Selasa, 12 Januari 2010

Buletin Minggu - JANUARI 2010

“TAHUN BARU TAHUN PEMBAHARUAN”

Minggu - 10 Januari 2010

Saudara-saudara, tema “Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini” (Wahyu 21 : 7) adalah tema kita untuk tahun ini, supaya di tahun 2010 ini kita dibekali lebih dahulu dengan firman Tuhan. Wahyu 21 : 5 = puncak kemenangan itu sendiri adalah Tuhan menjadikan segala sesuatu menjadi baru. Artinya: supaya kita bisa mengalami kemenangan demi kemenangan bersama dengan Kristus, lebih dahulu kita harus mengalami “tanda keubahan hidup” atau “tanda pembaharuan” yaitu hidup yang sudah dibaharui dalam segala hal baik dari sifat-sifat mau pun dari karakter.
Berbicara “tanda keubahan hidup” sangat identik dengan kedatangan Tuhan yang kedua kali, sebab kalau ingin masuk ke dalam sorga, harus mengalami tanda pembaharuan.

Mengapa harus mengalami tanda pembaharuan?

Firman Tuhan dalam 1 Korintus 15 : 50 menjelaskan kepada kita bahwa “darah” dan “daging” tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa. Ini berarti kalau seseorang itu belum mengalami tanda pembaharuan, maka sudah pasti ia tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah, tidak layak masuk ke dalam sorga.
Maka pada saat Tuhan Yesus datang kembali ada dua (2) garis akhir dari hidup manusia:
- mati sebelum diubah = jangan harap bisa masuk ke dalam kerajaan Allah.
- kalau hidup, harus mengalami tanda keubahan
supaya layak mendapat bagian dalam sorga.
Pada zaman Nuh, orang-orang yang berada dalam penghukuman air bah, semuanya adalah orang-orang yang sudah rusak hidupnya. Kejadian 6 : 11 - 12 firman Tuhan memperlihatkan kepada kita, bahwa bumi telah rusak dihadapan Allah dan penuh dengan kekerasan sebab semua manusia selalu menjalankan hidup yang rusak. Yang rusak bukan hanya hidup pribadinya saja, tetapi termasuk rumah tangga/keluarga, ibadahnya maupun pelayanannya.
Demikian juga pada zaman akhir ini, kalau kita lihat sekarang ini banyak orang hanya memfokuskan diri kepada perkara-perkara yang lahiriah saja, banyak pengajaran-pengajaran yang hanya berfokus perkara-perkara kepada jasmani saja. Dalam pemberitaan hanya mengajarkan tentang berkat-berkat, tentang kesembuhan, seolah-olah mengikut Tuhan itu hanya sekedar sembuh atau sekedar kaya saja.
Padahal dalam Matius 24 : 32 - 35, Tuhan Yesus sudah memberikan satu palajaran yang sangat penting, yaitu tentang “pohon ara” apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, berarti musim panas sudah dekat. Ini berbicara tentang kedatangan Tuhan yang sudah dekat.
Pelajaran tentang “pohon ara” ini adalah pelajaran tentang “tanda keubahan hidup” yang menunjuk kepada kehidupan yang sudah mengalami tanda pembaharuan.

POHON ARA = adalah pohon yang pernah dikutuk oleh Yesus karena tidak berbuah. Ini menunjuk keadaan manusia sebelum mengalami tanda pembaharuan, setiap orang yang masih tetap dalam dosa dan pelanggaran berada dalam kutuk.
Namun demikian pohon ara ini juga berbicara kepada gereja Tuhan yang sudah diampuni dosanya, yang dikuduskan dan yang dipersiapkan menjadi sidang mempelai perempuan Kristus. Maka kalau pohon ara sudah mulai melembut dan mulai bertunas, maka pohon ara akan bertunas dan berbuah. Demikian juga jika gereja Tuhan yang berasal dari bangsa kafir itu sudah mulai membuka hati dan menerima firman Tuhan, maka saatnya gereja itu akan dipulihkan, akan diubahkan dari manusia yang dahulu terkutuk supaya menjadi umat Allah.

