israel tidak mungkin bisa masuk ke tanah Kanaan, mereka akan tersesat dan mereka akan habis binasa oleh bangsa-bangsa yang ada di tanah Kanaan.

Intinya: Tuhan ALlah mau menjadikan mereka menjadi "kerajaan imam dan bangsa yang kudus, kepunyaa Allah sendiri."

Keluaran 19 : 1 - 6 menjelaskan setelah bangsa Israel keluar dari Mesir, di padang gurun Sinai, Tuhan ALlah berfirman kepada Musa untuk memberi satu pernyataan, Tuhan ALlah akan menjadikan mereka menjadi "harta kesayangan Tuhan" dari antara segala bangsa dan menjadikan mereka sebagai "kerajaan imam". Tetapi ada syaratnya, yaitu: mereka harus mau "mendengar" firman Tuhan dengan sungguh-sungguh dan "berpegang" pada perjanjian Tuhan.

Perjalanan bangsa Israel ini merupakan gambaran perjalanan gereja Tuhan diakhir zaman ini. Setelah kita mengalami tanda kelepasan dari dosa oleh darah Kristus, selanjutnya kita harus dijadikan sebagai kerajaan imam supaya kita berhasil masuk ke dalam kerajaan seribu tahun damai. Sebab dalam Wahyu 20 : 1 - 6 firman Tuhan menjelaskan tentang rencana Tuhan yang begitu besar dan mulia khusus kepada gereja Tuhan diakhir zaman ini, yaitu Tuhan mau membentuk dan mempersiapkan kita menjadi sidang mempelai perempuan Kristus, yang dikuduskan dan disempurnakan, yagn dibela dan dipelihara sampai kepada kedatangan-Nya yang kedua kali sebagai Raja di atas segala raja, atau sebagai Mempelai Pria Sorga.
Khusus dalam ayat 6 gereja Tuhan yagn sudah masuk menjadi kerajaan imam itu akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus dalam kerajaan seribu tahun damai, yaitu bagi kita yang dengan sungguh-sungguh "mendengar" firman pengajaran dan melakukannya dalam hidup sehari-hari. Sebagai jemaat terlebih lagi sebagai hamba Tuhan, kita harus membuat firman pengajaran itu menjadi praktek dalam hidup sehari-hari supaya Tuhan berkenan kepada kita. Kalau sudah demikian, kita akan layak masuk ke dalam kerajaan seribu tahun damai dan akan berbahagia sebab kita akan memerintah sebagai raja bersama dengan Kristus.

Kematian yang kedua itu adalah "lautan api", ini berbicara tentang "api neraka" yang kekal dan yang tidak terpadamkan sampai selama-lamanya.

Untuk membuat kita menjadi suatu kerajaan imam bagi Allah, pertama-tama tanda yang harus kita miliki adalah "tanda kelepasan", yaitu dilepaskan dari maut dan dari perbudakan dosa. Kita dilepaskan bukan karena kekuatan diri sendiri dan bukan pula karena orang lain, tetapi hanya oleh darah Kristus yang telah mati di kayu salib sebagai jalan untuk memperdamaikan kita dengan Allah. Bagi kita, darah Kristus itu sungguh-sungguh luar biasa kuasanya, darah Kristus itu mahal dan tidak ternilai oleh apapun yang ada di dunia ini.

Darah Kristus itu dikatakan hebat dan luar biasa karena:
- hanya darah Kristus saja yang sanggup melepaskan kita dari maut dan dari perbudakan dosa.
- hanya darah Kristus saja yang sanggup mengangkat kita dari maut menjadi suatu kerajaan imam yang berkenan kepada ALlah.
- hanya oleh darah Kristus saja yang sanggup menjadikan kita menjadi mempelai perempuan Kristus, yang dikuduskan dan disempurnakan.

Kalau kita lihat di dunia ini, banyak orang bisa berhasil menjadi pemimpin, misalnya menjadi Bupati, Gubernur, Anggota Dewan bahkan menjadi presiden sekalpun, karena banyaknya orang yang mau memilih mereka atau mengangkat mereka. Sebenarnya jauh lebih mudah seseoragn itu menjadi Bupati, menjadi Gubernur, menjadi anggota dewan bahkan menjadi presiden dari pada menjadi umat kepunyaan ALlah.
Mengapa?
sebab kalau untuk mengangkat seseorang menjadi pemimpin di dunia ini suara orang banyak sangat menentukan bahkan uang yang banyak juga bisa dipakai untuk membeli suara orang banyak.
Tetapi untuk mengangkat kita menjadi kerajaan imam yang berkenan kepada Allah suara yang banyak itu tidak bisa dan uang yagn banyak juga tidak bisa, dengan kata lain segala sesuatu yang ada di dunia ini misalnya kekayaannya atau kehormatannya, tidak bisa mengangkat sesorang menjadi kerajaan imam bagi ALlah. Hanya satu saja yang bisa mengangkat kita dari maut dan dari perbudakan dosa, yaitu darah Kristus lewat tanda penebusan yang telah dikerjakan-Nya lewat kematian-Nya di kayu salib.

Bangsa Israel pernah mengalami kejatuhan yagn paling dalam sampai ke titik yang paling rendah, yaitu menjadi budak bagi bangsa-bangsa lain. Mereka diijinkan Tuhan mengalami hal yang demikian tentu ada penyebabnya, yaitu karena mereka tidak lagi memperhatikan dan melakukan firman Tuhan dengan sungguh-sungguh melainkan telah membelakangi Tuhan dengan berbuat yang tidak pantas.
Pemazmur pernah bertanya: "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8 : 5). Pemazmur bertanya demikian tentu karena mereka telah melihat dan mengalami bagaimana sakitnya kalau sedang ditinggalkan Tuhan, mereka sendiri mengalami tidak ada artinya lagi, bagi Tuhan mereka tidak ada apa-apanya.
Bahkan yang lebih parah lagi dalam Mazmur 49 : 13, 21 firman Tuhan memberi satu pernyataan yang tegas: "Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan." Kalau manusia sampai disamakan dengan hewan yagn dibinasakan, bukankan ini sudah merupakan suatu pernyataan yang menyatakan bahwa manusia itu sudah jatuh sampai ke titik yang paling rendah? Manusia yang dulunya diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, manusia yang diakui sebagai ciptaan Allah yang paling mulia dari segala makhluk, sekarang telah disamakan dengan hewan yang dibinasakan. Inilah kejatuhan manusia yang paling dalam, sudah sampai ke titik yang paling rendah. Karena itu tidak ada seorang pun yang bisa mengangkat dirinya dari kejatuhan tersebut dan tidak ada orang lain yang bisa mengangkat dirinya. Bankan tidak ada seorang pun yagn bisa memberikan tebusan kepada ALlah ganti nyawanya, mungkin kekayaannya, jabatannya, atau apapun yang ada padanya tidak ada yang bisa diberikan kepada ALlah sebagai ganti tebusan nyawanya.
Tetapi di sinilah perlu kita ketahui bahwa "TANDA PENEBUSAN" yang dikerjakan oleh Yesus Kristus di kayu salib menjadi berkat bagi kita semua. Walaupun manusia itu sudah sempat jatuh sampai ke titik yang paling rendah bahkan sekalipun sudah sempat disamakan dengan hewan yagn dibinasakan, ada satu pribadi yang sanggup mengangkat kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Oleh darah-Nya dan oleh kematian-Nya di kayu salib, Ia telah mengangkat kita dari kejatuhan yang paling dalam, Ia juga telah menebus kita dari segala dosa dan pelanggaran untuk diangkat menjadi kerajaan imam bagi ALlah.
Maka kalau kita lihat dalam Mazmur 8 : 6 oleh darah Kristus kita telah diangkat dan dibuat menjadi "hampir sama" seperti Allah untuk selanjutnya dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Manusia yang tadinya sudah berada pada titik yang terendah dan yang sudah sempai disamakan dengan hewan yagn dibinasakan, sekarang Tuhan mau memahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Mazmur 149 : 4 firman Tuhan menjelaskan: Tuhan ALlah mau memahkotai manusia itu dengan keselamatan. Kalau kita kaitkan dengan Mazmur 8 : 6, mahkota kita bukan hanya kemuliaan dan hormat, tetapi juga dengan keselamatan. Inilah mahkota yagn paling tinggi dari segala mahkota yagn ada di dunia ini. Kalau kemuliaan dan hormat, semua orang bisa mendapatkannya karena kekayaannya, karena jabatannya yang tinggi, dll, tetapi mahkota keselamatan dunia tidak dapat memberi. Mengapa? sebab dunia ini hanya sementara saja sehingga tidak memiliki yang kekal sifatnya, keselamatan itu kita peroleh hanya lewat Pribadi Tuhan Yesus Kristus saja.

Maka sebagai jemaat Tuhan, maupun sebagai hamba Tuhan, jengan hanya sibut mencari mahkota yagn ada di dunia ini saja tetapi berjuanglah sampai berhasil mendapatkan mahkota keselamatan yagn dari Tuhan. Saudara boleh bekerja, boleh berusaha, boleh kaya, boleh punya jabatan yang tinggi, tetapi jangan sampai menyia-nyiakan tanda penebusan yagn telah dikerjakan Yesus Kristus, disamping segala aktivitas yang kita lakukan kita harus mengerjakan keselamatan itu dengan taat dan setia.
Maka kalau kita lihat kembali dalam Mazmur 149 : 4 mahkota keselamatan itu diberikan tidak kepada sembarang orang, yagn dimahkota dengan keselamatan itu hanyal orang-orang yang "rendah hati."
Maksudnya Tuhan menuntut supaya kita mempunyai sikap: "rendah hati", sama seperti Yesus rendah hati demikian juga kita harus memiliki sikap rendah hati (Matius 11 : 29). Tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke dalam kerajaan sorga kalau tidak berlajar kepada Yesus, dan tidak ada seorang pun yang bisa menjadi sama seperti Kristus kalau ia tidak berlajar kepada Yesus. Ada dua sikap yang dimiliki Yesus yang juga harus menjadi sikap kita, yaitu: LEMAH LEMBUT & RENDAH HATI.
Hal ini bisa kita lihat dengan jelas dalam Filipi 2 : 5 - 11 ketika Yesus lahir ke dunia ini untuk memberikan keselamatan kepada manusia, Ia telah mengosingkan diri-Nya dan menjadi hamba untuk melayani kita. Bukti kerendahan hati Tuhan Yesus: "IA TAAT SAMPAI MATI, BAHKAN SAMPAI MATI DI KAYU SALIB, sebagai hukuman yang harus ditanggung untuk mengangkat kita dari titik yang paling rendah. Karena kita sudah jatuh sampai ke titik yang paling rendah, maka Tuhan Yesus juga harus mengalami hukuman yang paling supaya kita bisa diangkat. Jadi kalau Saudara rindu menerima mahkota keselamatan, harus disetai dengan sikap yang rendah hati, harus mau taat mendengar dan melakukan firman pengajaran.
Selanjutnya manusia yagn sudah dimahkotai dengan keselamatan itu:
- Tuhan mau membuat dia berkuasa atas segala buatan tangan Tuhan.
- Tuhan mau membuat segala-galanya diletakkan dibawah kakinya, bukan di atas kepala.

Jadi segala harta yagn ada di dunia ini bukan mahkota, bukan kemuliaan, itu semua sifatnya hanya sementara saja, jangan sampai Saudara menempatkan harta kekayaan itu lebih tinggi dari keselamatanmu, tetapi tempatkanlah firman itu diatas segala-galanya yang sanggup merubah dan memperbaharui hidupmu. Maka tanda penebusan yagn dikerjakan Tuhan Yesus itu akan berguna bagimu. HALELUYA........!!!!

Kamis, 12 Agustus 2010

BULETIN AGUSTUS

“BERJALAN DALAM SALIB KRISTUS”

Minggu, 01 Agustus '10


Supaya kita bisa berjalan di jalan salib:

- harus mampu menyangkal diri dengan cara mematikan segala keinginan/tabiat daging ataupun keinginan diri sendiri
- kita harus tetap memandang kepada Kristus sebagai teladan yang lebih dahulu memikul salib.