Dalam Kidung Agung 2 : 11 - 13 dijelaskan juga tentang pohon ara jika musim dingin telah lewat, berarti musim panas sudah mulai saat itulah pohon ara mulai bertunas dan berbuah. Ini sama seperti yang telah dikatakan di atas, jika rohani sudah mengalami tanda keubahan, pasti ada semangat baru atau gairah untuk melakukan firman Tuhan. Sehingga Allah akan menunjukkan penyertaan-Nya kepada kita dalam segala hal.
Sebaliknya Yesaya 1 : 4 - 8 kalau tidak mengalami tanda pembaharuan akan masuk ke dalam celaka, akan dipukul mulai dari kaki sampai kepala, semua menjadi sakit. Ini menjadi peringatan khusus kepada orang yang tidak mengalami tanda pembaharuan.

Proses tanda keubahan itu pertama-tama akan nampak dalam hal “memperhatikan”, ada sikap mendengar dan menerima firman Tuhan. 2 Petrus 1 : 19 memperhatikan firman sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap. Artinya: jika kita mau memperhatikan firman Tuhan, maka firman itu akan menjadi terang sehingga kita tidak lagi hidup di dalam kegelapan. Bahkan dalam Yohanes 1 : 4 telah dikatakan jika kita sudah berada di dalam Dia (=di dalam firman) maka di dalam hidup kita sudah ada hidup, dan hidup itulah yang menjadi terang manusia. Itu sebabnya orang yang paling berbahagia adalah mereka, yang di dalam hidupnya sudah ada terang firman Tuhan.
Karena itu sebagai jemaat Tuhan, kalau Saudara rindu memperoleh hidup yang kekal, harus mau memperhatikan firman Tuhan, di dalam diri kita harus ada sikap beribadah yang benar dan ada kerelaan untuk melayani Tuhan. Sebab jika di dalam diri kita sudah ada sikap memperhatikan firman Tuhan, maka firman itu akan membawa kita juga untuk memperhatikan ibadah dan pelayanan sehingga kita dapat beribadah yang benar dan membawa korban yang harum bagi Tuhan kita.
Karena itu untuk mempercepat proses supaya berhasil memiliki tanda keubahan dalam hidup, ada dua (2) hal penting yang harus kita perhatikan, yaitu:
1. Tingkatkan persekutuan dengan Tuhan dalam
doa dan penyembahan yang benar.
Supaya hal ini bisa terwujud, Lukas 9 : 28 - 29 penyem-bahan yang benar itu harus diawali dahulu dengan firman pengajaran, sesuai dengan skema Tabernakel yang dimulai dengan Meja Roti Sajian, Pelita kemudian Mezbah Dupa. Jadi penyembahan yang benar tidak akan pernah terwujud kalau di dalam hidup kita tidak ada terang firman Tuhan maupun urapan dari Roh Kudus. Kalau ada penyembahan yang benar, ada dua yang akan berubah, yaitu: WAJAH & PAKAIAN.
Wajah = berkaitan dengan hati, setiap orang akan nampak dari wajahnya. Kalau hati sedang susah, akan nampak dari wajahnya yang murung, demikian sebalik nya kalau hati sedang gembira akan nampak juga dari wajahnya yang ceria.
Pakaian = berbicara sifat atau karakter dan tingkah laku, setiap orang yang sudah hidup dalam penyembahan yang benar, akan nampak dari sikap dan perbuatannya sehari-hari. Jadi kalau penyembahan sudah ditingkat kan, maka tanda keubahan itu akan nampak baik perkara dalam maupun perkara luarnya.
2. Ada kerelaan menderita/sengsara.
Menderita atau sengsara yang dimaksud bukanlah karena dosa, tetapi karena melakukan firman Tuhan. 2 Korintus 4 : 14 - 16 ketika manusia lahiriah semakin merosot, bahkan sekali pun sedang menghadapi maut, jangan tawar hati. Mengapa harus demikian? Sebab semua penderitaan itu sengaja Tuhan ijinkan terjadi, tujuannya untuk mengerjakan kemuliaan kekal yang melebihi segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Rasul Paulus mengatakan semua penderitaan itu hanyalah pende-ritaan biasa saja, maka kita tidak perlu takut menghadapi penderitaan.
Matius 6 : 25 - 26 kalau pandangan rohani kita sudah diubahkan, hasilnya : kita akan hidup tanpa kekuatiran. Ayat 27 = jika hidup dalam kekuatiran tidak dapat menambahkan sehasta pun pada jalan hidupnya, tetapi jika hidup tanpa kekuatiran: Tuhan sendiri yang akan menambahkan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan kita (ayat 33).


“PELAJARAN TENTANG POHON ARA”

Minggu - 24 Januari 2010

Puji Tuhan!
Kita sudah melihat dan mempelajari tentang pohon ara, suatu pelajaran yang sangat penting kita ketahui sebab pelajaran tentang pohon ara ini adalah pelajaran tentang "tanda keubahan hidup." Pohon ara berbuah tidak disemua musim, berbuah kalau hanya musim panas saja. Kidung Agung 2 : 11 - 13 firman Tuhan menjelaskan: saat musim dingin dan musim hujan telah berlalu, saat itulah ranting-ranting pohon ara mulai melembut dan mulai bertunas sampai menghasilkan buah-buah.

Musim panas berbicara tentang:
- kegerakan hujan akhir
- kegerakan rohani
Artinya: ada kegerakan rohani karena kasih akan Tuhan, ada gairah atau semangat untuk
mengikuti gerak firman Tuhan.

Dasar/sikap untuk menerima firman Tuhan: kita harus memiliki hati yang lembut, yaitu hati yang siap menampung kebenaran. Bagi kita sebagai jemaat Tuhan, ibadah itu sangat erat kaitannya dengan tanda keubahan hidup.
Maka tidak heran kalau dalam Roma 12 : 1 - 2 firman Tuhan sangat menekankan: “Berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Tujuannya: supaya kita jangan menjadi serupa dengan dunia ini.
Hidup yang sudah mengalami tanda keubahan atau pembaharuan, ditandai dengan sikap: beribadah kepada Tuhan dengan cara yang benar, yaitu dengan mempersembahkan “tubuh” sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah.
Sebagai contoh kita bisa melihat pribadi Yesus. Lukas 2 : 52 Yesus sendiri sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia, dalam hidup-Nya sebagai manusia juga memiliki tanda perubahan:
- semakin bertambah besar-Nya
- bertambah hikmat-Nya
- semakin dikasihi Allah dan manusia
Demikian juga setiap orang yang mau meneladani pribadi Tuhan Yesus, yaitu yang sudah mengalami tanda keubahan hidup, mereka juga pasti akan ditandai dengan sikap dan perbuatan yang benar, sehingga hidupnya akan dikasihi Allah dan juga dikasihi sesama manusia.
Hal seperti ini juga pernah dialami oleh Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, yaitu pada saat raja Nebukadnezar mengangkut orang Israel ke Babel sebagai tawanan dan menjadikan mereka sebagai budak. Walaupun mereka sebagai tawanan, dan sedang dibawa keistana raja, mereka tetap mempertahankan cara hidup yang benar. Daniel 1 : 8 mereka berketetapan (berketetapan = tidak terpengaruh dengan keadaan = tidak sama dengan dunia ini) untuk tidak menajiskan diri dengan santapan/makanan raja.
Ayat 12 setelah mereka berketetapan kepada mereka diberikan hanya sayur untuk dimakan dan air untuk diminum, maka diadakanlah pencobaan selama sepuluh hari. Walaupun demikian, perawakan mereka jauh lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja (ayat 15). Berkatnya: Allah mengaruniakan kepada mereka kasih dan sayang (=mereka dikasihi Allah), Tuhan juga memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai tulisan dan hikmat, dan khusus kepada Daniel Tuhan memberikan pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. Daniel 1 : 20 dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, raja Nebukadnezar mendapati bahwa mereka “sepuluh kali lebih cerdas” dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi diseluruh kerajaannya. Inilah yang membuat sehingga Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego mendapat kedudukan yang tinggi di Babel.
Saudara-saudara, sesungguhnya setiap orang yang berdosa, ia sedang memiliki kasus, sedang berperkara dengan Allah. Maka kalau sedang berperkara dengan Allah, perkara itu harus diselesai kan dengan secepatnya supaya jangan sampai menimbulkan masalah besar.
Adam dan Hawa setelah jatuh ke dalam dosa, Tuhan berfirman untuk memanggil supaya mereka dibetulkan/diperbaiki kembali. Sebab setelah mereka melanggar perintah Allah, mereka menjadi takut kepada Allah, bahkan mendengar bunyi langkah Tuhan pun mereka menjadi takut. Dari sini bisa kita lihat dengan sebenarnya betapa jeleknya dosa itu, bisa membuat manusia menjadi takut bertemu dengan Allah.
Yesaya 1 : 18 firman Tuhan menghimbau kepada orang-orang yang telah berdosa supaya mau berper-kara dengan Allah. Kalau Tuhan mengundang untuk berperkara, tentu ada maksud dan tujuannya, yaitu: untuk menyelesaikan masalah tersebut supaya jangan tetap berperkara dengan Tuhan. Tuhan tahu, kalau manusia berperkara dengan Tuhan maka tidak ada seorang pun yang tahan dan tidak ada seorang pun yang bisa lari dari masalah tersebut. Untuk itulah Tuhan mengundang supaya manusia yang sudah berdosa itu mau datang untuk berperkara dengan Tuhan, supaya bebas dari segala masalah.
Yesaya 1 : 19 jika mau menurut dan mau mendengar (=mau berperkara dengan Tuhan) akan memakan hasil baik, sebaliknya kalau melawan atau memberontak (=tidak mau berperkara dengan Tuhan) akan dimakan oleh pedang (ayat 20), artinya akan masuk ke dalam penghukuman.