Saudara-saudara, dalam Alkitab berita tentang “jalan salib” adalah berita yang paling penting, jauh sebelum Yesus datang ke dunia ini berita tentang kematian Yesus sudah dinubuatkan. Kalau bukan berita yang paling penting, maka tidak mungkin semua nabi bernubuat tentang kematian Yesus. Jalan salib adalah jalan yang telah ditentukan Allah sebagai sarana untuk membebaskan kita dari dosa dan untuk menyelamatkan kita dari maut.

Maka bagi kita yang mau berjalan dalam jalan salib, salib itu bukan hanya lambang saja, bukan hanya cerita dongeng saja, tetapi berbicara tantang pengalaman hidup dan perjalanan hidup.

Tuhan Yesus sendiri telah berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9 : 23). Jadi jelas, salib itu bukan hanya lambang tetapi berbicara perjalanan hidup, mau berbuat dan melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Walau pun dalam jalan salib itu harus mengalami banyak penderitaan, kita tidak boleh mundur.
INGAT....!! mundur dari jalan salib berarti:

- sudah mundur dari Tuhan
- sudah lepas dari pemeliharaan Tuhan
- tidak layak memperoleh keselamatan


Walau pun masih beribadah bahkan masih melayani Tuhan, mungkin masih berpredikat pendeta, tetapi kalau tidak mau berjalan dalam jalan salib, sesungguhnya ia sudah keluar dari kehendak Tuhan, bagaikan ranting yang telah menjadi kering. Setiap orang yang tidak mau berjalan dalam jalan salib, ia belum bisa disebut sebagai milik Kristus.
1 Korintus 15 : 1 - 4 firman Tuhan begitu tegas mengatakan: berita yang sangat penting telah disampaikan kepada banyak orang, yaitu bahwa Kristus telah mati di kayu salib karena dosa-dosa kita, bukan karena dosa-Nya. Karena itu dikatakan bahwa berita tentang kematian Tuhan Yesus ini disebut sebagai berita yang sangat penting yang sesuai dengan kitab suci.
Kalau dikatakan berita tentang salib itu sesuai dengan kitab suci, itu berarti bahwa berita tentang kematian Tuhan Yesus itu tidak perlu diragukan lagi, Tuhan Yesus telah mati di kayu salib, telah dikuburkan dan telah dibangkitkan pada hari yang ketiga. Semua berita tentang kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus adalah benar adanya.

Karena itu sebagai jemaat Tuhan mau pun sebagai hamba Tuhan, kita tidak perlu meragukan tentang kematian Tuhan Yesus, dan jangan sampai menolak apabila engkau sedang dalam penderitaan. Kalau itu datangnya dari Tuhan dan bukan karena dosa atau pelanggaranmu, terimalah dengan sukacita dan jangan mengelak. Jalani semua dengan baik, dengan penuh kasih, maka Tuhan akan turut serta dalam kehidupanmu, Ia tidak akan meninggalkan engkau tetapi akan menyertai hidupmu.

Galatia 2 : 19 - 20 Paulus sebagai rasul Kristus mengaku telah disalibkan dengan Kristus, caranya: mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat. Setelah itu: sekarang ia hidup tidak lagi karena dirinya sendiri, bukan lagi karena kekuatannya sendiri, bukan lagi karena kepintarannya sendiri, tetapi benar-benar Kristus telah hidup di dalam dirinya. Ini suatu pengakuan yang sangat luar biasa, sebab tidak banyak orang mau disalibkan dengan Kristus, tidak banyak orang yang mau menderita karena mengikut Kristus, justru kebanyakan orang ingin diberkati, ingin kaya, ingin sukses, ingin dikatakan orang hebat, mereka lupa mereka tidak mampu berbuat apa-apa tanpa seijin Tuhan. Tetapi Paulus dengan rendah hati mengatakan: aku telah disalibkan dengan Kristus.
Setiap orang yang mau berjalan dalam jalan salib, hidupnya sudah tersembunyi di dalam Allah, bukan ia sendiri lagi yang nampak tetapi Kristus yang nampak. Jika kita mau berjalan dalam jalan salib, maka Kristuslah yang bekerja untuk memberikan kekuatan. Sehingga sekali pun penderitaan itu berat, tetapi kita dapat menjalaninya dengan baik.

Seperti dikatakan dalam Filipi 1 : 21 “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Jika Kristus sudah hidup di dalam kita, maka:

- Yesus yang di dalam kita itulah yang akan mencukupkan segala keperluan kita.
- Yesus yang ada di dalam kita itulah yang akan menyelesaikan segala masalah kita, yang menyembuhkan segala sakit.
- Yesus yang di dalam kita itulah yang akan memberi kekuatan supaya kita mampu mengalahkan segala dosa dan segala tabiat daging.


Dan jika Kristus sudah hidup di dalam kita, firman Tuhan mengatakan mati pun adalah keuntungan. Mengapa? sebab sudah jelas masuk dalam sorga, dianggap layak masuk ke dalam kerajaan Allah.
Jadi kalau ada orang yang bertanya ”Mengapa Tuhan sengaja membawa kita berjalan dalam jalan salib?” jawabannya supaya kita tetap sadar bahwa:

- tanpa Tuhan tidak ada jalan untuk mendapat keselamatan,
- tanpa jalan salib tidak ada pengampunan dosa,
- tanpa salib tidak tidak ada seorang pun yang bisa mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sama seperti rasul Paulus, karena Kristus sudah hidup di dalam dirinya, ia rela menyerahkan nyawanya kepada Tuhan, ia tidak menghiraukan nyawanya sedikit pun sebab tujuan pelayanannya adalah untuk mencapai “garis akhir” dan “menyelesaikan pelayanan” yang telah ditugaskan kepadanya untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. Hal ini dijelaskan dalam Kisah Para Rasul 20 : 22 - 24 ketika rasul Paulus sebagai tawanan Roh tidak tahu apa yang akan terjadi atas dirinya walau pun sebenarnya penjara dan sengsara telah menunggu. Tetapi karena berita Injil, ia tidak menghiraukan nyawanya sedikitpun asalkan ia dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanannya. Karena itu sebagai jemaat Tuhan maupun sebagai hamba Tuhan, supaya kita berhasil berjalan dalam jalan salib ini yang paling kita butuhkan adalah “KETEKUNAN.” Ketekunan ini menjadi kunci supaya kita juga bisa sama seperti Paulus yang berhasil mencapai garis akhir dan berhasil menyelesaikan pelayanan. Firman Tuhan dalam Ibrani 10 : 32 - 36 menjelaskan setelah menerima terang, kita banyak menderita dalam perjuangan yang berat, ketika dijadikan tontonan, karena nama Tuhan harus diejek, dihina bahkan sampai dikucilkan dari keluarga, bahkan sekali pun harta habis dirampas, semua itu harus kita terima dengan sukacita. Sebab jika kita bertekun dalam Tuhan, maka kita akan tahu bahwa kita memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya, yaitu hidup yang kekal di dalam kerajaan sorga.

Untuk itu firman Tuhan dengan tegas mengatakan: “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercaanmu, karena besar upah yang menantinya.” Untuk mendapatkan semua itu, intinya kita memerlukan ketekunan, supaya sesudah berhasil melakukan kehendak Allah, kita berhak memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan tersebut.
Roma 11 : 22 ada dua hal yang perlu kita perhatikan yaitu: kemurahan dan kekerasan hati Tuhan. Tidak cukup kalau hanya memperhatikan kemurahan Tuhan saja tetapi juga harus memperhatikan kekerasan hati Tuhan supaya rasa takut akan Tuhan ada dalam hidup kita. Banyak orang hanya memperhatikan kemurahan Tuhan saja sehingga mereka tidak mau sungguh-sungguh datang kepada Tuhan, tidak sungguh-sungguh melayani Tuhan. Sebagai jemaat Tuhan, kita juga harus memperhatikan kekerasan hati Tuhan supaya di dalam diri kita ada rasa takut, yaitu takut kalau tidak beribadah, takut kalau tidak berkorban, takut kalau tidak melayani, dll. Setiap orang yang tetap memperhatikan kemurahan Tuhan, maka Tuhan akan mengampuni segala dosa kita dan Tuhan juga akan mempercayakan pelayanan kepada kita. Titus 3 : 4 - 5 kemurahan Tuhan itu nyata ketika Tuhan telah menyelamatkan kita yang dikerjakan lewat permandian kembali, kita dibaharui oleh Tuhan.
Permandian kelahiran kembali = ini murni pekerjaan Tuhan di dalam hidup kita yang mau berjalan dalam jalan salib walau harus mengalami pemderitaan. Ini juga berbicara pekerjaan Tuhan yang membaharui kita dari hari ke hari sampai kita sesuai dengan kehendak Tuhan, diampuni dosa kita, dikuduskan/disucikan dan puncaknya kita akan disempurnakan menjadi sidang mempelai perempuan-Nya.



“HIDUP ADALAH KRISTUS”


Minggu, 08 Agustus 2010


Kematian adalah resiko yang paling pahit, yang paling berat, bahkan yang paling mengerikan yang pernah dihadapi manusia. Tetapi sekali pun yang paling berat bahkan yang paling pahit sekalipun, jika Kristus sudah diam di dalam hidup kita, kematian itu bisa menjadi keuntungan, yang paling pahit sekali pun bisa menjadi manis. Ini berbicara jalan salib, dalam mengikut Tuhan sering sekali kita diperhadapkan kepada banyak penderitaan, bahkan sepertinya dengan sengaja Tuhan sedang membawa kita berjalan dalam jalan salib. Maksud Tuhan dalam semua itu ialah supaya di tengah-tengah penderitaan itu kuasa Tuhan menjadi nyata, pembelaan dan pemeliharaan Tuhan itu dapat kita alami dalam hidup sehari-hari.

Dalam kitab Perjanjian Lama, ada dua orang yang mengalami pencobaan dan penderitaan yang sangat berat, yaitu AYUB dan ABRAHAM.

Penderitaan atau ujian yang dialami Ayub:
- semua anak-anaknya mati karena bencana
- hartanya habis
- sahabat-sahabatnya menjauh
- mengalami penyakit yang sangat parah
- istrinya mengejek/menghinanya

Tetapi Ayub bisa menjalani semua itu dengan baik dan Ayub menang, karena yang ada di dalam hatinya adalah Tuhan.

Ujian yang dialami Abraham:
- lama menunggu janji Allah tentang keturunannya
- ia harus membawa anaknya yang tunggal ke gunung Moria untuk
dipersembahkan sebagai
korban persembahan kepada Allah.

Kalau kita lihat dan kalau kita bandingkan antara Ayub dan Abraham ini, ujian dan penderitaan yang mereka alami itu memang sangat jauh berbeda. Tetapi kalau kita bandingkan, sebenarnya ujian yang dialami Abraham itu jauh lebih berat dari pada yang dialami Ayub. Kalau penderitaan yang dialami Ayub mengarah kepada fisik, tetapi ujian yang dialami Abraham itu mengarah kepada perasaan hatinya.
Ketika Abraham harus membawa anaknya yang paling dikasihi untuk dipersembahkan kepada Allah, ia harus berjuang supaya ia mampu mengalahkan perasaannya sendidi, dan ia harus mampu menguasai hatinya. Kalau tidak, maka ia tidak akan pernah bisa membawa anaknya kepada Tuhan.
Perlu kita ketahui kalau Tuhan menguji :
- tidak diberitahukan lebih dahulu apa materi ujiannya.
- tidak diberitahukan kapan ujian itu akan dimulai.
Sangat berbeda dengan ujian-ujian yang diadakan di dunia ini, misalnya ujian di sekolah, ketika guru akan mengadakan ujian biasanya guru akan memberitahukan kapan ujiannya dan apa materi ujiannya juga akan diberitahukan lebih dahulu.