Berperkara kepada Tuhan = artinya adalah memohon kemurahan Tuhan supaya dihapuskan dari segala dosa maupun pelanggaran.
Menurut firman Tuhan cara yang benar berperkara dengan Tuhan sama dengan mau mengakui segala pelanggaran yang telah diperbuat.
1 Yohanes 1 : 8 jika ada orang yang berani berkata “tidak pernah berdosa”, firman Tuhan mengatakan ia sedang menipu dirinya sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam dirinya. Tetapi jika mau mengakui segala dosanya dengan jujur, Tuhan itu setia dan adil sehingga Ia pun akan mengampuni kita dari segala dosa bahkan Ia juga akan menyucikan kita dari segala kejahatan yang telah kita lakukan (1 Yohanes 1 : 9).
Sama seperti Adam dan Hawa setelah jatuh ke dalam dosa, mereka mencoba menutupi ketelanjangannya dengan cara membuat cawat dari daun pohon ara. Tetapi usaha mereka ini tidak berhasil, tetap tidak mampu menutupi segala dosa dan kekurangan mereka dihadapan Tuhan. Maka Tuhan sendiri yang bertindak, Ia memanggil mereka dan berfirman, tujuannya adalah: supaya Adam dan istrinya itu dibetulkan dan diperbaiki supaya jangan tetap tinggal di dalam dosa. Firman Tuhan dalam Roma 8 : 28 membuktikan bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang dikasihi.

Roma 8 : 29 cara Tuhan membetulkan manusia:
- dipanggil supaya dibetulkan/diperbaiki dari manusia berdosa menjadi
manusia yang dibenarkan.
- selanjutnya setelah dipanggil, akan dipilih supaya dikuduskan(disucikan)
supaya menjadi serupa dengan gambaran Kristus.
Inilah juga yang dikatakan dalam 2 Petrus 1 : 10, firman Tuhan menghimbau supaya kita berusaha dengan sungguh-sungguh, tujuannya supaya panggilan dan pilihan kita makin teguh. Sebab jika panggilan dan pilihan kita sudah teguh, maka kita tidak akan pernah tersandung. Justru Tuhan akan mengaruniakan “hak penuh” untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (ayat 11).

Maka kalau kita lihat dalam 1 Korintus 9 : 24 - 27 ada tiga (3) sikap yang perlu kita perhatikan:
1). Harus taat dan dengar-dengaran.
2). Menguasai diri dalam segala hal.
3). Tidak membiarkan sedikit pun waktu terbuang.

Seorang pelari: pertama-tama ia harus memasang telinga untuk mendengar aba-aba atau peraturan dalam pertandingan, sebab jika tidak demikian ia tidak akan bisa mengikuti pertandingan dengan baik. Kemudian ia juga harus mampu memperhatikan waktu ketika bertanding supaya jangan sampai ketinggalan dengan pelari yang lainnya.
Orang Kristen yang tidak mau memasang telinga untuk mendengarkan firman Tuhan apalagi kalau tidak mau memperhatikan firman Tuhan, maka ia akan menjadi orang Kristen yang biasa-biasa saja, manjadi hamba Tuhan yang tidak serius melayani. Maka sebagai jemaat Tuhan maupun sebagai hamab Tuhan, mari kita teladani sikap seorang pelari: pasang telinga untuk mendengarkan firman Tuhan dan perhatikan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Kalau pohon ara sudah mulai bertunas dan mengeluarkan buah, berarti kedatangan Tuhan sudah dekat. Yang bisa masuk ke dalam kerajaan sorga hanyalah mereka yang sudah mempersiapkan diri, yaitu yang sudah mengalami tanda keubahan hidup. Haleluya.......!!!

Senin, 04 Januari 2010

Buletin Januari 2010

“NATAL MENURUT INJIL LUKAS”

Minggu - 03 Januari '10

Saudara-saudara, pada minggu yang lalu kita sudah melihat bahwa NATAL adalah bukti kasih Allah yang di-nyatakan kepada manusia, Yesus datang sebagai Juruselamat bagi semua orang. NATAL adalah berkat khusus yang diberikan Allah kepada semua orang, kepada orang-orang yang baik, kepada orang-orang yang jahat bahkan kepada orang-orang yang najis sekalipun. Maka supaya dapat mengalami berkat NATAL, kuncinya: datanglah kepada Tuhan dan jadikan Dia sebagai Juruselamat pribadimu.
NATAL menurut Injil Lukas menceritakan Yesus sebagai Anak Manusia. Dan NATAL menurut Injil Lukas ini yang perlu diperhatikan supaya dapat ber-temu dengan Yesus adalah “tanda”, di mana Yesus di-lahirkan. Dalam Lukas psl 2 firman Tuhan menceritakan bagaimana proses kelahiran Yesus, malaikat Tuhan datang kepada para gembala-gembala yang tinggal di padang dan mengatakan: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (ayat 11 - 12) Jadi kepada para gembala-gembala itu Tuhan memberikan suatu “tanda” bahwa Juruselamat telah datang ke dunia ini.

Bagi kita “tanda” ini mengandung arti yang sangat penting, untuk membuktikan bahwa Allah telah datang ke dunia ini sebagai Juruselamat untuk menyelamatkan kita dan menjadikan kita sebagai milik kepunyaan-Nya.


Ulangan 6 : 4 - 15 firman Tuhan menekankan supaya mempunyai tanda: kita harus memperhatikan firman Tuhan dan mengajarkannya kepada anak-anak, baik ketika di rumah, dalam perjalanan, ketika berbaring ataupun ketika bangun. Ayat 8 - 9 firman Tuhan bisa menjadi tanda apabila firman itu diikatkan pada tangan dan menjadi lambang didahi. Berkat kalau firman Tuhan sudah menjadi tanda: rumah-rumah penuh berisi berbagai-bagai barang yang baik (berkat dalam rumah tangga) dan sumur-sumur atau kebun-kebun yang disediakan Tuhan walaupun bukan kita yang menggali atau menanami.