Bagi kita sebagai jemaat Tuhan, jika Kristus sudah tinggal di dalam kita, kapan pun ujian itu datang kita akan siap menghadapinya, bahkan apa pun bentuk ujian itu, kita sudah siap menghadapinya. Sebab Kristus yang diam di dalam kita itu pasti akan menyertai kita dan akan memberi kekuatan supaya kita bisa menang terhadap ujian. Sepahit apa pun penderitaan itu akan menjadi manis bagi kita.
PETRUS adalah contoh orang yang tidak tahan menghadapi ujian. Pada waktu Yesus memberitahu kan kepada murid-murid tentang kematian-Nya, Petrus mengaku sanggup memikul penderitaan, mengaku siap mati untuk Tuhan. Tetapi kenyataan nya, setelah Tuhan Yesus ditangkap, Petrus langsung mengandalkan kekuatannya, ia melarikan diri, dan ketika Tuhan Yesus diadili untuk disalibkan, Petrus menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali.
Petrus adalah murid yang terkenal pemberani, murid yang selalu mengikut Yesus, yang dulu mengaku siap mati untuk Tuhan Yesus, tetapi ketika ujian itu datang, sekarang Petrus rela menyangkal Tuhan Yesus, bahkan sampai mengaku tidak pernah mengenal Tuhan Yesus.

Sebagai jemaat maupun sebagai hamba Tuhan, kita harus selalu siap sedia diuji kapan pun, dan apapun bentuk ujian itu, kita harus siap menghadapinya. Bahkan sepahit apa pun dan seburuk apa pun penderitaan itu, kita harus dengan rela hati menghadapinya. Ingat! penderitaan yang pahit bisa menjadi manis jika kita dengan rela menghadapi nya.
Maka kalau kita lihat Yohanes 15 : 1 - 27 kalau Kristus sudah diam di dalam kita, ada tiga (3) praktek hidup sebagai jemaat Tuhan, yaitu:
1. ayat 1 - 8 = hubungan ranting dengan pokok, ini berbicara hubungan Kristus sebagai
Kepala dengan jemaat sebagai tubuh Kristus.
2. ayat 9 - 17 = hubungan ranting dengan ranting ini berbicara hubungan jemaat dengan
jemaat.
3. ayat 18 - 27 = hubungan ranting dengan dunia ini berbicara hubungan jemaat dengan
dunia.

Tanda kalau kita sudah menyatu dengan Kristus bagaikan ranting dengan pokok yang tidak boleh dipisahkan, jemaat sebagai ranting harus tetap menyatu dengan Kristus. Tuhan Yesus adalah pokok anggur yang benar, kita sebagai jemaat harus tinggal di dalam Kristus supaya dipelihara dengan baik.

Ada dua (2) bentuk pemeliharaan dari Tuhan:
1. pemeliharaan secara biasa, misalnya ketika kita tidak punya apa-apa, tetapi karena ada hubungan dengan sesama jemaat, maka orang lain bisa dipakai untuk memberi kepada kita.
2. Pemeliharaan yang ajaib, misalnya ketika kita sedang tidak punya apa-apa lagi di rumah atau ketika sedang mengalami sakit penyakit, tetapi tanpa sepengetahuan kita dan diluar kemampuan kita, Tuhan melakukannya dengan ajaib, Ia menyediakan dengan ajaib dan menyembuhkan sakit kita.

Contoh: ketika kepercayaan Abraham diuji, sebenarnya ia tidak punya domba untuk dipersembahkan kepada Tuhan, tetapi karena Abraham cinta kepada Tuhan dan karena Tuhan diam di dalam hidupnya, Tuhan sendiri yang menyediakan domba baginya untuk dipersembah kan kepada Allah. Kejadian 22 : 7 - 8 ketika Ishak bertanya: “Dimanakah domba untuk korban bakaran itu?” Abraham menjawab: “Allah yang menyediakan ...........” Ayat 9 - 10 = tindakan/perbuatan Abraham yang berkenan kepada Tuhan. Maka dalam ayat 11 - 14 setelah Tuhan melihat hati Abraham yang tidak segan-segan menyerahkan anaknya yang tunggal kepada Allah, Abraham lulus ujian.

Ini juga berbicara tentang jalan salib, Abraham telah berhasil menyangkal diri sehingga ia berhasil membawa anaknya untuk dipersembahkan kepada Allah. Abraham berhasil karena Kristus sudah tinggal di dalam hidupnya.

Karena Abraham berhasil berjalan dalam jalan salib, maka ia berhak mendapatkan pemeliharaan Tuhan yang ajaib. Ketika Abraham menoleh, maka ia melihat seekor domba jantan di belakangnya yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Domba jantan inilah yang disembelih lalu dipersembahkan kepada Allah, sebagai ganti anaknya Ishak. Apa yang tidak pernah ada dalam pikirannya, Tuhan adakan dengan ajaib.
Supaya kita bisa punya hubungan dengan Kristus sebagai Kepala jemaat, kita harus kudus dan setia. Yohanes 15 : 2 firman Tuhan menggambarkan hubungan yang baik itu bagaikan ranting-ranting yang berbuah lalu dibersihkan. Ini berbicara kehidupan jemaat-jemaat Tuhan yang sudah memiliki persekutuan dengan Kristus, setia beribadah dan melayani, akibatnya: dibersihkan (=dikuduskan). Kita bisa hidup kudus sepenuhnya karena pekerjaan firman Tuhan, lewat firman pengajaran yang ditampilkan di dalam hidup kita. Demikian juga kita bisa setia sepenuhnya juga karena pekerjaan Tuhan yang memberi kekuatan dan kuasa supaya kita mampu menolak dosa.
Tetapi setiap ranting yang tidak berbuah akan dipotong.
Ini berbicara kehidupan jemaat-jemaat yang tidak setia digembalakan dan yang tidak suci hidupnya. Akibatnya akan sama seperti ranting yang menjadi kering, yang dikumpulkan, lalu dicampakkan ke dalam api untuk dibakar.




“HIDUP ADALAH KRISTUS”


Minggu, 15 Agustus 2010


Puji Tuhan!
Kita patut bersyukur kepada Tuhan jika Kristus sudah hidup di dalam kita dan kita hidup di dalam Kristus. Sebab jika kita sudah hidup di dalam Kristus, kita akan layak diberkati, layak dibela dan dipelihara. Namun walau pun kita sudah hidup di dalam Kristus bukan berarti hidup kita sudah bebas dari penderitaan, tetapi masih berada dalam pergumulan-pergumulan yang harus kita lewati dan harus kita menangkan.
Kalau kita lihat dalam Yosua 18 : 1 - 10 setelah bangsa Israel sampai ke tanah Kanaan dan menaklukkan negeri itu, lalu mereka berkumpul di Silo dan menempatkan kemah pertemuan di sana. Dari kedua belas suku Israel, masih tinggal tujuh suku yang belum mendapat bagian milik pusaka, sementara yang sudah mendapat milik pusaka masih lima suku saja. Jadi tidak sebanding banyaknya antara yang sudah mendapat milik pusaka dengan yang belum mendapat, mayoritas dari antara mereka masih harus berjuang. Bahkan kalau kita lihat dalam kitab Yosua pasal 18 ini Yosua sendiri pun sebagai pemimpin belum mendapatkan milik pusaka, sebab nanti pada pasal 19 : 49 - 50 barulah Yosua mendapatkan milik pusaka di tengah-tengah bangsa Israel. Dan milik pusaka yang diberikan kepada Yosua itu sesuai dengan titah Tuhan, mereka memberikan kepadanya kota yang dimintanya, yakni Timnat-Serah di pegunungan Efraim.

Ini menggambarkan perjalanan kita sekarang, gereja Tuhan yang masih hidup diakhir zaman ini masih harus berjuang supaya berhasil mendapat bagian yang terbaik dari Tuhan, yaitu untuk masuk ke dalam kerajaan sorga dan menjadi sidang mempelai perempuan Kristus. Walau pun kita sudah percaya kepada Yesus Kristus, sudah diselamatkan, tetapi kita masih harus terus berjuang dan bergumul sampai berhasil menjadi orang yang berkenan kepada Tuhan. Seperti bangsa Israel, walau pun mereka sudah sudah sampai ke tanah Kanaan dan sudah berhasil mengalahkan penduduk negeri itu, tetapi mereka masih harus berjuang terus.

Yakub mempunyai anak-anak dua belas orang banyaknya dan semua tercatat dalam kitab Kejadian 49 : 1 - 28 untuk mendapat berkat dari Yakub. Kemudian kalau kita lihat dalam kitab Yosua pasal 13 sampai pasal 19 nama Yusuf tidak tercatat untuk mendapat bagian milik pusaka sedangkan yang lain mendapat. Tetapi kalau kita lihat dalam Wahyu 7 : 1 - 8 nama Yusuf sudah tercatat kembali, sebaliknya ada dua suku dari keturunan Israel yang tidak tercatat namanya, yaitu suku Dan dan suku Efraim. Padahal diwaktu-waktu sebelumnya kedua nama ini selalu tercatat namanya.
Kalau kita lihat dari kedua belas nama anak atau suku Israel tersebut, diawal semua nama-nama mereka tercatat namanya, tetapi ditengah perjalanan ada yang tidak tercatat, dilanjutkan dalam kitab Wahyu sebagai kitab terakhir dari semua kitab ada dua nama yang tidak tercatat namanya, yaitu suku Dan dan Efraim.

Bagi kita sekarang nama-nama yang tercatat seperti tersebut di atas mengandung arti yang sangat besar, sebagai jemaat Tuhan, kita harus berjuang supaya menang. Perjalanan suku-suku Israel ini menggambarkan perjalanan gereja Tuhan diakhir zaman ini, kita semua harus berjuang supaya nama kita benar-benar tercatat dalam kitab kehidupan Anak Domba. Kita harus dengan sungguh-sungguh baik beribadah mau pun melayani Tuhan.
Mungkin Saudara bertanya: “Mengapa harus ada daftar nama-nama yang berhak mendapat milik pusaka, tetapi mengapa pula ada nama-nama yang tidak tercacat?” maksud semua itu adalah:

- Tuhan mau tunjukkan mana yang pada awal-awalnya tidak
diperhitungkan

- Tuhan mau tunjukkan mana yang gugur di tengah jalan
- Tuhan mau tunjukkan mana yang menang sampai kepada akhirnya


Jadi dalam perjalanan gereja Tuhan, perjalanan bangsa Israel ini sebenarnya menggambarkan perjalanan kita supaya kita berjuang sampai kepada akhirnya. Berbicara kitab Wahyu ini adalah berbicara kitab terakhir, jadi kalau nama kita tidak tercatat dalam kitab Wahyu berarti tamatlah riwayat kita, sudah pasti tidak akan masuk ke dalam kerajaan sorga. Kalau seandainya dalam kitab Kejadian belum tercatat, masih ada kesempatan dalam kitab Yosua, dan kalau pun seandainya dalam kitab Yosua belum tercatat juga, masih ada kesempatan dicatat dalam kitab Wahyu. Tetapi jika dalam kitab Wahyu belum juga tercatat, tamatlah perjalanan kerohaniannya, dengan kata lain tertutuplah kesempatan untuk selama-lamanya, namanya tidak akan tercatat dalam kitab kehidupan Anak Domba. Langsung tidak berhak mendapat apa-apa dari apa yang telah dijanjikan Tuhan.

Itu sebabnya Tuhan sangat harapkan supaya persekutuan kita dengan Tuhan itu harus tetap. Mengapa suku Dan tidak tercatat dalam kitab Wahyu? Dalam kitab Kejadian suku Dan itu perjalanannya digambarkan seperti ular, jalannya tidak pernah lurus, hidupnya tidak pernah sungguh-sungguh mengikut Tuhan. Seperti ular yang tidak berjalan lurus demikianlah suku Dan tidak pernah sungguh-sungguh melakukan firman Tuhan.

Kita patut kagum melihat Paulus, seorang rasul yang sangat luar biasa dipakai Tuhan untuk memberita kan Injil tentang keselamatan kepada banyak bangsa. Paulus mengaku: “aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.” Maka kalau kita lihat dalam Roma 7 : 14 - 20 firman Tuhan menjelaskan kepada kita, bahwa tanpa Tuhan tidak ada seorang pun yang bisa melakukan kehendak Tuhan, sebab justru apa yang tidak diinginkan, itulah yang dilakukan.
Firman Tuhan menegaskan: di dalam diri kita sebagai manusia tidak ada yang baik. Sering sekali kita melakukan apa yang kita benci yang sebenarnya tidak ingin kita perbuat, tetapi kita perbuat. Mengapa demikian? sebab di dalam diri kita sebagai manusia benar-benar tidak ada yang baik. Inilah yang membuat sehingga sekali pun kita ingin berbuat yang baik, tetapi justru yang tidak baiklah yang kita lakukan.

Disinilah kita melihat betapa besarnya kasih Kristus itu telah dinyatakan di tengah-tengah kita, Ia telah mati di kayu salib untuk memberikan penebusan kepada kita. Tidak ada kasih selebar atau sehebat kasih Kristus. Kematian-Nya di kayu salib adalah untuk menebus segala dosa yang telah kita lakukan dan juga untuk melepaskan kita dari segala perbuatan yang jahat.
Untuk itulah kita harus membuat Yesus itu sebagai yang paling berharga dari semua yang ada di dalam dunia ini. Kita harus membuat firman Tuhan lebih utama dari segala sesuatunya. Jika kita sadar sebagai manusia berdosa, kita harus sama seperti Paulus yang mengatakan: “Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah.” Inilah yang membuat sehingga sekali pun selama ini kita sedang berada dalam tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuh, tetapi oleh Yesus Kristus dan oleh firman-Nya, kita telah dilepaskan. Tuhan tahu tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa melepaskan dirinya dari hukum dosa, kecuali oleh kuasa Tuhan saja.
Karena itu sebagai jemaat kita harus tahu, Tuhan tidak mau tubuh yang berdosa ini masuk ke dalam sorga, Tuhan tidak mau tubuh yang berdosa ini mengotori sorga. Karena itu Tuhan mau lebih dahulu menyucikan tubuh yang berdosa ini dengan darah dan dengan firman-Nya. Tubuh kita yang sekarang ini terlalu banyak kelemahan nya, bisa mengalami sakit penyakit yang sangat tidak diinginkan. Namun demikian, kita harus mau menerima semua itu dengan ucapan syukur, kita harus tetap berjuang sampai kepada akhirnya sampai nama kita benar-benar terdaftar dalam kitab kehidupan Anak Domba. Jika Kristus sudah diam di dalam kita dan kita tinggal di dalam Kristus, seberat apa pun kelemahan yang ada pada tubuh kita ini, ada kuasa Tuhan yang sanggup menyucikannya. Pada zaman akhir ini, marilah kita lebih sungguh-sungguh lagi beribadah dan melayani Tuhan sampai kepada akhirnya supaya nama kita benar-benar telah tercatat dalam kitab kehidupan Anak Domba.
HALELUYA......!!!!!!



“HIDUP ADALAH KRISTUS”

Minggu - 22 Agustus 2010


Saudara-saudara, bagi kita, gereja Tuhan yang berasal dari bangsa kafir, kematian Yesus di atas kayu salib adalah untuk “membuka jalan” supaya:

- pelanggaran-pelanggaran diampuni
- segala dosa ditutupi
- kesalahan tidak diperhitungkan lagi


Sebab sebelum manusia itu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sesungguhnya manusia itu sedang berada di dalam maut (Roma 6 : 23). Itu sebabnya setiap orang yang hidup tanpa Yesus, tidak memiliki pengharapan dan tidak ada keselamatan dalam hidupnya.

Untuk itulah Yesus rela mati di kayu salib supaya kita bisa memiliki pengharapan pasti akan adanya keselamatan yang telah dikerjakan Yesus. Inilah yang disebut dengan “kekayaan kasih karunia” yang akan dilimpahkan Tuhan kepada kita, sebab oleh darah Yesus kita telah beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa (Efesus 1 : 7 - 8).
Kalau ada orang mencari keselamatan dengan kekuatan diri sendiri atau dengan hikmatnya sendiri, maka ia tidak akan pernah menemukannya. Sebab keselamatan itu hanya ada pada Tuhan Yesus Kristus saja, maka setiap orang yang ingin diselamatkan, ia harus datang kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, bukan dengan kekuatan diri sendiri.

Karena itu kalau Saudara datang dan masuk ke dalam gereja untuk beribadah:
- jangan merasa diri sebagai orang yang benar
- jangan merasa diri sebagai orang yang suci
- jangan merasa lebih baik dari pada orang lain


Tetapi datanglah kepada Tuhan dengan rendah hati dan dengan hati yang tulus supaya Tuhan berkenan akan hidupmu. Firman Tuhan telah mengatakan bahwa keselamatan itu datangnya hanya dari Tuhan Yesus saja, karena itu kita harus datang dengan sikap yang benar, menganggap semua itu hanya karena kasih karunia Tuhan saja. Tuhan mau supaya jangan ada seorang pun yang memegahkan diri dihadapan Tuhan.
Maka kalau kita lihat dalam 1 Korintus 1 : 30 firman Tuhan menegaskan: jika kita sudah hidup di dalam Kristus dan Kristus hidup di dalam kita, maka kita akan memperoleh hikmat. Hikmat itu sangat penting kita miliki, sebab dengan hikmat Tuhan lah kita dapat mengetahui segala rencana Tuhan, dan dengan hikmatlah kita dapat mengetahui bahwa Kristus telah diam di dalam kita. Kalau kita sudah memiliki hikmat, maka kita juga akan mengetahui bahwa Kristus telah membenarkan, menguduskan dan menebus kita dari segala dosa dan pelanggaran yang telah kita lakukan.
Sehingga kalau kita datang kepada Tuhan, yang kita megahkan bukan lagi diri sendiri, yang kita megahkan bukan lagi harta kekayaan yang ada di dalam dunia ini, melainkan Kristus Yesus. Kita bisa melihatnya dalam 1 Korintus 1 : 31 “Barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”

Jadi yang kita megahkan itu ialah pribadi Tuhan kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus yang telah mati di kayu salib untuk dosa-dosa kita, lewat kematian-Nya, Ia telah mengangkat kita dari dalam maut.

Saudara-saudara, dalam 1 Korintus 2 : 2 Paulus sebagai rasul Kristus telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa, selain Yesus Kristus yang telah disalibkan. Ini adalah berbicara prinsip atau pendirian yang teguh akan Kristus. Paulus sebagai rasul Kristus, telah mengambil keputusan yang tepat dan benar untuk membuat Kristus yang lebih dominan dalam hidupnya.
Kita juga sebagai jemaat Tuhan, kita harus mau meneladani sikap Paulus ini, membuat Tuhan lebih dominan dalam hidup kita. Kalau dikatakan “telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa selain Yesus Kristus”, bukan berarti kita tidak lagi memerlukan uang atau harta yang banyak, bukan berarti tidak boleh berusaha, bekerja, atau yang lain-lain. Kita semua sangat memerlukan semua itu, butuh uang, butuh pekerjaan, butuh usaha yang semakin maju, dll, hanya dalam semua kegiatan itu kita harus membuat Kristus yang lebih dominan dalam hidup kita. Kristus harus diam di dalam kita dan kita di dalam Kristus, inilah yang disebut hidup adalah Kristus.

Mengapa kita harus mengerti bahwa hidup adalah Kristus? tujuannya adalah :

- supaya Kristus yang lebih dominan dalam hidup kita, baik dalam usaha, dalam pekerjaan atau
pun dalam rumah tangga kita.
- supaya kemegahan kita tidak ada lagi selain di dalam Kristus Yesus.

Selama manusia itu tidak membuat Tuhan yang lebih dominan dalam hidupnya, maka manusia itu tidak akan pernah menemukan Kristus dan Kristus pun tidak akan tinggal di dalam hidupnya.
Selama manusia itu lebih mengidolakan dirinya, kekuatannya, kekayaannya atau pun kepintarannya lebih dari pada Tuhan Yesus, maka ia tidak akan pernah membuat Kristus Yesus sebagai kebanggaan nya. Jadi kalau rasul Paulus berkata: “aku tidak mau tahu selain Yesus Kristus” tujuannya:
- ia mau membuat pribadi Tuhan Yesus lebih dominan dalam hidupnya, lebih mengidolakan
Yesus dari pada dirinya sendiri.
- ia mau lebih mengutamakan pemberitaan Injil keselamatan kepada bangsa-bangsa dari pada
segala sesuatu yang ada di dunia ini.
Untuk inilah Paulus rela meninggalkan semuanya.

MUSA, setelah lari dari hadapan Firaun, selama empat puluh tahun ia dididik oleh Allah sebelum diutus ke Mesir untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan. Sekali pun sudah sekian lama Musa belum juga berhasil, masih harus diuji lagi supaya ia mengerti akan panggilan Tuhan kepadanya. Maka dalam Keluaran psl 4 ketika Tuhan Allah bertemu dengan Musa dan berfirman, Tuhan lebih dahulu mengubah pola pikirannya dan pendiriannya, supaya ia membuat Allah yang lebih dominan bukan dirinya sendiri. Maka ketika Allah menyuruh supaya Musa melemparkan tongkatnya ke tanah, tongkat itu berubah menjadi ular, sehingga Musa sendiri lari meninggalkannya (ayat 3). Tongkat itu adalah milik kepunyaan Musa sendiri, tetapi kalau sudah berubah menjadi ular, Musa sendiri pun menjadi takut.
Cerita tentang Musa ini adalah satu pelajaran penting yang harus kita ketahui. Sebab hal seperti ini sering sekali terjadi ditengah-tengah kehidupan jemaat mau pun hamba Tuhan. Segala sesuatu yang dimiliki, seperti halnya kekayaan, jabatan, pekerjaan, atau apa pun yang kita miliki di dunia ini, semua itu bisa berubah menjadi sangat menakutkan, termasuk pelayanan sekali pun. Kalau tidak hidup di dalam Kristus, nikah itu bisa menakutkan, istri takut melihat suami yang tidak bertobat demikian juga sebaliknya. Kalau tidak membuat Tuhan lebih dominan dalam hidup, segala usaha atau pekerjaan bahkan kekayaan bisa menakut kan bahkan membahayakan hidup manusia.
Tetapi dalam Keluaran 4 : 3 - 5 setelah tongkat itu berubah menjadi ular, Allah memerintahkan supaya Musa memegang ekornya, bukan kepalanya, maka ular itu pun kembali menjadi tongkat. Dalam hal ini Tuhan mau mendidik kita semua, supaya kita mau membuat Tuhan itu lebih dominan dalam hidup kita, jangan hanya berpatokan kepada apa yang ada pada kita. Sebab jika Tuhan sudah lebih dominan, maka apa yang ada pada kita yang selama ini bisa menakutkan atau pun membahayakan, akan dipakai oleh Tuhan sebagai alat. Keluaran 4 : 17 tongkat Musa itu dipakai untuk membuat tanda-tanda dan mujizat, kemudian dalam ayat 20 tongkat yang tadinya milik Musa sekarang sudah berubah menjadi “tongkat Allah” yang dipakai untuk membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir. Jika hidup adalah Kristus, maka Tuhan akan bersedia mempergunakan kita menjadi alat ditangan-Nya, seperti bersaksi kepada sesama, berkorban, melayani, mengadakan mujizat, dll.



“HIDUP ADALAH KRISTUS”


Minggu - 29 Agustus 2010


Hidup adalah Kristus, itu berarti:

- Kristus Yesus dalam firman-Nya telah memenuhi hidup kita
- Dalam setiap sikap dan perbuatan kita harus mencerminkan Kristus yang ada dalam kita


Maka supaya kita bisa hidup dalam Kristus, firman Tuhan harus tinggal dan memenuhi hidup kita. Karena segala sesuatu dimulai dengan firman Tuhan maka kita wajib hidup sesuai dengan firman Tuhan, yang hidup dan yang berkuasa membaharui hidup kita.