Untuk memperoleh tanda dari Tuhan, ada dua (2) langkah yang harus kita miliki, yaitu:

1. Mau mendengarkan firman Tuhan.

Sikap dalam mendengar firman Tuhan ini sangat penting kita miliki, sehingga dalam Lukas 8 : 18 Tuhan Yesus pun harus memperingatkan murid-murid supaya memperhatikan cara mendengar. Sikap mendengar yang baik menjadi penentu supaya kita berhasil menjadi jemaat yang berkenan kepada Allah. Sebab kalau sudah berhasil memiliki cara mendengar yang baik, maka kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai cara mendengar yang baik, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.
Gembala-gembala di padang, ketika malaikat Tuhan memberikan tanda, mereka mau mendengar dan memperhatikan. Sehingga hasilnya: mereka berhasil bertemu dengan Yesus yang baru lahir, yang dibungkus dengan lampin dan berbaring di palungan. Seperti yang telah dikatakan malaikat Tuhan demikianlah mereka bertemu dengan Yesus.
Pada NATAL yang pertama Yesus dibaringkan “dipalungan”, mengapa Yesus harus di ditempat kan di palungan? Ini mengandung arti yang sangat besar bagi kita, Yesus itu adalah Juruselamat dunia, yang sangat dibutuhkan oleh semua orang. Maka kalau Yesus ditempatkan di palungan, tujuannya adalah supaya dengan mudah domba-domba bisa menjangkau, bisa menikmati dengan baik. Jadi Yesus itu adalah benar-benar makanan yang menjadi kebutuhan semua orang terlebih mereka yang mau menghargai keselamatan.
Yesus di tempatkan di palungan:
- Yesus itu menjadi makanan bagi domba-domba,
yang tergembala dengan baik
- firman Tuhan itu menjadi makanan/kebutuhan
semua orang, yang haus akan kebenaran
Karena itu, firman Tuhan itu tidak cukup kalau hanya dipikirkan saja, tidak cukup kalau hanya didengar saja, tetapi firman itu harus ditaruh di dalam hati dan di dalam mulut. Sebab kalau firman itu sudah ditaruh di dalam mulut, berarti firman itu sudah dijadikan sebagai makanan/ kebutuhannya, yang telah dinikmati lebih dulu, sehingga bisa masuk ke dalam hati, maka firman itu akan bekerja di dalam hatinya, akan menyucikan hidupnya dan membuat hidupnya menjadi berkenan kepada Allah. Sebaliknya jika firman itu tidak dinikmati, inilah yang membuat sehingga akan timbul keragu-raguan, merasa firman itu sepertinya tidak bisa dijangkau, seperti nya tidak bisa dijangkau.
Dalam Ulangan 30 : 11 - 14 firman Tuhan sudah mengatakan bahwa sebenarnya firman itu tidaklah terlalu sukar dan tidak terlalu jauh, tidak di langit dan tidak di seberang laut tempatnya. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak mengerti akan firman Tuhan. Kalau dulu Yesus di tempatkan di palungan, tempat yang mudah dijangkau oleh domba-domba, demikian juga sekarang firman itu juga mudah dijangkau, tidak terlalu jauh. Bagi kita sekarang, firman itu sudah sangat dekat, yaitu di dalam mulut dan di dalam hati. Karena itu sebagai jemaat Tuhan, mari kita tempatkan firman itu di dalam mulut dan di dalam hati, mari kita buat firman itu menjadi makanan, menjadi kebutuhan yang lebih utama dari dari pada yang lain. Jika firman itu sudah ditaruh di dalam mulut dan di dalam hati, maka firman itu akan mengerjakan perkara yang besar di dalam hidup kita.