1 Yohanes 1 : 1 - 4 rasul Yohanes memberikan suatu kesaksian tentang firman Tuhan yang hidup:
- yang dapat didengar
- yang dapat dilihat
- yang dapat disaksikan
- yang dapat diraba
Selama rasul Yohanes mendampingi Tuhan Yesus melayani, terlebih setelah Yesus naik ke sorga, Yohanes sudah melihat dan sudah merasakan pengalaman pelayanan bersama dengan Yesus. Karena rasul Yohanes telah menyaksikan tentang firman hidup itu, maka ia menyampaikannya kepada kita sampai sekarang ini.

Tujuannya: supaya kita juga dapat mengalami seperti yang telah dialami rasul Yohanes, dan supaya kita juga dapat merasakan kehebatan kuasa Tuhan dalam firman-Nya.

Maka dalam Kolose 2 : 6 firman Tuhan menjelaskan apa yang kita lakukan setelah kita menerima dan percaya kepada Tuhan Yesus, selanjutnya yang harus kita kerjakan adalah kita harus tetap tinggal di dalam Kristus. Yang dimaksud tinggal di dalam Kristus bukan hanya sekedar percaya begitu saja, tidak cukup hanya datang ke gereja saja, tetapi harus dibarengi dengan sikap dan perbuatan yang benar yaitu yang sesuai dengan firman Tuhan. Kita tinggal di dalam Tuhan dan firman-Nya di dalam kita inilah yang disebut tinggal di dalam Tuhan yang benar.
Kemudian Kolose 2 : 7 Kalau sudah hidup di dalam Kristus ada dua (2) hal penting yang harus tetap kita lakukan, prakteknya:
1. Kita harus berakar di dalam Kristus.
2. Kita harus dibangun di atas Kristus.

Kata “berakar” biasanya ditujukan kepada pohon yang hidup, yang mempunyai akar, pohon itu bisa menjadi besar dan berbuah tentu karena ada akarnya. Pohon yang tidak berakar tidak mungkin bisa bertumbuh dengan baik dan tidak mungkin bisa bertahan menghadapi goncangan angin. Itu sebabnya kalau kita melihat dan memperhatikan sebatang, akar pohon itu selalu dibawah, yaitu di dalam tanah jadi tidak kelihatan, tetapi sekali pun tidak kelihatan fungsinya sangat besar dan nyata, yaitu untuk mencari makanan supaya pohon itu bisa menjadi besar dan berbuah-buah. Akar itu jugalah yang berfungsi menahan supaya pohon itu tidak tumbang walau harus diterpa oleh angin yang kencang.
Maka setiap orang yang sudah berakar di dalam Kristus, rohaninya pasti hidup dan akan bertumbuh dengan baik, ia akan menjadi orang Kristen yang kuat, tidak tergoncangkan oleh apa pun, baik oleh penyakit, oleh penderitaan, kesusahan, atau apa pun yang mencoba menggoncang imannya pasti akan tetap teguh.

Sedangkan kata “dibangun” sering dipakai untuk sebuah bangunan, misalnya rumah, gedung gereja, ruko, dll. Untuk membangun sebuah rumah, seorang ahli tukang biasanya yang pertama-tama dipersiapkan adalah pondasi atau dasarnya, sesudah itu barulah rumah itu mulai dibangun tahap demi tahap, tiangnya, dindingnya, atapnya, plafonnya dan seterusnya sampai bangunan itu selesai dibangun dan siap ditempati.
Untuk itu firman Tuhan dalam 1 Korintus 3 : 9 - 17 menjelas kan jemaat itu sebagai :
- Bangunan Allah
- Rumah Allah/Bait Allah
Yang secara keseluruhan disebut sebagai Tabernakel Allah, yaitu tempat Allah menyatakan kehadiran-Nya ditengah-tengah umat-Nya. Jadi kalau dibangun menjadi rumah atau Bait Allah, tujuannya adalah supaya Allah diam di dalam hidup kita dan kita di dalam Allah.
1 Korintus 3 : 16 satu pernyataan dari firman Tuhan yang harus tetap kita ingat: “Kamu adalah bait Alllah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu.” Ayat firman Tuhan ini harus tetap kita yakini bahwa kita sudah dibangun menjadi baik Allah dan bahwa Roh Allah sudah diam diam di dalam kita. Karena itu setelah percaya kepada Yesus atau setelah diperdamaikan dengan Allah oleh korban Kristus, selanjutnya kita harus mau dibangun supaya menjadi bait Allah yang kudus.
Untuk membangun kita, 1 Korintus 3 : 10 - 11 Paulus sebagai rasul Kristus adalah seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, yaitu Kristus sebagai teladan yang sempurna. Tidak ada seorang pun yang bisa meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Ini berbicara: kita harus mau hidup dan tinggal di dalam ibadah dan penggembalaan yang benar supaya kita memiliki persekutuan yang erat dengan Kristus sebagai Kepala atau sebagai Mempelai Pria sorga, bagaikan ranting yang tetap melekat pada pokok supaya tetap dibersihkan dan mendapat perhatian dari pemilik anggur tersebut (Yohanes 15).

Inti dari semua itu supaya kita berhasil dibangun menjadi bait Allah yang kudus, harus dibangun di atas dasar firman Tuhan. Mengapa? sebab Yesus itu adalah firman Tuhan yang telah menjadi manusia dan yang mau diam ditengah-tengah kita. Kalau dibangun diluar dasar firman Tuhan, maka sudah pasti Allah tidak akan mau diam di dalamnya, dan bangunan itu tidak bisa disebut sebagai bait Allah. Tetapi karena sudah dibangun di atas dasar yang benar, yaitu berdasarkan firman Tuhan, maka kita akan layak disebut sebagai bait Allah yang dikuduskan, yang dipandang layak untuk dijadikan sebagai umat kepunyaan Tuhan sendiri.
Tetapi perlu kita perhatikan dengan baik-baik, sekali pun sudah dibangun menjadi bait Allah, perlu kita ketahui bahwa bangunan itu juga masih akan diuji lagi. Dijelaskan dalam 1 Korintus 3 : 12 ada dua (2) bentuk bangunan, yaitu:
- yang dibangun di atas dasar emas, perak dan batu permata
- yang dibangun di atas dasar kayu, rumput kering dan jerami
Kedua bentuk bangunan ini sama-sama akan diuji dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Bangunan yang sudah dibangun di atas dasar yang benar, yaitu yang berdasarkan korban Kristus dan yang dibangun di atas firman Tuhan “akan tahan uji.” Bagaikan emas, perak dan batu permata yang tahan dibakar, demikian juga kita akan tahan walau pun ujian itu datangnya seperti api (ayat 14). Dan setiap orang yang sudah tahan uji, ia akan mendapat upah yang besar, yaitu: berhak mendapatkan hidup yang kekal di dalam kerajaan sorga bersama-sama dengan Kristus.
Sebaliknya kalau bangunan itu tidak dibangun di atas dasar yang benar, maka bangunan itu akan hangus terbakar. Seperti kayu, rumput kering dan jerami yang mudah terbakar, demikianlah setiap orang yang tidak mau membangun rohaninya di atas dasar kebenaran, suatu saat akan hangus sebab tidak tahan uji (ayat 15). Dengan sendirinya ia akan meninggalkan Tuhan, meninggalkan pelayanan, bahkan akan merusak dirinya sendiri, merusak rumah tangganya sebab tidak ada firman Tuhan dalam hatinya. Seseorang yang tidak tahan uji, ia akan menderita kerugian yang sangat besar, pertama-tama hidupnya jauh dari pemeliharaan Tuhan selanjutnya kalau tidak bertobat, ia tidak akan layak masuk ke dalam kerajaan sorga. Kalau mau bertobat, ia masih bisa diselamatkan, tetapi seperti sesuatu yang dirampas dari dalam api.
Sejak dalam Keluaran 25 : 8 - 9 firman Tuhan sudah datang kepada bangsa Israel supaya membangun “tempat kudus” supaya Tuhan diam di tengah-tengah mereka. Tempat kudus itu dibangun harus sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan Tuhan sendiri, termasuk segala perabotan yang diperlukan untuk membangun, seluruhnya harus sesuai dengan ketentuan Tuhan sendiri.

Karena itu kalau kita dibangun menjadi bait Allah yang kudus tentu ada maksud dan tujuannya, yaitu:

1. Supaya menjadi tempat Allah menyatakan kehadiran-Nya, yaitu supaya persiapkan menjadi tubuh Kristus. Gereja Tuhan yang jadi tubuh Kristus inilah nantinya yang mendapat perhatian dari Tuhan secara sepenuh, dari hari kehari dibentuk sampai sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri.
2. Supaya kita mengetahui sampai di mana tingkat kerohanaian kita dalam mengikut Tuhan. Ini sangat perlu, sebab pada zaman sekarang ini banyak orang merasa sudah benar, merasa sudah kudus, merasa sudah jadi mempelai perempuan, padahal hidupnya jauh dari kebenaran, masih jauh dari kehendak Tuhan.
3. Supaya kita dipenuhi dengan kemuliaan Allah. Kemuliaan itu ditempatkan tidak disembarang tempat, tidak kepada semua orang, tidak di dalam gedung gereja tetapi di dalam diri gereja Tuhan yang sudah dibangun menjadi bait Allah yang kudus.

Jadi kalau kita mau dibangun menjadi bait Allah yang kudus, kita juga akan dibangun menjadi tubuh Kristus, yaitu menjadi sidang mempelai perempuan Kristus yang dikuduskan dan disempurnakan. HALELUYA ....... !!!!!

Rabu, 07 Juli 2010

Buletin J U L I 2010

“MEMANDANG SALIB KRISTUS”


Minggu - 04 Juli 2010



Melayani yang benar harus didasari dengan kasih dan dengan pengabdian diri secara sepenuhnya kepada Tuhan. Maka yang disebut melayani itu adalah seberapa besar kita telah berbuat bagi bagi Tuhan dan seberapa besar kita berguna baik kepada Tuhan mau pun kepada sesama manusia. Sebab yang disebut melayani bukan hanya sekedar melayani begitu saja dan bukan hanya sekedar berbuat begitu saja, tetapi dengan arah dan tujuan yang jelas.

Saudara-saudara, Tuhan ingin menguasai hati kita, hasrat atau pun keinginan kita, Dia mau supaya hanya Dia saja yang ada di dalam hati dan pikiran kita. Tetapi yang menjadi masalah adalah dari diri manusia itu sendiri. Sebab banyak orang tidak mau memperhatikan kebenaran dan tidak mau hidup sesuai dengan firman Tuhan. Kerinduan Tuhan Yesus supaya kita mampu menyangkal diri dan memikul salib setiap hari, tetapi banyak orang Kristen yang hidupnya tidak sesuai dengan keinginan Tuhan Yesus tersebut.

SALIB itu menunjuk kepada penderitaan, kita harus mampu mengikut Tuhan walau pun harus mengalami banyak penderitaan. Tetapi menderita disini bukan karena dosa atau karena pelanggaran, melainkan karena nama Tuhan, menderita karena mau melakukan firman Tuhan. Sama seperti Tuhan Yesus, ketika Ia disalibkan bukan karena dosa-Nya sendiri dan bukan karena kejahatan-Nya, tetapi karena dosa-dosa manusia. Ia tersalib supaya terbuka jalan keselamatan bagi kita, jalan yang membawa kita kepada kehendak Tuhan. Dan kehendak Tuhan itu ialah kita harus berjalan dalam salib, berjalan menuruti kehendak Tuhan. Berjalan dalam salib itu bukan karena paksaan dan bukan pula karena keinginan diri sendiri tetapi sepenuhnya harus karena kehendak Tuhan sendiri.
Yesus disalibkan bukan karena terpaksa tetapi murni karena kehendak Tuhan sendiri. Tetapi kalau kita lihat lewat salib itu Tuhan Yesus dipermuliakan, sebab sekali pun Ia telah mati namun Ia hidup kembali dan naik ke sorga dipermuliakan di dalam kerajaan-Nya.
Bagi kita sekarang, salib itu menjadi sumber pertolongan, sumber pengharapan, sumber keselamatan, sumber kemenangan, salib itu juga menjadi sumber pengurapan dari Roh Kudus yang bisa membawa kita untuk memperoleh kemenangan demi kemenangan. 1 Korintus 1 : 18 firman Tuhan berkata: “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”
- Bagi orang-orang yang akan binasa pemberitaan tentang salib itu adalah kebodohan, mereka menganggapnya sebagai suatu kebodohan karena mereka tidak sanggup menerima jalan salib tersebut. Maka kalau ada orang Kristen yang berani menolak salib, berarti ia sedang menolak firman Tuhan, ia sedang menolak kemuliaan = menolak sorga maka ia akan mati binasa di api neraka.