2. Mau melihat/memperhatikan.

Setelah para gembala-gembala itu mendengar apa yang disampaikan oleh malaikat Tuhan, langkah selanjutnya mereka cepat-cepat berangkat/pergi ke Betleham untuk melihat apa yang telah terjadi. Mereka bukan hanya mendengar, tetapi langsung bertindak mempraktekkan apa yang telah didengar.
Pada zaman sekarang ini, memang banyak orang punya mata, tetapi sayang tidak bisa melihat dengan baik, banyak orang tahu akan firman Tuhan, tetapi tidak dapat menikmatinya dengan baik. Mengapa? sebab tidak ada sikap yang baik, yaitu tidak ada kerinduan untuk melihat atau mengalami seperti yang dikatakan Tuhan. Orang Kristen seperti ini, tidak akan tahu nilai firman Tuhan, tidak bisa membuat firman itu jauh lebih berharga dari segala yang ada di dalam dunia ini, termasuk dari harta benda bahkan dari nyawa kita sekalipun.
Firman Tuhan dalam Yesaya 29 : 9 - 12, mengatakan setiap orang yang tidak dapat melihat kedalaman firman Tuhan, akibatnya mereka akan MABUK, tetapi bukan karena anggur, mereka akan PUSING, tetapi bukan karena arak.
Mengapa tidak dapat melihat kedalaman firman Tuhan?
Penyebabnya:
- kitab itu termeterai, sehingga walau tahu membaca
tetapi tidak akan dapat melihat bagian dalamnya
- kitab tidak termeterai, tetapi karena tidak tahu
membaca juga tidak akan dapat melihatnya
Lukas 2 : 20 setelah gembala-gembala itu mendengar dan melihat tepat seperti yang dikatakan oleh malaikat Tuhan, mereka kembali ke tempat masing-masing sambil memuji dan memuliakan Allah. Bahkan mereka juga dapat memberitahukan kepada orang lain, apa yang telah mereka lihat, sehingga semua orang yang melihatnya menjadi heran. Kalau gembala-gembala memberitakan apa yang telah mereka dengar dan lihat, tetapi dalam Lukas 2 : 19 Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
MARIA = gambaran jemaat atau gereja Tuhan yang jadi mempelai perempuan Kristus. Maka kalau hamba-hamba Tuhan memberitakan firman, sikap kita sebagai jemaat mau harus merenungkan firman Tuhan itu dan menyimpannya di dalam hati yang baik.

Saudara-saudara, kalau kita perhatikan Injil Lukas, yang perlu kita perhatikan bukan hanya tanda kelahiran Yesus saja, tetapi kita juga dibawa untuk memperhatikan tanda tentang kedatangan-Nya yang kedua kalinya. Kalau pada kedatangan-Nya yang pertama, Yesus datang sebagai tubuh atau bayi yang baru lahir dan ditempatkan dipalungan, menjadi Juruselamat. Tetapi pada kedatangan-Nya yang kedua kali, ada satu pertanyaan penting yang harus kita perhatikan: “Di mana Tuhan?” Kemudian Yesus menjawab: “Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.” (Lukas 17 : 37)
Burung Nasar = pribadi Allah/lambang Injil Yohanes.
Sedangkan MAYAT :
- berbicara “tubuh” yang menunjuk kepda tubuh
Kristus, yaitu gereja yang di dalamnya Allah hadir.
- ini juga berbicara “gereja” yang sudah mengalami
proses: mati dan bangkit bersama dengan Kristus,
sudah mati terhadap dosa.
Jadi proses tanda kelahiran dan bangkit bersama dengan Kristus adalah “tanda” yang harus kita perhatikan dengan baik-baik supaya kita berhasil menjadi jemaat yang berkenan kepada ALlah. Melihat tanda kelahiran Yesus memang sudah baik, tetapi itu belum cukup, harus dilanjutkan melihat tanda yang kedua, yaitu tanda-tanda kedatangan Tuhan yang kedua kali supaya kita dapat mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, tergabung dalam pembentukan dalam tubuh Kristus yang kudus dan sempurna. HALELUYA...!!!