- Tetapi bagi kita, yang mau menderita karena mengikut Tuhan, pemberitaan tentang salib itu bukanlah suatu kebodohan, sebaliknya menjadi berkat. Sebab lewat salib itu kita telah diselamatkan, segala dosa dan pelanggaran kita telah dihapuskan dan lewat salib itu ada janji-janji Tuhan yang besar. Jadi bagi kita pemberitaan tentang salib itu merupakan kekuatan Allah, artinya kalau kita mau menderita karena firman Tuhan, maka kekuatan Allah akan diberikan kepada kita. Ada kekuatan atau kemampuan berjalan bersama dengan Kristus.

Roma 8 : 22 - 23 firman Tuhan menjelaskan jalan salib itu diibaratkan seperti “seorang ibu” yang sedang merasa sakit bersalin, yang mengalami banyak kesakitan. Tetapi jika tetap sabar, kesakitan itu akan berubah menjadi sukacita yang besar, sebab jika kita tetap setia mengikut Tuhan maka kita akan menerima karunia sulung Roh, Tuhan akan memenuhi kita dengan Roh Kudus-Nya yang memberi penghiburan dan pertolongan.
Sekali pun dalam memikul salib itu hati kita juga mengeluh, namun Tuhan akan memberi kekuatan dan penghiburan sambil kita menantikan pengangkatan, kita dipermuliakan bersama dengan Kristus dalam kemuliaan-Nya.

Saudara-saudara, pada hari-hari yang lalu kita sudah melihat Abraham sebagai contoh seorang yang hidup dalam iman, yang tetap percaya kepada Allah walau pun harus mengalami penderitaan yang besar. Namun Abraham tetap percaya dan berharap kepada Tuhan, oleh iman itu ia mampu meninggalkan negerinya, rumah bapanya dan sanak saudaranya. Dan oleh iman itu juga Abraham mampu berjalan dan pergi ke tempat yang belum pernah ia jalani. Kita bisa melihatnya dalam Kejadian 12 : 1 - 3 ketika pertama kali Allah mulai memanggil Abram supaya meninggalkan negerinya, rumah bapanya dan sanak saudaranya. Janji yang diberikan Tuhan kepadanya masih disebut “akan” yang berarti belum diberikan, tetapi masih akan diberikan. Tetapi sekali pun demikian, karena imannya ia tetap berjalan ke tempat yang telah dijanjikan Tuhan kepadanya.
Demikian juga setiap orang yang rindu disebut sebagai keturunan Abraham, kita harus mau meneladani sikap Abraham. Kalau kita sudah hidup dalam iman, maka iman itu akan kita pakai untuk memperoleh apa yang telah dijanjikan Tuhan. Dan kalau kita sudah hidup dalam iman, maka berkat Abraham akan turun kepada kita. Kalau kita sudah hidup dalam iman, berarti kita juga akan disebut sebagai anak-anak janji, yang telah dilahirkan dari benih ilahi. Maleakhi 2 : 15 yang paling diinginkan Tuhan adalah keturunan ilahi, inilah orang-orang yang telah dilahirkan dari Allah, yang sudah hidup dalam iman.
Karena itu supaya kita bisa hidup dalam iman, ada satu perkara yang sangat penting kita perhatikan, perkara ini sifatnya mengikat dan membuat manusia jauh dari kebenaran, yaitu “adat istiadat” atau ajaran turun temurn dari nenek moyang. Kolose 2 : 20 - 23 firman Tuhan menjelaskan yang disebut orang-orang merdeka adalah mereka yang sudah bebas dari roh-roh dunia. Apakah yang dimaksud dengan roh-roh dunia tersebut? yaitu rupa-rupa peraturan, perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia, yang tidak berdasarkan kebenaran = inilah adat istiadat tersebut.
Ajaran-ajaran manusia itu memang nampaknya penuh hikmat tetapi banyak peraturannya yang membuat manusia itu menjadi terikat, sehingga tidak heran banyak orang sukar sekali melepaskan diri dari adat istiadat. Kalau kita lihat sekarang ini banyak orang punya prinsip: lebih takut disebut tidak punya adat, lebih takut dikucilkan dari sanak saudara dari pada memperhatikan firman Tuhan. Ini prinsip yang salah, tidak boleh dipertahankan. Keselamatan itu kita peroleh hanya dari Tuhan Yesus lewat mengerjakan apa yang menjadi kehendak-Nya, bukan karena melakukan adat istiadat atau peraturan-peraturan manusia.

Maka setiap orang yang masih terikat dengan adat istiadat berarti:
- ia masih diikat oleh roh-roh dunia
- ia sedang menaklukkan dirinya pada rupa-rupa peraturan manusia yang tidak menurut firman
- ia bukan melakukan firman Tuhan tetapi ajaran manusia

Adat istiadat atau peraturan-peraturan manusai itu nampaknya memang baik, sepertinya bisa merendahkan diri dan sepertinya penuh hikmat, tetapi menurut firman Tuhan ini tidak berguna selain hanya untuk memuaskan hidup duniawi. Setiap orang yang masih terikat dengan adat istiadat atau ajaran-ajaran dari nenek moyang, ia sedang melakukannya untuk manusia bukan untuk Tuhan, ia sedang memuaskan hawa nafsunya. Kalau tetap seperti ini keselamatan yang dari pada Tuhan itu tidak akan menjadi miliknya. Sebab dalam Markus 7 : 7 - 9 Tuhan Yesus menjelaskan bagaimana bahaya adat istiadat tersebut. Walau pun beribadah bahkan sekalipun masih tetap melayani, tetapi kalau yang dilakukan itu hanya karena perintah manusia (adat istiadat = kebiasaan) dihadapan Tuhan semua itu percuma saja. Tuhan Yesus menyebutnya sebagai orang-orang yang munafik.
Jadi supaya kita bisa bebas dari roh-roh dunia atau dari adat istiadat, syaratnya: kita harus mampu menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Yaitu mengalami proses mati dan bangkit bersama dengan Kristus. Jadi setiap orang yang rela meninggal kan adat istiadatnya sama dengan merelakan diri untuk memandang salib Kristus, mau menderita karena melakukan firman Tuhan.
Galatia 5 : 16 jika kita sudah hidup oleh Roh, maka kita tidak akan menuruti keinginan daging, oleh Roh Kudus itu kita dapat mematikan segala keinginan daging. Sebaliknya kalau tidak hidup oleh Roh, ia akan selalu menuruti keinginan daging yang sebenarnya tidak dikehendakinya. Mengapa demikian? sebab di dalam dirinya tidak ada kekuatan atau kuasa untuk mematikan segala keinginan dagingnya.

Maka dalam 2 Korintus 5 : 17 firman Tuhan mengatakan yang layak disebut “di dalam Kristus” adalah mereka yang sudah diciptakan menjadi ciptaan baru, yaitu yang sudah mengalami tanda pembaharuan sehingga yang lama sudah berlalu dan sekarang yang datang adalah yang baru, yaitu perkara-perkara yang rohani.
DAUD adalah contoh orang yang cinta Tuhan, yang cinta kebenaran dan yang cinta firman Tuhan. 2 Samuel 16 : 5 - 14 sekalipun Daud pernah diejek bahkan dikutuki oleh Simei, tetapi Daud tidak tersinggung. Mengapa? sebab ia sudah hidup dalam Roh. Demikian lah setiap orang yang sudah hidup dalam Roh, ia akan dipimpin oleh Roh untuk menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.




“BERJALAN DALAM SALIB KRISTUS”

Minggu - 11 J u l y 2010


Terpujilah Tuhan kita, Yesus Kristus, Kepala gereja dan Mempelai Pria sorga yang menyertai dan yang memberkati kita terus menerus sampai Ia datang kembali. Kita patut bersyukur karena firman Tuhan terus menerus diperdengarkan dan diberikan kepada kita. Betapa pentingnya kita tetap memandang salib Kristus, sumber pertolongan bagi kita, sumber pengurapan dari Roh Kudus. Walaupun salib itu berbicara kepada kematian, tetapi inilah sumber yang menghidupkan kita supaya kita semua layak disebut milik Kristus. Kita semua harus mau berjalan dalam salib Kristus.
Dalam Ibadah pendalaman Alkitab, pada hari-hari yang lalu, kita sudah melihat bahwa untuk mendapatkan minyak urapan harus terbuat dari bahan-bahan yang telah ditentukan sendiri oleh Tuhan, tidak boleh ditambah dengan bahan-bahan yang lain, sepenuhnya Tuhan yang menentukan. Yaitu dari rempah-rempah pilihan, seperti mur tetesan lima ratus syikal, kayu manis, tebu yang baik, kayu teja dan minyak zaitun (Keluaran 30 : 22 - 25).
Khusus untuk mendapatkan mur tetesan lima ratus syikal, pohonnya harus dilukai supaya keluar tetesan mur. Ini berbicara jalan salib, sebagai umat Tuhan kita harus tetap berjalan di dalam salib supaya Roh Kudus mengurapi kita. Jalan salib = menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Sebelum Yesus disalibkan, terlebih dahulu Ia harus mengalami penderitaan yang begitu berat setelah itu barulah Ia mati di kayu salib, darah-Nya menetes bagaikan tetesan minyak mur yang keluar dari pohon yang telah dilukai. Kalau Saudara mau hidup rohanimu, harus mau menghargai salib Kristus.

Jadi mur tetesan itu menunjuk jalan salib, Tuhan Yesus sedang membawa kita berjalan dalam jalan salib supaya kita bisa mati terhadap segala keinginan diri sendiri, mati terhadap ego.

Angka lima ratus syikal = angka penuntasan terhadap segala keinginan daging. Setiap orang yang ingin diurapi oleh Roh Kudus, ia harus mau mematikan segala keinginan dagingnya.

Jalan salib itu bukan jalan yang tepaksa, Yesus mati di kayu salib bukan karena terpaksa, tetapi karena telah ditentukan sendiri oleh Tuhan supaya menjadi korban penebusan dan pendamaian bagi kita. Kalau seandainya Tuhan Yesus tidak rela mati di kayu, atau jika seandainya Yesus karena terpaksa saja mati di kayu salib, maka keselamatan tidak akan pernah menjasdi milik kita, dar tidak akan ada satu paku pun yang bisa menembus tangan-Nya atau kaki-Nya. Karena itu kalau pun sekarang ini Tuhan sengaja membawa kita berjalan dalam salib, jangan dengan paksaan tetapi harus dengan kerelaan, jalani semua dengan sukacita. Sebab kalau dengan paksaan maka Saudara tidak akan pernah melihat mujizat yang besar, tidak akan pernah mengalami keselamatan dan tidak mungkin bisa masuk ke dalam kerajaan sorga. Kalau pun dengan seijin Tuhan kita harus berjalan dalam salib, jangan mengelak dan jangan dengan paksaan, INGAT! ini jalan untuk mendekatkan kita kepada Tuhan.

Yesaya 53 : 3 - 5 nubuat tentang penderitaan yang dialami Tuhan Yesus. Kematian Kristus di kayu salib adalah untuk menanggung penyakit kita, kesengsaraan kita, kita dan pemberontakankejahatan kita. Oleh kematian Yesus di kayu salib, maka ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita telah ditimpakan kepada Tuhan Yesus (=jalan salib). Sehingga sekali pun kita sedang mengalami banyak penderitaan, itu bukan lagi karena dosa tetapi karena seijin Tuhan, kita harus menjalaninya dengan kerelaan.
Jalan salib adalah jalan yang telah ditentukan Tuhan supaya kita diselamatkan, supaya kita diberkati, supaya kita dipelihara sampai kepada kedatangan-Nya yang kedua kali. Kita lihat dalam Filipi 1 : 29 firman Tuhan menjelaskan: kepada kita dikaruniakan bukan hanya percaya saja, tetapi menderita untuk Kristus (=jalan dalam salib). Jadi kalau kita mau menderita karena Kristus, menderita karena melakukan kebenaran, penderitaan yang kita alami itu adalah untuk Kristus. Kalau hanya untuk percaya saja siapa pun bisa, apalagi kalau hanya untuk diberkati, pasti lebih banyak orang percaya kepada Tuhan. Tetapi bagaimana jika Saudara sedang dibawa berjalan dalam salib, apakah Saudara mau? Tidak ada jalan lain yang bisa menyelamatkan kita dari dosa, tidak ada jalan lain yang bisa membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, selain jalan dalam salib.

Salah satu jemaat yang berjalan dalam jalan salib adalah jemaat di Tesalonika, yang berhasil hidup dalam iman, tetap berharap kepada Tuhan dan hidup dalam kasih sehingga Tuhan sendiri telah memilih mereka. Dalam terang Tabernakel kitab Tesalonika ini berbicara pakaian imam, yang menunjuk sikap dan perbuatan yang benar sehingga kita layak disebut sebagai imam-imam bagi Allah. Artinya jika kita ingin seperti jemaat di Tesalonika yang berhasil menjadi orang yang dipilih oleh Tuhan, maka kita juga harus mau berjalan dalam jalan salib. 1 Tesalonika 1 : 6 dijelaskan: sekali pun jemaat di Tesalonika ini hidup dalam penindasan yang berat, tetapi mereka berhasil menerima firman Tuhan dengan sukacita, bukan dengan paksaan dan Roh Kudus pun bekerja dengan leluasa dalam hidup mereka. Sehingga firman Tuhan mengatakan bahwa mereka telah berhasil menjadi teladan untuk semua orang (ayat 7).

Proses supaya kita bisa berjalan dalam salib:
- kita harus mau hidup dalam kebenaran,
- kita harus diurapi dengan Roh Kudus.

Firman Tuhan dalam 1 Petrus 4 : 12 - 16 menjelaskan penderitaan itu bentuknya seperti nyala api siksaan yang datang sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kita. Tetapi sekali pun demikian, karena penderitaan itu seijin Tuhan, kita harus bergembira dan bersukacita menerimanya, jangan dengan paksaan dan jangan menolak jika hal ini datang menimpa kita. Kalau kita sabar, berkatnya maka Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada pada kita.
Demikian juga dalam 2 Korintus 4 : 16 - 17 firman Tuhan mengatakan Tuhan sedang membawa kita masuk ke dalam penderitaan, untuk itu kita tidak boleh tawar hati. Mengapa? sebab penderitaan itu mengerjakan bagi kita kemuliaan yang kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari penderitaan yang sedang kita alami. Sebab justru lewat penderitaan itu manusia batiniah kita sedang dibaharui dari sehari ke sehari sampai kita memperoleh kemuliaan yang kekal (ayat 18). Penderitaan yang datang dengan seijin Tuhan itu berfungsi untuk membaharui kita, termasuk hati dan pikiran, supaya tetap berharap hanya kepada Tuhan saja, tidak mengandalkan diri sendiri apalagi tidak mengandalkan orang lain.
Hidup manusia itu sebenarnya sangat singkat dan tidak banyak yang bisa diperbuat. Tidak ada jalan lain yang bisa membawa kita kepada kehidupan yang kekal selain lewat jalan salib. Dunia ini memang selalu menawarkan yang baik-baik, banyak orang yang ingin kaya, jabatan yang bagus, pekerjaan yang bagus, usaha yang maju, tidak sadar mereka sedang tertipu.
Bahkan dalam pelayanan banyak orang berkhotbah hanya berfokus kepada berkat-berkat saja, khotbah yang paling dikejar orang adalah khotbah soal berkat-berkat jasmani. dan kesembuhan secara jasmani saja. Mereka tidak sadar bahwa perkara-perkara yang jasmani itu bisa membawa mereka jauh dari pada Tuhan. Wahyu 2 : 4 - 5 firman Tuhan menjelaskan tentang keadaan jemaat di Efesus yang ditegur oleh Tuhan dengan keras sebab ada pekerjaan mereka yang tidak berkenan kepada Tuhan. Firman Tuhan mengatakan bahwa kejatuhan yang paling dalam itu bukan karena berzinah, bukan karena mencuri atau membunuh. Tetapi dimata Tuhan, kejatuhan yang paling dalam adalah meninggalkan kasih yang mula-mula. Meninggalkan kasih yang mula-mula itu juga termasuk di dalamnya karena tidak mau lagi menderita karena kebenaran, tidak mau menderita karena melakukan firman Tuhan, dengan kata lain tidak mau berjalan dalam salib.
Sauadara-saudara, kita semua mempunyai jalan salib masing-masing. Baik sebagai suami mempunyai jalan salib sendiri, baik sebagai istri mempunyai jalan salib sendiri, demikian juga sebagai hamba Tuhan mempunyai jalan salib sendiri. Seorang yang sedang mengalami jalan salib karena Kristus tidak boleh digantikan dengan yang lain. Misalnya suami tidak bisa menyerahkan jalan salibnya kepada istri demikian sebaliknya istri tidak bisa menyerahkan jalan salibnya kepada suaminya. Masing-masing harus menjalaninya dengan taat dan setia sambil beribadah dan melayani Tuhan. Sebagai seorang suami ataupun sebagai seorang istri, harus mau memikul salib yang telah dipikulkan Tuhan kepadanya, tidak boleh diserahkan kepada yang lain.
Orang yang mau berjalan dalam salib Kristus, yang mau menderita karena melakukan firman Tuhan, berkatnya: pandangannya akan diubahkan oleh Tuhan. Fokus pandangannya bukan kepada yang sementara, bukan kepada yang dapat kelihatan, tetapi kepada yang tidak dapat kelihatan, yaitu yang kekal.

MUSA
adalah contoh orang yang sudah diubahkan pandangannya. Ibrani 11 : 24 - 26:
- mampu menolak disebut sebagai putri Firaun (=berubah menjadi anak Tuhan)
- lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah (=mau berjalan dalam jalan salib)
- menganggap penderitaan itu sebagai kekayaan yang lebih besar dari semua harta Mesir (=membuat jalan salib itu sebagai kebanggan bukan karena paksaan).

Sebagai jemaat Tuhan, kita patut kagum melihat tindakan Musa ini sebab, yang ditinggalkan Musa di Mesir itu bukan harta yang sedikit, bukan jabatan yang rendah, tetapi kekayaan yang luar biasa besarnya. Namun walaupun demikian Musa mampu meninggalkan semua itu setelah pandangannya diubah, sekarang pandangannya sudah diarahkan kepada upah, yaitu untuk memperoleh hidup yang kekal.
Demikian juga kalau kita mau meniru sikap Musa tersebut, jika kita mau berjalan dalam salib Kristus, pandangan kita juga akan diubahkan untuk memperoleh hidup yang kekal di dalam kerajaan Sorga. Karena itu jangan mengelak dari jalan salib yang sudah ditentukan Tuhan untuk kita jalani, jangan bersungut-sungut dan jangan menganggap penderitaan itu sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan. Ingat! dibalik jalan salib itu sudah tersedia berkat yang besar, sudah tersedia hidup kekal yang disediakan bagi kita di dalam kerajaan sorga.
H A L E L U Y A ..................!!!!!!!!!!!!!



“BERJALAN DALAM SALIB KRISTUS”


Minggu - 18 July 2010


SALIB adalah hikmat Tuhan yang sanggup membawa kita kepada keselamatan, hikmat Tuhan yang bisa membawa kita mendekat kepada Allah. Maka bagi kita jalan salib itu adalah jalan yang sudah ditentukan untuk kita jalani, tidak ada seorang pun yang bisa mengelak dari jalan salib ini.
Kalau Tuhan sengaja membawa kita berjalan dalam salib, berarti Tuhan sedang mengajar supaya kita bisa menjadi nol, yaitu menganggap diri tidak ada apa-apanya, tidak lagi mengandalkan diri sendiri tetapi sepenuhnya sudah bergantung harap hanya kepada Tuhan Yesus saja. Dalam 2 Korintus 12 : 7 - 10 firman Tuhan menjelaskan apa yang dialami oleh rasul Paulus ketika di dalam dirinya Tuhan sengaja menaruh suatu “duri” di dalam dagingnya.
Duri dalam daging itu adalah utusan iblis yang datang untuk menggocoh (=mengacau) hidupnya. Paulus sebagai rasul Kristus sudah tiga kali berseru kepada Tuhan supaya utusan iblis itu undur dari padanya, tetapi Tuhan tidak menjawab doanya, duri dalam dagingnya itu tidak dicabut. Justru Tuhan berkata kepadanya: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Tuhan Allah sengaja mengijinkan utusan iblis itu bagaikan duri dalam daging supaya Paulus tetap bersandar hanya kepada Tuhan dan supaya Paulus jangan sampai mengandalkan kehebatannya.
Intinya:
- Tuhan mau supaya hanya Dia saja yang lebih dominan dalam hidupnya.
- Tuhan mau hanya Dia saja diandalkan.


Mazmur 49 : 6 - 8 ciri-ciri atau keadaan manusia kalau Tuhan tidak dominan di dalam dirinya:
- menaruh percaya hanya kepada harta benda.
- kemegahan/kebanggaannya hanya kepada banyaknya harta kekayaannya.


Firman Tuhan dalam Mazmur 49 : 8 - 9 mengatakan “Tidak seorang pun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya.”

Saudara-saudara, kalau bukan Tuhan yang dominan maka tidak ada seorang pun yang dapat membebaskan dirinya dari dosa atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya. Mengapa? karena seberapa pun besarnya harta kekayaan yang kita miliki, semua itu tidak bisa membebaskan kita dari dosa. Walaupun hartanya melimpah, walau pun pangkatnya tinggi, jabatannya juga tinggi, ini juga tidak bisa melepaskan manusia dari dosa.
Justru firman Tuhan dengan tegas mengatakan: “Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.” Jadi kalau bukan Tuhan yang lebih dominan di dalam diri manusia, nasib manusia itu akan menjadi sama dengan binatang (ayat 21). Mereka akan sama seperti domba yang meluncur ke dunia orang mati, digembalakan langsung oleh maut. Selama manusia itu bergantung kepada apa yang ada padanya, semua itu bisa berubah, semua bisa mengecewakan dan semua bisa meninggalkannya dengan tiba-tiba.
- Ketika engkau punya sahabat, saudara atau orang yang paling dekat dengan dirimu, suatu saat mereka bisa saja meninggalkan engkau.
- Ketika engkau punya segala-galanya, engkau dihormati orang lain, banyak orang yang kagum karena kekayaan atau karena jabatanmu, tetapi ketika engkau tidak punya apa-apa lagi mereka semua dengan segera akan meninggalkan engkau.

Itulah dunia dan itulah juga sifat manusia, sifatnya tidak kekal hanya sementara saja, semua bisa berubah dengan segera. Hanya satu saja sifatnya yang kekal, yaitu jika kita berjalan bersama dengan Kristus dalam jalan salib, Tuhan Yesus pasti setia menemani kita sampai berhasil masuk ke dalam kerajaan sorga. Satu-satunya yang bisa membebaskan kita dari dosa hanyalah darah Kristus yang telah memperdamaikan kita dengan Bapa di sorga. Karena itu kalau Saudara ingin diperdamaikan dengan Kristus, harus ada kerelaan berjalan bersama dengan Kristus dalam salib. Bagi Tuhan tidak terlalu sulit untuk memberikan pertolongan.
Saudara-saudara, sebenarnya tidak terlalu sulit bagi Tuhan untuk melepaskan bangsa Israel dari Mesir, dan tidak terlalu sulit bagi Tuhan untuk memberikan apa yang mereka perlukan di padang gurun, ketika bangsa Israel keluar Tuhan bersedia mencukupkan segala kebutuhan mereka. Tetapi yang jadi masalah adalah dari pihak bangsa Israel sendiri, yaitu karena mereka tidak dapat mengikuti apa yang menjadi kehendak Tuhan, mereka tidak taat dan tidak dengar-dengaran kepada firman Tuhan. Bangsa Israel tidak dapat mengalahkan kehendak diri sendiri = tidak mampu berjalan dalam salib.
Sebagai jemaat Tuhan yang benar, kita harus tahu bahwa kita di dunia ini hanyalah sebagai PENDATANG & PERANTAU (1 Petrus 2 : 11).
Maksudnya adalah:
- Tuhan mau supaya kita semua tidak terikat dengan perkara-perkara yang duniawi.
- Tuhan mau supaya hanya Dia saja yang lebih dominan dalam hidup kita.

Sehingga kalaupun Tuhan sengaja mengijinkan kita berjalan dalam salib, pederitaan atau pencobaan itu datang silih berganti, ingat! Tuhan selalu bersedia memberi jalan keluarnya, Dia pasti akan memberi pertolongan tepat pada waktunya.
1 Raja-raja 18 : 36 - 40 ketika nabi Elia berhadapan dengan nabi-nabi Baal, bangsa Israel sudah beribadah kepada allah lain. Dan setelah nabi Elia memperbaiki mezbah dan ia sendiri berdoa kepada Tuhan memohon supaya Tuhan menjawab doanya, setelah Tuhan melihat Elia sudah menyerahkan dirinya kepada Tuhan, maka Tuhan pun menjawab doanya.
Musa sebelum diutus ke Mesir memang sudah punya tongkat, tetapi tongkatnya ini belum punya kuasa, ketika tongkatnya itu dilemparkan ke tanah tongkat itu berubah menjadi ular. Ini berbicara sebelum Tuhan mendominasi dalam hidup manusia, maka kuasa Tuhan tidak akan menjadi nyata. Tetapi setelah Tuhan mendominasi dalam hidupnya dan setelah pola pikir Musa diubahkan, tongkat yang ditangan Musa itu menjadi tongkat Tuhan yang dipakai untuk menunjukkan kuasa Tuhan baik kepada orang Mesir mau pun kepada bangsa Israel sendiri bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya yang sanggup memberi kelepasan dari Mesir. Tongkat inilah yang dipakai oleh Musa untuk mengadakan mujizat selama di padang gurun, dan tongkat inilah juga yang dipakai untuk memimpin mereka selama di padang gurun. Supaya bangsa Israel mampu berjalan di padang gurun, kemampuan Tuhan harus di atas segala-galanya.
Saudara-saudara, jalan salib itu berfungsi membuat hidup kita menjadi tidak kelihatan lagi (=dihadapan Tuhan menjadi nol) namun lewat jalan salib itu juga kuasa Tuhan akan menjadi nyata yang memberi pertolongan tepat pada waktunya. Asalkan Kristus yang mendominasi dalam hiaup kita, maka kuasa Tuhan itu akan memimpin hidup kita. Tuhan itu akan hidup di dalam kita, kuasa Tuhan itu akan menjadi nyata dalam kehidupan kita yang dikendalikan oleh Tuhan.
Yeremia 29 : 11
menjelaskan rancangan Tuhan dalam hidup kita bukanlah rancangan kecelakaan, tetapi rancangan yang mendatangkan damai sejahtera untuk memberikan hari depan yang penuh harapan. Teladan supaya kita bisa berjalan dalam salib adalah pribadi Tuhan Yesus sendiri yang telah meninggalkan teladan yang baik kepada kita semua. Kristus telah menderita untuk kita maka kita wajib mengikuti teladannya tersebut, kita harus mengikuti jejak-Nya (1 Petrus 2 : 21). Jika sudah demikian, maka kasih karunia Allah akan nyata dalam hidup kita, kita hidup tetapi bukan kita lagi melainkan Kristus yang diam di dalam kita.



“BERJALAN DALAM SALIB KRISTUS”


Minggu - 25 Juli 2010


Mengapa kita harus beribadah?
Tujuannya : untuk membawa kepada Tuhan sebuah persembahan yang hidup dan yang berkenan kepada-Nya, yaitu tubuh kita sendiri.
Kita datang beribadah ke gereja jangan karena suatu aturan dan peraturan, jangan hanya karena agama Kristen, jangan hanya untuk bertemu dengan teman-teman yang lain, bukan supaya dikenal oleh orang lain, tetapi sepenuhnya untuk membawa dan mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan, supaya hidup kita bisa berkenan kepada Tuhan. Beribadah itu bukan hanya sekedar datang ke gereja saja, beribadah itu bukan hanya sekedar membawa korban persembahan, tetapi untuk menyenangkan hati Tuhan dan untuk mengambil hati Tuhan.

Kejadian 4 : 1 - 7 Adam mempunyai dua orang anak, yang pertama bernama Kain dan yang kedua bernama Habel. Kain menjadi seorang “petani” yang mengusahakan tanah yang telah dikutuk karena dosa, sedangkan Habel menjadi seorang “gembala” kambing domba.Setelah mereka besar, mereka sama-sama beribadah dan berkorban kepada Tuhan. Kain mempersem-bahkan sebagian dari hasil tanahnya, sedangkan Habel mempersembahkan korban persembahan dari “anak sulung” kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya.

Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan Tuhan, sedangkan Habel diindahkan Tuhan. Karena persembahan Kain tidak diindahkan Tuhan, maka hatinya menjadi panas dan mukanya muram.Walau pun firman Tuhan datang mengingatkan Kain tetapi Kain tidak memperhatikannya, sehingga Kain menjadi seorang pembunuh dan yang dibunuhnya adalah saudara kandungnya sendiri, bukan orang lain.

Yang perlu kita pelajari dari ayat tersebut di atas adalah bahwa ibadah dan persembahan yang benar itu harus didasari dengan adanya korban yang benar, yang di dalamnya ada penumpahan darah sebagai lambang korban Kristus di kayu salib sebagai Anak Domba yang disembelih.
Kain dan korban persembahannya tidak diindah kan Tuhan, karena yang dipersembahkan adalah dari hasil tanah. Segala sesuatu yang dipersembahkan kepada Tuhan jika berasal dari tanah, maka persembahan itu tidak mungkin bisa berkenan kepada Tuhan. Mengapa? karena tanah itu sudah dikutuk oleh Allah ketika Adam dan istrinya sudah jatuh ke dalam dosa. Kejadian 2 : 7 manusia itu dibuat dan dibentuk oleh Allah dari debu tanah menjadi makhluk yang hidup. Sedangkan dalam Kejadian 3 : 17 tanah itu menjadi terkutuk setelah Adam dan istrinya jatuh ke dalam dosa. Jadi yang dipersembahkan Kain kepada Tuhan adalah hasil tanah yang telah dikutuk.

Bagi kita sekarang, arti korban persembahan dari hasil tanah itu sama dengan ibadah dan pelayanan yang bercampur dengan keinginan daging. Segala sesuatu yang dipersembahkan kepada Tuhan yang bercampur dengan keinginan daging, atau untuk kepentingan diri sendiri saja, tidak mungkin bisa berkenan kepada Allah.

Yohanes 3 : 6 Tuhan Yesus berkata kepada Nikodemus: “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah Roh.” Setiap orang yang dilahirkan dari daging kalau belum mengalami tanda keubahan hidup, ia sama seperti angin yang bertiup ke mana ia mau, memang orang bisa mendengar suaranya tetapi kita tidak tahu dari mana ia datang dan ke mana ia pergi (ayat 8a). Walaupun sudah seperti Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi, kalau tidak mengalami tanda kelahiran baru, ia hanya seperti angin saja.

Berbeda dengan Habel dan korban persembahannya, karena yang dipersembahkan itu adalah anak sulung dari kambing domba, maka Habel dan korban persembahannya diindahkan oleh Tuhan. Tuhan Allah sangat berkenan jika yang dipersembahkan itu dari ternak peliharaan.

Kambing domba itu adalah ternak peliharaan, yang mau dijaga dan dipelihara dengan baik dalam penggembalaan. Ini menunjuk sikap hidup yang benar, jemaat yang mau digembalakan dalam ibadah dan penggembalaan yang benar, yang mau dipimpin dan dipelihara dengan firman Tuhan. Sebab jika kita sudah hidup di dalam ibadah dan penggembalaan yang benar, maka kita juga akan disebut sebagai “domba-dombanya Tuhan” yang digembalakan dalam firman pengajaran.
Tuhan Yesus Kristus juga disebut sebagai “Anak Domba Allah” yang telah disembelih (Wahyu 5 : 6, 9) karena Yesus mau menurut dan melakukan seluruh kehendak Bapa. Karena itu jika kita mau melakukan seluruh kehendak Tuhan, kita juga akan disebut sebagai domba-dombanya Tuhan yang digembalakan dalam firman pengajaran.
DOMBA = gambaran pribadi Yesus . Maka setiap orang yang di dalam dirinya sudah ada pribadi Yesus Kristus, sudah ada sikap seperti domba yang telah dipelihara, maka ibadah dan persembahan kita juga pasti akan berkenan kepada Tuhan.

Sebab arti yang sesungguhnya “mempersembahkan kambing domba” itu sama dengan:
- mempersembahkan sikap hidup yang benar, bagaikan domba yang disembelih supaya bisadipersembahkan di atas mezbah.
- mau berjalan dalam jalan salib, sama seperti domba yang disembelih memang sakit tetapi domba itu tidak mengelak ketika disembelih.


Jadi jelas, Kain dan korban persembahannya tidak di-indahkan Tuhan karena yang dipersembahkan adalah dari hasil tanah, persembahan yang tidak ditandai dengan sikap hidup yang benar. Setiap orang yang tidak berhasil mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan, sikap hidupnya:
- tidak dapat menerima orang lain.
- di dalam dirinya hanya ada kebencian dan iri hati.
Puncaknya: Kain menjadi seorang pembunuh dan yang dibunuhnya adalah adik kandungnya sendiri, satu ayah dan satu ibu. Jadi Kain adalah gambaran orang Kristen yang tidak berhasil mempersembahkan sikap yang benar kepada Tuhan.

Dalam Filipi 1 : 21 ada dua (2) hal penting yang perlu kita perhatikan, yaitu:
- HIDUP ADALAH KRISTUS
- MATI ADALAH KEUNTUNGAN

Ayat firman Tuhan ini berbicara sikap hidup orang Kristen yang benar, yang di dalam dirinya pribadi Kristus benar-benar nyata, jadi baik ketika hidup bahkan ketika mati sekalipun dalam kuasa Tuhan.
Sebagai jemaat Tuhan maupun sebagai hamba Tuhan, kita hidup harus untuk Kristus, hidup jangan hanya untuk diri sendiri, jangan hanya untuk istri, suami atau anak-anak, hidup itu bukan hanya untuk orang lain, tetapi sepenuhnya untuk Kristus. Kita harus sama seperti domba yang disembelih, baik ketika hidup mau pun setelah mati sama-sama berguna untuk Tuhan.
Kalau hidup bukan untuk Tuhan, berarti ia hidup hanya untuk dirinya sendiri, hanya untuk istri, untuk suami atau untuk anak-anaknya saja. Orang yang seperti ini pasti akan ditolak oleh Tuhan, sama seperti Tuhan menolak Kain dan korban persembahannya yang berasal dari tanah, demikianlah ia akan ditolak walaupun ia berkorban juga. Habel dan korban persembahannya diindahkan Tuhan karena yang dipersembahkan dari kambing domba, rohaninya hidup, ibadahnya hidup maka persembahannya pun harum dihadapan Tuhan.
Galatia 2 : 19 - 20 firman Tuhan menjelaskan, jika kita sudah mati oleh hukum Taurat dan untuk hukum Taurat, maka kita akan hidup untuk Allah. Sehingga sekali pun kita hidup, tetapi bukan hanya kita sendiri lagi yang hidup, melainkan Kristus juga sudah hidup di dalam hidup kita. Setelah itu barulah kita bisa menyerah kan seluruh hidup sebagai persembahan yang benar.